Rabu, 06 November 2013

Baju dan minuman

Rasanya ini setelan teraneh yang pernah saya pakai. Tapi saya tetap senang-senang saja sepertinya. Saat tadi lepas berolah raga dengan keringat bercucuran di sekujur tubuh, dan saya sedang merasa wajib ke warung untuk membeli segelas ale*ale buat teman beristirahat. Semua baju yang setengah kotor sedang direndam-cuci, dan yang tersisa tinggal baju-baju bersih saja di dalam lemari itu. Saya terlalu merasa rugi untuk memakai baju-baju bersih itu, karena pasti saja akan langsung menjadi kotor terkena cucuran keringat yang seolah tak bisa berhenti ini. Lanjut saya turun saja ke bawah, dengan celana kantor yang saya pakai berolah raga tadi.

Sesampai di bawah tangga kosan, saya baru teringat kalau sendal saya masih tersimpan di dalam kamar –saya baru pulang dari bandung, jadi saya belum sempat mengeluarkannya dari dalam tas. Merasa tanggung untuk naik ke atas lagi, saya melirik sepatu kantor yang tergeletak saja di rak sepatu bawah tangga. Saya berpikir “ah udah ini aja”. Membuka pagar, saya pergilah menuju warung di ujung situ berbekal empat uang logam recehan dengan total nilai seribu rupiah pas, yang hanya cukup untuk membeli satu gelas minuman berperisa jeruk itu. Berjalan santai dengan sepatu hitam berkilat dan celana bahan seragam kantor itu sambil bertelanjang dada, saya menuju warung berjarak kisaran 100 meter itu. Orang-orang yang saya lewati memperhatikan dengan tatapan aneh, saya tetap santai, seolah tak ada yang aneh. :D

Sesampai di warung kecil itu, beberapa bapak-bapak yang sedang bermain karambol di seberang warung itupun ikut melirik diam-diam dengan tatapan yang sedikit aneh, tapi tak lama, lantas lanjut bermain lagi, seolah tak mau terganggu. Santai saya mengambil satu gelas minuman kemasan tersebut di box pendingin di luar warung. Sayangnya pegangan terhadap gelas tersebut terlepas saat saya akan mengambil sedotannya, gelasnya terjatuh, dan minuman kemasan itu tentu saja pecah! Sedikit bingung, saya bergumam sendiri dalam hati: “ah gila! Kalau saya mengaku memecahkan minuman ini, berarti perjalanan dengan setelan aneh dengan jarak yang tak dekat ini akan sia-sia. Uang ini tak cukup untuk membayarnya! Hah!”. Setelah memastikan tak ada seorangpun yang yang melihat aksi saya menjatuhkan gelas ini tadi, santai saya ambil satu gelas yang baru lagi dan membayarnya tunai dan segera kabur dari situ. :D

Sesampai di kosan lagi, seorang kawan menertawakan setelan yang saya pakai tadi habis-habisan. Menurutnya itu gila! Sambil menghardik: “you’ve actually lost your mind, man!”. Ahahaa. Saya juga tahu ini setelan yang tak bagus. Tapi saya tertawa saja. “Biar saja. Sekali-kali, Om :)” begitu saya menjawab pertanyaannya. Kami tertawa sama-sama. Tak lupa juga saya catatkan di sini untuk besok-besok, bila ingat, saya berhutang seribu rupiah ke warung itu atas satu gelas minuman kemasan yang pecah tadi. Tapi tenang saja, penjaga warung itu tak akan marah, saya mengenalnya kok. :D

Ah, ternyata. Hidup memang hanya sekedar canda dan tawa ya. :)
Cikarang, 6 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar