Minggu, 19 April 2015

Gerimis di Plastik Biru

Lepas menuntaskan obrolan singkat bersama seorang kawan baik lewat jejaring maya di kisaran satu jam yang lewat, saya jadi gelisah sendiri. Sambil merendam satu ember penuh cucian kotor semingguan kemarin, dilanjut menyemir sepatu kantor dan lantai kamar yang disapu seadanya, tapi tetap saja: saya mencoba mengingat obrolannya diam-diam. Atau beberapa obrolan lain bersamanya di sebulan yang lewat juga saya pikir sama saja. Hanya membuat saya semakin sadar bahwa saya sudah terlalu banyak berbicara tentang hal yang tak sebaiknya saya bicarakan. Dan saya pikir tak semua pertanyaan yang ada pantas dijawab. Bahkan saat seseorang tersebut terus bertanya sekalipun. Tapi sekarang ya saya berusaha tenang-tenang saja, karena itu semua tak lebih hanyalah sebuah cerita sudah terlewat.

Sesap tembakau mungkin sudah masuk di hitungan kedua, dan jarum jam di dinding putih itu juga terus saja tidak terganggu. Sedang gerimis panjang di Jababeka tetap bersuara pelan-pelan di plastik biru. Dan saya pikir begitulah semua cerita: untuk membuat sebuah keputusan yang syukur bila benar, dan tak masalah bila ternyata salah. :)

Didedikasikan untuk seorang kawan baik yang tengah gelisah menuju sebuah hari besar dalam hidupnya. Saya ucapkan sebaik-baik: jangan takut.  ;)
Cikarang, 19 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar