![]() |
DLBS, Dexa Medica, setahun yang lalu |
Tak terasa
ternyata sudah satu tahun. Dan saya masih terus berdoa agar kapal biru putih
itu tetap gagah berdiri dan berlayar jauh menuju semua mimpi-mimpi yang dulu
pernah menjadi mimpi saya juga itu. Terlalu banyak cerita yang saya ingat, baik
yang menyenangkan maupun yang tidak terlalu, tapi diiring lambaian dedaunan
alpukat di depan rumah kontrakan ini, semua ingatan itu selalu saja menyenangkan.
Untuk semua kawan-kawan baik yang saya temui di selang waktunya, dan
mimpi-mimpi pribadi yang terlahir di dalamnya. Teringat tentang beberapa hari
terakhir di tempat itu dulu, tentang kegelisahan yang khas saat akan
meninggalkan rumah.
Saya pikir, saat
ini, sedikit banyak, saya sudah berubah dari hari-hari itu. Dari cara memandang
sesuatu, pendekatan-pendekatan, hingga mengekspresikan diri. Sedang belajarnya,
saya pikir sama saja, sama bagusnya. Di tempat itu saya belajar banyak, selepasnya
juga sama. Sedikit perbedaannya, mungkin saat ini saya merasa lebih menyeluruh.
Meyeluruh yang bagaimana? Sayangnya saya sendiri tidak terlalu tahu persis, tapi
saya bisa merasakannya. Seperti saat saya pertama kali pergi merantau dulu,
lantas di perantauan saya merasa saya lebih tepat ada di sini. Ya, mirip
seperti itu.
Perjalanan seseorang
tak pernah pasti. Saya tak pernah terpikir ternyata dunia yang saya masuki selepas
hari-hari di tempat itu berbeda sekali. Di awal-awalnya saya bahkan melalui
masa yang sangat sulit. Tapi sepertinya itu memang bagian dari perjalanannya. Dan
sampai detik ini pun saya pikir saya masih terus mengalir dalam prosesnya. Tapi
satu yang saya tahu pasti, saya menyukai dunia baru ini, bahkan lebih dari
hari-hari terbaik yang saya jalani sebelumnya. Dan saya bersyukur untuk itu,
untuk semua keputusan-keputusan yang sudah saya ambil sebelumnya. Terkadang
memang butuh waktu, tapi nyatanya memang seperti itu.
Satu yang paling
saya syukuri tentunya waktu yang lebih banyak untuk keluarga. Untuk melihat
laki-laki yang suka sekali bermain di lapangan itu tumbuh di setiap menitnya. Untuk
mengajarkannya membuat simpul pengikat layang-layang, untuk menunjukkan
warna-warna bunga yang ada di sepanjang Teluk Sarera, atau sekedar
menemaninya berlari-larian di sepanjang jalan di pagi-siang-sore waktunya,
kapanpun yang dia inginkan. Saya temukan ini menyenangkan sekali. Dan saya
berpikir mungkin sisi ini lah yang menjelaskan perasaan “menyeluruh” itu. Mungkin.
Rasanya itu saja,
untuk sekedar menjadi pengingat bagi diri saya sendiri tentang titik-titik
waktu yang saya jalani selama ini, untuk kemudian jadi bahan renungan dan
kontemplasi pribadi. Dan anak itu sekarang sudah memanggil lagi, sepertinya
mengajak berlarian lagi di lapangan. Yang sebenarnya bagian ini adalah bagian
yang kurang saya sukai, main di lapangan saat matahari tengah terik-teriknya. Tapi
kali ini tidak masalah, kemaren saya sudah menolak. Hari ini dia menagih janji,
saya ikuti. Mungkin selang sehari sudah cukup adil bagi semua.
Jakarta, Juli 2020