Kamis, 26 Maret 2015

Kabar dari Bandung (6) : Malam dan Psikologi

Beberapa bulan terakhir saya lagi suka belajar ini: Social Psychology. Kadang-kadang saya catatkan di buku, cuma biar ga lupa. :D
Malam di timur Bandung sudah jauh. Bersama dua orang kawan yang baik sekali, mengobrol di bawah lindungan sebuah apartemen yang menurut saya bagus sekali. Kombinasi warna putih dan coklat muda dipadu kaca-kaca besar dan sebuah meja tinggi di tengah ruangan, juga deru angin bertiup pelan-pelan di antara jendela yang terbuka. Ah, saya sangat menyukai moment ini. Berbicara di sebuah tempat terbaik, bersama dua kawan terbaik. Dan sebenarnya saya tak pernah terlalu memusingkan saat ini kami berbicara tentang apa, bagi saya sama saja.  Malam ini juga sama. Saya hanya menikmati mendengar apapun yang mereka bicarakan, saya menikmati melihat mereka mendengarkan, saya menikmati merasakan apa yang mereka rasakan.

Malam ini saya temukan bahwa kami tengah bicara panjang lebar tentang tema Psikologi. Sebuah tema yang sama-sama kami sukai dengan cara kami yang masing-masing. Entah bagaimana obrolan kami akhirnya sampai di tema ini. Ah, tapi sepertinya tak ada satupun dari kami yang peduli tentang alasan itu. Hingga akhirnya kami terhanyutlah lebih jauh, kami tertawa lebih sederhana, kami saling berkomentar satu yang lain, kami mendengarkan bila waktunya belum tiba. Dan tak ada satu hal pun yang memburu kami untuk menuntaskan pembicaraan ini sampai selesai. Begitu.

***
Saya memperhatikan. Bahwa kami bertiga memiliki scope pengamatan yang berbeda tapi sama spesial dari tema ini. Debi Krisna, pendidikan dan ketertarikannya mengarah jelas pada psikologi olahraga. Dia banyak menghubungkan semua kasus yang kami bicarakan dengan aplikasi di lapangan olahraga. Psikologi atlit, suasana lapangan pertandingan, hingga angka-angka statistik psikologi olahraga yang dia temui di skripsi sarjana miliknya, juga hal-hal lain seputar itu. Menarik sekali, saat dia bercerita tentang beberapa interaksinya dengan dosen pembimbingnya itu dulu saat skripsinya sedang dikerjakan. Di luar itu, sebenarnya saya sudah sedikit-banyak tahu tentang pembimbingnya itu. Dia adalah salah satu akademis senior ternama di bidang psikologi olahraga nasional.

Haikal, saya pikir dia adalah orang yang melihat tema ini dengan scope paling luas di antara kami bertiga. Dia banyak bercerita tentang teori-teori yang dibacanya dari paper-paper psikologi. Kemudian mencoba menjelaskan pendapatnya mengenai hubungan teori-teori itu dengan berbagai fenomena lain. Sebut saja tentang belajar berenang, ilmu kebal, hipnotis, shalat istikharah, hingga para petapa dan Budha. Saya pikir Haikal memiliki ketertarikan lebih pada hal-hal praktis di lingkup ini. Bagus sekali.

Sedang saya, sepertinya saya lebih tertarik melihat psikologi dalam scope yang tak menentu, tak jelas arahnya. Terkadang saya senang untuk melihat psikologi dalam scope yang luas, kadang juga tidak. Mungkin saya menyukai semuanya, dan hal itu membuat buah pemikiran saya berserakan saja di lantai. Tapi saya tak masalah dengan itu, karena melihat sesuatu yang seperti tak berpola malah mempermudah saya dalam menemukan polanya. Sepertinya begitu. :D

***
Tak terasa, hari sudah menjelang pagi. Berbungkus-bungkus tembakau itu sudah kami tamatkan.  Sekarang, energi dari segelas kuku bima dingin dan seporsi besar nasi kanton hangat beserta martabak mie di awal malam yang tadi mulai memberikan efeknya: kami mengantuk. Selamat malam, Bandung. Sudah dulu buat hari ini. Nanti-nanti, lagi. :)

Bandung, 7 Maret 2015; Cikarang 26 Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015

Guru

Siang ini saya jadi teringat sebuah cerita di beberapa minggu yang lewat. Saat itu malam sudah tiba di pertengahan. Berdua dengan seorang kawan yang baik sekali, kami bertukar cerita di antara tiup angin Bandung utara. Ah, sebenarnya malam itu saya lebih banyak mendengarkan. Kawan tersebut sepertinya sedang ingin bercerita banyak hal. Ceritanya juga tentang apa saja, tak ada yang terlalu spesifik. Dan saya merasa sangat tertarik saat dia mulai bercerita tentang kesibukannya akhir-akhir ini: menjadi guru. Lebih tepatnya guru olahraga di sebuah SMP swasta di Sukabumi.

Mulailah dia bercerita dengan antusias tentang bagaimana ragam tingkah pola anak muridnya yang masih belasan tahun itu di suasana kelas. Kadang ceritanya lucu, kadang ceritanya biasa saja, kadang ceritanya membuat saya geleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Terutama tentang bagaimana salah-satu muridnya itu bisa berbuat sekurang ajar dan seterang-terangan itu. Menunjukkan gesture melawan, mengucapkan kata yang tak pantas diucapkan pada seorang guru, hingga maki-makian lewat sebuah kertas ulangan. Saya dibuatnya terperangah. Saya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang murid berbuat seperti itu.

Mau tak mau, saya jadi mengingat beberapa cerita tentang masa sekolah saya dulu. Sepertinya saya juga bukan seorang yang sangat disukai oleh guru-guru saya dulu. Mungkin beberapa tamparan dan bogem mentah yang pernah saya terima, cap gila dari seorang guru BP, juga lembaran kertas-kertas beratasnamakan Guntur Berlian di Buku Hitam sekolah adalah bukti yang tak terbantahkan. Tapi rasanya saya tak pernah berani menunjukkan gesture atau bahkan niat untuk terang-terangan melawan. Saya pikir dulu saya melakukan itu semua hanya agar bisa tertawa saja. Jangan tanyakan apakah saya berani melawan mereka atau tidak, karena tentu saja saya akan menjawab: tidak berani. Atau sepertinya akan lebih tepat bila saya menjawab: tidak mau. Saya bisa katakan seperti itu karena di umuran tersebut, rasanya tak ada satupun yang bisa membuat saya takut: saat itu saya sedang beranjak remaja. :)

Atau juga membaca penggal sebuah buku karangan salah satu orang yang saya kagumi. Buku itu berjudul: Dia adalah Dilanku. Salah satu babak di bukunya itu, sang pengarang menulis tentang dia yang berkelahi (dalam arti yang sebenar-benarnya) dengan seorang guru saat upacara bendera. Di babak yang lain, dia juga bercerita tentang gurunya itu menyerahkan dia (Dilan) pada kelompok berandalan sekolah lain untuk dipukuli beramai-ramai. Di bukunya, pengarang bercerita tentang bagaimana super-jahatnya sang guru. Pengarang buku itu bisa saja mengklaim bahwa itu adalah kisah nyata hidupnya. Tapi dengan segala hormat, saya katakan bahwa cerita di buku ini terlalu banyak bumbu. Dan pengarangnya, hmmm, saya pikir dia tak sebaik yang orang-orang pikir. :)

Saya adalah anak bungsu dari seorang guru kesenian di SDN 88 Curup, saya (setidaknya mencoba) menghormati semua guru yang saya temui, saya menimba ilmu di Kampus Para Guru, saya punya banyak sekali kawan berprofesi guru. Tapi bukan pula berarti saya mendewakan sosok guru. Saya punya banyak contoh tentang guru-guru yang tak baik, dan banyak. Tapi sepertinya itu tak mengubah pendapat saya bahwa: guru adalah orang-orang yang sangat pantas untuk dihormati. Terpujilah mereka. Diberkatilah para guru. :)
Cikarang, 18 Maret 2015 

Senin, 02 Maret 2015

Mimpi di Citra Indah (4)

Bukit Cempaka Y19/129, Citra Indah. Dan pagar batako di belakang itu, tempat kamu bisa temui barisan Albazia dan perbukitan kecil yang banyak berwarna hijau
Pagi yang tak terlalu cerah itu adalah hari yang ini. Memulainya dengan mandi pagi yang menyegarkan setelah semalam menonton film hasil download-an yang lumayan seru hingga lewat tengah malam. Dan sekarang sudah hampir jam 8 pagi, kami bersiap untuk berangkat menuju sebuah perumahan besar di arah barat sana. Jarak yang akan kami tempuh mungkin sekitar satu jam dengan menggunakan motor. Dan asik sekali pagi ini: cerah yang malu-malu, bersama seorang kawan baik yang tak henti-henti berhasil membuat saya tertawa, motor Yamaha Vega merah-hitam dengan gerungannya yang garang, juga perjalanan menuju rumah. Ya, ini adalah sebuah perjalanan menuju rumah. :)

Rumah ini masing-masing kami kredit di awal tahun 2014. Kami senang sekali waktu itu: merasa antusias karena akan memiliki rumah. Rumah kami ini memang berada di sebuah perumahan yang sangat besar, tapi rumah kami sendiri kecil-kecil, hahaa. Seperti yang sudah saya ceritakan di edisi sebelumnya, rumah yang saya beli ini adalah tipe 21. Rumah mungil, tapi saya suka. Sedang punya kawan yang tadi adalah tipe 38, rumahnya lebih besar dan lingkungannya pun jauh lebih nyaman dari punya saya. Tapi tenang saja, saya tetap berpikir bahwa rumah mungil saya ini jauh lebih bagus dan lebih mewah dari rumah siapapun se-perumahan ini, :))))))

Singkat kata, kami tiba. Mampir terlebih dahulu ke rumah kawan tersebut dan melihat-lihat dia yang tengah bersiap-siap membersihkan rumah barunya di ruang tengah rumah yang kotor berdebu dan kosong melompong (cerita serupa di tulisan "AP 20 No 1"). Kain pel, kawat nyamuk, sapu, ember, gunting, dan lain-lain dikeluarkannya dari tas berwarna merah dan khas sekali itu. Dan hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya mengguyur Citra Indah yang sudah mendung gelap sejak kami tiba tadi. Membuka obrolan yang tak jelas ke arah mana, kami berdialog seputar rumah masing-masing. Sebut saja: instalasi listrik, aliran air PAM, genangan air hujan di halaman belakang dan tak terserap, ah apa saja. Hingga akhirnya hujan mereda, kami memutuskan mencari makanan dulu.

Hal yang terkonyol dari perjalanan ini adalah tentang saya yang baru menyadari bahwa saya lupa membawa kunci rumah. Hingga akhirnya, kami berdua hanya melihat-lihat rumah saya dari luar saja. Tapi saya sudah cukup puas. Complaint-an yang saya ajukan sejak 3 bulan kemaren sudah selesai dikerjakan semua oleh para pemborong mitra Citra Indah. Memang tetap ada beberapa kekurangan minor dari bangunan rumah ini, tapi saya pikir saya tak mempermasalahkannya. Saya sudah sangat bahagia. Kemudian meminta bantuan teman yang tadi untuk ambilkan beberapa gambar dengan saya yang berpose sekeren mungkin di depan rumah dengan halaman yang masih semrawut oleh rumput-rumput liar juga hawa perumahan yang basah oleh sisa hujan yang tadi.

Makanan kami sudah tandas. Dan setelah mengantar kawan yang tadi kembali ke rumahnya untuk melanjutkan prosesi berih-bersih (baca: ngepel), saya kembali ke rumah saya bersama seorang local contractor kecil-kecilan bernama Mas Mun, seorang lelaki 40 tahunan asal Semarang dan sudah 4 tahun mengadu nasib di Citra Indah. Saya menanyakan banyak hal padanya, mulai dari biaya pemasangan tralis dan pagar hingga model-model besinya.  Dia menjelaskan antusias sambil mengajak saya berkeliling menunjukkan hasil kerjanya di rumah-rumah lain di dalam komplek Citra Indah. Saya katakan padanya tentang rencana pagar berikut pondasi dan tanggul bata merah yang saya inginkan, dia mendengarkan dalam seksama.

***
Dan begini: saat berdiri memandang tanah kosong berukuran 12x11 meter di atas pagar batako di belakang situ (cerita di edisi "Mimpi di Citra Indah (1)"), saya berimajinasi tentang bagaimana bentuk dan peruntukan rumah yang saya beli ini kelak. Dan percayalah, semua yang saya lakukan saat ini adalah sebuah langkah untuk melihat apa yang saya imajinasikan dulu agar bisa menjadi barang yang nyata di suatu hari nanti. Meski mungkin orang lain melihat apa yang saya impikan adalah terlalu kecil dan lambat, saya hanya akan tertawa. Mungkin saya akan katakan padanya bahwa: "impian saya besar, mungkin kamu hanya belum melihatnya dari sisi yang seharusnya" :D. Dan dimulainya kini dengan obrolan pagar dan pondasi keliling ber-budget ekstra minim yang saya obrolkan bersama Mas Mun tadi? Ya, sekarang dimulailah dulu dengan rencana pagar dan pondasinya saja. Sudah cukup. :)

Bogor Kabupaten, Citra Indah, 1 Maret 2015
*Foto oleh Frans Kurnia

Jumat, 27 Februari 2015

Hari Bulan Tahun

Dari sebuah obrolan yang singkat-singkat di dunia maya, ternyata kamu bisa menghela nafas dalam-dalam, tanda hatimu tengah dihantam sesuatu. Terbanglah menuju jutaan kilas peristiwa di waktu-waktu yang lewat, lalu berdiamlah sedikit lebih lama. Banyaknya tentu lahirkan senyummu mengembang selebar-lebar, dan kamu merasa bahagia yang banyak. Teringat semua yang pernah terjadi dulu, dan apa saja. Kamu bisa sebutkan semuanya hingga tersengal, tawa terpingkal, sedih yang tak lagi ditutupi, ah, apa saja. Meski akhirnya kamu kembali tersadar bahwa hari sudah berganti, bulan sudah berganti, tahun sudah berganti.

Dan reguk kopimu di panas jumat ini adalah sebuah cerita. Saat matahari lewat di ubun-ubun menuju penghujungan, dan sapaan pemilik warung yang tengah merasa gerah. “Uh, ga ada angin sama sekali, Mas ya?” ujarnya singkat beramah-tamah diiring senyum yang selalu sama. Kamu hanya tersenyum, dan dia berlalu mengangkat deretan gelas-gelas kotor menuju tempat pencucian di belakang sana. Sedang kamu semakin gelisah. Meski kamu pun pasti mengerti bahwa sebenarnya kegelisahaan itu adalah pertanda yang baik menuju tahapan yang selanjutnya: bahwa kau mulai mempertanyakan semua. Yang meskipun tahu, tapi kamupun sadar, bahwa menjalaninya tak pernah berarti sebuah perkara yang mudah. Ah, jauh sekali dari itu.

Bila mengingat balik, maka kamu akan melintasi lagi tanah luas berundak di Kampung Pelukis itu, di beberapa tahun yang silam. Saat itu melihat Bandung dari selatan jauh dan mataharinya yang menyengat. Mulailah melihat jutaan visi yang megah, dan rasanya jauh sekali. Kamu sadar waktu itu, bahwa cerita hidup adalah sebuah misteri. Seperti juga reguk minuman kemasan yang dibawa dari bawah sana menuju tempat kamu berdiri saat ini. Sama saja. Sebenarnya sama saja.

Kamu bisa mengenal ribuan wajah dan tingkah laku dari siapapun yang kamu temui. Tak lepas pula dari mereka di masa lalu, tak lepas dari mereka di saat ini, tak lepas dari mereka di masa depan. Karena nyatanya kamu hidup di kerumitan dimensi waktu.

Kamu bisa menyelam di ribuan tempat manapun yang pernah disinggahi. Tak lepas dari tempat-tempat di masa lalu, tak lepas dari tempat-tempat di saat ini, tak lepas dari tempat-tempat di masa depan. Karena nyatanya kamu menyatu di pekatnya dimensi ruang.

Kamu bisa berinteraksi di ribuan kejadian pernah terlewat. Tak lepas dari semua yang terjadi di masa lalu, tak lepas dari semua yang terjadi di saat ini, tak lepas dari semua yang akan terjadi di masa depan. Karena nyatanya kamu adalah sebuah jiwa yang selalu takut bila harus sendiri.

***
Halo, aku adalah dirimu dari raut malas yang sepi-sepi. Semakin mengenal diriku lewat obrolan-obrolan yang singkat bersama siapapun dalam dimensi ruang-waktu-kejadian adalah sebuah pilihan. Meski belum bosan kau kuajak berdiskusi bahwa kita tak hanya hidup di masa kini saja, melainkan juga di masa lalu dan masa depan. Di dimensinya kita belajar tentang banyak hal –dari semua hal: "baik dan buruk". Karena sepertinya hidup tak pernah dibagi menjadi baik dan/atau buruk. Hmmm, sepertinya hidup adalah sesuatu yang lebih sederhana. Mungkin hidup dan kehidupan itu sendiri sebenarnya tak pernah terbagi dalam pembagian apapun. :)
Cikarang, 27 Februari 2015

Kamis, 12 Februari 2015

Gaple (2)

Biji 8, 6-2. :p *
Jika kamu menyukai permainan gaple, mungkin kamu akan familiar bila saya katakan seperti ini: pecahan kombinasi kartu yang berjumlah 28 ini memiliki probabilitas kemenangan yang selalu bisa dihitung dalam angka-angka ganjil. Terkadang saya berpikir bahwa saya sudah memahami permainan ini dengan baik. Meski terkadang pula, saya kembali sadar bahwa saya sebenarnya tak sepaham itu juga. Di beberapa kesempatan, terkadang saya senang-senang saja secara sengaja mengalah hanya untuk membuat lawan menjadi bahagia –dan akhirnya kami sama-sama bahagia :D. Meski sayangnya, di beberapa kesempatan yang lain, ternyata saya tetap tak bisa menang meskipun sudah berusaha untuk menang, hahaa. Hal ini membuat saya sadar diri bahwa sebenarnya saya tak sepandai itu juga. :p

Dan malam ini, saya bermain lagi bersama tiga orang kawan yang lain. Untuk kemudian dipaksa menyadari lagi bahwa ada beberapa hal yang benar-benar tak bisa saya perkirakan, bahkan walau hanya dengan mereka-reka saja. Jadi begini: tadi seorang kawan berhasil menutup permainannya dengan 4 kartu terbuka! Ini benar-benar luar biasa!! Seumur hidup saya bermain permainan ini, saya hanya pernah sekali menyaksikan hal serupa di belasan tahun yang lewat, yaitu saat menonton permainan gaple bapak-bapak di kampung saya dulu. Dan akhirnya malam ini, saya bisa menyaksikannya lagi: kombinasi empat kartu (kalau yang tadi: biji-1, biji-0 dan biji-6) turun serentak di satu kali jalan. Saya senang sekali melihatnya sambil berdecak kagum yang banyak. :D

Menutup permainan gaple dengan dua kartu terbuka sekaligus (biasanya orang menyebutnya dengan istilah “bomb-0” dan “bomb-6”) menurut saya adalah hal yang tak terlalu mewah. Meski itu juga tetap saja sulit, tapi setidaknya saya masih bisa sedikit memahami bagaimana gradasi probabilitasnya yang harus dibentuk. Tapi untuk menutup permainannya dengan 4 kartu terbuka? (mungkin seharusnya ini diistilahkan “nuclear”, hahaa). Saya benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana bisa berakhir seperti itu. Saya tak habis pikir, bagaimana bisa tiga angka berkumpul dan menjadi “tua” di satu orang pemegang yang sama. Mungkin jika seandainya saya seorang ahli matematika, saya akan bisa menjelaskannya. :D

Gaple. Rasanya semua orang juga tahu bahwa permainan ini adalah perkawinan antara probabilitas dan keberuntungan. Tapi saya juga selalu yakin, bahwa di permainan ini, perbandingan antara keberuntungan terhadap tekniknya tak akan pernah melebihi 1:3. Dan apakah kamu tahu? Bahwa artinya meminimalisir keberuntungan dengan teknik hitungan yang rumit adalah sebuah kesalahan besar. Sejauh ini saya berpikir, bahwa untuk bisa memenangi permainannya, kamu harus tetap mempertaruhkan sedikit harapan untuk mendapatkan keberuntungan. Dan saya pikir, hal inilah yang membuat gaple jadi permainan yang tak pernah serius. Cukup sambil tertawa, dengan mood yang bagus, dan dewi fortuna yang semoga saja datang menghampiri. ;)
Cikarang, 12 Februari 2015
*gambar diambil dari internet, gatau punya siapa. semoga aja yang punya ga marah. :D

Selasa, 03 Februari 2015

Orang-orang Yang Memperhatikan

Tak ada angin, tak ada hujan. Sambil duduk beristirahat dari berolahraga ringan di kos-kosan yang benderang, di antara obrolan seorang kawan yang sedang menelpon saudaranya, tiba-tiba saya teringat tentang sebuah kejadian yang pernah membuat saya merasa bahagia sekali. Dan sekarang, mari kembali ke 11-12 tahun yang lewat. Menuju saat pagi di Bandung tengah cerah-cerahnya.

***
Minggu pagi itu saya terbangun di sebuah kos-kosan milik seorang kawan baik di daerah belakang pasar Simpang Dago. Entah bagaimana, saat itu saya mendapat ilham untuk pergi ke Lapangan Gasibu melihat ribuan orang tumpah ruah di pasar dadakannya yang selalu penuh. Rasanya semua orang juga tahu, bahwa setiap hari minggu pagi, lapangan Gasibu Bandung akan selalu dipenuhi oleh para pedagang dan pengunjungnya yang entah datang dari mana saja. Mereka memenuhi lapangan, luber hingga ke badan jalan. Jalanan macet, arus kendaran macet, bahkan pejalan kakipun terkadang sama saja. Selalu penuh.

Berjalan kaki dari Simpang Dago menuju Lapangan Gasibu, saya melihat pelan-pelan. Dan tak terasa, selang beberapa belas menit, saya pun tiba. Disambut riuh rendah para pengunjung yang ramai, pedagang peralatan rumah tangga, aneka makanan, baju, pernak-pernik, sepatu, motor, apapun. Kamu bisa temukan apapun yang kamu inginkan di pasar ini. Sedang saya? Tidak, saya tak sedang mencari apa-apa. Saya hanya sedang ingin melihat-lihat saja. Untuk sekedar melebur dengan ribuan pengunjung yang lain, dan hanya itu saja.

Berjalan di satu sisi jalanannya yang sama ramai, saya berhenti di sebuah lapak pakaian bekas. Melihat-lihat, dan saya menemukan sebuah sweater yang bagus sekali. Lama saya pandangi, bolak-balikkan untuk mencari cacat apa saja yang ada di baju itu. Saya temukan sebuah noda kecil di bagian dadanya, saya berpikir: “ah namanya juga baju bekas, cacat sedikit tentu tak masalah”. Memberanikan diri, saya bertanya pada penjualnya kiranya berapa harga sweater itu. Dengan beberapa kali bertanya balik, akhirnya penjualnya memutuskan harga final untuk sweater tersebut: “Rp 35.000, ga kurang lagi”. Tentu saja saya anggap itu mahal, karena setahu saya baju bekas seperti itu tak akan jauh dari harga Rp 15.000 sampai Rp 25.000 saja. Dan sebenarnya saya hanya sedang bertanya-tanya saja. Saat itu, saya hanya memegang uang untuk ongkos angkot ke kosan di barat laut sana, hahaa. Akhirnya saya pergi meninggalkan lapak itu, sambil terus berpikir bahwa sweater itu bagus sekali. :)

Saya tak pergi jauh. Saya duduk bebas saja di atas trotoar seberang lapaknya. Sambil memandangi orang-orang yang lewat, juga sesekali melirik lagi sweater putih yang tergantung paling depan itu. Berulang kali saya katakan di dalam hati, bahwa akan bagus sekali bila saya memakainya.

Selang beberapa lama, tiba-tiba saya dipanggil oleh sepasang pengunjung paruh baya yang tengah memilah-milih lembaran sweater di lapak yang tadi. Ragu, saya mendekat. Tiba-tiba bapak tersebut menyerahkan sweater putih itu ke arah saya. Dia katakan sambil tersenyum: “kamu mau sweater ini? Sekarang ambillah”. Terkaget campur bahagia, saya anggukkan kepala, sambil ucapkan terima kasih yang banyak. Suami-istri itu tertawa, sambil berucap singkat tentang mereka yang juga memiliki anak laki-laki seumuran saya. Ah, saya senang sekali waktu itu.

Di perjalanan pulang, saya berpikir ringan. Pasti pasangan suami-istri itu sudah lama memperhatikan saya. Mungkin setidaknya dia sudah memperhatikan apa yang saya lakukan selama setengah jam. Tapi hanya sebatas itu, karena detik berikutnya saya bahkan sudah tak memikirkan mereka lagi. Saya sudah kadung tenggelam dalam euphoria-nya di sepanjang perjalanan angkot Cicaheum-Ledeng menuju barat laut.

***
Malam ini saya mengingat cerita ini lagi. Saya semakin menyadari bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang suka memperhatikan. Saya tak perlu merasa seperti alien seorang diri. Mungkin banyak sekali orang dengan tipe serupa di luar sana: orang-orang yang memperhatikan sekeliling dengan pola yang tak biasa, hanya ketertarikan yang timbul dalam hitungan sepersekian detik!

Sayang saya tak terlalu ingat saat ini sweater putih itu ada dimana. :p
Cikarang, 3 Februari 2015

Rabu, 28 Januari 2015

Dua Kilometer

Malam sudah jauh, dan saya baru melangkah pulang dari komplek perkantoran kami yang besar. Saya senang-senang saja untuk pulang selarut ini mengerjakan pekerjaan yang saya sukai. Beberapa kawan berkomentar dengan candaan bahwa saya bekerja hingga malam untuk mendapatkan reward yang pantas, atau untuk dipuji oleh atasan. Ahahaa, biasanya saya hanya akan tertawa mendengarnya. Tak pernah sekalipun saya membantah komentarnya, malah biasanya saya ikut mengiyakan. Meski sepenuhnya yakin, mereka pasti tahu bahwa saya kurang tertarik dengan hal-hal seperti itu. 

Sekarang memutuskan duduk sejenak bersama dua orang pedagang keliling yang masih mengais rezeki di depan pagar kantor kami, saya buka dialog. Semenit-dua-menit, di antara gerimis yang turun panjang sekali, dan renungan ini datang. Saya jadi tertawa sendiri menyadari bahwa sekarang saya tengah sedikit kecewa karena kawan yang rencananya akan saya tumpangi malam ini ke arah pulang, ternyata sudah pulang duluan. Tersirat cepat, saya menyadari bahwa sekarang saya menjadi manja sekali. Ah, bodohnya, :p. Lepas tertawa-tawa sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Saya pikir ini adalah sebuah ide yang bagus, untuk berjalan di bawah gerimis malam yang sepi menuju tempat beristirahat. Jaraknya juga tak jauh, mungkin hanya dua kilometer-an saja. Dan di antara langkah-langkah kaki yang pendek dan genangan air yang tersebar di sepanjang jalan, saya jadi teringat saat dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.

***
April pertengahan, 2011.

Pagi ini saya ditelpon oleh seseorang dari bagian HRD Dexa Medica. Dia mengabarkan bahwa tiga hari lagi saya diminta untuk interview dengan calon user di salah satu anak perusahaan Dexa Medica di Jababeka, Cikarang. Dia juga menambahkan bahwa user tersebut adalah calon atasan saya di posisi yang saya lamar kemarin-kemarin. Tentu saja saya antusias sekali mendengarnya. Dan setelah telpon itu ditutup, ternyata semangat saya menjadi sedikit redup karena menyadari uang yang saya miliki saat ini sangat-sangat-lah tipis. Kenyataannya adalah saya bahkan tak punya ongkos untuk pergi ke Jababeka, heheu. Bertanya-tanya sebentar ke beberapa kenalan yang mengetahui rute perjalanan ke tempat itu, saya hitung setidaknya saya perlu uang Rp 100.000 agar bisa menemui calon atasan saya tersebut.

Singkat kata, akhirnya saya mendapatkan uang pinjaman. Saya merasa beruntung untuk memiliki banyak kawan dan kenalan. Meski ternyata uang pinjaman itu kurang Rp 10.000 dari yang saya harapkan. Itu adalah jumlah semua uang yang dimiliki oleh kawan tersebut. Saya masih ingat sekali, saat itu saya katakan padanya: “tenang saja, dengan uang 90 ribu ini, nantinya saya akan menjadi orang kaya”. Dia aminkan, lanjut disambut dengan tawa kami yang lepas sekali. Ah, what an amazing moment. :)

Dan tibalah hari itu. Pagi-pagi, saya sudah berangkat dari kos-kosan. Naiki bus Damri yang jelek sekali, menuju terminal Leuwi Panjang di barat jauh. Ongkos Rp 1.500 kontan saya bayarkan pada kernet Damri yang tangkas menagih ke seluruh penumpang yang ada di dalamnya. Hingga setibanya di terminal, saya segera berburu bis jurusan Bandung-Jababeka. Nah, ongkos bis ini menurut saya mahal sekali, Rp 35.000. Uang pinjaman saya kemarin akan tersedot banyak di bis ini. Sedikit berat saya serahkan uangnya, hingga dua jam berikutnya saya tiba di sebuah jalanan besar bernama Niaga Raya, Jababeka.

Turun dari bus itu, seorang tukang ojek menghampiri saya yang sedang berdiri bebas di bawah lindung mahoni raksasa. Untungnya, ojek tersebut tahu persis lokasi DLBS, anak perusahan Dexa Medica yang akan saya datangi hari ini. Dan di sepanjang perjalanan di atas motor bebek itu, saya berusaha berkonsentrasi mengingat jalan mana saja yang saya lewati. Saya harus mengingat jalannya, karena di jalan pulangnya nanti, saya akan berjalan kaki ke pool bis ini lagi. Budget saya tak cukup bila harus membayar lagi jasa ojek sebesar Rp 3.000 ini. :p

Tiba di kantor itu, saya bertemu seorang kawan sekelas saya di kampus dulu yang juga tengah melamar di posisi yang sama. Saat itu dia tengah duduk-duduk manis di atas sofa biru pudar di lobby kantor. Kami mengobrol pendek dulu sambil menunggu antrian interview-nya. Kabarnya, hari itu akan ada 3 orang pelamar yang  di-interview oleh user tersebut. Saat itu saya mendapat giliran terakhir. Hingga akhirnya giliran saya tiba, saya menemui si user –dia  adalah gadis muda dengan terusan batik coklat muda yang saya ceritakan di tulisan “Rabu Pertama” di Mei 2014 di blog ini. Selang satu jam, akhirnya interview itupun selesai.

Perjalanan kembali ke pool bis itu adalah sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa saya lupakan. Pasalnya saya berjanji pada kawan sekelas tadi untuk pulang bersama ke Bandung menggunakan bis jam 12. Saat itu saya terlalu malu untuk mengatakan bahwa saya tak punya uang untuk ongkos ojek. Jadi saya katakan pada kawan tersebut untuk pergi duluan ke pool bis, dan saya akan menyusul. Lepas dia pergi dengan ojeknya dan hilang dari pandangan, sesegera mungkin saya berlari. Saat itu sudah jam 11.30 lebih, saya hawatir saya tak bisa tiba tepat waktu bila tidak berlari. Lepaskan sepatu, saya berlari di atas trotoar di sepanjang jalan menuju tempat kami janji bertemu. Cikarang adalah tempat yang sangat panas. Dan bisa dibayangkan, di tepat tengah harinya yang cerah, saya berlari sejauh 2 km tanpa alas kaki dikejar waktu. Dan bila kamu tak terbayang, saya beritahu saja: itu melelahkan sekali. :D

Dengan keringat bersimbah dan sengal napas yang tak teratur, saya tiba di pool bis-nya. Kemeja yang saya kenakan ini sudah basah seperti cucian yang baru akan dijemur, heheu. Lalu menemui kawan yang tadi, kami bicarakan hasil interview tadi di sepanjang jalan menuju Bandung. Kami saling mendoakan agar sama-sama diterima di posisi itu.

Bandung adalah kota sejuta cerita. Dia saksikan perjalanan pulang saya menuju kos-kosan di utara sana, dan sisa uang pinjaman yang akhirnya ludes saya belanjakan di tukang nasi keliling dalam terminal. Dan detik itu adalah makanan pertama yang saya telan hari ini. Di pelataran terminal itu saya merasa lega, saya sudah selesaikan interview-nya. Satu hal lagi: saya lega, saya sudah sampai di rumah. :)

Cikarang, 23.30, 28 Januari 2015