Selasa, 13 Mei 2014

Di Pojok Sore (11) - Bumi Biru

Sore itu dan saya tahu, si Bumi Biru ini sedang bertanya sesuatu, tapi sayangnya saya belum mengerti bahasanya. :p
Pagi itu saya berangkat. Menuju selatan Bandung yang jauh untuk bersenang-senang. Sepanjang perjalanannya asik, saya bernyanyi-nyanyi sendiri di atas sebuah motor pinjaman milik seorang kawan yang saat itu tengah bersiap mencari uang seharian lewat sebuah kejuaraan bola voli putri se-Kota Bandung. Saya jalankan motornya perlahan, mampir sebentar-sebentar di beberapa perhentian, dan Bandung yang sedang cerah sekali.

Dan melihat deretan rak-rak bambu yang berjajar dalam barisan yang tak seberapa panjang ini adalah sebuah rasa senang. Mengangkat beberapa karung yang lumayan berat dan memindahkannya berkali-kali, saya menyeka keringat yang jatuh satu-satu seperti tak bisa berhenti. Memperhatikan sekeliling ruangan yang sepi, dan rasa lelah yang mulai datang, saya berhenti sejenak. Untuk kemudian menyesap beberapa isap tembakau yang membahagiakan, juga dengarkan tembang-tembang renungan milik Alexi Murdoch yang selalu saja inspiratif dan mengalun pelan. Saya bertanya sendiri saat itu: "mengapa saya datang ke sini hari ini?" Saya senyum-senyum tak bisa menjawab pasti. Dan sambil menatap sisa pekerjaan yang tinggal setengah lagi, atau merasakan pegal di punggung dan genggaman tangan, juga diamnya matahari yang mulai condong ke arah barat. Saya bergumam sendiri: “ah, ternyata hari sudah mulai lebih siang”. Saya putuskan untuk segera melanjutkan sisa pekerjaan yang menyenangkan ini. Juga memikirkan beberapa kiriman pesan yang belum kunjung dibalas oleh seorang kawan baik yang saat itu sedang terbaring sakit di rumahnya sana. Hingga akhirnya semuanya selesai, dan tiup nafas yang lega bercampur letih tertiup oleh angin-angin di langit Kampung Pelukis.

Sebenarnya sedari tadi saya tengah banyak berpikir tentang kawan baik yang sedang terbaring sakit itu. Tapi bukan, saya bukan sedang mengkhawatirkan kondisi sakitnya, karena saya selalu tahu dia mampu menjaga dirinya sendiri. Saya hanya sedang memikirkan persinggungan tentang apa yang sedang saya lakukan seharian ini dengan dia atau keluarga kecilnya itu. Gelisah, saya coba kirimkan beberapa pesan singkat padanya: "bahwa saya sangat menikmati apa yang saya lakukan ini, yang meski nantinya kami mungkin akan gagal sama sekali, tapi sebenar-benarnya saya sangat menikmati segenap prosesnya. Dan sebesar itu pula saya berharap kiranya dia juga bisa merasa seperti itu". :) Meski tak lama kemudian, kawan tersebut membalas pesan yang saya kirimkan tadi. Menjawablah dia dengan sangat menyenangkan, sekaligus menawarkan agar saya berkunjung ke rumahnya sore ini. Saya iyakan.

Di sepanjang perjalanan itu, saya tak bisa cepat memutuskan kiranya sore ini saya akan benar mampir ke rumahnya atau tidak. Berbagai macam pertimbangan saya pikirkan, termasuk untuk menjemput kembali kawan di pertandingan voli yang tadi. Hingga akhirnya di dekat sebuah persimpangan besar itu, saya berhasil memutuskan. “Saya akan datang menghampirinya, saya ingin berfoto dengan anaknya. Semoga saja anaknya belum tidur, saya benar-benar sedang ingin foto berdua dengannya”. Setahu saya, di jam-jam ini, anak itu seringnya sudah tertidur. Atau menimbang tentang pakaian saya yang basah kuyup oleh keringat seharian ini, yang pasti sudah terlalu bau untuk menggendongnya. Saya pikir sepertinya dia tak kan mau digendong dengan kondisi saya seperti ini, atau mungkin orang tuanya yang akan melarangnya. Ah, tapi saya tetap saja, saya pikir saya mau mengadu peruntungan dengan anak yang belum genap berusia setahun itu.

Tiba di sebuah rumah di kawasan perumahan yang memiliki banyak persimpangan rumit itu, saya mengetuk dari luar. Untuk kemudian terdengar kawan tersebut berjalan ke arah pintu luar, dan kami bertukar sapa. Mengintip sebentar ke dalam rumah, lewat jarak antara pintu dan kawan yang tengah berdiri di depannya, saya mendengar suara anak itu entah sedang bicarakan apa. Saya bicara sendiri di dalam hati: “Nah, benar, dia belum tertidur kan”. Mengajak kawan tersebut untuk menghampiri anaknya dulu sebentar, saya melihat anak itu tengah bergulingan bebas saja di atas sebuah karpet tebal, dengan ibunya yang dengan bangga memamerkan anaknya yang sekarang sudah bisa duduk. Saya berdiam sejenak, dan memperhatikan anak itu sedang menatap saya tajam. Dan luar biasa: anak itu menunjukkan gesture agar saya menggendongnya. Ahahaa, saya tertawa sendiri di dalam hati, sepertinya anak ini mengetahui apa niat saya mengunjungi rumahnya sore ini. Saya senang sekali. Sesegeranya pula saya meminta kawan tersebut untuk mengambil foto kami berdua di luar rumah.

Mungkin kunjungan itu tak lebih dari satu jam. Dan di perjalanan pulang di ujung sorenya itu, saya berpikir banyak tentang kawan tersebut, juga anaknya. Kiranya nanti saat dia sudah besar, saya akan menceritakan padanya bagaimana dulu saya suka sekali menghabis-habiskan uang ayahnya hanya untuk bersenang-senang sendiri, seperti yang saya lakukan seharian ini. Ya, saya akan mengatakannya seperti itu. :) Ah, semoga saja nanti dia bisa paham dan mengerti. Sekali lagi saya akan mengadu peruntungan dengannya. :)

Selamat sore, Bumi Biru
Bandung, 4 Mei 2014
*Foto oleh Haikal Sedayo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar