Senin, 02 Maret 2015

Mimpi di Citra Indah (4)

Bukit Cempaka Y19/129, Citra Indah. Dan pagar batako di belakang itu, tempat kamu bisa temui barisan Albazia dan perbukitan kecil yang banyak berwarna hijau
Pagi yang tak terlalu cerah itu adalah hari yang ini. Memulainya dengan mandi pagi yang menyegarkan setelah semalam menonton film hasil download-an yang lumayan seru hingga lewat tengah malam. Dan sekarang sudah hampir jam 8 pagi, kami bersiap untuk berangkat menuju sebuah perumahan besar di arah barat sana. Jarak yang akan kami tempuh mungkin sekitar satu jam dengan menggunakan motor. Dan asik sekali pagi ini: cerah yang malu-malu, bersama seorang kawan baik yang tak henti-henti berhasil membuat saya tertawa, motor Yamaha Vega merah-hitam dengan gerungannya yang garang, juga perjalanan menuju rumah. Ya, ini adalah sebuah perjalanan menuju rumah. :)

Rumah ini masing-masing kami kredit di awal tahun 2014. Kami senang sekali waktu itu: merasa antusias karena akan memiliki rumah. Rumah kami ini memang berada di sebuah perumahan yang sangat besar, tapi rumah kami sendiri kecil-kecil, hahaa. Seperti yang sudah saya ceritakan di edisi sebelumnya, rumah yang saya beli ini adalah tipe 21. Rumah mungil, tapi saya suka. Sedang punya kawan yang tadi adalah tipe 38, rumahnya lebih besar dan lingkungannya pun jauh lebih nyaman dari punya saya. Tapi tenang saja, saya tetap berpikir bahwa rumah mungil saya ini jauh lebih bagus dan lebih mewah dari rumah siapapun se-perumahan ini, :))))))

Singkat kata, kami tiba. Mampir terlebih dahulu ke rumah kawan tersebut dan melihat-lihat dia yang tengah bersiap-siap membersihkan rumah barunya di ruang tengah rumah yang kotor berdebu dan kosong melompong (cerita serupa di tulisan "AP 20 No 1"). Kain pel, kawat nyamuk, sapu, ember, gunting, dan lain-lain dikeluarkannya dari tas berwarna merah dan khas sekali itu. Dan hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya mengguyur Citra Indah yang sudah mendung gelap sejak kami tiba tadi. Membuka obrolan yang tak jelas ke arah mana, kami berdialog seputar rumah masing-masing. Sebut saja: instalasi listrik, aliran air PAM, genangan air hujan di halaman belakang dan tak terserap, ah apa saja. Hingga akhirnya hujan mereda, kami memutuskan mencari makanan dulu.

Hal yang terkonyol dari perjalanan ini adalah tentang saya yang baru menyadari bahwa saya lupa membawa kunci rumah. Hingga akhirnya, kami berdua hanya melihat-lihat rumah saya dari luar saja. Tapi saya sudah cukup puas. Complaint-an yang saya ajukan sejak 3 bulan kemaren sudah selesai dikerjakan semua oleh para pemborong mitra Citra Indah. Memang tetap ada beberapa kekurangan minor dari bangunan rumah ini, tapi saya pikir saya tak mempermasalahkannya. Saya sudah sangat bahagia. Kemudian meminta bantuan teman yang tadi untuk ambilkan beberapa gambar dengan saya yang berpose sekeren mungkin di depan rumah dengan halaman yang masih semrawut oleh rumput-rumput liar juga hawa perumahan yang basah oleh sisa hujan yang tadi.

Makanan kami sudah tandas. Dan setelah mengantar kawan yang tadi kembali ke rumahnya untuk melanjutkan prosesi berih-bersih (baca: ngepel), saya kembali ke rumah saya bersama seorang local contractor kecil-kecilan bernama Mas Mun, seorang lelaki 40 tahunan asal Semarang dan sudah 4 tahun mengadu nasib di Citra Indah. Saya menanyakan banyak hal padanya, mulai dari biaya pemasangan tralis dan pagar hingga model-model besinya.  Dia menjelaskan antusias sambil mengajak saya berkeliling menunjukkan hasil kerjanya di rumah-rumah lain di dalam komplek Citra Indah. Saya katakan padanya tentang rencana pagar berikut pondasi dan tanggul bata merah yang saya inginkan, dia mendengarkan dalam seksama.

***
Dan begini: saat berdiri memandang tanah kosong berukuran 12x11 meter di atas pagar batako di belakang situ (cerita di edisi "Mimpi di Citra Indah (1)"), saya berimajinasi tentang bagaimana bentuk dan peruntukan rumah yang saya beli ini kelak. Dan percayalah, semua yang saya lakukan saat ini adalah sebuah langkah untuk melihat apa yang saya imajinasikan dulu agar bisa menjadi barang yang nyata di suatu hari nanti. Meski mungkin orang lain melihat apa yang saya impikan adalah terlalu kecil dan lambat, saya hanya akan tertawa. Mungkin saya akan katakan padanya bahwa: "impian saya besar, mungkin kamu hanya belum melihatnya dari sisi yang seharusnya" :D. Dan dimulainya kini dengan obrolan pagar dan pondasi keliling ber-budget ekstra minim yang saya obrolkan bersama Mas Mun tadi? Ya, sekarang dimulailah dulu dengan rencana pagar dan pondasinya saja. Sudah cukup. :)

Bogor Kabupaten, Citra Indah, 1 Maret 2015
*Foto oleh Frans Kurnia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar