Tiba-tiba saya teringat sebuah obrolan dengan seorang kawan di beberapa bulan yang lewat. Waktu
itu dia tengah bercerita tentang ayahnya yang tak terlalu dekat dengannya.
Menurut kawan tersebut, aktivitas ayahnya yang terlalu sibuk serta perbedaan umur yang terlalu jauh diyakininya sebagai salah satu penyebab ketidakdekatan itu. Dan hal itu
dinilainya tidak terlalu baik -mungkin semacam istilah “kurang asik” lah.
Lanjutnya kawan tersebut juga bercerita bahwa dengan (salah satu) latar belakang itu
pulalah akhirnya dia memutuskan untuk menikah saat dulu umurnya masih 25 tahun.
Harapannya, dia ingin perbedaan umur dia dan anaknya nanti jadi tak terlalu jauh, biar mereka lebih mudah
saling memahami, katanya begitu. Saya aminkan.
Juga saat dia bertanya tentang bagaimana dengan cerita saya
dan ayah saya. Saya ceritakan, ayah saya bernama Cik Yan Lis, seorang pria yang tumbuh besar di sisi sebuah sungai besar bernama Ogan di Sumatera Selatan. Dan saya punya beberapa cerita
tentang dia, saya ingat benar. Saya ceritakan beberapa, dan kawan tersebut seperti senang
mendengarnya. :)
***
Ayah saya seorang yang suka sekali bernyanyi. Saya dengar
dari ibu dan beberapa kenalan lamanya bahwa ayah memang suka sekali bernyanyi,
sedari dulu. Bila ada kenalannya yang mengadakan pesta pernikahan atau saat ada
acara di kesatuannya, maka dengan semangat dan senang hati dia akan bernyanyi.
Bahkan pernah di satu cerita, ayah sedang menghadiri acara pernikahan bersama
ibu –saat itu mereka belum menikah. Dan setelah beramah-tamah dengan
pengantinnya dan menyanyikan 2 buah lagu, akhirnya mereka pulang. Ternyata, setelah
mengantarkan ibu ke rumah, ayah memutuskan untuk kembali lagi ke acara
pernikahan itu. Saat saya bertanya mengapa dia kembali lagi ke acara itu, ayah tertawa
dan dengan sederhananya menjawab: “begini
saja, saya masih mau nyanyi!”. Ah, saya pikir, mungkin cerita itu sudah bisa sedikit
menggambarkan bagaimana dia sangat menyukai kegiatan itu, bernyanyi. :)
Dulu saat kami di rumah, ibu dan ayah juga suka bernyanyi bersama. Kami
memiliki sebuah tape dengan sound amplifier sederhana yang bisa digunakan untuk bernyanyi menggunakan microphone berikut 4 speakernya yang lumayan besar. Biasanya
saya suka mendengar mereka bernyanyi lagu-lagu pop lawas, atau sesekali juga
dangdut. Kami juga punya koleksi kaset yang sangat banyak dan terawat, mungkin jumlahnya
sudah dalam satuan ratusan, tersimpan rapi dalam lemari hias di ruang tamu. Kaset-kaset
itu banyaknya bergenre pop, sedang sisanya mungkin lebih banyak dari classic rock dan beberapa kaset dangdut.
Saya juga sering ikut bernyanyi, kadang kami bertiga, kadang hanya dengan ayah,
kadang hanya dengan ibu, kadang sendiri. Dan biasanya kegiatan itu kami lakukan di
minggu pagi, atau sore di hari biasa saat saya sudah bangun tidur siang. Sedang
kakak perempuan saya tidak. Dia tak terlalu suka bernyanyi. :D
Semenjak SMA saya mulai belajar bermain alat musik, saya menyukai gitar.
Dan ayah juga begitu. Gitar akustik berwarna biru-orange metalik dengan spul putih itu
sering kami mainkan bergantian. Biasanya kami bermain bersama saat malam di
ruang tamu atau sore di teras rumah. Bila sedang ingin bernyanyi, ayah akan
meminta saya memainkan gitarnya, sedang bila saya yang sedang ingin bernyanyi,
maka ayah yang akan bermain gitar. Meskipun kemampuan bergitar dan bernyanyi kami
sama-sama tak terlalu bagus, tapi satu hal saja yang pasti: kami senang sekali
melakukannya. Dan salah satu lagu yang sering dinyanyikan ayah adalah lagu “Smoke on The Water” milik Deep Purple
–band rock legendaris asal inggris
yang muncul di awal-awal tahun 70an. Ayah suka sekali meminta saya memainkan
lagu itu, dan dia akan sesekali bernyanyi atau bersenandung saja. Kadang kunci dan
ketukan permainan gitar saya sama sekali tak sesuai, tapi kami tetap saja. Atau saat ayah
meminta saya memainkan lagu tembang-tembang kenangan era 70 dan 80an, lagu-lagu Duo
Kribo, Rhoma Irama, ah sama saja, kami bermain bergantian.
Dan seperti rekaman yang ini. Rekaman sederhana dari telepon
genggam Nokia 2150c yang kalau tak salah direkam di tahun 2011 di Bandung.
Saat itu, ayah sedang berkunjung ke kos-kosan saya di daerah Cilimus, Bandung. Sore itu, kami sedang bersantai saja menghabiskan sore di teras kamar
sambil menikmati angin-angin yang lewat dan tumpukan kardus. Hingga akhirnya ayah
mengambil gitar ke dalam kamar dan mengajak saya masuk ke dalam. Ternyata
ayah sedang ingin bernyanyi, dan dia ingin saya memainkan gitarnya. Dengan senang
hati saya petik gitarnya pelan-pelan sambil menanyakan dia ingin saya mainkan
lagu apa. “Lagu Rhoma!” ayah menjawab singkat, dan akhirnya lagu berjudul
“Penasaran” milik Rhoma Irama itupun jadi pembukanya. Dan untuk pertama kalinya, kami merekam permainan
ini. Entah dari mana saat itu saya mendapatkan ide merekam kegiatan itu, tapi ternyata
ayah senang-senang saja. Kami pikir, mungkin rekaman ini suatu saat nanti akan jadi
semacam kenang-kenangan yang lucu, maka kami memutuskan untuk merekamnya. Sebuah rekaman sederhana yang mungkin
akan selalu mengingatkan bahwa bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang
paling dia sukai, atau juga, paling kami sukai. :)
Seperti kalimat yang dia ucapkan di akhir rekamannya: “abis, cak itulah!”. Kira-kira artinya “ya, habis, begitu saja!” :D
Berawal dari dialog singkat bersama Agung Karsono beberapa bulan yang
lalu, dan insiden menemukan kembali file rekaman ini.
Cikarang, 3 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar