Banyak yang harus saya kerjakan akhir minggu ini. Beberapa misi
penting yang akan coba saya lakukan satu-persatu. Tapi sepertinya intinya tak
banyak, sangat sedikit malah. Itupun kalau tak bisa saya sebutkan bahwa misinya
sebenarnya cuma satu. Misi penting itu adalah: bersilaturahmi.
Kiranya malam ini Bandung sudah di pelupuk mata. Ya. Semua
misi yang saya sebutkan tadi rencananya akan dieksekusi di kota itu. Semuanya
akan dimulai di sabtu pagi ini. Bergerak dari meninggalkan Cikarang, hingga nantinya akan tiba di terminal bus antar-kota yang sangat ramah dengan 1.001 cerita yang
pernah terbentuk sebelumnya, dan cerita-cerita barupun dimulailah. Tepatnya sekarang
saya jadi teringat beberapa cerita lucu dan menarik di terminal itu, haa, saya
jadi senyum-senyum sendiri. Teringat bahwa ternyata cerita itu terbentuk tak
kenal tempat, waktu, dan siapa. Tapi sudahlah, saya sedang tak ingin bercerita
tentang itu dulu sekarang. :D
Bersilaturahmi. Semacam mengikat tali perkawanan, begitu
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lebih kurangnya begitu pula menurut saya.
Mengikatnya bisa dengan apa saja. Bisa dengan obrolan, ingatan, tawa, rasa
kesal, marah, macam-macam. Semuanya bercampur jadi semacam bola karet transparan yang
di dalamnya terdapat campuran liquid berwarna-warni yang tak mudah saling baur satu dengan yang lain.
Begitulah menurut saya tentang berkawan. Dia diikatkan di dalamnya, dia
dibawalah kemana-mana.
Adalah seorang kawan di beberapa bulan yang lalu berkisah
tentang kawannya yang lain. Yang menganggap
berkawan itu tak boleh menyebalkan, harus menerima, juga seragam. Dan ditambahkannya pula dengan sedikit drama: "tak seperti si A yang sangat egois, si B jauh berbeda, dia sangat pengertian dan penuh pertolongan, kami sangat saling mengerti!". Lanjutnya saya
hanya iyakan saja. Terserahlah menurutnya apa saja, saya tak menganggap salah siapa-siapa. Tapi mungkin bagi saya,
adalah hal yang sangat normal saat merasa kesal atau bahkan marah dalam
berkawan. Seperti jadi malas menegurnya untuk beberapa hari, atau menumpahkan
apa yang dipikirkan, atau bentuk ekspresi apapun yang kamu mau. Saya pikir
wajar, dan normal saja. Selama hal itu tak dilakukan dengan berlebihan, saya
pikir itu akan menambah menarik ceritanya, semakin asiklah dia untuk dijalani.
Seperti beberapa kawan yang akan saya kunjungi di akhir
minggu ini. Selayaknya orang lain dalam berkawan, sayapun pernah merasa sangat senang,
sangat kesal, atau sangat biasa saja kepada mereka. Penyebabnya rupa-rupa. Kadang
salah tangkap maksud, kadang gesekan kepentingan, kadang tak saling sepakat, kadang merasa dia sudah
berlebihan, atau kadang hanya salah satu dari kami sedang ingin menyebalkan
saja. Ahahaa. Tapi seiring itu pula, saya pikir, cerita berkawan jadi menemukan
esensinya yang, kabarnya, asik seperti komedi putar. Dan saya pikir kabar itu
benar. Kabar itu benar. :)
Cikarang, 21 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar