22.36. Kombinasi angka itu tertera di pojok kanan bawah laptop merk H*P yang sudah membuat saya ketergantungan ini. Saya sebut begitu, karena saat
pikiran sedang sangat penuh, atau sedang sangat kosong, maka laptop ini adalah
yang pertama saya ingat. Saya suka memijit-mijit tombol berlambang
huruf-hurufnya dalam acak, singkat katanya menulis. Menulis tentang apa saja. Tepat
seperti saat ini. Saat saya tak tahu harus apa, pikiran saya seperti bingung. Tapi
tak jelas apa yang saya bingungkan. Maka saya menulis. Juga tak tahu, ini
sedang menulis tentang apa. Jelasnya saya sedang tak mengantuk. Lepas makan nasi goreng surabaya di awal magrib tadi, saya terlelap. Bangun, jam kuning di tembok
putih itu sudah hampir genap menunjukkan 19.30. Dan abrakadabra, sekarang saya masih selincah
ikan cupang bertemu cermin.
Setelah tamatkan satu album Dan Auerbach, saya matikan pemutar
lagunya. Saya sedang ingin sepi. Rebahkan badan di kasur biru yang agak nyaman
ini, meraih satu novel pinjaman dari seorang kawan baik di Bandung beberapa
minggu yang lewat. Judulnya Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Pemisah bukunya
tadi terselip di halaman 454, tandanya saat ini saya akan memasuki chapter berjudul kecil “Agnostik”. Saya mulai
membaca pelan-pelan. Begini pembukaannya:
"Satu titik dalam relativitas waktu:
Saat inilah masa depan itu."
Saya tersenyum kecut. Bergetar. Mungkin kamu akan menganggap
saya berlebihan. Tapi saya yakinkan tidak. Saya baca berulang, lagi dan lagi, dua
kalimat ini. Tapi, ah, sudahlah. Saya tak akan membahasnya, biarkan saja. Saya teruskan,
hingga sampailah di lembar 500an. Saya sudah selesaikan semuanya. Saya diam. Juga
sediam suasana di kamar kos-kosan sempit berubin besar-besar ini. Jujur, saya sedang merasa
bingung. Sepertinya kebingungan ini bermula saat sukses khatamkan novel ini. Meski saya tak tahu pasti
juga apa yang saya bingungkan sebenarnya. Berpikir keras, tapi entah tentang
apa. Pejam, nanar, berganti gerakan kanan-kiri di atas sprei bunga-bunga kuning-merah-biru yang
mulai berantakan tak karu-karuan. Ah, sudah, saya masak mie instan dulu saja. Lapar lagi! Biar ngantuk juga. :D
Cikarang, 19 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar