Tepat setelah makan siang. Saya berjalan menuju lobi kantor,
untuk selanjutnya menunggu kawan-kawan yang lain dan rencana menunaikan ibadah Salat Jumat
bersama di masjid pinggir jalan besar di timur sana. Dan selang semenit
kemudian, di pojok ruang yang didominasi warna putih-biru dan tak terlalu lebar
itu, saya duduk di atas sofa biru, sekedar melihat-lihat. Lobinya sepi, hanya ada seorang
resepsionis kantor yang tengah sibuk dengan telponnya, serta sebuah wajah asing
yang saat ini sedang duduk dalam gelisah. Diam-diam saya memperhatikan. Percaya
saja, entah bagaimana saya bisa merasakan kegelisahannya di udara –atau mungkin
sebenarnya lewat ekspresi wajahnya. Duduk barang beberapa menit, ternyata dia sedang
menunggu giliran wawancara dengan calon atasannya di ruangan tepat di seberang kami duduk sekarang. Satu kandidat yang lain,
yang ternyata juga adalah kenalannya, sedang diwawancara di dalam
sana. Saya tanyakan beberapa hal padanya, dijawabnya bahwa dia melamar ke
kantor ini untuk posisi X, sebuah posisi yang dulunya diisi oleh kawan yang
saat ini sudah berpindah tempat kerja ke Jakarta sana. Tak lupa, saya sampaikan
agar dia tenang-tenang saja nanti di dalam sana, dan jangan lupa agar tetap
tersenyum. Heheu.
Kandidat yang lain tadi keluar dari ruang wawancara bersama
calon atasan sekaligus pewawancaranya. Dan ternyata, mereka berdua diminta
untuk nanti datang lagi setelah Salat Jumat. Mereka iyakan. Saya berpura-pura
pergi menjauh, tapi sebenarnya tetap mencoba mendengarkan. Saya dengarkan
rencana mereka untuk keluar dan mencari tempat salat Jumat dulu. Dan mereka
berjalan ke luar ke arah parkiran kantor kami yang agak jauh di belakang sana. Saya
ikuti mereka dari belakang, dari jarak yang tak begitu jauh. Bukan apa-apa,
saya suka mengamati mereka. Dan memandang mereka yang berjalan beriringan dengan
seragam hitam-putih serta ransel besar yang masing-masing mereka kenakan. Saya jadi
mengerti mengapa sedari tadi saya tertarik menyimaki apapun yang mereka
lakukan. Kamu tahu, dia dan temannya itu, mengingatkan saya pada saat dimana saya pertama
kali menginjakkan kaki di kantor ini. :)
Tentu saja, di tulisan kali ini saya tak akan bercerita lagi
tentang apa yang terjadi di hari pertama saya datang ke sini, karena sudah saya
ceritakan sebelumnya di tulisan berjudul: “Dua kilometer”, di Januari yang lalu.
Saat ini, saya hanya ingin mengingat ulang hari itu berikut detail yang
terjadi. Ah, bukan buat apa-apa, hanya agar saya tak lupa. Suatu hal yang
seringkali saya lakukan hanya untuk membuat saya tetap mengenali siapa saya.
Hah, mungkin kamu tak mengerti tentang apa yang saya bicarakan, tapi biar saja,
kita tak harus melulu saling mengerti. Gitu
kan ya? :D
***
13.04. Saya kembali ke lobi ini lagi. Melirik sekilas, dan
mereka berdua yang sedang berusaha duduk semanis mungkin di sofa itu. Memang tak
berniat untuk menghampiri mereka lagi, saya langsung masuk ke dalam, lalu duduk
di sini. Meski mungkin mereka tak akan pernah menyadari, bahwa sampai detik
inipun, saya masih berpikir tentang mereka. Dan berharap semoga mereka berdua
diberikan rasa bahagia dan keluasan rezeki oleh Tuhan, entah itu di kantor ini,
entah itu di jalan yang lain.
Selamat Jumat Siang, Kota Buruh. Salam-salam.
Cikarang, 30 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar