Senin, 06 Oktober 2014

Malam Sudut Pantura

Malam takbir Pantai Utara
Siang sudah hampir tepat sampai di atas kepala, saat saya memilih berhenti di sebuah gerobak rokok sederhana di kawasan lapangan yang sedang tak terlalu ramai, Lapangan Karangpawitan. Siang itu saya tengah menjalankan sebuah rencana untuk mengunjungi salah seorang kawan baik di Graha Puspa Karawang sambil merayakan malam takbiran lebaran haji bersama keluarga kecilnya. Siang itu Karawang tengah panas-panasnya, dan saya berpikir: "sepertinya berhenti di samping gerobak portable itu sambil meminum sebotol teh dingin dengan alunan musik yang bermain pelan-pelan adalah pilihan yang menarik". Setuju dan lepas parkirkan motor pinjaman di depan sebuah halte kosong yang tak terpakai di seberang jalannya, saya merenung sejenak tentang beberapa hal.

Di pundak saya sekarang sudah tergantung sebuah tripod pinjaman dari seorang kawan baik yang lain di Bandung sana. Sebenarnya sedari kemarin saya sudah berniat memberdayakan alat ajaib ini untuk menangkap beberapa gambar di sebuah jalan besar dekat rumah dari kawan yang akan saya kunjungi hari ini. Jalan itu adalah Pantura. Sebuah jalur jalanan besar dan ternama, singkatan sederhana dari “Pantai Utara”. Dan saat nanti malamnya sudah sedikit larut, saya ingin sekali memotret jalur yang terkenal dengan banyak hal tersebut –dari yang positif sekali hingga yang negatif sekali. Yang sayangnya, saya tak terlalu yakin kawan tersebut akan mau memenuhi ajakan untuk menemani saya menuju jalur itu saat malam sudah sedikit lebih larut. Jikapun dia mau, maka istrinya juga belum tentu mengijinkan. Ah, tapi saya sudah bulat untuk mencoba. Jikapun akhirnya nanti dia tak bisa menemani, maka saya tetap tak akan keberatan menenteng-nenteng tripod ini sejauh ini, hingga ke sini. :)

***
Malamnya sudah sedikit lebih jauh untuk ukuran mengajak orang yang sudah berkeluarga keluar rumah tanpa tujuan yang jelas. Dan saat saya ajukan ajakannya, ternyata kawan tersebut setuju. Saya meminta dia untuk meminta izin terlebih dahulu pada istrinya, dan lagi-lagi ternyata tak ada masalah. Ah, saya senang sekali. Berdua kami menuju ke jalanan besar itu.

Dan kami tiba. Di depan sebuah ujung gang yang sepi sekali dan gelap, bertemu dengan sebuah jalanan besar yang lurus sekali, berikut lintasan kendaraannya yang selalu saja melaju dengan kecepatan yang tinggi. Kadang saya berpikir sendiri setiap melalui Pantura: “kenapa semua orang selalu setergesa ini?”. Ah, sebenarnya ini hanyalah sebuah pertanyaan yang sama sekali tak memerlukan jawaban, :D

Saya meminta kawan yang tadi untuk menunggu saja di atas motor sambil menghisap tembakaunya yang berbatang-batang, juga sebotol teh-susu kemasan yang kami bawa dari rumah tadi. Sedang saya, memilih membawa kamera dan tripod yang sudah terpasang sempurna itu menyeberang ke tengah pembatas jalannya yang tak begitu lebar, tapi cukup. Mencoba tembakan slow speed yang menurut saya tricky sekali, ke arah jalannya yang menuju Jawa. Saya antusias sekali. Hampir 30 tembakan saya lepaskan dalam rentang waktu hampir 1 jam. Sedangkan objeknya tetap sama: Jalur Pantura menuju Jawa di malam takbir. Sesekali melibatkan juga warung khas Pantura di sisi jalanannya yang gelap sebagai objek tambahan, saya bereksperimen kecil-kecilan. Tapi tak mesti berhasil, kamu tahu? Sebenarnya saya ke tempat-ini-detik-ini hanyalah untuk berkontemplasi sejenak tentang deru angin jalur Pantura saja. :D

Dan mungkin jalur yang saya fotokan ini bukanlah representative spot terbaik dari Jalur Pantura. Pantura sepertinya lebih masyhur dengan jalanan Cirebon-nya yang sama luas dan melegenda. Tapi tenang saja, saya sudah melihatnya juga. Sebenarnya saat ini saya hanya sedang mencari-cari alasan untuk menulis sesuatu tentang deru angin malam Pantura saja. :p

Selamat malam takbiran, Pantura.
Karawang, 4 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar