Percakapan seminggu kemarin bersama gadis muda dengan
terusan batik coklat muda di kantor kami itu membuat saya mengingat sebuah
cerita yang lain di kisaran 6 tahun yang silam. Sebuah cerita sederhana yang
selalu berhasil membuat saya bersimpulan bahwa hidup itu tak pernah bisa
dibedakan menjadi “hitam dan putih”. Mungkin beberapa orang akan berpendapat
sebaliknya, atau setidaknya di beberapa dimensi kejadian, mereka berpendapat
bahwa hidup akan ditentukan sebagai “hitam dan putih”. Tapi menurut saya
sepertinya tidak. Bagi saya, di semua kejadian, hidup bukanlah “hitam dan
putih”. Saya pikir: hidup itu berwarna-warni. :)
***
Juni 2009.
Kegelisahan saya hampir mencapai titik puncak.
Pasalnya, tenggat akhir pembayaran uang semester perkuliahan akan segera tiba.
Uang yang saya miliki untuk melunasi biaya semesteran ternyata masih kurang
dari jumlah 6,7 juta: angka biaya semester kuliah magister yang saya jalani
semenjak setahun terakhir ini. Beberapa kali kilasan ide untuk berhenti kuliah datang
menghampiri. Dan sekuat itu pula saya berusaha menguatkan diri untuk tetap
bertahan. Saya sadar, itu adalah semester terakhir sebelum akhirnya nanti saya
bisa memperoleh gelar Master. Hmm, sisa kekurangannya itu juga mungkin tak
terlalu banyak, sekitar 1.5 juta –meski saya tak ingat berapa persisnya.
Ide untuk meminjam uang ke beberapa kenalan juga sudah saya
pikirkan. Tapi seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan-tulisan
sebelumnya: bahwa orang-orang yang benar-benar membutuhkan biasanya memiliki
kecenderungan lebih susah untuk meminta tolong dibandingkan dengan orang-orang
yang tidak terlalu membutuhkan. Hingga akhirnya, saat itu saya memutuskan untuk
bertahan saja dulu dalam kesenyapan di malam-malam terpanjang Bandung Utara.
Percayalah, untuk urusan seperti ini, saya tak terlalu suka
mendiskusikannya dengan siapapun. Tapi entah bagaimana, malam itu saya bisa
bercerita dengan seorang kawan yang baru saya kenal di 6 bulan terakhir di
persimpangan besar Cipaganti. Sebenarnya saya belum terlalu mengenalnya. Yang
saya tahu, dia adalah seorang mahasiswa putus sekolah asal kota Bandung.
Pekerjaannya serabutan. Mulai dari menjual eceran casing handphone hingga loading
paket ekspedisi. Dan malam itu dia tengah ikut menginap di kos-kosan saya. Kami
mengobrol hingga jauh larut malam. Termasuk pula bercerita tentang kurangnya
uang semester yang tengah saya alami. Dia tak banyak berkomentar malam itu. Dan
saya juga memang tak mengharapkan komentar apa-apa. Malam itu saya hanya sedang
ingin bercerita.
Selang beberapa hari, atau mungkin 1 minggu, di sebuah siang
menjelang sore, dia menghubungi saya. Dia katakan saat itu bahwa dia sedang ada
di wartel (warung telpon) di daerah belakang mall Bandung Indah Plaza, dan dia
ingin agar saya datang menjemputnya untuk sebuah urusan penting. Saya bersegera
berangkat. Hingga selang satu jam kemudian, kami bertemu di sebuah wartel tiga
pintu di pinggir jalan raya. Saya temui dia yang tengah asik tertawa bersama
seorang kawannya yang lain. Saya hampiri, dan tak lama kemudian kami berdua
pergi.
Dia mengajak saya menuju pinggir jalan untuk mencari
angkutan umum. Dia katakan bahwa sekarang dia mau pulang ke rumah. Saya sempat
bingung dan bertanya waktu itu, kenapa dia inginkan saya datang dan untuk
urusan penting apa? Dia tak pernah menjawab tegas. Hingga akhirnya di pinggir
jalan itu, dia menyerahkan sebuah amplop putih tebal yang digulung-gulung. “Pakai saja uang ini untuk bayar semesteran”.
Dengan rasa penasaran yang penuh, saya tanyakan dari mana dia mendapatkan uang
itu. Singkat dia menjawab: “saya mencuri uang
di toko ******* tadi malam”. Terkaget, saya tenggelam dalam tawanya yang
hambar. Sesaat kemudian dia pergi bersama sebuah angkutan umum, mikrolet putih
yang penuh.
***
Kami hanya pernah bertemu sekali setelah sore itu, sekitar
1-2 bulan berikutnya. Saat bertemu, saya tak menyinggung apapun tentang yang
dia lakukan, hanya katakan bahwa uangnya sudah saya gunakan untuk membayar
semesteran. Dia tertawa pendek sambil katakan :”bagus, bagus”, lalu mengalihkan pembicaraannye ke topik yang lain: tentang
rencananya pergi bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Jepang. Saya
senang hari itu melihat dia bercerita antusias dan penuh keyakinan tentang
rencana ke Jepang itu. Dan hingga hari ini, saya masih selalu berusaha
mengingat dia di seusai solat yang sekali-sekali saya lakukan.
Sampai ketemu lagi, Kawan. Semoga kamu tak perlu mencuri lagi sampai
kapanpun. :)
Cikarang, 22 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar