Rabu, 07 Mei 2014

Kabar dari Bandung (3)

Baleendah, lepas hujan sebentar
Siangnya masih di tengah-tengah, saat berdua dengan seorang kawan yang baik, kami memutuskan untuk segera turun dari saung sederhana di bawah rimbunan albazia yang banyak. Waktu itu sebenarnya saya masih sangat betah, tapi ajakan dari kawan yang ini sepertinya sudah bulat sekali. Hingga akhirnya kini kami berjalan perlahan meniti satu-satu undak tanah kebun yang sedikit basah. Langit di atas sudah gelap, angin yang bertiup juga lebih kencang dari biasa. “Saya khawatir nanti hujannya terlanjur besar, dan atap saung ini tak akan sanggup menahan runtuhan rumpun bambu raksasa di atas sana, kalo nanti dia bener runtuh seperti di sisi yang lain itu”. Kami tertawa mendengarnya, dan saya sepakat-sepakat saja. 

Bergegas, kini kami sudah ada di atas sebuah motor matic yang baru saja kami beri minum. Selang 10 menit perjalanan, dan hujan pun turun dari perlahan sampai menderas sekalian. Hingga akhirnya kami memutuskan menepi dulu di sebuah warung kopi sederhana bertuliskan “BUKA 24 JAM”. Kini pesankan dua gelas kopi susu di gelas kacanya yang rumit, kami memilih duduk di luar, di sebuah kursi kayu yang nyaman dan lebar beralas karpet abu, menghadap persis ke jalan. Di depannya terpampang pemandangan perbukitan Bandung selatan yang ramah sekali. Dan saya baru sadar, bahwa ternyata kini kami tengah duduk tepat di hadapan sebuah pertigaan yang tak terlalu luas. Lanjut menghirup kopinya yang biasa, kami mulailah berbicara di antara hujan yang ternyata sudah mereda.

Kami tahu, bahwa tujuan kami duduk di sini bukan untuk menghindar dari hujan. Kadang kami senang-senang saja mengendarai motornya itu di tengah hujan. Sedang untuk yang ini, sepertinya kami lebih memilih untuk menepi mengobrol saja dulu dan tentang apa saja. Seperti sebuah cerita tentang pendidikan anak di kota ini, yang kadang kami menilainya sebagai sebuah hal yang sedikit aneh. Saya menilai sendiri, mungkin saja karena kami datang dari kampung, dan mungkin kami hanya tak biasa dengan sudut pandang mendidik anak dari orang-orang yang besar di perkotaan. Kadang kami berpikir itu sedikit tak masuk akal, kami hanya tertawa saja. Seperti komentar yang sering sekali diucapkan olehnya: “mungkin bagusnya dibiarin aja”. Dan saya sepakat sekali. Sepakat sambil tertawa. :D

Bila boleh mengambil contoh, maka sepertinya saya akan menceritakan beberapa bagian ini: kenapa anak-anak tak boleh bermain dengan kawannya yang terkenal nakal? Atau, kenapa anak kecil yang berkelahi dengan kawan sebayanya dianggap perbuatan yang salah? Atau, kenapa orang tua melarang anaknya bergaul dengan anak-anak kampung dengan alasan takut anaknya nanti akan terbawa berbahasa kasar? Atau kenapa anak-anak diwajibkan bersekolah di sekolah mahal dan bermutu sangat baik, dengan alasan sekolah negri tak bermutu? Atau kenapa les bahasa inggris, matematika, biola, dll, menjadi suatu yang wajib agar waktu si anak dapat terkontrol dengan baik oleh orang tuanya? Hah, saya pikir bagaimana si anak bisa mencuri rambutan milik tetangga kalau tak ada waktu luang yang disediakan. Bagaimana bisa seorang anak dapat belajar mengenal dirinya sendiri bila cermin-cermin sosial ditutup sedemikian rapat karena orang tuanya berniat selalu “melindungi”nya setiap waktu.

Sedikit banyak akhirnya kami menitipkan banyak doa untuk anak dari kawan yang ini. Sesebenarnya percaya, saya yakin sekali dia akan mampu menjadi kawan belajar yang asik bagi anaknya nanti. Saya doakan begitu. Sedang untuk anak saya sendiri nanti? Ah, itu masih terlalu jauh. Jangan bicara tentang itu dulu sekarang. Itu benar-benar masih terlalu jauh. :D

Bandung, 1 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar