Akhirnya sore yang ini pun hampir habis sepenuhnya. Diiring lantunan
azan dari masjid sebelah, sepertinya pikiran saya beranjak menjauh. Teringat tentang
apa saja yang saya lakukan hari ini, saya tersenyum sendiri. Maka dimulailah
hari yang tadi di awal pagi yang susah-payah.
***
Bandung cerah, dengan niatan yang sudah disusun dari
kemarin-kemarin, saya beranjak dari kos-kosan sederhana milik seorang kawan yang
baik sekali. Berdua kami menuju kampus yang sudah saya anggap seperti rumah itu, Kampus Para Guru. Sudah terlalu lama rasanya saya tak mengunjungi bangunan
megah 5 lantai dengan dua menara kembarnya yang gagah. Melihat dari jauh,
dan semakin mendekat, saya berujar sendiri di dalam hati: “saya pulang :)”, saya merasa senang sekali. Dan sesampainya di
persimpangan kecil itu, kami berpisah. Kawan tersebut akan meneruskan
perjalanannya menuju gedung besar tepat di belakang gedung ini. Janji bertemu
lagi di kantin setelah urusannya nanti selesai, saya melangkah masuk menuju sebuah
pekarangan yang luas. Dengan kantinnya yang tak seberapa luas itu kini jadi
tujuan, saya berjalan pelan-pelan memperhatikan.
![]() |
Gedung JICA, FPMIPA UPI, dari halaman kantinnya yang teduh |
Memesan segelas kopi selalu saja menjadi bagian yang paling
saya sukai. Saat memulai sebuah perbincangan singkat dengan si pembuat kopi,
lalu berjalan menuju petugas kasirnya yang selalu sibuk menghitung duit. Berpura-pura
mencari lembar uang di dompet beberapa waktu, saya akan bertanya beberapa hal
yang lain padanya. Selalu begitu, saya suka. Meski tak ada lagi satupun dari
pekerja kantin berikut mahasiswanya kini yang saya kenal, tapi bagi saya ini
menyenangkan sekali. Sambil berjalan membawa gelas kopinya yang terlalu penuh,
saya mengambil kursi plastik bulat berwarna biru itu menghadap langsung ke matahari.
Mengamati semuanya dengan reguk kopi dan keriuhan yang khas, giliran mahasiswa-mahasiswa muda dengan perbincangannya yang seolah tak pernah terputus, sengat mentarinya yang lembut, teguran ramah dari beberapa dosen yang masih mengingat saya sebagai mahasiswanya dulu, gerak pekerja kantin dengan kain pembersihnya yang lincah, musik yang pelan dari earphone murahan ini, tawa jenaka pengisi waktu, semuanya. Itu tepat seperti hari-hari biasa di kisaran 10 tahun yang lewat dan beberapa waktu setelahnya. Saya hafal benar. Teringat dulu saat biasa niagakan hari-per-harinya di tempat ini, semuanya berjalan melambat lagi kini, saya tenggelam. Hingga akhirnya kawan yang tadi datang menghampiri, saya terbangun. Oh, ternyata sudah hampir 2 jam saya duduk di sini. Mengobrol sebentar dengannya sekedar melepas lelah, kami memutuskan pergi.
Ada seorang penjual bakso yang masih saya ingat. Saya biasa
memanggilnya dengan sebutan Mas Jawa, :). Tata bahasanya yang selalu ramah, dan
anak perempuan kecilnya yang biasa mengajak saya bicara tentang apapun, saya
mengingatnya dengan jelas. Gerobak dagangan yang selalu saja mangkal di gang
kecil sebelah masjid kuning itu, saya mengingatnya sama jelasnya. Mengingat
obrolan-obrolan kami dulu di bangku kayu yang memanjang, saya berucap
sendiri di dalam hati: “ah, kawan, apa
kabarmu dan gadis kecil itu hari ini? bersiaplah, saya akan datang berkunjung mungkin
15 menit lagi, :)”. Dan belasan menit berjalan kaki melintasi bangunan-bangunan besar di
kiri-kanan, akhirnya saya tiba, dia tak ada. Saya pesankan 2 mangkok bakso pada
pelayannya yang tak saya kenali ini. Mengobrol sambil bersantap yang lahap
bersama kawan yang tadi, akhirnya Mas Jawa datang bersama gadis kecilnya. Saya
tak langsung menyapa, memilih habiskan dulu makanannya yang selalu pas, dan
antrian pembeli yang selalu ramai. Saya menyapanya. Ah senang sekali mengetahui
dia masih mengenali saya, berikut potongan obrol khas dua kawan yang lama tak bertemu.
Berikut kabar singkat yang dia kabarkan tadi bahwa dia sudah membuka beberapa gerobak
baso lain di dalam kampus, begitu katanya –mungkin semacam cabang. Mendengarnya,
saya ucapkan ungkap syukur yang senang. Dan di sela kesibukannya melayani pesanan
pembeli yang terus datang, saya pamit mundur. Saya katakan padanya di akhir tadi: “nanti kita ketemu lagi, Mas”, dia
tertawa dan iyakan, kemudian tawanya hilang di antara kerubungan pembeli yang mulai
sepi.
Masih berdua kini kami menyusuri lanjut gang yang tadi,
menuju sebuah rumah kos-kosan yang sudah sangat banyak saya ceritakan di
tulisan-tulisan sebelumnya. Di sela perjalanannya, saya bertemu
beberapa kenalan lama dan tempat-tempat yang sangat akrab, dengan seorang anak
muda dengan gaya khas anak gaul Bandung dan pernyataan panconya yang membuat
saya tertawa, atau seorang penjual cuanki keliling yang sama sekali tak berubah –Mang
Odong, semoga selalu sehat, Mang :), atau pekerja fotokopian yang bekerja tepat di
bawah kamar saya dulu dan ceritanya tentang kawan-kawan yang sudah tak
lagi di sini, ah, banyak. Kini memandang dari bawah, menuju sebuah kamar yang
sedang tertutup di lantai 2 itu, saya sibuk berpikir ini-itu. Juga obrolan
dengan teteh pemilik kosan yang selalu ramah dan langsung bercerita tentang
anak lelaki tertuanya yang kini sudah duduk di bangku kuliah –dulu anaknya itu masih SD saat kami pertama
kali bertemu. Lepas dari obrolannya, saya datangi teras depan kamar nomor 2 di
atas situ. Duduk barang 15 menit untuk melihat lagi sudut pandang dan giliran
orang-orang yang hilir-mudik di bawahnya, dan semua ingatan dalam waktu yang
tak kurang dari 8 tahunnya yang menyenangkan, kini saya merasa cukup. Dengan ucapkan
pamit dan foto bersama seorang kawan lama, kini berdua kami beranjak lagi,
pulang menuju ke kos-kosannya lagi di bawah sana.
![]() |
*Kos-kosan Al-Huda, Cilimus, Bandung, di lantai 2 |
Kami sampai lagi di sini. Saya merasa sangat letih. Pamit padanya
untuk melepas lelah, saya tertidur dalam rasa syukur untuk mengenal banyak
kawan yang selalu saja, senangnya, baik dengan caranya yang masing-masing. :)
Bandung, 10 April 2014
*Foto oleh Debi Krisna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar