Sabtu, 16 November 2013

Ngacapruk

16 November 2013, menunggu tengah malam, waktu Indonesia barat.

22.57
Lagi nyamar!! Minta duit!! Belum makan dari SMP kelas 2.

23.07
Puji syukur ke hadirat Tuhan. Semenjak pemerintahan SBY ini, kehidupan keluarga saya sudah meningkat. Dulu kami hidup di bawah garis kemiskinan, dan sekarang, setelah hampir genap satu dekade, alhamdulillah kami hidup di pas garis kemiskinan. *ketawasendirian

23.18
Ayah saya dulu selalu berpesan supaya selalu ingat membawa KTP. Karena kalau tidak, dan di jalan sedang ada razia, saya bisa diangkut ke mobil satpol PP, divonis sebagai anggota GEPENG, gembel dan pengemis. Gitu dia bilangnya. Ahahaa. Sebenarnya ga perlu KTP, saya udah keliatan kaya juragan lumpur Sidoarjo secara natural. B-)

23.27
Kenapa tukang becak sering terengah-engah saat mengayuh becak 1 km berisi ibu gemuk beserta 1 karung beras 50 kg? Pura-pura aja, biar keliatan cape sama aparat DLLAJR

23.31
Kata tukang duren di Jababeka, yang pengemis itu sebenarnya adalah aparat keamanan. Saya tanya balik: "kenapa tak ada mentri perdurenan di republik ini, Mang?". Dia mesem-mesem.

23.41
Kata seorang pejabat, dalam orasinya yang meniup seperti kipas angin rusak, ".ita pasti bisa!" .ita harus tunjukkan pada dunia!". Seorang demonstran buruh bertanya pada kawannya di warung kopi: "kapan draft tuntutan kita bisa selesai?" kawannya menjawab: "liat! .ita wiryawan main piano di jawa jazz". Balasnya: "ah ga nyambung lu, koplakk!!"

23.43
Ah udah!! Tidur duluuuu, Jangan lupa sebelum tidur minum kopi yang banyak!!
Cikarang, 17 November 2013

Sebuah Kebanggaan

Dari Sukarno, dari Bacharuddin Habibie, dari Sujiwo Tejo, dari Raymond Tjandrawinata, dari Indra Thahir, dari Andrea Hirata, dari Susi Susanti, dari Gesang, dari banyak lagi, saya belajar tentang sebuah kebanggaan. Sebuah rasa bangga yang terbuka, dan disampaikan dengan caranya yang masing-masing. Saya pikir, memang begini yang seharusnya. Memang begini yang seharusnya. Jalannya yang masing-masing, tapi terjemahannya selalu mirip. Tentang kebanggaan yang tidak dimonopoli.
Cikarang, 17 November 2013

Mimpi di Citra Indah

Pagar gerimis Bukit Cempaka.
Sabtu pagi. Bersama seorang kawan, kami menuju ke sini. Sebuah perumahan yang saya anggap besar, dengan cuaca sekitar yang menyenangkan pula. Untuk lokasi, dengar-dengar, daerah ini masuk ke daerah timur laut bogor, lebih tepatnya daerah Jonggol, kabupaten Bogor. Perumahan Citra Indah, begitu namanya. Pelan-pelan, kami melihat-melihat, sedari pagi cerah sampailah di gerimis sore satu-satu yang asik. Setelah menemukan apa yang kami cari, juga lepas hampiri rumah seorang kawan yang lain untuk disuguhi segelas kopi hangat, kami kembali lagi ke tempat ini, tempat yang saya temukan hari ini. Bersemangat sekalinya saya, hingga saat tiba waktunya pulang, saya ajak mereka mampir dulu sekali lagi ke sini, belum juga puas rasanya.

Tanah kosong seluas 134,82 meter persegi. Di sinilah kiranya nanti akan berdiri sebuah rumah kecil dengan tipe 21. Terlalu kecil menurutmu? Menurut saya sangat relatif. Heheu. Sepertinya akan sangat cocok dengan apa yang saya pikirkan, apa yang saya inginkan, apa yang saya rencanakan. Semoganya nanti memang benar bisa semenyenangkan itu. :) Di perbatasan selatan tanahnya, adalah sebuah tembok setinggi kisaran dua meter. Di belakangnya, terhampar hijau yang sampai jauh seluas mata memandang sampai ke kaki perbukitan biru di ujung sana, diselingi pula dengan sebuah sungai kecil yang terlihat berukuran sangat mini. Entah kenapa saya merasa kurang puas saat hanya sekedar mengintip panoramanya dari sisi dalam pagar tembok batako itu saja. Masih di antara gerimisnya yang hangat, lanjut saya naiki pagarnya, biar lebih lepaslah mata memandang. Dan sampailah. Berpikir sejenak, saya berujar dalam hati: "Ya, ini yang saya inginkan". :)

Tanpa saya sadari, kawan yang tadi, dari bawah, mengambil beberapa gambar yang ternyata sangat saya sukai. Kesannya yang tertangkap: sebuah siluet. Di tempat tadi saya berdiri di atas sana, saat lepaskan pandang ke selatan jauh menerawang kiranya cerita ini nantinya akan bermuara kemana. Yang semoganya akan tetap terasa senang sampai kapanpun, meski saya tak tahu pasti. Tapi bagi saya cukuplah dulu senang yang ini untuk sekarang, dan cukuplah pula beberapa lembar mimpi lanjutan besok-besoknya. :)
Cikarang, 16 November 2013
*foto oleh Frans Kurnia

Kamis, 14 November 2013

Para Penari Hujan

Adalah sebuah ungkapan yang saya buat sendiri saat masih kecil dulu: hujan adalah basah. Heheu. Dulu, saat hujan raya datang, dengan senang hati saya akan berlarian keluar lewat pintu samping rumah, menuju rumah beberapa kawan untuk mengajaknya bermain hujan. Bila mereka tak ada, saya akan membujuk kakak-kakak sepupu untuk temani saya menikmati basahnya. Dan bila ternyata tak ada siapa-siapa untuk diajakpun, saya akan sendiri saja, tak masalah. Sepi memang, tapi setidaknya lebih baik dari pada hanya melihatnya dari balik jendela kamar yang hangat. Dalam suasananya, saya akan menari-nari bebas di bawah milyaran titik air sebesar biji jagung jatuh dari langit itu. Atau bersila dengan tangan bersedekap di depan dada seolah bertapa di bawah seng karatan yang mengalirkan air dingin sederas limpah air terjun di tengah hutan Liku Sembilan di pedalaman Bengkulu. Saya masih sangat ingat saat-saat itu, tapi saya tak terlalu ingat kenapa saya merasa senang pada garis-garis bening lurus menghajar wajah saat khusyu tengadahkan kepala memuja langit dalam mendung tebal menghitam tapi ramah itu.

Saya beranjak dewasa. Dan sudah sedikit malu untuk menari bebas di bawah hujan tanpa alasan yang jelas. Saat-saat seperti itu, saya akan coba mencari beberapa alasan lain untuk bisa beraktivitas di bawahnya. Seperti mengendarai motor di tengahnya, berpura mengerjakan tugas apapun yang saya sebutkan “tanggung kalau di-ntar-ntar” ke orang-orang, atau sesekali mengesampingkan payung yang sudah terbuka itu di saat jalanannya sepi, ah macam-macam. Apalagi bila saat itu adalah sore. Entah mengapa, saya selalu menganggap kombinasi hujan dan sore adalah luar biasa. Hahaa. Tapi sepertinya juga, sejak saat itu, saya mulai mengerti mengapa saya merasa senang melihat garis hujan. Jawabannya ternyata sederhana: karena garis hujan itu membuat saya merasa senang. Ya, itu.

Dan kemarin, saat membaca status seorang kawan di akun social-media miliknya, saya tertawa. Isinya begini: “Hai hujan, senang berjumpa lagi, yang naik mobil mah ga paham nikmat yang ini. Sttt buat kita aja :D”. Benarnya saya tertawa. Saya nyatakan kalimat yang hampir serupa hampir ribuan kali sepertinya. Nikmatnya merasa basah di bawah hujan, yang mungkin tak semua orang bisa mengerti. Entah karena memang tak suka, entah karena tak pernah mencoba, entah karena tak mau suka. Ah, biar saja. :) Meski kadang saya berpikir, apakah mereka mengerti apa arti kata basah? Ah, mungkin mereka belajar tentang hal itu dengan cara yang lain. Bukankah cara belajar ada jutaan bentuk dan masing-masing? Heheu.

Saya tak pernah berdoa untuk hujan, seperti juga saya tak pernah berdoa untuk cerah, atau biasa. Tapi saat dia tiba dan menyapa, wajarlah segenap syukur dan doa-doa mengalir seiring turun airnya basahi semua. Seperti juta bahagia yang menjemputnya dalam luap kasmaran para penari hujan, yang biasanya diam, malu, sembunyi-sembunyi.
Cikarang, 14 November 2013

Rabu, 13 November 2013

Pesan Sederhana

Kartika Ikrama Syafirlana,

Hei cantikk, kamu yang sabar di sana.  Maaf Pinjungan ga bisa pulang ke Palembang. Semoga doa Pinjungan untuk papa nana dari tadi pagi bisa cukup,  
Juga sampein salam sayang buat mama nana, dede, uti. Semoga bisa cepat ceria lagi.  Ntar kalo udah bisa ditelpon tolong kasitau yaa.

***
Indra Parameswara,

Laki-laki akan kuat seperti karang, juga akan lembut seperti angin. Waktu dan pengalaman hiduplah yang akan membuatnya seperti itu. Kamu pun juga begitu. 
Semoga cepat ceria lagi.

***
Putri Mentari,

Ah, gadis kecil menarik tengah beranjak dewasa ini adalah favoritku. Senyumnya manis, tawanya asik. Yakinlah dia pasti disukai siapapun. Mungkin sekarang dia sedang sedih, tapi akan segera lincah kembali. 
Semoga cepat ceria lagi, Uti.

Cikarang, 13 November 2013

Senin, 11 November 2013

Waktu


Kesalahan maha-besar apa yang sudah kamu lakukan hingga nyatanya kini kamu menyalahkan waktu? Aku benar bertanya sendiri, tak habis pikir. Kiranya mungkin kamu berpikir bahwa saat ini adalah bukan yang seharusnya? Bila benar begitu, lalu apa yang kamu inginkan sekarang? Inginkan semua sesuai dengan keinginanmu saja terus menerus? Ah sepertinya kamu sudah terlalu jauh. Aku yakin kamu sudah terlalu jauh.

Bila kamu ingin tahu, aku selalu berpikir, hidup itu berarti belajar. Selayaknya orang belajar, salah adalah suatu yang lumrah. Sangat lumrah malah. Bahkan kitab ajaib itu pun bercerita bahwa seorang tersuci sekalipun pernah berbuat suatu salah, lalu dengan gemilang dia mempelajarinya, kisahnya begitu. Entah hal ini berarti apa bagimu, tapi mungkin seharusnya membuatmu mampu berbesar hati. Atau setidaknya mencoba untuk bisa seperti itu.

Waktu adalah sebuah rahasia agung. Bila kamu tak setuju, aku tak akan mempermasalahkannya juga. Tapi benar, seperti itulah menurutku. Entah bagaimana caranya, dia disediakan agar kita semua bisa belajar. Belajar mengenal, belajar berbuat baik, belajar berbesar hati, belajar menerima, dan banyak lagi. Di situlah segenap cerita hidup bergumul, membentuk siapa dirimu pada akhirnya, mengingat semua proses belajar dalam sebuah dimensi rumit bernama waktu.

Kamu pun tahu, aku bukanlah seorang bijak. Jutaan salahku banyak, mungkin jauh lebih banyak dari punyamu. Tapi biar saja, aku tak berminat berlomba-adu. Tak perlulah membuatku akhirnya malu sendiri. Tapi sekarang kemarilah, kawan yang baik. Lanjutkan cerita suka-suka. Kita bersyukur atas waktu-waktu, coba gembira atas semua duka-lara pernah terlewat. Meski tak mudah, tapi sepertinya akan baik bila kamu ingin mencoba.
Cikarang 11 November 2013

Minggu, 10 November 2013

Hari Pahlawan

Kiri - kanan: Aduy, Teddy, Gelar, Guntur.
Obrolan kami malam itu, di sebuah warung angkringan sederhana di kawasan Jalan Setiabudhi, Bandung, tak terlalu spesifik. Dengan ditemani hidangan makanan sederhana dan minuman susu-jahe panas hangatkan setiap lembar obrolannya di kisaran pukul 23.00 WIB. Tapi mungkin banyaknya kami membahas rencana pagelaran seni yang akan diadakan di kolam Partere, halaman Gedung Isola - Universitas Pendidikan Indonesia, di 10 November 2013, pukul 10 pagi. Ya, itu hari ini. Yang sayangnya saya tak bisa ikut hadir ramaikan acaranya. Hingga saya tuliskan saja tulisan ini, sebagai bentuk ikut serta memeriahkan acaranya. Inginnya saya datang, bertemu langsung kawan-kawan lama dan baru, mengingat apa yang terjadi di tanggal yang sama 68 tahun yang lewat, juga bercerita tentang apa saja, nikmati suasana. Tapi pastinya kawan-kawan di situ juga akan mengerti, saya tak datang, ada alasannya. Yang meski kadang saya sendiri pun tak terlalu paham alasannya apa, hahaa. Tapi benar, kami tak terlalu menyukai drama. Termasuk yang ini, hari saat saya tak datang.

Hari Pahlawan. Acara kami ini dibuat untuk memperingati Hari Pahlawan. Kami bicara mengenai banyak dimensi pahlawan malam itu. Di beberapa titik sama, di beberapa yang lain ternyata berbeda. Ah, biar saja. Tak perlu melulu disamakan juga kan ya? Tapi yang jelas niatnya baik. Maka, untuk yang ini, bagi saya cukuplah.

Dan sekarang, dari sore Cikarang yang sedang hujan, saya kirimkan harapan. Semoga tadi acaranya lancar, tersampaikan esensinya, bersenang-senang semua. Rayakan hikmatnya hari ini dengan cara yang masing-masing, termasuk saya yang saat ini hanya duduk sendiri saja di hadapan sebuah komputer lipat ditemani lantunan Jungle Song yang dinyanyikan dengan sangat serius oleh seekor kudanil di tengah rimba raya.

Selamat Hari Pahlawan!
Cikarang, 10 November 2013
*foto diambil oleh si aa penjaga warung angkringan, saya lupa tanyakan siapa namanya, :D