Kamis, 14 November 2013

Para Penari Hujan

Adalah sebuah ungkapan yang saya buat sendiri saat masih kecil dulu: hujan adalah basah. Heheu. Dulu, saat hujan raya datang, dengan senang hati saya akan berlarian keluar lewat pintu samping rumah, menuju rumah beberapa kawan untuk mengajaknya bermain hujan. Bila mereka tak ada, saya akan membujuk kakak-kakak sepupu untuk temani saya menikmati basahnya. Dan bila ternyata tak ada siapa-siapa untuk diajakpun, saya akan sendiri saja, tak masalah. Sepi memang, tapi setidaknya lebih baik dari pada hanya melihatnya dari balik jendela kamar yang hangat. Dalam suasananya, saya akan menari-nari bebas di bawah milyaran titik air sebesar biji jagung jatuh dari langit itu. Atau bersila dengan tangan bersedekap di depan dada seolah bertapa di bawah seng karatan yang mengalirkan air dingin sederas limpah air terjun di tengah hutan Liku Sembilan di pedalaman Bengkulu. Saya masih sangat ingat saat-saat itu, tapi saya tak terlalu ingat kenapa saya merasa senang pada garis-garis bening lurus menghajar wajah saat khusyu tengadahkan kepala memuja langit dalam mendung tebal menghitam tapi ramah itu.

Saya beranjak dewasa. Dan sudah sedikit malu untuk menari bebas di bawah hujan tanpa alasan yang jelas. Saat-saat seperti itu, saya akan coba mencari beberapa alasan lain untuk bisa beraktivitas di bawahnya. Seperti mengendarai motor di tengahnya, berpura mengerjakan tugas apapun yang saya sebutkan “tanggung kalau di-ntar-ntar” ke orang-orang, atau sesekali mengesampingkan payung yang sudah terbuka itu di saat jalanannya sepi, ah macam-macam. Apalagi bila saat itu adalah sore. Entah mengapa, saya selalu menganggap kombinasi hujan dan sore adalah luar biasa. Hahaa. Tapi sepertinya juga, sejak saat itu, saya mulai mengerti mengapa saya merasa senang melihat garis hujan. Jawabannya ternyata sederhana: karena garis hujan itu membuat saya merasa senang. Ya, itu.

Dan kemarin, saat membaca status seorang kawan di akun social-media miliknya, saya tertawa. Isinya begini: “Hai hujan, senang berjumpa lagi, yang naik mobil mah ga paham nikmat yang ini. Sttt buat kita aja :D”. Benarnya saya tertawa. Saya nyatakan kalimat yang hampir serupa hampir ribuan kali sepertinya. Nikmatnya merasa basah di bawah hujan, yang mungkin tak semua orang bisa mengerti. Entah karena memang tak suka, entah karena tak pernah mencoba, entah karena tak mau suka. Ah, biar saja. :) Meski kadang saya berpikir, apakah mereka mengerti apa arti kata basah? Ah, mungkin mereka belajar tentang hal itu dengan cara yang lain. Bukankah cara belajar ada jutaan bentuk dan masing-masing? Heheu.

Saya tak pernah berdoa untuk hujan, seperti juga saya tak pernah berdoa untuk cerah, atau biasa. Tapi saat dia tiba dan menyapa, wajarlah segenap syukur dan doa-doa mengalir seiring turun airnya basahi semua. Seperti juta bahagia yang menjemputnya dalam luap kasmaran para penari hujan, yang biasanya diam, malu, sembunyi-sembunyi.
Cikarang, 14 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar