Sabtu, 14 Oktober 2017

Langit Jingga - Sebuah Pembuka


Kau tahu, Nak?
Adalah saat-saat terbaik dari perputaran waktu bagiku tak kan pernah jauh dari terik mentari di penghujung suatu sore selepas hujan sebentar
Kusebutkan itu di antara kesendirian berteman angin-angin yang lewat di tanah basah, atau di antara riuh gelak kawan-kawanku yang entah tengah tawakan apa
Juga untuk cerita sore bersama ayahku dulu saat berdua menghadap bukit di belakang rumah kami yang teduh, untuk lambai barisan pinus di Bandung Utara yang selalu saja menenangkan, atau untuk jutaan lamunan yang tak pernah tuntas di sebuah persimpangan besar depan tempatku bekerja di timur sana
Aku menyukainya, entah kamu

Dan di antara lengking suaramu menghujam langit sore dan tatapan yang dalam-dalam, aku mencoba bertafakur
Tentang apakah nantinya aku akan menjadi ayah yang baik bagimu, semoga saja iya
Yang kurasa, bila nanti waktunya tiba, segenap pertanyaan tentang itu akan menderamu segarang amukan badai
Dan aku akan mencoba menjawabnya dengan perlahan, jujur dan sederhana, yang terkadang, mungkin akan dengan susah-payah, sangat susah-payah
Tapi kurasa aku bisa melakukannya, semoga saja

Nah kini, kau akan tumbuh sehat dan tenang-tenang, Nak
Kudoakan itu tak berkesudahan diiring gema puja-puji bagi Tuhan dalam salatku yang belum sempurna
Agar nanti kau tumbuh menjadi laki-laki yang baik seiring waktu
Agar nanti kau menyayangi ibumu lebih besar dari milikku
Agar nanti kau rayakan hidupmu dengan rasa bangga
Agar nanti melenggang jalan hidupmu penuh warna dan bahagia
Kurasa itu saja, sudah semua

Dan sekarang, mintalah ibumu berdandan yang cantik, juga dandanimu kenakan baju dan sepatu yang terbaik
Ke sana kita duduk bersama, menikmati sore hingga nanti dia tiba di penghujungan
Hingga nanti, tepat di saat-saat seperti ini, akhirnya kaupun mengerti alasan-alasan mengapa kau kuberi nama Langit Jingga, berikut baris harap dan doa-doaku yang ikut terbawa di dalamnya
Dan semoga kau senantiasa bergembira di atasnya
Untuk kemudian kau kembali padaku dan ibumu dalam semangat, ajak ulangi lagi hari yang ini dalam gelak tawa dan nyanyian bersama di antara aroma tanah dan tiup malam yang perlahan datang. 

Jakarta, Oktober 2017

Senin, 13 Maret 2017

Perdebatan Media Sosial

Jadi teringat. Beberapa hari atau minggu yang lewat, secara tak sengaja, saya berada di antara beberapa orang kawan yang sedang bergerombol membicarakan tentang seberapa sebalnya mereka terhadap posting-postingan kawan-kawannya di media sosial yang selalu bersifat rasial dan merasa paling paham agama, saling mengkafirkan satu sama lain. Belum lagi ditambah dengan sebaran berita-berita hoax yang dengan semangat mereka sebarkan tanpa berpikir. “Mungkin biar dinilai oleh orang lain sebagai sosok pintar dan kritis kali ya, padahal ….” ujarnya bertambah nyinyir bercampur rasa puas dan emosi. Yang singkat kata, setelah saling berdebat beberapa kali di media sosial, akhirnya beberapa dari kawan tersebut memilih untuk saling meng-unfriend. “Biar aja, berkurang satu-dua-tiga-empat kawan di media sosial juga ga masalah” ujar salah satu dari kawan tersebut berkomentar pedas dan tegas. Terdengar pula aminan dari beberapa kawan yang lain tanda setuju. Lalu disambung lagi, membahas lagi, tak ada habisnya, sahut-sahutan saling menimpali.

Saya masih asik saja menonton televisi, sama sekali belum (atau tidak) tergoda mengomentari obrolan-obrolan itu. Saya pikir bahasan mereka kurang menarik, jadi saya memilih diam saja, atau sesekali mengalihkan bahasan ke hal-hal berbau humor yang lain, yang sayangnya tak mereka tanggapi sama sekali. Sepertinya mereka menganggap bahasan humor saya tadi itu kurang menarik mungkin, hahaa. Ternyata memang ketertarikan setiap orang itu berbeda ya.  Dan memang ada orang-orang tertentu yang lebih suka berdebat sumpah-serapah. Saya masih tertawa, walau tak digubris sama-sekali. Bukan masalah, saya sudah cukup berbahagia dengan cerita humor saya sendiri.

Hingga di satu detik, saya ditanya: “emang lu ga ada temen di media sosial yang kaya gitu?”. Saya jawab singkat: “ga ada kayanya”. “Ah masa? Ada kok temen lu yang kaya gitu, gw sering baca”, sanggahnya cepat sambil memancing. Saya tertawa terbahak-bahak dan membuat mereka sedikit bingung perihal apa yang saya tertawakan. “Jadi gini, kemampuan berpikir gw tuh jauh berada di atas kalian-kalian dan mereka-mereka yang kalian ceritain dari tadi. Gw pikir level pikiran kalian dan mereka yang kalian obrolkan dari tadi itu juga sama aja. Makanya gw ga mau berdebat, karena bukan level gw. Tapi coba tebak, ternyata gw masih mau temenan sama kalian, terserah kalian mau ngomong hal yang gw setujui atau ngga, mau kalian pintar atau bodoh, kaya atau miskin. Kalian tetap temen gw!” saya jawab dengan penuh rasa puas, kemenangan, bahagia, dan tawa panjang ala Mak Lampir. Sebagai balasan, respon cibiran langsung saya terima. Saya lanjut tertawa sendiri. Sambil dalam hati berkomentar: “Ah, terkonfirmasi sudah. Pikiran gw emang lebih maju dari kalian. Sorry to say”. DAN AKU ADALAH MAK LAMPIR! ;)))))

Cikarang, 13 Maret 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Di Minggu Pagi

Pagi yang menyenangkan di awal bulan Maret yang ini. Di kisaran jam 10 pagi yang cerah dan angin yang bertiup lembut-lembut lewat sebuah jendela kaca besar dengan tirai gulung yang terangkat setengah di belakang pintu rumah. Juga tumpukan bantal sofa berwarna coklat muda di sebelah meja tamu, taplak kecil yang licin dengan warna senada, dan sebuah novel Agatha Christie berjudul “Murders on the Orient Express” yang tergeletak rapi di atasnya. Pagi ini, selepas mandi pagi dan segelas es kopi buatan sendiri, saya membaca buku itu sambil terlentang santai di atas sofa ukuran medium. Berhenti sejenak, layangkan pandang contemplative melalui jendela yang berdiri tenang dengan latar belakang mobil dan motor yang sudah dicuci bersih di sehari sebelumnya, saya benar-benar berpikir bahwa ini adalah hari yang indah.

Tiup angin pagi dari pekarangan kembali menyapa saya untuk berhenti sejenak dari kisah pembunuhan berencana yang diceritakan di bab ke-5 dari buku itu. Saya pikir lebih baik saya tuliskan saja apa yang saya pikirkan. Bukan tentang sebuah pemikiran rumit yang biasa menghantui saya di saat-saat tertentu, tapi hanya tentang pemikiran sederhana tentang bersyukur. Untuk melihat istri yang saat ini tengah hamil muda dan jatuh tertidur di ruang istirahat kami di belakang sana, atau aroma masakan yang sedang disiapkan oleh ibu mertua yang baik sekali, tentang ayah yang saat ini sepertinya sedang mendaftar di perpustakaan daerah di kota kecil di Bengkulu sana, atau juga kakak perempuan yang sedang menikmati hari-hari mereka di Serang sana. Saya jadi teringat tentang penggal percakapan di sebuah film yang kami (saya dan istri) tonton kemarin malam, yaitu tentang surga itu ada di sini juga, di dunia tempat kita hidup saat ini. Ah, mungkin memang benar seperti itu, siapa yang tahu.

Berjalan menuju pekarangan rumah sejenak dengan langkah-langkah ringan, untuk sekedar melihat birunya langit Jakarta di pagi ini serta mendengarkan dialog pedagang sayur keliling dengan seorang tetangga di depan sana, juga segerombolan kucing milik tetangga yang suka buang air di pekarangan rumah kami -sepertinya kucing-kucing ini sedang rapat mingguan, atau tentang pekerjaan kantor yang tengah saya jalani di 6 tahun terakhir ini, saya tersenyum sendiri. Untuk kemudian kembali ke dalam rumah, menuju kamar istirahat, dan memperhatikan istri yang sepertinya tengah bermimpi dalam lelapnya yang setenang air. Atau menatap kembali layar monitor di komputer lipat tentang bahasan perkembangan embrio dari sudut biologi molekuler yang tengah saya pelajari di awal pagi yang tadi. Setelahnya, hampiri ibu mertua yang masih saja sibuk dengan mencampur bumbu-bumbu dapur yang beraneka ragam. Memandang lingkaran tangga besi melingkar di atas pot-pot tanaman di taman belakang rumah ditimpa cahaya matahari dan riak air kolam kecil kami yang sederhana tempat 5 ekor ikan koi berenang sebebas mungkin. Menenangkan sekali.

Perjalanan hidup adalah sebuah misteri. Di dalamnya berisi kecamuk, ketenangan, kejutan, dan apa saja yang mungkin terjadi. Lingkaran-lingkaran waktu, ruang, dan kejadian yang bersinggungan dalam interaksi sederhana sehari-hari, dan sujud yang sekali-kali. Layangkan pandang sekali lagi menuju jendela yang masih diam tak bergerak, saya pikir hidup adalah tentang menikmati keadaan. Bersenang-senanglah semesta, dengan jalan yang kalian inginkan, tanpa paksaan.

Pasar Minggu, 12 Maret 2017

Senin, 26 Desember 2016

Maafushi dan Seorang Kawan

Selepas melihat pari dan bayi hiu, bertiga mengabadikannya lewat self-timer di bawah sinar bulan.

Pagi belum terlalu jauh, saat lantunan musik itu bermain perlahan dari pasangan earphone yang sudah dua bulan belakangan ini rusak sebelah. Barisan nada-nada ceria bernuansa country mengalir deras, dengan Andy Grammer, sang penyanyi, bersorak gembira sambil bercerita tentang perkawanan dalam lagunya. Yang tiba-tiba, saya teringat satu cerita yang saya jalani di beberapa minggu yang lewat. Saat bertemu dengan seorang kawan baru di sebuah pulau kecil nan indah di daerah Laut India sana.

***
Sabtu, 12 Desember 2016

Dan kesempatan untuk mengunjungi pulau dan negara ini adalah sebuah keajaiban. Dengan tiupan angin lautnya yang dermawan menggoyang-goyangkan barisan kelapa pinggir pantai yang tumbuh tinggi julang-menjulang, serta langit biru dan mataharinya yang terik dan beranjak meninggi perlahan bersama kerang-kerang yang terbawa ombak ke bibir pantai, atau tentang denting piring beradu sendok dan garpu dari ruang makan di sebelah lobby hotel. Di pagi menjelang siang ini, kami –saya dan istri, akan meninggalkan pulau indah bernama Maafusi ini setelah empat hari yang luar biasa. Sambil menunggu waktu keberangkatan yang tinggal hitungan menit, saya duduk sendiri berkontemplasi memandang laut dan segerombolan kawanan burung gagak dari atas kursi plastik di halaman hotelnya yang teduh berpasir. Hingga akhirnya seorang kawan, salah satu pegawai hotel yang baru saja saya kenal di beberapa hari belakangan, datang mendekati dan mengajak saya bersalaman, dengan ekspresi wajah yang terlihat kurang ceria. “Hei, don’t you ever forget about me and our walk in the beach last night”, ujarnya singkat dengan bahasa yang tercampur-campur. Saya tersenyum.

Namanya Rafik, sosok menyenangkan asal Bangladesh, yang sudah beberapa tahun ini mengadu nasib di hotel tempat kami menginap. Beberapa hari ini, saya dan istri memang biasa mengobrol dengannya di sela-sela waktu liburan kami yang singkat. Dan saya akan selalu bisa katakan: bertukar cerita dengan Rafik adalah salah satu hal yang paling menyenangkan dari pulau ini. :) Dua malam sebelumnya, Rafik sudah menawarkan diri untuk menemani saya dan istri berjalan-jalan menyusuri pantai di sisi lain pulau ini selepas waktu isya untuk melihat ikan pari dan bayi hiu di pinggir perairan pantai yang dangkal. Dan malam itu, sesuai janjinya, Rafik menjemput saya dan istri di lobby hotel sambil memegang sebuah senter kecil di genggaman tangan kanannya. Bertiga, kami membelah jalanan pasir Pulau Maafushi menuju pantai di sisi lain pulau yang sedari kemarin dia ceritakan.

Dan setibanya di tempat tujuan, dengan semangat Rafik menunjuk setiap hewan laut yang ada di pantai jernih, “Look, that’s a manta!”, atau “that’s a baby shark, hush you two, be quiet!”, dengan saya dan istri yang berteriak kegirangan penuh antusias melihat sinar senter yang bergerak cepat di permukaan air dangkal. Hingga saat kami merasa sedikit lelah, dan memutuskan untuk duduk sejenak di dermaga kecil yang menjorok ke arah laut. Mulai saling bertukar cerita tentang apapun yang saat itu tengah terpikir, kami niagakan malamnya dengan gembira. Tentang apa saja, diiring tiupan angin lautnya yang kuat, sinar bulan dan bintang kejora di jauh sana, atau di antara terang lampu para penyelam malam yang baru pulang.

Angin malam dan seorang kawan memang selalu mengajarkan banyak hal. Dan di sinilah saya duduk saat ini, di antara lambaian nyiur kelapa di atas sana dan pasir putih mengkilap di bawahnya, menjelang pulang. Untuk mencoba mengingat lagi semua kejadian yang terjadi di rentang waktu yang tak panjang. Beberapa saat saya terdiam memandang matanya sedalam-dalam sembari mencerna kembali kalimat yang diucapkannya di awal tadi. Kilasan semua obrolan kami di empat hari terakhir ini seperti terbuka ulang dengan kecepatan tinggi. Saya pikir kami sudah berkawan dengan sederhana. Dan itu hal yang baik. Sebaik saat saya coba menjawab “I am kind of person who never forget every friend I met in my life. Maybe it’s a bit too hard to believe, but you can give me a chance to prove it, and I’ll prove it to you”. Rafik tertawa. Dan saya pikir itu cukup. :) Seperti juga sesaat sebelum kami bersalaman untuk berpisah, dan Rafik mengucapkan satu kata dari bahasa Maldive (yang sayangnya saya lupa kata tersebut apa). Saat saya kebingungan dan bertanya artinya apa, dia menjawab: “it’s a Maldivian word that means ‘friend’”. Sekarang ganti saya yang tertawa lepas dan mengucap terima kasih yang banyak.

Para awak kapal cepat yang akan membawa kami pergi dari pulau ini pun sudah memanggil. Beberapa kawan pegawai hotel yang lain berjalan mengantarkan kami menuju dermaga untuk berangkat. Rafik tak ikut mengantar, tapi untuk saya itu sama sekali bukan masalah. Dan satu hal yang tak perlu dipertanyakan lagi adalah: kami sedang berkawan dengan sederhana.

Farewell, friend. Till we meet again somewhere. ;)
Jakarta, 26 Desember 2016

Senin, 28 Maret 2016

Badidang

Bersama Badidang, 27 Maret 2016
Siang tengah terik-teriknya. Tepat di atas hamparan timbunan tanah sebelah rumah kami itu sedang dipenuhi keramaian yang bersuka cita. Kakak sepupu saya, cucu laki-laki tertua dari keluarga kami, melangsungkan pernikahannya hari ini. Sebuah bangunan tenda tradisional, yang biasa kami sebut tarup, berdiri gagah di atas tanah kosong itu. Berikut pula ratusan warga kampung yang penuh sesak menyemarakkan pestanya. Sebagian bapak-bapak berkumpul menyesap tembakau di beberapa tempat membentuk lingkaran di atas tarup, sedang sebagian lagi sibuk bergotong royong membersihkan panganan di pinggiran sungai, ibu-ibu yang sibuk meracik bumbu dan mengaduk sayur di dalam sebuah wadah raksasa di atas bara kayu kopi di belakang sana, anak-anak kecil yang berlarian tanpa arah dikejar kawan sebayanya yang lain, dan banyak lagi. Atau melihat rombongan ibu-ibu yang baru saja tiba membawa sebuah bingkisan khusus khas daerah kami: seekor ayam gemuk dan baskom kecil dari bahan kaleng berisi beras, sebungkus bihun dan kelapa bulat. Saya hanya duduk mengamati semuanya di atas sebuah kursi plastik hijau menghadap jalan raya sambil mereguk kopi panas di gelas kaca. 

Dan mata saya menangkap sesosok tubuh kurus-tinggi di jalanan tengah menyandarkan tubuhnya di sebuah plang penanda bertulis "hati-hati sedang ada keramaian". Di sana berdiri salah seorang kawan sepermainan masa kecil saya dulu, namanya Rice. Saya belum pernah tahu siapa nama lengkapnya, tapi kami biasa memanggilnya dengan sebutan “Badidang”. Ingatan saya jadi jauh melayang menuju 20-an tahun yang lewat, saat kami dan kawan-kawan sepermainan yang lain menghabiskan masa kecil di hamparan sawah dan jalanan gang di belakang sana. Hmm, saya dan kawan-kawan sepermainan dulu sedikit mengucilkan Badidang karena dia memiliki sedikit masalah mental, semacam anak dengan keterbatasan IQ (Intelligency Quotient). Dia sering menjadi bahan olok-olok karena tak bisa berbicara dengan baik, selalu senyum-senyum sendiri, dan kebiasaan buruknya yang suka memakan makanan bekas dari tempat sampah, atau untuk menjadi musuh besar dari satu orang dengan gangguan mental lain yang lumayan terkenal di kota kami. Saat itu kami semua suka mem-bully Badidang di segala hal, dan saat saya mengingatnya lagi saat ini, terbersit banyak penyesalan di benak saya atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan padanya dulu.

Sedari dulu, saat ada acara-acara seperti ini, Badidang selalu suka membantu pekerjaan-pekerjaan apapun yang diperintahkan padanya. Tak seperti anak-anak kecil yang lain (termasuk saya) yang jangankan ikut membantu pekerjaan warga kampung, tapi malah senang membuat kekacauan dimana-mana khas anak-anak. Dan ternyata, kebiasaan membantunya itu masih terus berlangsung hingga hari ini. Di acara-acara seperti ini, dia tetap ikut membantu. Untuk sekedar ikut merapikan barisan kursi, menjaga parkiran motor di pinggiran jalan, menyapu, apa saja. Dan dia melakukannya dengan wajah ceria, senyum yang selalu terkembang, tanpa keluhan. Di acara-acara seperti ini, dia selalu disukai dan dicari-cari.

Dengan perlahan, saya datangi dia yang tengah menatap ke arah keramaian pesta. Saya tawarkan sebatang rokok yang langsung diterimanya dengan ucapan terima kasih yang agak susah dimengerti dan senyuman khasnya. Lama saya pandangi matanya tanpa berbicara apa-apa, dia tak terpengaruh, senyum itu tetap di situ membalas balik. Hingga akhirnya saya tersenyum dan merangkul pundaknya, sambil tetap tak berucap apa-apa. Saya mintakan seorang saudara yang kebetulan sedang lewat di hadapan kami berdua untuk mengabadikan moment itu. Dan setelahnya, saya pergi meninggalkannya sendiri di depan sana.

Saya pikir, sampai detik ini, saya tak tahu apa yang harus saya ucapkan padanya saat itu. Saat kami saling menatap lama, dan lintasan memori masa kecil itu bergerak secepat tiupan malaikat. Saya pikir itu saja yang bisa saya bahasakan kepadanya. Dan bukan, Saya bukan meminta maaf atas apapun yang saya lakukan padanya dulu, karena kamupun tahu bahwa saat itu kami ada di dunia anak-anak. Dan mungkin semacam sebuah bahasa yang dulu belum pernah saya mengerti, hingga akhirnya dia tiba di detik ini.

Sehat terus, Dang. God bless!
Curup, Minggu 27 Maret 2016
Foto oleh Deni Hardiansyah

Jumat, 18 Maret 2016

Malam di Jababeka (4)

Mungkin selanjutnya saya akan selalu mengingat hari itu, sebuah rabu di dua hari yang lalu. Seperti sebuah hari yang terlalu padat dengan pelajaran-pelajaran yang berat. Saat di awal sorenya seorang kawan yang hampir setahun ini saya kenal lewat seorang kawan yang lain. Kami berdialog di kisaran setengah jam di lobby kantor kami yang hangat, meski pikiran saya waktu itu masih dipenuhi dengan rencana memulai usaha berjualan peralatan lapangan bersama seorang kawan baik yang lain di Kota Kembang sana. Mau-tak-mau, obrolan kami sore itu agak terbatas, saya bahkan tak terlalu ingat saat itu kami bicarakan apa saja. Hingga tak sadar, kami bicara tentang beberapa hal yang sensitif, dan saya terhanyut di dalamnya tanpa banyak bisa berpikir baik.

Setidaknya, saya selalu mencoba untuk menjadi seorang kawan yang baik. Tapi ternyata, sebuah niat baik yang disampaikan dengan terlalu serampangan akan berujung menjadi kesalahan. Dan saya mempelajari itu lebih jauh setelah jam pulang kantor kami tiba, dan warung sederhana di pojokan tempat saya biasa niagakan malam itu menjadi saksi kegelisahan yang menggelayuti hati dan pikiran sedari kami berpisah tadi. Lantas memesan segelas kopi hitam yang penuh, saya memilih duduk sendiri di salah satu sudut remang warung, memandang hujan yang turun ganas menghajar muka-muka jalanan aspal yang sepi. Saya mencoba mengingat lagi interaksi-interaksi kami sebelum ini, dan membenturkannya dengan kondisi yang saya hadapi saat ini. Ah, saya bingung sekali.

Tawaran yang diajukan oleh kawan di awal sore tadi, jelas sangat menguntungkan. Dan sepertinya akan normal sekali jika saya memutuskan untuk mempertimbangkan atau bahkan menerimanya. Saya bahkan sempat merasa sangat bahagia saat mendengar tawarannya. Tapi di saat yang bersamaan, ada bagian dari hati saya yang menolaknya dengan bahasa yang sulit untuk dijelaskan. Hal ini akhirnya membentuk sebuah konflik, saat saya seolah diminta untuk memilih antara keuntungan atau ketenangan hati. Dialog dan perdebatan panjang terjadi di dalam benak saya di sela regukan-regukan kopi yang tak benar terasa ada. Atau teringat saat ayah dulu berkata, bahwa menjalani hidup adalah tentang mencari ketenangan hati, tapi lantas bagian dari diri saya yang lain menjawab tangkas berucap cepat: “keuntungan tentu juga bukan berarti tak tenang hati”. 

Saya tahu, hidup tak pernah bisa dibedakan menjadi hitam-dan-putih, seperti halnya juga dengan keuntungan-dan-ketenangan hati. Tapi bagian diri saya yang lain sepertinya tetap tak lelah mencoba menolak ide memanfaatkan keuntungan yang ini. Dia semacam berkata: “ini tak baik!”. Atau saat saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mendiskusikan kegelisahan itu bersama dua orang kawan baik via percakapan di dunia maya. Dan saya pikir mereka baik sekali untuk mencoba memberikan berbagai pertimbangan yang belum terpikirkan. Tapi tetap saja, karena kamupun tahu, saya tak mudah dipengaruhi. Ah. Saya pikir, keuntungan adalah rezeki dari Tuhan. Kenapa harus ditolak? Selain itu, kawan itu juga memberikannya dengan ikhlas dan senang hati, saya perlu berpikir apa lagi?

Gelas kopinya sudah memasuki yang ketiga, dan derai hujan belum kunjung mereda, saya tetap mencoba untuk menenangkan diri. Menjulurkan tangan ke bawah hujan dan membiarkannya basah beberapa saat, lalu mengeringkannya lagi, sembari merasakan kabut-kabut yang turun tipis dan perlahan. Terlintas di layar kamera genggam ini sebuah potret sederhana dengan seorang kawan saat kami tengah berada di rumah neneknya di Bandung sana. Di potret itu, tergambar kami berdua seolah tengah merenung tapi entah tentang apa. Saya tersenyum melihatnya, “kenapa kamu bingung tentang untung dan rugi? Konyol sekali.

***
Mencoba melakukan hal yang baik bukanlah hal yang selalu mudah, seperti mencoba melakukan hal buruk tentu tak selamanya sulit. Dan mungkin kata-kata di kitab itu benar adanya, bahwa hidup hanyalah sebuah canda dan tawa. Yang seandainya boleh memilih, saya ingin menjalaninya bersama derai hujan perlahan yang menentramkan.


Cikarang, 18 Maret 2016

Kabar dari Bandung (7)

Bandung, 12-13 Maret 2016. 
Bandung sedang semangat. Cuaca cerah dari Bandung barat, Cimahi, sampai ke selatan lagi. Mengunjungi beberapa kawan baik di posnya masing-masing. Ya, sebutlah silaturahmi. Sudah. nanti lagi

***
Berawal dari segelas kopi sore di terminal itu, akhirnya hari ini surat perjanjian kerjasama itu kami tanda tangani berdua. Ah, benar, salah satu sensasi terbaik adalah saat mengingat lagi 1.001 cerita yang pernah dilewati bersama dari 11 tahun yang lalu sampai hari ini.
Halo, Gelar T Kusumawardhana! *
Bila dibandingkan dengan saya dulu di umuran yang sama, anak ini jelas menang telak. Mental, sikap, dan ketenangannya sudah ada di level tinggi. Saya perkenalkan, namanya Angga R Direza.
Dan mungkin satu-satunya keunggulan saya dulu adalah, di umuran dia saat ini, jelas saya sedang punya pacar. Hahaa! **
Kawan saya. Namanya Bumi B Kelana. Bapaknya lagi asik diskusi grup filsafat sama Om Gelar di atas kursi. Kami mah jalan-jalan aja jajan mie kremes di warung sambil digendong di bahu. Terus sampe rumah lagi, bagi-bagi tugas: dia ngedongak mangap yang gede, saya masukin mie ke mulutnya langsung dari plastik mie. Hahaa.
Jayalah Indonesia! #nyanyilaguperindo ***
Atau yang ini, selamat pagi dari Kalidam, Cimahi. Mandi tapi ga ada handuk, jadi terpaksa dikeringin di bawah matahari.
Ini yang paling spesial dari edisi kali ini. Tentang kemaren di setengah 8 pagi, si cantik dari Sukabumi, Ghaizani T Irawan, sukses mendarat di bumi dengan selamat. Welcome!! ****
Cikarang, 18 Maret 2016

* Foto oleh Angga Direza
** Foto oleh Gelar Kusumawardhana
*** Foto oleh Haikal Sedayo
**** Foto oleh Debi Krisna