Musim penghujan sudah datang lagi. Dan bertiga kita
berkumpul di kamar ini, di atas kasur besar yang nyaman, selimut bersih dan
gelak tawamu yang memenuhi ruangan. Perlu apa lagi? Kiranya untai syukur yang
sudah kita ucapkan di sepanjang hari ini bisa cukup terhaturkan pada-Nya saja, Nak.
Agar terus mengalir rezeki-rezeki yang baik, nikmat sehat dan kebahagiaan yang
melimpah, dan ketenangan dalam jumlah yang banyak.
Dan bila mampu, rasanya aku ingin menghentikan waktu di
detik ini. Untuk terus memeluk ibumu sambil tertawa melihat gerakanmu yang
tak terterka sambil berteriak entah tentang apa. Aku mencintaimu, Nak. Bahkan
mungkin lebih besar dari aku mencintai diriku sendiri. Dan hal itu terkadang
membuatku bingung sendiri. Untuk apa aku mencintai orang lain di luar diriku
sendiri dan sebesar itu? Kadang aku bertanya-tanya sendiri di antara sela
runangan malamku yang sakral. Dan sejauh ini, aku tak pernah menemukan
jawabannya. Aneh memang. Aku bahkan merasa bahagia hanya dengan mengingat
bagaimana kau bersendawa sehabis makan buah-buahan yang disiapkan eyangmu di sepanjang sore yang ini. Dan
caramu menatapku di tengah malam saat kau terbangun dan mencari-cari ibumu yang
sedang pergi ke kamar mandi itu, layaknya interaksi spiritual saja buatku.
Bahkan hingga kini aku tak pernah bisa cukup memahami diriku
sendiri. Dan kini kau masuk ke dalamnya dan membuat egoku bertambah limbung.
Tak banyak yang bisa kukatakan, tapi memang seperti itu yang kurasakan. Entah
bagaimana, kau datang menekan egoku hingga ke batas-batas yang menurutku aneh.
Dan entah juga, apakah itu akan baik untukmu. Ah kan, lagi-lagi. Yang anehnya
lagi, aku melakukannya dengan senang hati dan kesadaran penuh. Rasanya, sebelum
ini aku tak pernah membiarkan siapapun mendominasi pikiran dan kehadiranku.
Tapi badai kedatanganmu seolah terlalu besar untuk kuhadapi sendiri. Dan pada
akhirnya, mencoba bertahan adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Meski di
sisi yang lain aku seperti sengaja membiarkannya. Dan nyata saja, hal itu membuat
kebingunganku semakin bertambah, lagi.
Nak, menjadi kuat dan tak bergantung adalah tugasku agar kau
menjadi lebih kuat dariku. Pun memelihara ego adalah kewajiban besarku untuk dapat
berdialog terbuka denganmu di jauh setelah ini. Kupikir kita berdua akan sangat
membutuhkannya, entah untuk jalan yang satu atau yang lainnya. Seperti saat tadi
kau bergeming mendengar gemuruh petir membelah langit sore yang ini, dan kau
ulurkan tanganmu menyentuh jatuhan hujan, sementara ibumu sibuk melindungimu
dari derap anginnya yang kuat, basah dan tanpa ampun.
Jakarta, November 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar