Diiring beberapa lagu dari album Greatest Hits of Stevie Wonder serta sahut-sahutan gembira dari burung
dan ayam di depan sana, pagi ini saya menulis. Dan sebenarnya saat ini saya
sedang tak terlalu mood menulis, tapi
saya coba sedikit paksakan dulu saja. Ah, saya pikir sedikit memaksa sekali-kali
bukan merupakan hal yang terlalu buruk juga. Jadi biar saya
menuliskan apa yang ingin saya tuliskan.
Mungkin dimulai saja dari obrolan bersama seorang kawan di malam yang
tadi. Saat saya mengajaknya memikirkan apa yang sedang saya pikirkan seharian
ini, kemarin-kemarin atau akhir-akhir ini. Meski sepertinya dia juga tak terlalu
paham tentang apa yang saya bicarakan, tapi sepertinya dia berusaha
membetah-betahkan diri mendengarkan. Saya tahu itu, heheu. Dan di antara
batuk-batuknya yang sering sekali, dan pertanyaan-pertanyaan memutar yang saya
ajukan, dia coba berkomentar sekenanya. Berulang kali saya katakan padanya: “kamu pasti tahu bahwa saya memang suka menanyakan
banyak hal. Dan untuk yang ini, mungkin kamu tak akan mudah mengerti seperti biasanya, karena jujur
saja, saya sendiripun kadang juga tak terlalu mengerti”. Lanjut kami menertawakannya
bersama di antara regukan kopi yang mulai dingin.
Kami tahu bahwa kadang sebuah pertanyaan tak pernah bisa
disederhanakan ke dalam baris-baris kata yang singkat dan selalu mudah dipahami oleh siapapun. Seperti pertanyaan “apakah kamu pernah
gelisah menjalani hari-harimu? Berpikir tentang apa yang kamu lakukan dulu saat
masih kanak-kanak, remaja, saat ini atau nanti, dan di saat itu pula kamu memperhatikan
siapa orang tuamu dan melihat siapa kamu saat ini detik ini di bayang-bayang? Atau
saat mengingat kembali obrolan bersama seorang kawan di awal suatu malam di halaman
kantor di bawah payung besar yang sendiri-sendiri dan kalian duduk-duduk
menunggu hujan reda. Atau seorang kawan di Bandung utara itu yang Juni ini akan
pindah ke kota asalnya lantas merasa seorang kawan akhirnya pergi? Atau rutinitas
kantor yang entah nanti akan membawamu kemana, dan apa kamu benar
menginginkannya?”. Dan saat kawan yang tadi berkomentar tentang sebuah pola
yang bersifat pribadi, saya sepertinya mendapat sebuah tambahan pemahaman dari
sudut pandang yang lain. Ya, saya pikir dia benar!
Ah, saya tahu, bahwa menghubungkan jutaan fragmen ingatan,
realita dan harapan bukanlah sesuatu yang sederhana. Dan saat kamu sudah
mencapai suatu puncak dari sebuah fasa, maka sebaiknya kamu tak berada di fasa
itu lagi. Meski kita semua tahu, bahwa perpindahan fasa tak selalu berarti kamu
telah mencapai puncak dari fasa sebelumnya. Saya pikir ini seperti tanaman-tanaman
yang sering kami rawat dulu di rumah merah jambu itu. Ya, mungkin mirip sekali seperti itu. Ini
sebuah paradok. :)
Selalu melegakan setelah menceritakan apa saja yang kamu inginkan. Ah,
mungkin sesederhana setiap orang butuh kawan bercerita saja ya. :D
Cikarang, 27 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar