![]() |
Warung yang sudah rata. Teh Rini layani pembeli, Mang Ojan memilah kayu. |
Saya tidak tahu siapa nama aslinya, tapi saya biasa
memanggilnya dengan sebutan Mang Ojan. Seorang pedagang makanan semacam warteg sederhana di terusan Jalan Industri Selatan 5. Sehari-hari, dia dan istrinya, Teh Rini, berjualan di bangunan warung semi-permanen itu menjajakan
makanan-minuman murah terbaik, ditambah guyonan khasnya yang selalu berhasil
membuat saya dan pengunjung yang lain tertawa lepas atau termenung di pagi-paginya yang biasa. Dan Mang
Ojan sangat menyukai obrolan politik, sedang saya tidak. Jadi kami akan bergantian
saja: kadang dia bercerita dan saya mendengarkan, atau sebaliknya. Hingga nantinya
matahari akan beranjak lebih tinggi, dan kami berpisah untuk bertemu lagi di keesokan
hari.
Pria sederhana ini memiliki dua orang anak: Ayu, putri
pertamanya yang saat ini duduk di bangku SMA kelas 2, dan Dimas, putra
kebanggaan mereka yang 13 Desember ini akan genap berusia 2 tahun. Saya sangat
menyukai si Dimas ini, pria kecil bermuka bulat dan kulit kuning langsat. Hobinya
adalah mandi di jam 8 kurang 15 menit di tengah warung dalam bak plastik bayi
warna hijau pudar. Selepas mandi, dia akan didandani setampan mungkin oleh ibunya, lalu meminta ayahnya untuk menuntun-temaninya berjalan kaki di aspal depan warung. Gembira
sekali mereka di pagi-pagi itu. Dan saya bisa memandangi pemandangan itu
hingga waktu yang lama, hanya mencoba merasakan apa yang mereka rasakan.
Dan saya jadi teringat salah satu babak cerita kami di setahun
yang lewat. Saat itu Dimas baru berusia 1-2 bulan. Karena keterbatasan yang
mereka miliki, Dimas jadi harus selalu dibawa ikut ke warung, karena tak ada yang bisa
menjaganya lagi di rumah. Saya protes ke Mang Ojan, karena itu artinya Dimas
akan banyak terpapar asap rokok dari para pengunjung warung. Mang Ojan bersama
istrinya mencoba menjelaskan singkat, tapi saya tetap tak bisa terima. Saya kesal
sekali. Saya sempat berhenti ke warung Mang Ojang selama beberapa bulan sebagai
bentuk protes. Hingga akhirnya saya datang kembali dengan pikiran yang sedikit lebih
terbuka, dan keadaan menjadi biasa, kami tertawa lagi. :)
Saya mengenal warung berikut para penggiatnya ini semenjak 2011,
saat saya pertama tiba bekerja di kantor biru di persimpangan itu. Dulu saya mengenal
warung ini dengan sebutan Warung Juju. Meskipun ternyata sang pemilik warung sendiri
tidak tahu mengapa mereka disebut Warung Juju. Saya cuma tertawa saja mendengar
Mang Ojan mengisahkan kebingungannya. Sebuah cerita yang menghangatkan pagi
kami kala itu. Hingga selang beberapa menit kemudian, kami sudah beralih ke
topik pembicaraan yang lain. Seperti itu saja kami di hampir setiap pagi yang ada
dan datang silih berganti.
***
21 September 2015. Hari sudah menuju musim hujan yang
sepertinya tak akan lama lagi. Dan berita yang kurang menggembirakan ini datang
menghampiri. Warung berukuran 3x6 meter ini kini sudah rata dengan tanah. Sedari awal
Mang Ojan dan keluarga memang sepenuhnya sadar, bahwa warung ini adalah sebuah bangunan
liar. Akan tiba waktunya, warung peneduh ini akan dibongkar oleh pengelola Jababeka.
Tapi saya sendiri tak menyangka akan secepat ini. Saya terkaget karena kenyataannya, terhitung mulai pagi ini, saya tak akan pernah melihat warung itu lagi. Dan saat ini, melihat
Teh Rini tengah melayani pelanggannya di atas sebuah meja panjang bobrok yang
diletakkan di atas pembatas jalan, dan Mang Ojan yang tengah merapi-rapikan
reruntuhan warung, mengumpulkan apa saja yang kira-kira masih bisa terpakai,
saya merasa sepi.
Saya pesankan segelas kopi panas, duduk di atas papan
panjang yang melintang bawah mahoni dan terik mentari pagi. Tak langsung
bertanya pada mereka, saya diam saja dulu melihat sekitar. Hingga setengah jam
berselang, saya bertanya singkat satu-satu tentang penertiban kawasan ini. Saya
mendengarkan. Tentang bangunan yang dibongkar hari Sabtu kemarin, tentang kayu
bekas berjumlah satu truk lebih, tentang Dimas yang menghabiskan susu satu
kaleng dalam 4 hari, tentang Ayu yang dua tahun lagi akan kuliah, tentang tim security
kawasan yang gemar mengancam dan sesekali memeras, tentang masakan yang tak
habis, tentang rencana berjualan di gerobak dan tenda sederhana yang sedang
dibuat oleh Mang Ojan di rumahnya di Poncol sana, atau yang lain. Saya tak
berani berkomentar banyak, saya hanya sesekali iyakan pelan. Meski satu hal yang membuat
saya merasa sedikit lega: Mang Ojan tetap penuh guyonan, Teh Rini tetap senang
bercerita dan berharap, Ayu tetap akan masuk sekolah jam 9 ini, Dimas tengah
santai-santai di rumah bersama neneknya. Saya pikir mereka akan bertahan di tengah situasi yang akan sedikit lebih berat dari sebelumnya. :)
Cikarang, 21 September 2015