![]() |
Selepas melihat pari dan bayi hiu, bertiga mengabadikannya lewat self-timer di bawah sinar bulan. |
Pagi belum terlalu jauh, saat lantunan musik itu bermain perlahan dari pasangan earphone yang sudah dua bulan belakangan ini rusak sebelah. Barisan nada-nada ceria bernuansa country mengalir deras, dengan Andy Grammer, sang penyanyi, bersorak gembira sambil bercerita tentang perkawanan dalam lagunya. Yang tiba-tiba, saya teringat satu cerita yang saya jalani di beberapa minggu yang lewat. Saat bertemu dengan seorang kawan baru di sebuah pulau kecil nan indah di daerah Laut India sana.
***
Sabtu, 12 Desember
2016
Dan kesempatan untuk mengunjungi pulau dan negara ini adalah
sebuah keajaiban. Dengan tiupan angin lautnya yang dermawan menggoyang-goyangkan
barisan kelapa pinggir pantai yang tumbuh tinggi julang-menjulang, serta langit
biru dan mataharinya yang terik dan beranjak meninggi perlahan bersama
kerang-kerang yang terbawa ombak ke bibir pantai, atau tentang denting piring beradu
sendok dan garpu dari ruang makan di sebelah lobby hotel. Di pagi menjelang siang ini, kami –saya dan istri,
akan meninggalkan pulau indah bernama Maafusi ini setelah empat hari yang luar
biasa. Sambil menunggu waktu keberangkatan yang tinggal hitungan menit, saya
duduk sendiri berkontemplasi memandang laut dan segerombolan kawanan burung
gagak dari atas kursi plastik di halaman hotelnya yang teduh berpasir. Hingga akhirnya seorang kawan, salah satu pegawai hotel yang baru saja saya kenal di beberapa
hari belakangan, datang mendekati dan mengajak saya bersalaman, dengan ekspresi
wajah yang terlihat kurang ceria. “Hei, don’t
you ever forget about me and our walk in the beach last night”, ujarnya
singkat dengan bahasa yang tercampur-campur. Saya tersenyum.
Namanya Rafik, sosok menyenangkan asal Bangladesh, yang
sudah beberapa tahun ini mengadu nasib di hotel tempat kami menginap. Beberapa
hari ini, saya dan istri memang biasa mengobrol dengannya di sela-sela waktu
liburan kami yang singkat. Dan saya akan selalu bisa katakan: bertukar cerita
dengan Rafik adalah salah satu hal yang paling menyenangkan dari pulau ini. :) Dua malam sebelumnya, Rafik sudah menawarkan diri untuk menemani saya dan istri
berjalan-jalan menyusuri pantai di sisi lain pulau ini selepas waktu isya untuk
melihat ikan pari dan bayi hiu di pinggir perairan pantai yang dangkal. Dan malam
itu, sesuai janjinya, Rafik menjemput saya dan istri di lobby hotel sambil
memegang sebuah senter kecil di genggaman tangan kanannya. Bertiga, kami
membelah jalanan pasir Pulau Maafushi menuju pantai di sisi lain pulau yang sedari kemarin dia
ceritakan.
Dan setibanya di tempat tujuan, dengan semangat Rafik menunjuk
setiap hewan laut yang ada di pantai jernih, “Look, that’s a manta!”, atau “that’s
a baby shark, hush you two, be quiet!”, dengan saya dan istri yang berteriak
kegirangan penuh antusias melihat sinar senter yang bergerak cepat di permukaan
air dangkal. Hingga saat kami merasa sedikit lelah, dan memutuskan untuk duduk
sejenak di dermaga kecil yang menjorok ke arah laut. Mulai saling bertukar
cerita tentang apapun yang saat itu tengah terpikir, kami niagakan malamnya
dengan gembira. Tentang apa saja, diiring tiupan angin lautnya yang kuat, sinar bulan dan
bintang kejora di jauh sana, atau di antara terang lampu para penyelam malam
yang baru pulang.
…
Angin malam dan seorang kawan memang selalu mengajarkan
banyak hal. Dan di sinilah saya duduk saat ini, di antara lambaian nyiur kelapa
di atas sana dan pasir putih mengkilap di bawahnya, menjelang pulang. Untuk
mencoba mengingat lagi semua kejadian yang terjadi di rentang waktu yang tak
panjang. Beberapa saat saya terdiam memandang matanya sedalam-dalam sembari
mencerna kembali kalimat yang diucapkannya di awal tadi. Kilasan semua obrolan
kami di empat hari terakhir ini seperti terbuka ulang dengan kecepatan tinggi.
Saya pikir kami sudah berkawan dengan sederhana. Dan itu hal yang baik. Sebaik
saat saya coba menjawab “I am kind of
person who never forget every friend I met in my life. Maybe it’s a bit too
hard to believe, but you can give me a chance to prove it, and I’ll prove it to
you”. Rafik tertawa. Dan saya pikir itu cukup. :) Seperti juga sesaat
sebelum kami bersalaman untuk berpisah, dan Rafik mengucapkan satu kata dari
bahasa Maldive (yang sayangnya saya lupa kata tersebut apa). Saat saya
kebingungan dan bertanya artinya apa, dia menjawab: “it’s a Maldivian word that means ‘friend’”. Sekarang ganti saya
yang tertawa lepas dan mengucap terima kasih yang banyak.
Para awak kapal cepat yang akan membawa kami pergi dari
pulau ini pun sudah memanggil. Beberapa kawan pegawai hotel yang lain berjalan
mengantarkan kami menuju dermaga untuk berangkat. Rafik tak ikut mengantar,
tapi untuk saya itu sama sekali bukan masalah. Dan satu hal yang tak perlu
dipertanyakan lagi adalah: kami sedang berkawan dengan sederhana.
Farewell, friend. Till we meet again somewhere. ;)
Jakarta, 26 Desember 2016