Adalah seorang yang sudah saya anggap kawan meski kami belum
pernah saling bertemu sekalipun. Namanya Mercedes Caron. Seorang mahasiswa S3 di Gent
University, Belgium, dengan Argentina sebagai negara aslinya. Kalau tak salah,
hampir semua kawan-kawannya yang lain memanggilnya dengan panggilan Mechi. Saya
juga sama. Saya memanggilnya dengan panggilan yang sama. :)
Bagi saya, beberapa penggal obrolan singkat cukuplah menjadi
alasan untuk menyebut seseorang sebagai kawan. Dan dari obrolan-obrolan singkat
itu, sepertinya saya bisa merasakan bahwa dia adalah seorang kawan yang baik. Meski
kami berbeda budaya dan saya tak akan pernah bisa memahami penuh cara
berpikirnya, tapi saya benar-benar berani bertaruh bahwa kawan-kawannya di
Argentina sana juga menganggap dia tipikal kawan yang menyenangkan. Saya yakin
sekali.
Saya mengenalnya dari seorang kawan yang lain. Kawan yang
sepertinya saya kenal baik. Sudah 3 tahunan mereka saling mengenal dan belajar
bersama di lab itu. Dan kini, Mechi akan meninggalkan kawan tersebut. Mechi
sudah lebih dulu menyelesaikan studi doktoralnya. Ah, senang sekali saya
mendengar kabarnya. :) Meski sebenarnya saya tak terlalu tahu pasti tentang kabar tersebut, tapi
sepertinya memang seperti itu. Saya hanya membaca dari status jejaring sosial
facebook miliknya saja. Kira-kira isinya begini:
Saying goodbye to your
family is the most difficult thing to say. I had to do it twice in the last 3.5
years, the first time to my family and friends in Argentina and now to my
family in Belgium. Guys, you are my family in the other side of the world. You are
my friends, my brothers and sisters. I love you with all my heart and I will
miss you a lot (I already miss you). Thanks for always being there for me. It is
for you that Belgium is for me the warmest, happier, funniest place in the
world :)
Saya tersenyum membacanya. Dengan menekan tombol “like” dan “comment”,
saya memberikan komentar di bawahnya: “Selamat,
Mechi. Berpisah dulu, biar nanti bisa saling rindu. :)”. Sengaja saya
tuliskan komentarnya dalam bahasa Indonesia, agar dia mencoba menerjemahkannya menggunakan
google translate :p, atau bertanya pada siapapun kenalannya yang bisa berbahasa Indonesia. Tujuannya sederhana saja: agar
dia selalu mengingat bahwa dia memiliki kawan dengan bahasa indonesia sebagai
bahasa-ibu nya. Dan saya adalah salah satunya. :)
Saya menyukai saat mendengar seseorang berbicara dengan
emosi yang kental, seperti yang Mechi tuliskan di statusnya itu. Entah bagaimana, saya bisa merasakan apa yang dia pikirkan. Saya
pikir, itu adalah perasaan yang luar biasa indah. Ah, Mechi, sekali lagi saya
ucapkan: “Selamat, selamat”. Senang bisa mengenal. ;)
Salam dari Negeri Katulistiwa. Berkunjunglah ke sini nanti-nanti, semoganya
saya bisa mengajakmu menyelami laut kami yang terkenal hangat dan menyenangkan.
;)
Cikarang, 1 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar