Sabtu malam, dan saya terbangun dari sebuah tidur malam yang
ternyata singkat sekali. Melirik ke arah jam dinding berwarna coklat buram yang
tergantung di sisi selatan kos-kosan sempit di antara warna hijau tosca yang memenuhi
dinding, saya segera tahu bahwa malam itu bahkan belum sampai di pertengahan. Sebenarnya saya
sedang sedikit kesal, karena saya tak pernah suka bila harus terbangun karena bunyi-bunyian
yang berisik. Saat itu, radio combo kecil berwarna silver itu tengah mengeluarkan suara yang menurut saya sangat mengganggu. Saya tahu, siaran radio itu pasti tadinya tengah didengarkan oleh kakak sepupu yang saat ini sudah jatuh terlelap di sebelah kasur yang masih terbilang baru.
Saya belum tergerak untuk mematikan radionya, mungkin karena masih terlalu mengantuk. Dan radio itu tetap saja dengan obrolan dua
orang yang bahasanya tak saya pahami. Tapi setidaknya saya bisa tahu, bahwa mereka
berdua tengah berdialog dalam bahasa sunda :p. Malam itu adalah di pertengahan tahun
2003. Saya baru 1-2 bulan itu tiba di bumi parahyangan. Hingga tak aneh bila
saya belum terlalu mengerti bahasanya.
Mungkin sudah genap 15 menit saya masih tak kunjung bisa lanjut
tertidur. Di antara dengkur kakak sepupu yang tengah pulas, dan obrolan bahasa
sunda yang membingungkan. Melihat langit-langit, kini suara obrolan di
radio ini semakin jelas. Saya mendengarkan. Sesekali jeda iklan di siarannya, akhirnya saya tahu bahwa stasiun radio yang tengah bercakap-cakap tak
jelas ini adalah Radio Mora. 88.5 FM, ah saya masih ingat benar, :D. Sesekali diselingi
tembang-tembang sunda yang sama tak dapat dipahami, saya semakin khusyu
mendengarkan. Hmmm, apakah kamu tahu? Bahwa yang membuat saya tetap
mendengarkan dialog aneh itu adalah karena gelak tawa mereka yang riang. Ya.
Saya mendengarkan mereka karena mereka suka tertawa. Tawa yang menggelikan, dan
bukan tawa dibuat-buat yang biasa terdengar di stasiun radio yang lain. Dan entah
dengan jalur berpikir yang bagaimana, saat itu saya bersimpulan bahwa bahasa
sunda adalah bahasa humor. :)
Dan semenjak malam itu, setiap sabtu malam saya akan
menunggu obrolan mereka terdengar di channel 88.5 FM. Sedikit demi
sedikit saya mulai memahami satu-per-satu kosakata sunda yang mereka ucapkan. Di beberapa
bagian yang saya pahami, terkadang saya juga mulai ikut tertawa. Juga untuk
selanjutnya tahu bahwa mereka berdua bernama Kang Udung dan Kang Wildan. Saya
sangat menyukai cara mereka berbicara, dan bahasa sunda itu juga. Menurut saya
gabungannya lucu sekali. Untuk mendengarkan dialog mereka dengan para pendengar
lain yang tengah menelpon, atau untuk mendengarkan dongeng dadakan asal-asalan karangan
mereka sendiri, atau mendengar mereka nyanyikan lagu “Di Alun-Alun” secara acapella atau tembang “Entog Balik” yang
beringas, juga menyimak selingan lagu-lagu sunda yang kadang romantis kadang gembira,
atau mendengar mereka berbicara tentang realita dengan tak terlalu serius, ah
banyak. Dan saya menyukai hampir semuanya. Bahkan tembang sunda favorit saya berjudul
“Jayagiri” itupun pertama kali saya dengarkan di acara ini. :)
Nama acara itu adalah Panglipur Kalbu. Bila diartikan secara
kasar, mungkin artinya adalah penghibur hati. Ah, bagus ya? :) Saat itu mereka
siaran setiap sabtu malam dari jam 10 malam hingga 4 subuh. Terkadang saya
begadang sepanjang malam hanya untuk mendengarkan mereka. Dan bila mendengar kosakata bahasa sunda yang tak saya mengerti, maka saya
akan mencatatnya di selembar kertas, untuk kemudian saya diskusikan bersama kawan-kawan
yang lain kiranya kata-kata tersebut maknanya apa dan bisa diaplikasikan untuk konteks
apa saja. Begitu cara saya mengenal bahasa dan kebudayaan Sunda secara umum. Dan
semakin banyak saya mendengar-memperhatikan, akhirnya saya tahu, bahwa humor adalah jiwa dari
kebudayaan ajaib ini. Setidaknya menurut saya seperti itu. :D
Mungkin kita pernah mendengar nama Kang Ibing, Darso, Doel
Sumbang, Sule, atau seniman tanah Sunda yang lain. Atau membaca kisah tokoh
rekaan seperti Si Kabayan yang menarik. Atau obrolan dua seniman itu di sepanjang malam Panglipur Kalbu. Tentu saja mereka tak melulu bicara tentang
sesuatu yang konyol dan tak bermakna, bahkan saya pikir banyaknya mereka malah bicara
tentang hal-hal sensitif. Tapi menurut saya, hebatnya, mereka bisa
membawakannya dengan bumbu keceriaan dan tawa. Saya pikir cara berdialog
seperti itu baik sekali. Dimana otot-otot tak perlu kejang saat mengemukakan
apa yang dipikirkan, dan dada tak perlu berdegup kencang tak teratur seperti
getaran speaker sember yang
dipaksakan tetap bergetar.
***
Dan kawan, mungkin yang dibutuhkan hanyalah mengutarakan
buah pikir dengan sedikit bumbu humor, juga dengarkan apapun yang tiba di
telinga dengan khidmat dan rasa hormat yang tak tegang. Atau bila sedang
mau, mungkin sesekali tambahkan pula tawa yang tulus di antaranya. Dan bila
nyatanya kamu menolak untuk bisa seperti itu, maka sebenarnya itu juga bukan
masalah. Lakukan saja apa yang kamu sukai. :D
Sebuah tribute untuk Kang Wildan Nasution yang lepas usia di 19 Januari
lalu. Hatur nuhun dan pileuleuyan, Kang. :)
Cikarang, 26 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar