Selasa, 15 April 2014

Jaminan Hari Tua

Lembar rincian saldo JHT tahun 2013
Masih di depan kipas yang berpenampilan sedikit horor ini, saya mencermati dua lembar kertas yang saling menempel di sisi atas-bawah-kanan-kirinya. Kertas ini saya terima tadi sore waktu masih di kantor, berikut pula dengan cap merah di sudutnya yang menyatakan kata confidential (rahasia) -meskipun sejujurnya saya berpikir sama sekali tak ada hal yang rahasia di kertas ini. Tapi mungkin yang paling menarik adalah tulisan: INFORMASI SALDO JAMINAN HARI TUA. Saya merasa lebih tertarik dengan kata “Jaminan Hari Tua”nya, atau kita singkat saja jadi JHT. Lama saya pandangi dan berpikir tentang tiga kata ini, saya diam saja. Hmm, tapi sebelumnya, mari kita sempitkan terlebih dahulu konteks JHT ini menjadi suatu kata dalam konteks perusahaan (company) saja, karena kita tak akan mendapatkan JHT jika tidak bekerja di sebuah perusahaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “jamin” dalam konteks istilah JHT memiliki arti: “sesuatu yang disediakan untuk biaya hidup pada masa tua (setelah tidak bekerja lagi)”. Saya pikir pengertian ini menjelaskan dengan sangat jelas bahwa hal inilah yang akan menjamin hidup kita setelah tidak bekerja lagi nanti. Bila benar seperti itu, maka seharusnya, uang JHT digunakan sebagai modal usaha bisnis pribadi, sebelum nanti memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan -sejauh ini saya masih berkeyakinan bahwa jumlah uang JHT yang sangat ala-kadarnya ini tak bisa disebut menjamin apapun. Dan memulai usahanya pun, saya pikir, harus dari saat ini!!! Bila tidak, maka uang tersebut tidak dapat disebut sebagai JHT, karena tidak dapat menjamin -karena usaha itu selalu perlu waktu untuk mencapai kemapanan. Begitu kan ya? Berulang kali saya bolak-balik ulangkan dari awal untuk memeriksa apakah alur berpikir saya ada yang salah, tapi sepertinya saya yakin, sepertinya tak ada yang salah. Bahwa kertas dan kalimat di dalamnya ini meminta kita untuk menjalankan sebuah bisnis pribadi, sebelum akhirnya memutuskan berhenti bekerja dari perusahaan. Nah, saya pikir ini baru bisa disebut menjamin (setidaknya, saya pikir, lebih mendekati, :D).

Tapi banyak seliweran berita yang tak begitu jelas tentang kapan uang JHT ini bisa diambil. Ada yang menyebut: dapat diambil setelah masa kerja di atas 5 tahun; dapat diambil setelah berhenti bekerja di tempat lama; dapat diambil setelah masa kerja di atas 5 tahun dan sudah berhenti bekerja di tempat lama. Nah, untuk info yang ketiga (dapat diambil setelah masa kerja di atas 5 tahun dan sudah berhenti bekerja di tempat lama), saya pikir jelas ini tak bisa disebut JHT bila ternyata perusahaan terakhirnya itu adalah juga perusahaan pertamanya. Iya kan ya? Heheu. :D

Ini cuma dari sudut pandang saya sendiri, jangan terlalu serius, :p
Cikarang, 15 April 2014

Kamis, 10 April 2014

Kabar Dari Bandung (2)

Akhirnya sore yang ini pun hampir habis sepenuhnya. Diiring lantunan azan dari masjid sebelah, sepertinya pikiran saya beranjak menjauh. Teringat tentang apa saja yang saya lakukan hari ini, saya tersenyum sendiri. Maka dimulailah hari yang tadi di awal pagi yang susah-payah.

***
Bandung cerah, dengan niatan yang sudah disusun dari kemarin-kemarin, saya beranjak dari kos-kosan sederhana milik seorang kawan yang baik sekali. Berdua kami menuju kampus yang sudah saya anggap seperti rumah itu, Kampus Para Guru. Sudah terlalu lama rasanya saya tak mengunjungi bangunan megah 5 lantai dengan dua menara kembarnya yang gagah. Melihat dari jauh, dan semakin mendekat, saya berujar sendiri di dalam hati: “saya pulang :)”, saya merasa senang sekali. Dan sesampainya di persimpangan kecil itu, kami berpisah. Kawan tersebut akan meneruskan perjalanannya menuju gedung besar tepat di belakang gedung ini. Janji bertemu lagi di kantin setelah urusannya nanti selesai, saya melangkah masuk menuju sebuah pekarangan yang luas. Dengan kantinnya yang tak seberapa luas itu kini jadi tujuan, saya berjalan pelan-pelan memperhatikan.

Gedung JICA, FPMIPA UPI, dari halaman kantinnya yang teduh
Memesan segelas kopi selalu saja menjadi bagian yang paling saya sukai. Saat memulai sebuah perbincangan singkat dengan si pembuat kopi, lalu berjalan menuju petugas kasirnya yang selalu sibuk menghitung duit. Berpura-pura mencari lembar uang di dompet beberapa waktu, saya akan bertanya beberapa hal yang lain padanya. Selalu begitu, saya suka. Meski tak ada lagi satupun dari pekerja kantin berikut mahasiswanya kini yang saya kenal, tapi bagi saya ini menyenangkan sekali. Sambil berjalan membawa gelas kopinya yang terlalu penuh, saya mengambil kursi plastik bulat berwarna biru itu menghadap langsung ke matahari.

Mengamati semuanya dengan reguk kopi dan keriuhan yang khas, giliran mahasiswa-mahasiswa muda dengan perbincangannya yang seolah tak pernah terputus, sengat mentarinya yang lembut, teguran ramah dari beberapa dosen yang masih mengingat saya sebagai mahasiswanya dulu, gerak pekerja kantin dengan kain pembersihnya yang lincah, musik yang pelan dari earphone murahan ini, tawa jenaka pengisi waktu, semuanya. Itu tepat seperti hari-hari biasa di kisaran 10 tahun yang lewat dan beberapa waktu setelahnya. Saya hafal benar. Teringat dulu saat biasa niagakan hari-per-harinya di tempat ini, semuanya berjalan melambat lagi kini, saya tenggelam. Hingga akhirnya kawan yang tadi datang menghampiri, saya terbangun. Oh, ternyata sudah hampir 2 jam saya duduk di sini. Mengobrol sebentar dengannya sekedar melepas lelah, kami memutuskan pergi.

Ada seorang penjual bakso yang masih saya ingat. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Jawa, :). Tata bahasanya yang selalu ramah, dan anak perempuan kecilnya yang biasa mengajak saya bicara tentang apapun, saya mengingatnya dengan jelas. Gerobak dagangan yang selalu saja mangkal di gang kecil sebelah masjid kuning itu, saya mengingatnya sama jelasnya. Mengingat obrolan-obrolan kami dulu di bangku kayu yang memanjang, saya berucap sendiri di dalam hati: “ah, kawan, apa kabarmu dan gadis kecil itu hari ini? bersiaplah, saya akan datang berkunjung mungkin 15 menit lagi, :)”. Dan belasan menit berjalan kaki melintasi bangunan-bangunan besar di kiri-kanan, akhirnya saya tiba, dia tak ada. Saya pesankan 2 mangkok bakso pada pelayannya yang tak saya kenali ini. Mengobrol sambil bersantap yang lahap bersama kawan yang tadi, akhirnya Mas Jawa datang bersama gadis kecilnya. Saya tak langsung menyapa, memilih habiskan dulu makanannya yang selalu pas, dan antrian pembeli yang selalu ramai. Saya menyapanya. Ah senang sekali mengetahui dia masih mengenali saya, berikut potongan obrol khas dua kawan yang lama tak bertemu. Berikut kabar singkat yang dia kabarkan tadi bahwa dia sudah membuka beberapa gerobak baso lain di dalam kampus, begitu katanya –mungkin semacam cabang. Mendengarnya, saya ucapkan ungkap syukur yang senang. Dan di sela kesibukannya melayani pesanan pembeli yang terus datang, saya pamit mundur. Saya katakan padanya di akhir tadi: “nanti kita ketemu lagi, Mas”, dia tertawa dan iyakan, kemudian tawanya hilang di antara kerubungan pembeli yang mulai sepi.

Masih berdua kini kami menyusuri lanjut gang yang tadi, menuju sebuah rumah kos-kosan yang sudah sangat banyak saya ceritakan di tulisan-tulisan sebelumnya. Di sela perjalanannya, saya bertemu beberapa kenalan lama dan tempat-tempat yang sangat akrab, dengan seorang anak muda dengan gaya khas anak gaul Bandung dan pernyataan panconya yang membuat saya tertawa, atau seorang penjual cuanki keliling yang sama sekali tak berubah –Mang Odong, semoga selalu sehat, Mang :), atau pekerja fotokopian yang bekerja tepat di bawah kamar saya dulu dan ceritanya tentang kawan-kawan yang sudah tak lagi di sini, ah, banyak. Kini memandang dari bawah, menuju sebuah kamar yang sedang tertutup di lantai 2 itu, saya sibuk berpikir ini-itu. Juga obrolan dengan teteh pemilik kosan yang selalu ramah dan langsung bercerita tentang anak lelaki tertuanya yang kini sudah duduk di bangku kuliah –dulu anaknya itu masih SD saat kami pertama kali bertemu. Lepas dari obrolannya, saya datangi teras depan kamar nomor 2 di atas situ. Duduk barang 15 menit untuk melihat lagi sudut pandang dan giliran orang-orang yang hilir-mudik di bawahnya, dan semua ingatan dalam waktu yang tak kurang dari 8 tahunnya yang menyenangkan, kini saya merasa cukup. Dengan ucapkan pamit dan foto bersama seorang kawan lama, kini berdua kami beranjak lagi, pulang menuju ke kos-kosannya lagi di bawah sana.

*Kos-kosan Al-Huda, Cilimus, Bandung, di lantai 2
Kami sampai lagi di sini. Saya merasa sangat letih. Pamit padanya untuk melepas lelah, saya tertidur dalam rasa syukur untuk mengenal banyak kawan yang selalu saja, senangnya, baik dengan caranya yang masing-masing. :)

Bandung, 10 April 2014
*Foto oleh Debi Krisna

Rabu, 09 April 2014

Iwan Fals: Manusia Setengah Dewa (2)


Tiba-tiba seorang kawan langsung bertanya lewat pesan singkat di akun media-sosial atas posting terbaru yang saya unggah tak lebih dari 3 menit yang lalu: “kenapa kamu berpikir Iwan Fals bisa dimasukkan ke dalam jajaran seniman terbesar Indonesia?”. Dan rasanya mudah sekali saya menjawab:

Jawaban saya mungkin bisa banyak sekali, tapi mungkin salah satu yang paling sederhana adalah karena, saya pikir, pasti sedikit sekali seniman di negeri ini yang mampu menyusun baris doa sehebat ini: Berjamaah menyebut asma Allah. Saling-asah, saling-asih, saling-asuh. Berdoalah sambil berusaha agar hidup jadi tak sia sia. Badan sehat, jiwa sehat. Hanya itu yang kami mau. Hidup berkah, penuh gairah, mudah-mudahan Allah setuju."

Jawaban buat pertanyaan kilat dari seorang kawan, ;)
Bandung, 9 April 2014

Iwan Fals: Manusia Setengah Dewa

Saya terkagum mendengar Iwan Fals berbicara dengan gaya bahasanya yang khas, seperti juga yang sering saya simak di beberapa kesempatan lain di acara televisi atau rekam situs Youtube. Dia lugas, penuh tawa, dan rasa hormat. Dan di acara “Memilih Wakil Rakyat” yang ini, dia bicara persis seperti biasa. Nyanyikan beberapa lagu, untuk kemudian menutupnya dengan lantunan lagu yang ditulisnya di tahun 2004, “Manusia Setengah Dewa”. Memperhatikan, saya pikir saya bisa merasakan magis sosoknya sebagai salah satu seniman terbesar yang pernah dilahirkan negeri ini. Dengan liriknya yang, seperti biasa, penuh kekuatan dan mendalam, saya memutuskan untuk menulis ini. Seperti dia berucap dalam nada-nada yang sudah saya hafal benar.

***
Manusia Setengah Dewa 

Wahai presiden kami yang baru 
Kamu harus dengar suara ini 
Suara yang keluar dari dalam goa 
Goa yang penuh lumut kebosanan 

Walau hidup adalah permainan 
Walau hidup adalah hiburan 
Tetapi kami tak mau dipermainkan 
Dan kami juga bukan hiburan 

Turunkan harga secepatnya 
Berikan kami pekerjaan 
Tegakkan hukum setegak-tegaknya 
Adil dan tegas tak pandang bulu 
Pasti kuangkat engkau 
Menjadi manusia setengah dewa

Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau!

Tiba-tiba saya merasa bersalah untuk tidak ikut berpesta tadi pagi, :)
Bandung, 9 April 2014

Selasa, 08 April 2014

Sepanjang Kalimalang

Langit siang Kalimalang
Hari ini saya cuti satu hari. Saya putuskan untuk istirahat sejenak dulu dari rutinitas kantor yang sudah hampir genap 3 tahun ini saya jalani. Tapi bukan pula berarti ini adalah pertama kalinya saya cuti, karena akan lebih tepat bila saya sebut ini adalah cuti ke-19 di rentang waktu itu. Tapi tetap saja, saya merasa sudah lama sekali tak cuti. Dan dengan logika berpikir yang sedikit aneh, hal itu menunjukkan bahwa saya sangat menyukai bekerja di tempat ini. Mungkin sebagian besar kawan tak akan percaya bila saya katakan: “saya sangat menyukai pekerjaan saya di tempat ini”. Saya katakan demikian karena sebuah perjalanan yang sangat rumitlah yang akhirnya melabuhkan saya di tempat ini. Saya sukai latar belakangnya, saya sukai kisah perjalanan di hampir 3 tahun terakhirnya, saya sukai intrik yang terjadi di antaranya. Tapi tetap saja, tak lupa saya berdoa, semoganya rasa suka ini tak lantas menjadi buta, tak lantas membuat saya menjadi terlalu terbawa.

Mengantar kakak termanis untuk menjalani sebuah cerita kecil yang lain dari perjalanannya adalah sebuah rasa syukur dari cuti yang ini. Dengan senang hati saya mencoba membuatnya nyaman dengan apapun yang saya bisa. Meski dengan sedemikian banyak keterbatasan, saya pikir sepertinya dia tetap bisa menerimanya dengan baik. Maka saya bersyukur sebanyak-banyak karenanya, maka saya bergembira selayak-layaknya karenanya. Berdoa saya di dalam hati semoga dia diberi banyak kemudahan dalam kehidupannya, ah, semoganya memang benar bisa begitu.

Saya memang tak terlalu pandai menunjukkan ekspresi pada orang-orang tersayang. Tapi sepertinya beberapa orang memang terlahir dengan memiliki perasaan yang kuat. Saya berharap semoga mereka, orang-orang tersayang itu, diberi kenyamanan yang banyak oleh Yang Maha Kuasa, atas semua keluasan hati dan kelembutan rasa yang cukup dan dimengerti.

Ah, sebenarnya ini hanya baris doa-doa. Tak terlalu runtut memang, tak terlalu jelas memang, tapi sepertinya ini jujur. Saya tak akan menuntut terlalu banyak untuk selalu bisa dimengerti oleh mereka, tapi saya ucapkan terima kasih yang banyak untuk mereka yang sudah dan telah mencoba untuk bisa seperti itu. :)

Sepanjang Kalimalang, di perjalanan Jababeka-Bekasi Timur
Bekasi, 7 April 2014