Senin, 26 Januari 2015

Panglipur Kalbu

Sabtu malam, dan saya terbangun dari sebuah tidur malam yang ternyata singkat sekali. Melirik ke arah jam dinding berwarna coklat buram yang tergantung di sisi selatan kos-kosan sempit di antara warna hijau tosca yang memenuhi dinding, saya segera tahu bahwa malam itu bahkan belum sampai di pertengahan. Sebenarnya saya sedang sedikit kesal, karena saya tak pernah suka bila harus terbangun karena bunyi-bunyian yang berisik. Saat itu, radio combo kecil berwarna silver itu tengah mengeluarkan suara yang menurut saya sangat mengganggu. Saya tahu, siaran radio itu pasti tadinya tengah didengarkan oleh kakak sepupu yang saat ini sudah jatuh terlelap di sebelah kasur yang masih terbilang baru.

Saya belum tergerak untuk mematikan radionya, mungkin karena masih terlalu mengantuk. Dan radio itu tetap saja dengan obrolan dua orang yang bahasanya tak saya pahami. Tapi setidaknya saya bisa tahu, bahwa mereka berdua tengah berdialog dalam bahasa sunda :p. Malam itu adalah di pertengahan tahun 2003. Saya baru 1-2 bulan itu tiba di bumi parahyangan. Hingga tak aneh bila saya belum terlalu mengerti bahasanya.

Mungkin sudah genap 15 menit saya masih tak kunjung bisa lanjut tertidur. Di antara dengkur kakak sepupu yang tengah pulas, dan obrolan bahasa sunda yang membingungkan. Melihat langit-langit, kini suara obrolan di radio ini semakin jelas. Saya mendengarkan. Sesekali jeda iklan di siarannya, akhirnya saya tahu bahwa stasiun radio yang tengah bercakap-cakap tak jelas ini adalah Radio Mora. 88.5 FM, ah saya masih ingat benar, :D. Sesekali diselingi tembang-tembang sunda yang sama tak dapat dipahami, saya semakin khusyu mendengarkan. Hmmm, apakah kamu tahu? Bahwa yang membuat saya tetap mendengarkan dialog aneh itu adalah karena gelak tawa mereka yang riang. Ya. Saya mendengarkan mereka karena mereka suka tertawa. Tawa yang menggelikan, dan bukan tawa dibuat-buat yang biasa terdengar di stasiun radio yang lain. Dan entah dengan jalur berpikir yang bagaimana, saat itu saya bersimpulan bahwa bahasa sunda adalah bahasa humor. :)

Dan semenjak malam itu, setiap sabtu malam saya akan menunggu obrolan mereka terdengar di channel 88.5 FM. Sedikit demi sedikit saya mulai memahami satu-per-satu kosakata sunda yang mereka ucapkan. Di beberapa bagian yang saya pahami, terkadang saya juga mulai ikut tertawa. Juga untuk selanjutnya tahu bahwa mereka berdua bernama Kang Udung dan Kang Wildan. Saya sangat menyukai cara mereka berbicara, dan bahasa sunda itu juga. Menurut saya gabungannya lucu sekali. Untuk mendengarkan dialog mereka dengan para pendengar lain yang tengah menelpon, atau untuk mendengarkan dongeng dadakan asal-asalan karangan mereka sendiri, atau mendengar mereka nyanyikan lagu “Di Alun-Alun” secara acapella atau tembang “Entog Balik” yang beringas, juga menyimak selingan lagu-lagu sunda yang kadang romantis kadang gembira, atau mendengar mereka berbicara tentang realita dengan tak terlalu serius, ah banyak. Dan saya menyukai hampir semuanya. Bahkan tembang sunda favorit saya berjudul “Jayagiri” itupun pertama kali saya dengarkan di acara ini. :)

Nama acara itu adalah Panglipur Kalbu. Bila diartikan secara kasar, mungkin artinya adalah penghibur hati. Ah, bagus ya? :) Saat itu mereka siaran setiap sabtu malam dari jam 10 malam hingga 4 subuh. Terkadang saya begadang sepanjang malam hanya untuk mendengarkan mereka. Dan bila mendengar kosakata bahasa sunda yang tak saya mengerti, maka saya akan mencatatnya di selembar kertas, untuk kemudian saya diskusikan bersama kawan-kawan yang lain kiranya kata-kata tersebut maknanya apa dan bisa diaplikasikan untuk konteks apa saja. Begitu cara saya mengenal bahasa dan kebudayaan Sunda secara umum. Dan semakin banyak saya mendengar-memperhatikan, akhirnya saya tahu, bahwa humor adalah jiwa dari kebudayaan ajaib ini. Setidaknya menurut saya seperti itu. :D

Mungkin kita pernah mendengar nama Kang Ibing, Darso, Doel Sumbang, Sule, atau seniman tanah Sunda yang lain. Atau membaca kisah tokoh rekaan seperti Si Kabayan yang menarik. Atau obrolan dua seniman itu di sepanjang malam Panglipur Kalbu. Tentu saja mereka tak melulu bicara tentang sesuatu yang konyol dan tak bermakna, bahkan saya pikir banyaknya mereka malah bicara tentang hal-hal sensitif. Tapi menurut saya, hebatnya, mereka bisa membawakannya dengan bumbu keceriaan dan tawa. Saya pikir cara berdialog seperti itu baik sekali. Dimana otot-otot tak perlu kejang saat mengemukakan apa yang dipikirkan, dan dada tak perlu berdegup kencang tak teratur seperti getaran speaker sember yang dipaksakan tetap bergetar.

***
Dan kawan, mungkin yang dibutuhkan hanyalah mengutarakan buah pikir dengan sedikit bumbu humor, juga dengarkan apapun yang tiba di telinga dengan khidmat dan rasa hormat yang tak tegang. Atau bila sedang mau, mungkin sesekali tambahkan pula tawa yang tulus di antaranya. Dan bila nyatanya kamu menolak untuk bisa seperti itu, maka sebenarnya itu juga bukan masalah. Lakukan saja apa yang kamu sukai. :D

Sebuah tribute untuk Kang Wildan Nasution yang lepas usia di 19 Januari lalu. Hatur nuhun dan pileuleuyan, Kang. :)
Cikarang, 26 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar