Selasa, 19 November 2013

Serba-Serbi Waktu

22.36. Kombinasi angka itu tertera di pojok kanan bawah laptop merk H*P yang sudah membuat saya ketergantungan ini. Saya sebut begitu, karena saat pikiran sedang sangat penuh, atau sedang sangat kosong, maka laptop ini adalah yang pertama saya ingat. Saya suka memijit-mijit tombol berlambang huruf-hurufnya dalam acak, singkat katanya menulis. Menulis tentang apa saja. Tepat seperti saat ini. Saat saya tak tahu harus apa, pikiran saya seperti bingung. Tapi tak jelas apa yang saya bingungkan. Maka saya menulis. Juga tak tahu, ini sedang menulis tentang apa. Jelasnya saya sedang tak mengantuk. Lepas makan nasi goreng surabaya di awal magrib tadi, saya terlelap. Bangun, jam kuning di tembok putih itu sudah hampir genap menunjukkan  19.30. Dan abrakadabra, sekarang saya masih selincah ikan cupang bertemu cermin.

Setelah tamatkan satu album Dan Auerbach, saya matikan pemutar lagunya. Saya sedang ingin sepi. Rebahkan badan di kasur biru yang agak nyaman ini, meraih satu novel pinjaman dari seorang kawan baik di Bandung beberapa minggu yang lewat. Judulnya Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Pemisah bukunya tadi terselip di halaman 454, tandanya saat ini saya akan memasuki chapter berjudul kecil “Agnostik”. Saya mulai membaca pelan-pelan. Begini pembukaannya:

"Satu titik dalam relativitas waktu:
Saat inilah masa depan itu."

Saya tersenyum kecut. Bergetar. Mungkin kamu akan menganggap saya berlebihan. Tapi saya yakinkan tidak. Saya baca berulang, lagi dan lagi, dua kalimat ini. Tapi, ah, sudahlah. Saya tak akan membahasnya, biarkan saja. Saya teruskan, hingga sampailah di lembar 500an. Saya sudah selesaikan semuanya. Saya diam. Juga sediam suasana di kamar kos-kosan sempit berubin besar-besar ini. Jujur, saya sedang merasa bingung. Sepertinya kebingungan ini bermula saat sukses khatamkan novel ini. Meski saya tak tahu pasti juga apa yang saya bingungkan sebenarnya. Berpikir keras, tapi entah tentang apa. Pejam, nanar, berganti gerakan kanan-kiri di atas sprei bunga-bunga kuning-merah-biru yang mulai berantakan tak karu-karuan. Ah, sudah, saya masak mie instan dulu saja. Lapar lagi! Biar ngantuk juga. :D
Cikarang, 19 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar