Musim hujan tiba, dan sore-sore cerah itu baru akan datang
untuk waktu yang lebih lama. Dan lewat jendela besar ini lagi, saya berdiri
menatap gumpalan awan gelap menggantung di atas lampu-lampu pembatas jalan yang
diam. Atau seperti riuhnya jatuhan buah kersen
di depan sebuah warung yang biasa kami gunakan untuk berteduh di pojokan situ, atau
ikan-ikan Gambusia affinis yang mulai
ramai di sela-sela selokan besar dan memakan habis jentik-jentik nyamuk. Angin-angin
mulai lebih garang, meniup dahan mahoni hingga melengkung jauh serupa busur
panah yang siap ditembakkan. Juga ingatan tentang kawan-kawan masa kecil dulu yang
selalu saja identik dengan tarian hujan dan pekiknya yang membahana.
Saya ingat. Dulu, saat musim hujan datang, dan saya akan
lebih banyak duduk di balik jendela merah dengan kacanya yang kusam. Dan dari dalam
rumah itu, semua kehangatan berasal. Dari aroma pindang ikan yang hangat dan
menyeruak pekat dari dapur dan ibu di dalamnya, atau dari alunan Quran dari kakak
perempuan yang tengah diajarkan mengaji oleh ayah, atau dari dengkur kakak
sepupu laki-laki yang sedang tak ingin bermain hujan. Di balik kaca itu, di
balik gulungan selimut di sekitar kepala dan dada, saya melihat aliran hujan yang
mengalir dari lengkungan seng yang berubah coklat oleh karat, dan jatuh di
bawah tampungan ember bekas cat yang selalu saja akan dipakai untuk menyirami bunga-bunga
milik kami di depan rumah. Dan saat ember itu tak kuat lagi menampungnya, maka
mengalirlah airnya menuju selokan kecil di depan sana, selokan dengan airnya yang
bahkan lebih jernih dari air minum orang kota.
Sebagai anak kampung, saat itu saya tak terlalu punya banyak
hayalan tentang tempat-tempat. Saya tak banyak berpikir tentang salju di Jepang,
atau susahnya air di Afrika sana, karena saya tak banyak tahu tentang Jepang
dan Afrika. Yang saya tahu, tumpahan hujan sore ini akan mengantarkan airnya ke
hamparan sawah-sawah di belakang rumah. Darinya kemudian penduduk di kota kami makan,
lalu mengucap syukur bersama-sama saat panen raya tiba. Dan anak-anak yang
berlarian di sepanjang pematang, jatuh terjerembab, pulang dan menangis di
pelukan ibunya, lalu menyeraplah lagi menuju sumur-sumur rumah. Dan begitulah
putaran air di kampung saya dulu. Tak terlalu bingung dengan pemberitaan di
tivi-tivi, tentang kota-kota yang banjir sekali-kali.
Kadang saya terbayang, tentang seorang walikota yang baik dan
jenaka di Kota Kembang sana. Tentang dia yang bercerita akan kekhawatirannya di
setiap kali hujan raya melintasi kota, apakah sistem pengairan milik mereka akan
cukup perkasa menahan debit air yang besar di hari itu. Atau tentang hujan yang
sore ini gugup basahi sisi luar jendela besar, dan batalkan lewatnya rombongan
buruh yang rencananya akan berpawai berkeliling menuntut perbaikan. Dan saya
tahu, hujan di sini ternyata jauh lebih rumit dari di kampung kami. Hujan di
sini tak melulu berarti waktumu bersama keluarga menjadi lebih lama. Atau malah,
herannya, terkadang bisa sebaliknya.
Di balik jendela merah itu dulu saya berpikir, bahwa kota
adalah sebuah negri impian, dimana di dalamnya dipenuhi dengan semua kemudahan dan
kejayaan yang serba nyaman. Dan di balik jendela besar ini kini saya
berpikir,tentang perbedaan hidup di kampung dan di kota ternyata tak benar ada.
Pada akhirnya semuanya adalah sama, atau setidaknya, tak se-berbeda itu juga.
:)
Cikarang, 16 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar