![]() |
Bersama Badidang, 27 Maret 2016 |
Siang tengah terik-teriknya. Tepat di atas hamparan timbunan tanah sebelah rumah kami itu sedang dipenuhi keramaian yang bersuka cita. Kakak
sepupu saya, cucu laki-laki tertua dari keluarga kami, melangsungkan
pernikahannya hari ini. Sebuah bangunan tenda tradisional, yang biasa kami
sebut tarup, berdiri gagah di atas
tanah kosong itu. Berikut pula ratusan warga kampung yang penuh sesak
menyemarakkan pestanya. Sebagian bapak-bapak berkumpul menyesap tembakau di
beberapa tempat membentuk lingkaran di atas tarup,
sedang sebagian lagi sibuk bergotong royong membersihkan panganan di pinggiran
sungai, ibu-ibu yang sibuk meracik bumbu dan mengaduk sayur di dalam sebuah
wadah raksasa di atas bara kayu kopi di belakang sana, anak-anak kecil yang
berlarian tanpa arah dikejar kawan sebayanya yang lain, dan banyak lagi. Atau
melihat rombongan ibu-ibu yang baru saja tiba membawa sebuah bingkisan khusus
khas daerah kami: seekor ayam gemuk dan baskom kecil dari bahan kaleng berisi
beras, sebungkus bihun dan kelapa bulat. Saya hanya duduk mengamati semuanya di
atas sebuah kursi plastik hijau menghadap jalan raya sambil mereguk kopi panas
di gelas kaca.
Dan mata saya menangkap sesosok tubuh kurus-tinggi di
jalanan tengah menyandarkan tubuhnya di sebuah plang penanda bertulis "hati-hati sedang ada keramaian". Di sana berdiri salah
seorang kawan sepermainan masa kecil saya dulu, namanya Rice. Saya belum pernah tahu
siapa nama lengkapnya, tapi kami biasa memanggilnya dengan sebutan “Badidang”.
Ingatan saya jadi jauh melayang menuju 20-an tahun yang lewat, saat kami dan
kawan-kawan sepermainan yang lain menghabiskan masa kecil di hamparan sawah dan
jalanan gang di belakang sana. Hmm, saya dan kawan-kawan sepermainan dulu
sedikit mengucilkan Badidang karena dia memiliki sedikit masalah mental,
semacam anak dengan keterbatasan IQ (Intelligency
Quotient). Dia sering menjadi bahan olok-olok karena tak bisa berbicara
dengan baik, selalu senyum-senyum sendiri, dan kebiasaan buruknya yang suka
memakan makanan bekas dari tempat sampah, atau untuk menjadi musuh besar dari
satu orang dengan gangguan mental lain yang lumayan terkenal di kota kami. Saat
itu kami semua suka mem-bully
Badidang di segala hal, dan saat saya mengingatnya lagi saat ini, terbersit
banyak penyesalan di benak saya atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan
padanya dulu.
Sedari dulu, saat ada acara-acara seperti ini, Badidang
selalu suka membantu pekerjaan-pekerjaan apapun yang diperintahkan padanya. Tak
seperti anak-anak kecil yang lain (termasuk saya) yang jangankan ikut membantu
pekerjaan warga kampung, tapi malah senang membuat kekacauan dimana-mana khas
anak-anak. Dan ternyata, kebiasaan membantunya itu masih terus berlangsung
hingga hari ini. Di acara-acara seperti ini, dia tetap ikut membantu. Untuk
sekedar ikut merapikan barisan kursi, menjaga parkiran motor di pinggiran
jalan, menyapu, apa saja. Dan dia melakukannya dengan wajah ceria, senyum yang
selalu terkembang, tanpa keluhan. Di acara-acara seperti ini, dia selalu
disukai dan dicari-cari.
Dengan perlahan, saya datangi dia yang tengah menatap ke
arah keramaian pesta. Saya tawarkan sebatang rokok yang langsung diterimanya
dengan ucapan terima kasih yang agak susah dimengerti dan senyuman khasnya.
Lama saya pandangi matanya tanpa berbicara apa-apa, dia tak terpengaruh, senyum
itu tetap di situ membalas balik. Hingga akhirnya saya tersenyum dan merangkul
pundaknya, sambil tetap tak berucap apa-apa. Saya mintakan seorang saudara yang
kebetulan sedang lewat di hadapan kami berdua untuk mengabadikan moment itu. Dan setelahnya, saya pergi
meninggalkannya sendiri di depan sana.
Saya pikir, sampai detik ini, saya tak tahu apa yang harus
saya ucapkan padanya saat itu. Saat kami saling menatap lama, dan lintasan
memori masa kecil itu bergerak secepat tiupan malaikat. Saya pikir itu saja
yang bisa saya bahasakan kepadanya. Dan bukan, Saya bukan meminta maaf atas
apapun yang saya lakukan padanya dulu, karena kamupun tahu bahwa saat itu kami
ada di dunia anak-anak. Dan mungkin semacam sebuah bahasa yang dulu belum
pernah saya mengerti, hingga akhirnya dia tiba di detik ini.
Sehat terus, Dang. God bless!
Curup, Minggu 27 Maret 2016
Foto oleh Deni Hardiansyah