Bukit Cempaka Y19/129, Citra Indah. Dan pagar batako di belakang itu, tempat kamu bisa temui barisan Albazia dan perbukitan kecil yang banyak berwarna hijau |
Rumah ini masing-masing kami kredit di awal tahun 2014. Kami
senang sekali waktu itu: merasa antusias karena akan memiliki rumah. Rumah kami
ini memang berada di sebuah perumahan yang sangat besar, tapi rumah kami
sendiri kecil-kecil, hahaa. Seperti yang sudah saya ceritakan di edisi
sebelumnya, rumah yang saya beli ini adalah tipe 21. Rumah mungil, tapi saya
suka. Sedang punya kawan yang tadi adalah tipe 38, rumahnya lebih besar dan
lingkungannya pun jauh lebih nyaman dari punya saya. Tapi tenang saja, saya
tetap berpikir bahwa rumah mungil saya ini jauh lebih bagus dan lebih mewah dari
rumah siapapun se-perumahan ini, :))))))
Singkat kata, kami tiba. Mampir terlebih dahulu ke
rumah kawan tersebut dan melihat-lihat dia yang tengah bersiap-siap
membersihkan rumah barunya di ruang tengah rumah yang kotor berdebu dan
kosong melompong (cerita serupa di tulisan "AP 20 No 1"). Kain pel, kawat nyamuk, sapu, ember, gunting, dan lain-lain dikeluarkannya
dari tas berwarna merah dan khas sekali itu. Dan hujan yang tiba-tiba datang
dengan derasnya mengguyur Citra Indah yang sudah mendung gelap sejak kami tiba
tadi. Membuka obrolan yang tak jelas ke arah mana, kami berdialog seputar rumah masing-masing. Sebut saja: instalasi listrik, aliran air PAM, genangan air hujan di halaman belakang dan tak terserap, ah apa saja. Hingga akhirnya
hujan mereda, kami memutuskan mencari makanan dulu.
Hal yang terkonyol dari perjalanan ini adalah tentang saya yang
baru menyadari bahwa saya lupa membawa kunci rumah. Hingga akhirnya, kami
berdua hanya melihat-lihat rumah saya dari luar saja. Tapi saya sudah cukup puas.
Complaint-an yang saya ajukan sejak 3
bulan kemaren sudah selesai dikerjakan semua oleh para pemborong mitra Citra Indah.
Memang tetap ada beberapa kekurangan minor dari bangunan rumah ini, tapi saya
pikir saya tak mempermasalahkannya. Saya sudah sangat bahagia. Kemudian meminta
bantuan teman yang tadi untuk ambilkan beberapa gambar dengan saya yang
berpose sekeren mungkin di depan rumah dengan halaman yang masih semrawut oleh rumput-rumput liar juga hawa perumahan yang basah oleh sisa hujan yang
tadi.
Makanan kami sudah
tandas. Dan setelah mengantar kawan yang tadi kembali ke rumahnya untuk
melanjutkan prosesi berih-bersih (baca: ngepel), saya kembali ke rumah saya bersama
seorang local contractor kecil-kecilan bernama Mas Mun, seorang lelaki 40
tahunan asal Semarang dan sudah 4 tahun mengadu nasib di Citra Indah. Saya menanyakan banyak hal
padanya, mulai dari biaya pemasangan tralis dan pagar hingga model-model besinya.
Dia menjelaskan antusias sambil mengajak
saya berkeliling menunjukkan hasil kerjanya di rumah-rumah lain di dalam komplek Citra
Indah. Saya katakan padanya tentang rencana pagar berikut pondasi dan tanggul bata merah yang saya inginkan, dia mendengarkan dalam seksama.
***
Dan begini: saat berdiri memandang tanah kosong berukuran 12x11
meter di atas pagar batako di belakang situ (cerita di edisi "Mimpi di Citra
Indah (1)"), saya berimajinasi tentang bagaimana bentuk dan peruntukan rumah yang
saya beli ini kelak. Dan percayalah, semua yang saya lakukan saat ini adalah
sebuah langkah untuk melihat apa yang saya imajinasikan dulu agar bisa menjadi
barang yang nyata di suatu hari nanti. Meski mungkin orang lain melihat apa
yang saya impikan adalah terlalu kecil dan lambat, saya hanya akan tertawa. Mungkin
saya akan katakan padanya bahwa: "impian saya besar, mungkin kamu hanya belum melihatnya dari sisi yang seharusnya" :D. Dan dimulainya kini dengan obrolan
pagar dan pondasi keliling ber-budget
ekstra minim yang saya obrolkan bersama Mas Mun tadi? Ya, sekarang dimulailah dulu
dengan rencana pagar dan pondasinya saja. Sudah cukup. :)
Bogor Kabupaten, Citra Indah, 1 Maret 2015
*Foto oleh Frans Kurnia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar