Saya pikir semua orang memiliki beberapa sosok yang paling mempengaruhi
pola pikirnya saat ini. Orang-orang tersebut dapat menginspirasi lewat tindakan,
bicara, atau apapun. Mereka bisa mempengaruhi semuanya, sebut saja: sudut pandang,
lama berpikir, bahkan cara bicara. Dan sosok tersebut bisa siapa saja: kawan
sepermainan, kekasih, kolega, musuh masa kecil, orang tua, saudara
sedarah, ah siapa saja. Mereka tak melulu berkonotasi positif. Bisa saja orang tersebut
adalah sosok yang tak kita sukai. Sadar ataupun tidak, sebegitu kuat mereka
mengakar, hingga akhirnya mempengaruhilah sampai lebih jauh.
Saya juga sama. Saya mengenal beberapa sosok yang sangat mempengaruhi. Di luar anggota keluarga, rasanya saya bisa menyebutkan dua nama. Dan untungnya, mereka berdua adalah dua kawan terdekat yang saya kenal dengan baik juga.
***
Namanya adalah Haikal. Saya mengenalnya di belasan tahun
silam. Lebih tepatnya di tahun 1998. Seorang kawan sekelas yang ternyata sangat
menyenangkan. Saya melihat dia berkembang dari seorang remaja tanggung penuh
ide-ide ekstrim dan rasa humor yang natural, saya melihat dia berkembang dari
seorang mahasiswa dengan idealisme tinggi dan kadang menyebalkan, saya melihat
dia berkembang menjadi seorang suami dan bapak yang asik bagi istri dan anaknya,
saya melihat dia terhanyut dalam diskusi malamnya yang panjang dan sepi.
Gelar Taufiq. 2005 itu saya mengenalnya di sebuah desa kecamatan
di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Seorang pemuda berkulit kuning-terang berambut
gondrong-lurus dan kacamata hitam bulat khas rock n roll di atas sebuah motor pinjaman yang menggerung. Gayanya nyentrik, tingkah lakunya kadang
menyebalkan, tapi dia adalah kawan yang baik. Kecenderungan hidupnya adalah
menolong, dan dia tidak terlalu menyukai uang. Dan saat ini dia banyak terlibat di
kegiatan-kegiatan alam dan karya sastra. Sesuatu yang selalu berhasil
membuatnya merasa tenang sekaligus gelisah di dalamnya.
Saya pikir, mereka berdua memiliki banyak kemiripan –tentunya itu hanyalah
kemiripan pola. Saya nilai, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi laten
dalam pemikirannya. Interaksi mereka pada sekitar juga bersifat laten. Bila berbicara
pada orang lain, maka orang lain tersebut bisa saja menjadi sangat positif,
atau malah menjadi sangat negatif, atau tak berefek sama-sekali. Hmm, saya pikir mereka berdua
adalah tipe kepribadian ekstrimis. Dan mungkin mereka akan menyangkal
pernyataan saya ini, hahaa, tapi saya pikir memang seperti itulah mereka.
Dan mengenal mereka adalah beberapa dari banyak hal yang paling
saya syukuri. Awalnya saya mencoba mencontoh mereka. Hingga akhirnya tak lama
kemudian, saya temukan bahwa saya berbeda dari mereka. Seiring waktu, saya bisa
membedakan kepribadian mereka berdua. Saya suka menganalogikan kepribadian
mereka serupa sebuah senjata yang sama-sama memiliki dua sisi tajam. Haikal itu serupa pedang,
dia membelah pemikiran lawan bicaranya dan mengakibatkan hal yang
bersifat fatal dan luas. Sedang Gelar serupa keris, dia menghujam di satu titik
dan mengakibat hal yang bersifat fatal dan mendalam.
Saya lebih banyak berbeda dari mereka berdua. Saya pikir saya tak memiliki kemampuan untuk melukai seperti yang bisa mereka timbulkan. Sepertinya
pemikiran saya lebih bersahabat. Walaupun, kami bertiga tentu saja sama-sama bisa
disebut seperti senjata, saya tahu itu. Dan mungkin saya akan lebih mirip seperti sebuah
gada. Saya pikir saya seringnya tak berbahaya, bahkan saat diletakkan di tengah kerumunan
anak SD sekalipun. :)
Karena berkaca adalah bagaimana cara mata dan otak menerjemahkan gambaran
pantul cahaya, dimana akhirnya kamu melihat raut wajah sendiri. :)
Cikarang, 25 Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar