Dibuatnya blog ini bukan karena alasan-alasan yang rumit. Hanya tempat untuk menceritakan sedikit hal-hal yang memenuhi pikiran saya sehari-hari. Harapannya, ada beberapa nilai yang bisa diambil dan jadi manfaat dalam bentuk cerita yang lain, pesona yang lain. Dan kalaupun tidak, juga tidak masalah. Mari bicara. ;)
Kamis, 29 Agustus 2013
Minggu, 25 Agustus 2013
Rumah Tua
Kami keturunan langsung
Abbas bin Lakam. Buah pernikahannya dengan seorang wanita yang selalu kami
panggil dengan sebutan Maktu, Zainab binti Samin. Darinya lahir empat orang
anak, 1 laki-laki tertua bernama Syahbudin Abbas, dan 3 perempuan bernama
Nurhayati, Asmarawati dan Kartiniwati. Dari keempatnya lahir 10 cucu laki-laki dan perempuan. Bila diurutkan dari yang tertua hingga yang termuda,
mereka adalah: Neti Agustina, Neli Oktavianti, Dedi Gustiansyah, Deni
Hardiansyah, Lusi Yeniarti, Yudi Irawan, Luki Daniansyah, Liska Berlian, Feri
Syahputra, dan Guntur Berlian. Ya, saya yang terkecil di antara mereka. :)
Saya senyum sendiri. Mengingat lagi kami semua masih sangat kecil waktu itu. Di setiap akhir pekan, kami akan berkumpul di
rumah tua pinggir jalan dengan pekarangannya yang luas, ditumbuhi berbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang ditata apik. Di setiap sabtu siang, tepat saat
tayangan Ramayana tampil rutin di stasiun TVRI kala itu, mobil merah itu akan memulai perjalanannya.
Suatu perjalanan yang akan mengumpulkan keturunan Abbas bin Lakam di rumah tua
yang selalu hangat itu. Hingga akhirnya kami semua berkumpul, memulai tawa dan
keramaian rumah yang tak pernah asing.
Sepanjang akhir minggu
itu kami benar bersenang-senang. Berlarian tak kenal waktu. Kadang berkelahi,
kadang bercerita, kadang suara raung tangis yang memecah suasana, kadang marah
nenek yang sekali-kali, ah banyak sekali. Banyak sekali! Sekali-kali, di minggu
paginya dengan mobil merah itu, kami berjalan-jalan. Kadang ke suatu pemandian
air panas di ujung timur kota, kadang menuju Danau buatan di timur jauhnya
lagi, atau kemana saja. Atau bila tidak, kami hanya habiskan waktu suka-suka di
rumah itu untuk sekedar habiskan waktu berkubang di kolam ikan berukuran 6 x 6
meter itu, memanjat dua batang jambu biji yang tertata rapi, atau melihat ternak bebek petelur
yang banyak, ayam kampung yang sehat-sehat, angsa besar yang kadang menakutkan, di
pekarangan belakang rumah. Kami tak pernah merasa kurang apapun saat itu. Kami merasa
senang dan bahagia saja. Kami tak butuh yang lain lagi. Begitu akhir minggu kami
dalam waktu yang sangat panjang dan berulang.
Tapi nyatanya waktu
memang berjalan. Berganti kini, para cicit keturunan Abbas bin Lakam ramaikan
rumah tua itu meski tak penah genap sekali dalam setahun saja. Berikut kami para
cucu-cucunya yang juga sepertinya kadang terlalu sibuk atau malas untuk berkumpul
di situ lagi. Entah kenapa. Tapi mungkin kesibukan dan tuntutan hidup yang lain
memaksa untuk tak bisa persis sama seperti dulu. Sedang rumah tua itu tetap di
situ. Menunggu kami berkunjung lagi, ceria lagi. Hangatkan rumah yang pernah
saksikan kehangatan keluarga besar kami yang semoganya bisa tetap baik sampai
nanti-nanti. Membagikan cerita-cerita serupa ini pada keturunan kami yang
selanjutnya. Hingga akhirnya mereka selalu tahu siapa mereka sebenarnya, lewat jutaan cerita yang pernah terbentuk di situ, di rumah tua yang itu.
Cikarang, 25 Agustus 2013
Sabtu, 24 Agustus 2013
Dedaun Bungur
![]() |
| 3 bungur peneduh berjajar di Taman Pecenongan, tempat yang asik buat mengamati |
Memilih teduh, saya
berjalan sedikit jauh. Melewati rindang tiga bungur yang berjejer. Saya berhenti
sejenak. Menghirup sejuk dan pemandangan dari sini. Segar sekali. Saya berhenti
dulu. Kemudian memutuskan duduk di bawahnya menghadap timur, dengan aliran
sungai di hadapan beriak pelan-pelan entah menuju kemana. Mereguk beberapa
tegukan teh yang tadi, juga gilir angin dan bias matahari di sela dedaunan
bungur di atas sana, saya melihat jauh-jauh. Seperti memulai suatu kontemplasi
singkat dalam pejam mata yang sekali-kali. Memandang jutaan potret realita yang
pernah terjadi sebelumnya, melihat cerita yang ini di sini. Semuanya seolah
berjalan dalam ketika. Dengan mesin pemutarnya yang seperti tengah di puncak
sibuknya kini, saya mulai bertanya tentang banyak hal. Saya mulai bertanya
tentang semuanya.
Adalah sebuah kerumitan
dan kesederhanaan di semua cerita. Mereka tak pernah saling unggul sebenarnya,
tapi saya pikir, pikiran sajalah yang memaksa-bentuknya menjadi satu-satu,
seolah terlepas, padahal tidak. Seperti memisahkan angin-angin dari udara. Seperti
daun-daun bungur yang memilah panas matahari dari lurus cahayanya yang akhirnya tetap
saja sampai ke bawah.
Cikarang, 25 Agustus 2013
Ke Bulan
Menarik sekali! Mendengarkannya lagi saya senyum-senyum sendiri. Saya pikir bahasanya kental gambarkan kecerdasan dan
keluwesan yang menarik sekali. Saat seorang gadis ditanya: “bila kamu akan
pindah ke bulan, kiranya barang apa saja yang akan kamu bawa?”. Lalu dia menjawab: “hmm, sepertinya saya tak akan membawa banyak barang bawaan. Tapi pastinya saya akan membawa kain samping juga kebaya. Nanti di sana, beri
saya tiga ketukan Jaipongan, dan budaya Sunda pun tak akan pernah hilang, meski saya
pindah ke bulan”. Begitu dia menjawab. :)
Nining Meida dalam lagunya "Ka Bulan"
Cikarang, 24 Agustus 2013
Jumat, 23 Agustus 2013
Hari Merdeka (17 Agustus 1945)
Tujuh belas Agustus tahun empat lima/
Itulah hari kemerdekaan kita/
Hari merdeka nusa
dan bangsa/
Hari lahirnya bangsa Indonesia/
MERDEKA!
Sekali merdeka tetap merdeka/
Selama hayat masih di kandung badan!
Kita tetap setia tetap sedia/
Mempertahankan Indonesia/
Kita tetap setia tetap sedia/
Membela negara kita!
***
Itu menjadi sangat aneh
saat lagu ini dinyanyikannya sembunyi-sembunyi, seperti pagi ini. Saya bertanya di dalam hati,
kenapa harus seperti itu? Tidakkah ingin menyanyikannya dengan segenap bangga, suara yang lantang? Yang sama
ironi, saat di tengah malam 17 Agustus kemarin menemukan sebuah bus pariwisata
menabrak tiang bambu bendera Merah-Putih di pertigaan Jalan Ciwaruga yang mulai sepi. Sampai merunduklah
bendera kami karenanya. Ah, malu saya!
Cikarang, 23 Agustus 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Bohong
Mendengar seorang kawan
bercerita malam ini. Tentang sedikit kebohongan kemarin-kemarin yang akhirnya
membawanya ke kekompleksan masalahnya kini. Berpikir untuk mencoba mengatasi
masalahnya dengan kebohongan yang lain lagi. Ah tapi saya pikir buat apa?
Saya pikir bicara jujur jauh lebih melegakan. Meski siapapun tak akan ada yang
senang mengetahui jika kamu sudah berbohong sebelumnya, tapi saya pikir juga
itu bukanlah sebuah masalah. Bahwa di saat yang tepat, semua orang akan belajar
menerima kenyataan pada akhirnya. Terserah itu senang, terserah itu tidak, tapi
sepertinya seperti itulah hidup. Dan saya sepertinya juga yakin bahwa
mengetahui kebenaran yang terburuk sekalipun merupakan sebuah sensasi yang jauh
melegakan dibanding dininabobokan oleh lapis kebohongan yang merayu. Bukan begitu?
Saya bukan seorang
malaikat. Saya juga pernah berbohong, ke siapapun. Biar saya terlihat hebat
kadang, biar saya terlihat menyenangkan kadang. Tapi saya pikir sesering itu
pulalah saya berusaha berkata jujur. Berusaha hidup di kenyataan yang lebih
melegakan, meski seringnya susah, tapi sepertinya itu lebih layak dilakukan
dari yang lain. Dan bila nyatanya sejauh ini saya masih terlalu sering gagal
untuk bisa seperti itu, ah biarkan saja dulu, biarkan saya belajar dulu. Bahwa seperti
yang sering saya ucapkan sebelum-sebelumnya, saya bukan malaikat.
Cikarang, 23 Agustus 2013
Rabu, 21 Agustus 2013
Lutung Kasarung
Di hampir tengah malam
ini, saya mendengar penggal cerita yang saya yakin itu hanya sebagiannya saja.
Saya sebut demikian. Sepenuhnya yakin, begitu panjang proses berpikir, tak akan
sebegitu mudah diangkat jadi penggal cerita begitu saja. Akan terlalu banyak
detail yang mungkin terlewat, tapi saya pikir tidak masalah. Sama seperti waktu
cerita Lutung Kasarung ini menyapa saya malam ini, hingga lenyapkan seketika
rasa kantuk yang tadinya seolah tak tertahan. Saya meraba-raba kini. Menerka apa
kiranya kisah penuhnya. Meski tak perlu pulalah saya bertanya membabi-buta,
cukuplah coba merasa dan menelaah, tapi tak kan asal-asalan. Meskipun nanti nyatanya saya salah, tapi saya pikir bukan masalah.
Sepertinya memang benar
bahwa hidup adalah tentang menjalaninya, lalu mencoba memahami apa-apa yang telah
terlewat. Tak wajiblah selalu benar dalam melangkah, karena nyatanya kita tak
akan mungkin bisa seperti itu. Tak akan pernah bisa seperti itu! Tapi mencoba
menjadi orang yang baik dan tetap merasa senang, selalu saja akan berarti menjalani kehidupan itu sendiri. :)
Didedikasikan untuk seorang kawan
baik atas penggal ceritanya yang asyik
Cikarang, 20 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
