Sabtu, 26 April 2014

Tentang Sebuah Pola

Diiring beberapa lagu dari album Greatest Hits of Stevie Wonder serta sahut-sahutan gembira dari burung dan ayam di depan sana, pagi ini saya menulis. Dan sebenarnya saat ini saya sedang tak terlalu mood menulis, tapi saya coba sedikit paksakan dulu saja. Ah, saya pikir sedikit memaksa sekali-kali bukan merupakan hal yang terlalu buruk juga. Jadi biar saya menuliskan apa yang ingin saya tuliskan.

Mungkin dimulai saja dari obrolan bersama seorang kawan di malam yang tadi. Saat saya mengajaknya memikirkan apa yang sedang saya pikirkan seharian ini, kemarin-kemarin atau akhir-akhir ini. Meski sepertinya dia juga tak terlalu paham tentang apa yang saya bicarakan, tapi sepertinya dia berusaha membetah-betahkan diri mendengarkan. Saya tahu itu, heheu. Dan di antara batuk-batuknya yang sering sekali, dan pertanyaan-pertanyaan memutar yang saya ajukan, dia coba berkomentar sekenanya. Berulang kali saya katakan padanya: “kamu pasti tahu bahwa saya memang suka menanyakan banyak hal. Dan untuk yang ini, mungkin kamu tak akan mudah mengerti seperti biasanya, karena jujur saja, saya sendiripun kadang juga tak terlalu mengerti”. Lanjut kami menertawakannya bersama di antara regukan kopi yang mulai dingin.

Kami tahu bahwa kadang sebuah pertanyaan tak pernah bisa disederhanakan ke dalam baris-baris kata yang singkat dan selalu mudah dipahami oleh siapapun. Seperti pertanyaan “apakah kamu pernah gelisah menjalani hari-harimu? Berpikir tentang apa yang kamu lakukan dulu saat masih kanak-kanak, remaja, saat ini atau nanti, dan di saat itu pula kamu memperhatikan siapa orang tuamu dan melihat siapa kamu saat ini detik ini di bayang-bayang? Atau saat mengingat kembali obrolan bersama seorang kawan di awal suatu malam di halaman kantor di bawah payung besar yang sendiri-sendiri dan kalian duduk-duduk menunggu hujan reda. Atau seorang kawan di Bandung utara itu yang Juni ini akan pindah ke kota asalnya lantas merasa seorang kawan akhirnya pergi? Atau rutinitas kantor yang entah nanti akan membawamu kemana, dan apa kamu benar menginginkannya?”. Dan saat kawan yang tadi berkomentar tentang sebuah pola yang bersifat pribadi, saya sepertinya mendapat sebuah tambahan pemahaman dari sudut pandang yang lain. Ya, saya pikir dia benar!

Ah, saya tahu, bahwa menghubungkan jutaan fragmen ingatan, realita dan harapan bukanlah sesuatu yang sederhana. Dan saat kamu sudah mencapai suatu puncak dari sebuah fasa, maka sebaiknya kamu tak berada di fasa itu lagi. Meski kita semua tahu, bahwa perpindahan fasa tak selalu berarti kamu telah mencapai puncak dari fasa sebelumnya. Saya pikir ini seperti tanaman-tanaman yang sering kami rawat dulu di rumah merah jambu itu. Ya, mungkin mirip sekali seperti itu. Ini sebuah paradok. :)

Selalu melegakan setelah menceritakan apa saja yang kamu inginkan. Ah, mungkin sesederhana setiap orang butuh kawan bercerita saja ya. :D
Cikarang, 27 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar