![]() |
Sore itu dan saya tahu, si Bumi Biru ini sedang bertanya sesuatu, tapi sayangnya saya belum mengerti bahasanya. :p |
Pagi itu saya berangkat. Menuju selatan Bandung yang jauh untuk bersenang-senang. Sepanjang perjalanannya asik, saya bernyanyi-nyanyi sendiri
di atas sebuah motor pinjaman milik seorang kawan yang saat itu tengah bersiap
mencari uang seharian lewat sebuah kejuaraan bola voli putri se-Kota Bandung. Saya jalankan
motornya perlahan, mampir sebentar-sebentar di beberapa perhentian, dan Bandung
yang sedang cerah sekali.
Dan melihat deretan rak-rak bambu yang berjajar dalam
barisan yang tak seberapa panjang ini adalah sebuah rasa senang. Mengangkat beberapa
karung yang lumayan berat dan memindahkannya berkali-kali, saya
menyeka keringat yang jatuh satu-satu seperti tak bisa berhenti. Memperhatikan sekeliling ruangan yang sepi, dan
rasa lelah yang mulai datang, saya berhenti sejenak. Untuk kemudian menyesap beberapa isap
tembakau yang membahagiakan, juga dengarkan tembang-tembang renungan milik Alexi
Murdoch yang selalu saja inspiratif dan mengalun pelan. Saya bertanya sendiri saat itu: "mengapa saya datang ke
sini hari ini?" Saya senyum-senyum tak bisa menjawab pasti. Dan sambil menatap sisa pekerjaan yang tinggal setengah
lagi, atau merasakan pegal di punggung dan genggaman tangan, juga diamnya matahari yang mulai
condong ke arah barat. Saya bergumam sendiri: “ah, ternyata hari sudah mulai lebih siang”. Saya putuskan
untuk segera melanjutkan sisa pekerjaan yang menyenangkan ini. Juga memikirkan beberapa kiriman pesan yang
belum kunjung dibalas oleh seorang kawan baik yang saat itu sedang terbaring sakit di rumahnya sana. Hingga akhirnya semuanya selesai, dan tiup nafas yang
lega bercampur letih tertiup oleh angin-angin di langit Kampung Pelukis.
Sebenarnya sedari tadi saya tengah banyak berpikir tentang kawan baik
yang sedang terbaring sakit itu. Tapi bukan, saya bukan sedang mengkhawatirkan kondisi sakitnya,
karena saya selalu tahu dia mampu menjaga dirinya sendiri. Saya hanya sedang memikirkan
persinggungan tentang apa yang sedang saya lakukan seharian ini dengan dia atau keluarga kecilnya itu. Gelisah, saya coba kirimkan beberapa pesan singkat padanya: "bahwa saya sangat menikmati apa yang saya lakukan ini, yang meski
nantinya kami mungkin akan gagal sama sekali, tapi sebenar-benarnya saya sangat menikmati segenap prosesnya. Dan sebesar
itu pula saya berharap kiranya dia juga bisa merasa seperti itu". :) Meski tak lama
kemudian, kawan tersebut membalas pesan yang saya kirimkan tadi. Menjawablah dia dengan
sangat menyenangkan, sekaligus menawarkan agar saya berkunjung ke rumahnya sore ini.
Saya iyakan.
Di sepanjang perjalanan itu, saya tak bisa cepat memutuskan
kiranya sore ini saya akan benar mampir ke rumahnya atau tidak. Berbagai macam
pertimbangan saya pikirkan, termasuk untuk menjemput kembali kawan di
pertandingan voli yang tadi. Hingga akhirnya di dekat sebuah persimpangan besar
itu, saya berhasil memutuskan. “Saya akan datang menghampirinya, saya ingin berfoto
dengan anaknya. Semoga saja anaknya belum tidur, saya benar-benar sedang ingin foto
berdua dengannya”. Setahu saya, di jam-jam ini, anak itu seringnya sudah tertidur. Atau
menimbang tentang pakaian saya yang basah kuyup oleh keringat seharian ini, yang pasti sudah
terlalu bau untuk menggendongnya. Saya pikir sepertinya dia tak kan mau digendong dengan
kondisi saya seperti ini, atau mungkin orang tuanya yang akan melarangnya. Ah, tapi saya
tetap saja, saya pikir saya mau mengadu peruntungan dengan anak yang belum
genap berusia setahun itu.
Tiba di sebuah rumah di kawasan perumahan yang memiliki
banyak persimpangan rumit itu, saya mengetuk dari luar. Untuk kemudian terdengar kawan
tersebut berjalan ke arah pintu luar, dan kami bertukar sapa. Mengintip sebentar ke
dalam rumah, lewat jarak antara pintu dan kawan yang tengah berdiri di depannya, saya
mendengar suara anak itu entah sedang bicarakan apa. Saya bicara sendiri di dalam hati: “Nah, benar, dia belum tertidur kan”. Mengajak
kawan tersebut untuk menghampiri anaknya dulu sebentar, saya melihat anak itu tengah
bergulingan bebas saja di atas sebuah karpet tebal, dengan ibunya yang dengan
bangga memamerkan anaknya yang sekarang sudah bisa duduk. Saya berdiam sejenak, dan memperhatikan anak
itu sedang menatap saya tajam. Dan luar biasa: anak itu menunjukkan gesture agar saya
menggendongnya. Ahahaa, saya tertawa sendiri di dalam hati, sepertinya anak ini
mengetahui apa niat saya mengunjungi rumahnya sore ini. Saya senang sekali. Sesegeranya
pula saya meminta kawan tersebut untuk mengambil foto kami berdua di luar
rumah.
Mungkin kunjungan itu tak lebih dari satu jam. Dan di perjalanan pulang di ujung sorenya itu, saya berpikir banyak tentang kawan tersebut, juga anaknya. Kiranya nanti saat dia sudah besar, saya akan menceritakan padanya
bagaimana dulu saya suka sekali menghabis-habiskan uang ayahnya hanya untuk bersenang-senang
sendiri, seperti yang saya lakukan seharian ini. Ya, saya akan mengatakannya seperti itu. :) Ah, semoga saja nanti dia bisa paham dan mengerti. Sekali lagi saya akan mengadu peruntungan dengannya. :)
Selamat sore, Bumi Biru
Bandung, 4 Mei 2014
Bandung, 4 Mei 2014
*Foto oleh Haikal Sedayo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar