 |
Sayangnya cuma ada foto sekitar berapa bulan yang lewat ini. Dan tadi kami agak lebih banyakan lagi. Halah, biarin aja. :D |
Mengintip dari jendela ruang kerja yang lebar di balik gorden biru muda yang ini, saya temukan ternyata di luar sorenya sedang cerah sekali. Matahari sudah condong banyak, angin-angin
terlihat tengah asik sekali meniup dedaunan mahoni muda di luar sana, buat bergerak kesana-kemari. Sendiri: “ah, hari sudah hampir selesai ternyata”. Dan hampir setiap kalinya saya
berpikir seperti itu, maka itu adalah pertanda bahwa saya akan segera beranjak pulang dari ruangan
besar ini. Untuk menitipkan dulu pekerjaan yang tak pernah mengenal kata selesai ini
pada deretan meja-meja panjang dan para penggiatnya yang mulai sepi, saya katakan:
“sampai ketemu besok lagi, kamu. Itu juga
kalau saya masih ingat jalan datang ke sini, :D”. Dan seperti biasa, dia akan diam saja
tak pernah menjawab. Ah, biar saja, maklumi saja. Dia memang tak begitu ramah, tapi aslinya dia baik sekali kok.
:)
Tibalah di depan pagar kami yang ini lagi, di tengah sorenya yang terus berlanjut tanpa terganggu oleh apapun. Menjumpai
beberapa kawan sehari-hari tengah duduk-duduk mengobrol menikmati sorenya yang seperti seru sekali. Kedatangan
saya itu disambut dengan berbagai pertanyaan, dan saya akan selalu berusaha untuk tidak terlihat terlalu antusias saat mendengarnya. :) Padahal percayalah, saya suka
sekali mendengar setiap pertanyaannya itu. Hanya agar kami tak terlalu
menjadikannya drama, maka saya akan berdiam saja, atau senyum-senyum. Ah,
begitu saja. :)
Sore ini, saya sebenarnya sedang tak terlalu ingin mengobrol. Saya hanya
sedang ingin mendengarkan saja. Mendengarkan apapun yang mereka obrolkan, dan saya akan merekam
sebisanya. Berikut satu-persatu kawan-kawan lain yang pergi atau yang datang sama
banyaknya, saya merasa hidup. Pada tiupan angin pada dedaunan mahoni
muda juga kelapa pendek di seberang sana, saya mencoba berkontemplasi pada
gilirannya. Saya katakan sekali lagi: rasanya ini damai sekali, :). Dengan sesekali terdengar gurau kawan-kawan yang
sayup-sayup, saya pikir memang seperti inilah rupa ketenangan itu. Mungkin seperti
inilah irisan kehidupan yang sering saya ucap-tuliskan di mana dan pada siapa saja itu.
Hingga akhirnya tak tertahan lagi, saya mencoba mengajak mereka menikmat-masuki
kenyamanan yang tengah saya alami.
“Hai, Kawan, coba kamu lihat, itu. Daun muda mahoni itu dan
nyiur kelapa di seberang sana, mereka bergerak-gerak. Apakah kamu tahu, kiranya mengapa mereka bergerak?”
Mereka tertawa, sepertinya mereka sudah terlalu terbiasa
mendengar saya berbicara abstrak seperti ini. Dan saat salah satu dari mereka menjawab ringan: “karena ditiup angin, bergeraklah mereka
kemanapun angin berhembus”. Ganti saya kini yang tertawa mendengarnya. Lanjutnya saya
mengajukan satu pertanyaan lagi.
“Dan lantas mengapa dia bergerak
ditiup angin? Untuk apa dia mengikuti kemana angin berhembus?”
Tak ada jawaban, yang ada hanya tawa panjang yang riuh. Kami
sama tertawa.
***
Dan saya paham sekali, bahwa kadang (atau bahkan seringnya) mereka
berpikir bahwa saya sudah tak terlalu waras atas pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Dan
saya sama sekali tak pernah keberatan atas ide-pikiran itu. Bila memang
mereka beranggapan seperti itu, maka biar saja. Karena toh saya tak lantas benar jadi gila juga karenanya. Begitu kan ya?
:D
Maka lanjutlah saya bicara panjang lebar, dan mereka yang mencoba
mendengarkan. Hingga di penutupnya saya katakan: “lalu apa yang membawamu duduk di sini sore ini, Kawan? Untuk mendengarkan seseorang
yang mungkin saja sudah gila tengah bicarakan daun pepohonan ditiup angin-angin yang lewat?” Ahahahaa.
Ya sudahlah, sekarang saya sudah cape bercerita, mereka pun juga pasti sudah sama cape mendengarkan.
Mungkin memang ada baiknya kalau sekarang kami pesankan kopi segelas lagi dulu, mumpung
langit di Jababeka sudah gelap. Besok-besok, kita bicara tentang angin dan sivitasnya itu lagi. :D
Selamat menjelang malam, Jababeka!
Cikarang, 6 Agustus 2014