Jumat, 09 Januari 2015

Cermin dan Interaksi

Adalah sebuah rasa yang menyenangkan. Saat di penghujung sore yang ini, kamu menemui sebuah gambaran yang mencerminkan siapa rupanya dirimu saat ini, merasakan bahwa sepertinya ada bagian dari dirimu yang bergeser, jadi tak terlalu sama dengan masa lalu. Ah, menarik. Entah itu ternyata ke arah yang lebih baik, entah malah sebaliknya, kupikir sebenarnya intinya bukan itu. Tapi percaya saja, bahwa ini adalah hal yang baik. Membuatmu lebih banyak berdiskusi dengan dirimu sendiri, untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Dan mungkin orang lainpun pernah merasakannya juga dalam bentuk yang berbeda, tapi kurasa kamu tetap saja beruntung. Kurasa begitu. Karena kamu tak harus melulu menjadi spesial terlebih dahulu untuk bisa disebut beruntung. :D

Yang bila dibagi dalam bentuk kotak-kotak kosong, maka pikiran manusia dapat dibagi sama rata menjadi triliunan kotak-kotak, atau bahkan lebih banyak lagi. Aku bisa sebutkan bahwa kotak-kotak tersebut tersimpan tak rapi dalam dimensi ruang-waktu-kejadian. Kotak-kotak itu bisa kamu ambil, bongkar, baca kembali, lalu tutup lagi. Mungkin kamu akan kesulitan untuk merapikannya kembali, baik itu untuk rapi di dalam kotak, atau untuk rapi dalam dimensi tadi. Kamu hanya akan meninggalkannya centang prenang, heheu.

Dan saat dimana nanti kamu memasukkan kotak yang baru berikut isinya yang sama baru, mungkin memori atau nalurimu akan menemukan sebuah kotak lama berisi sesuatu yang mirip-mirip dengan kotak barumu tadi. Tak ayal, kamu akan membuka-bongkar keduanya, lalu banding-membanding, dan menemukan sebuah opini baru yang unik. Bisa saja opini barumu itu berisi kesal, bisa juga bahagia, atau malah bisa biasa saja. Tapi menurutku, sebenarnya kamu sudah beruntung. Beruntung untuk bisa mempertemukan dua kotak baru-lama itu.

***
Sebuah seri lanjutan dari dialog ini adalah seorang office boy yang tengah membersihkan meja-meja dengan telaten. Dengan suara gesekan alas sepatu karetnya yang beradu dengan lantai putih, dan wajah bersemangat di suasana hening yang tak begitu lama. Saat ini saya sedang sendiri di ruangan besar ini, untuk sekedar menuliskan hal-hal yang membuat saya merasa bahagia di sore yang tadi. Lanjut saya tanyakan singkat padanya yang tengah sigap mengelap ini dan itu. Dia menjawab antusias. Hingga saya tawarkan untuk memberinya selamat jabat tangan yang entah untuk apa. Dia mengikuti. Kami tertawa.

***
Dan apakah kamu tahu? Bahwa persinggungan batas dimensi antar individu –seperti dialog bersama office boy tadi, adalah sebuah puncak dari keberadaan individu itu sendiri. Dan apakah kamu tahu? Bahwa dalam persinggungan dua kotak-kotak baru-lama yang tadi adalah puncak dari keberadaan buah pikiran dari setiap kotak yang tersimpan awut-awutan. Hmm, ya mungkin hampir samalah seperti itu.
DLBS, Cikarang, 9 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar