Aku pulang sekolah, di siang
senin atau selasa itu. Aku masih ingat persis jam dinding bentuk garuda hitam di ruang
tamu kami menunjukkan hari sudah masuk waktu dzuhur, tepatnya jam 12.55. Memang
tadi aku pulang sedikit terlambat dari biasanya karena aku dan salah seorang
kawan terdekatku waktu itu, Arnoldi, memilih pulang lewat sawah di belakang
sekolah ketimbang lewat jalan aspal biasa. Di pesawahan itu, kami tinggal
berjalan ke arah barat dan setelah 45 menit kami akan sampai. Di perjalanannya,
setelan baju sekolahku kotor, terkena percikan lumpur sawah dan air
irigasi. Atau penuh rumput gatal yang menempel di kaos kaki dan celana pendek merah
seragam sekolah. Soal sepatu, jangan ditanya. Sepatu hitam seatas mata kaki ku
itu jadi coklat, tebal berlumur lumpur.
Aku berjalan, menuju kamar mandi
sederhana kami yang luas, dengan air sumurnya yang dingin dan segar. Tak lupa, aku keluarkan dari saku celanaku sebuah kantong plastik putih, yang tadi kutemukan terhanyut di saluran irigasi kecil di bawah pohon kelapa menjulang di pematang
sawah tak jauh dari sekolah. Kantong plastik itu berisi buah Arben dan Cenenet yang kukumpulkan tadi
di sepanjang perjalanan pulang. Memang salah satu tujuan kami pulang lewat
sawah adalah mengumpulkan buah-buahan memerah nan manis itu. Aku dan kawan-kawanku sangat
menyukai buah-buahan ini, untuk dimakan di siang panas sambil berjalan pulang. Buah-buahan
ini kami dapatkan gratis, tapi mesti ditukar dengan pakaian sekolah yang
menjadi kotor, tapi kami selalu senang melakukannya.
Sekitar segenggam buah-buahan kukeluarkan dari kantong plastik
itu. Kubilas semuanya dalam seember air jernih dari sumur, biar bersih semua
sisa lumpur. Berjingkat, aku keluar sebentar ke seberang pintu kamar mandi, ke arah rak piring dari plastik setinggi tubuhku itu, ambil sebuah mangkok
plastik kecil berwarna biru muda. Kusimpan seluruh buah menggoda itu di dalamnya, letakkan di atas meja makan dari kayu dibalut plastik motif bunga warna-warni itu. Sesaat kemudian kembali ke kamar mandi, teruskan mandi biar bersih semua badan. Setelahnya,
menu makan siang, nasi yang sudah didinginkan di piring kaca dan sambal telor bulat di meja dapur ditemani seorang
wanita tua yang meneduhkan, Zainab binti Samin, nenekku dari ibu. Sambil menatapi
aku makan, diambilnya satu atau dua buah Arben tadi dan dimakannya dalam
gembira. Kami bercengkerama.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar