![]() |
Jumat, 26 Juli 2019 |
Mentari di penghujung Juli tengah terik-teriknya, juga lambai
dahan mahoninya yang kini gagah menahan angin-angin yang lewat, tetap diam saja dalam anggunnya. Dan sepanjang 8
tahunan belakangan, rasanya aku tak pernah merasa segelisah ini. Berjalan gontai
seorang diri dari warung kopi tempat aku biasa habiskan siang atau
malamnya yang terasa asik sekali, untuk sekedar tandaskan
segelas teh manis panas yang disajikan sepenuh hati oleh pemiliknya yang ramah, atau sekedar melihat kawan-kawanku tertawa selepas mungkin di tengah
permainan hitung-berhitung yang biasa kami lakukan. Tapi saat ini rasanya aku begitu tak
penuh, dan sepertinya semua kawan-kawanku bisa merasakannya. Sebagian berusaha menanyakannya, sedang lainnya memilih tidak. Dan mungkin
puncaknya adalah hari ini, siang ini. Berjalan perlahan menuju bangunan biru
muda yang sudah kuingat betul itu, di antara laju mobil dan bus yang
berseliweran di antaranya.
Hawatir. Kurasa itu adalah kata yang paling dekat untuk menggambarkan
apa yang kurasakan belakangan ini. Untuk kembali menyadari bahwa ini adalah
hari terakhirku di tempat ini, setelah windu yang luar biasa. Teringat kini
semua hal yang terjadi di selang waktunya, sekilas bagaimana dulu pertama kali menjejakkan
kaki di tempat ini, tentang perjumpaan dengan beberapa kawan terbaik, atau
untuk lahirnya mimpi-mimpi yang mungkin terlalu muluk untuk bisa kubayangkan
dulu. Dan di detik ini kusadari seberapa besar tempat ini sudah mempengaruhi
hidupku sejauh ini, atau bahkan masa depan. Semangatku mulai mengambil alih, tapi rasa
hawatir itu tetap di situ, menjalar pelan di belakang punggungku.
Kupikir aku sudah terlalu terbiasa untuk berjalan di tempat
ini. Dan beranjak pergi darinya terasa seperti pertama meninggalkan rumah. Untuk
kemudian kembali menetapkan hati, melambaikan tangan tanda perpisahan juga ucapan
sampai bertemu laginya dan senyum-senyum. Bersyukur untuk bisa menutup chapter perjalanan yang ini dengan gemilang
dan suka-suka. Memutuskan untuk saling melupakan semua kekurangan kemarin-kemarin,
dan menggantinya dengan doa-doa terbaik yang bisa terucap. Kurasa cukup seperti
itu, semoga saja.
***
Dan hari sudah beranjak ke penghujung malam, saat akhirnya
aku beranjak meninggalkan kota ini. Kupandangi baris mahoni itu sekali lagi,
meniupkan napas-napas terpanjang, serta ucapkan terima kasih yang banyak bagi
semua, dan rasa hawatir itu akhirnya sirna. Aku tertawa sendiri setelahnya. Kusampaikan
rasa hormatku untuk gedung biru muda itu sedalam-dalam, kuhirup udara malamnya
yang sudah kuhapal betul, aku pergi.
Cikarang, 26 Juli 2019