![]() |
Baleendah, lepas hujan sebentar |
Siangnya masih di tengah-tengah, saat berdua dengan seorang
kawan yang baik, kami memutuskan untuk segera turun dari saung sederhana di bawah
rimbunan albazia yang banyak. Waktu itu sebenarnya saya masih sangat betah,
tapi ajakan dari kawan yang ini sepertinya sudah bulat sekali. Hingga akhirnya kini
kami berjalan perlahan meniti satu-satu undak tanah kebun yang sedikit basah. Langit
di atas sudah gelap, angin yang bertiup juga lebih kencang dari biasa. “Saya khawatir nanti hujannya terlanjur besar, dan
atap saung ini tak akan sanggup menahan runtuhan rumpun bambu raksasa di atas
sana, kalo nanti dia bener runtuh seperti di sisi yang lain itu”. Kami
tertawa mendengarnya, dan saya sepakat-sepakat saja.
Bergegas, kini kami sudah ada di atas sebuah motor matic yang baru saja kami beri minum. Selang
10 menit perjalanan, dan hujan pun turun dari perlahan sampai menderas
sekalian. Hingga akhirnya kami memutuskan menepi dulu di sebuah warung kopi
sederhana bertuliskan “BUKA 24 JAM”. Kini pesankan dua gelas kopi susu di gelas
kacanya yang rumit, kami memilih duduk di luar, di sebuah kursi kayu yang nyaman dan lebar
beralas karpet abu, menghadap persis ke jalan. Di depannya terpampang pemandangan
perbukitan Bandung selatan yang ramah sekali. Dan saya baru sadar, bahwa ternyata
kini kami tengah duduk tepat di hadapan sebuah pertigaan yang tak terlalu luas. Lanjut
menghirup kopinya yang biasa, kami mulailah berbicara di antara hujan yang
ternyata sudah mereda.
Kami tahu, bahwa tujuan kami duduk di sini bukan untuk
menghindar dari hujan. Kadang kami senang-senang saja mengendarai motornya itu
di tengah hujan. Sedang untuk yang ini, sepertinya kami lebih memilih untuk
menepi mengobrol saja dulu dan tentang apa saja. Seperti sebuah cerita tentang
pendidikan anak di kota ini, yang kadang kami menilainya sebagai sebuah hal
yang sedikit aneh. Saya menilai sendiri, mungkin saja karena kami datang dari
kampung, dan mungkin kami hanya tak biasa dengan sudut pandang mendidik anak dari orang-orang
yang besar di perkotaan. Kadang kami berpikir itu sedikit tak masuk akal, kami hanya
tertawa saja. Seperti komentar yang sering sekali diucapkan olehnya: “mungkin bagusnya dibiarin aja”. Dan saya
sepakat sekali. Sepakat sambil tertawa. :D
Bila boleh mengambil contoh, maka sepertinya saya akan
menceritakan beberapa bagian ini: kenapa anak-anak tak boleh bermain dengan kawannya
yang terkenal nakal? Atau, kenapa anak kecil yang berkelahi dengan kawan
sebayanya dianggap perbuatan yang salah? Atau, kenapa orang tua melarang
anaknya bergaul dengan anak-anak kampung dengan alasan takut anaknya nanti akan
terbawa berbahasa kasar? Atau kenapa anak-anak diwajibkan bersekolah di sekolah
mahal dan bermutu sangat baik, dengan alasan sekolah negri tak bermutu? Atau kenapa les bahasa inggris, matematika,
biola, dll, menjadi suatu yang wajib agar waktu si anak dapat terkontrol dengan
baik oleh orang tuanya? Hah, saya pikir bagaimana si anak bisa mencuri rambutan
milik tetangga kalau tak ada waktu luang yang disediakan. Bagaimana bisa seorang
anak dapat belajar mengenal dirinya sendiri bila cermin-cermin sosial ditutup
sedemikian rapat karena orang tuanya berniat selalu “melindungi”nya setiap
waktu.
Sedikit banyak akhirnya kami menitipkan banyak doa untuk
anak dari kawan yang ini. Sesebenarnya percaya, saya yakin sekali dia akan
mampu menjadi kawan belajar yang asik bagi anaknya nanti. Saya doakan begitu. Sedang
untuk anak saya sendiri nanti? Ah, itu masih terlalu jauh. Jangan bicara
tentang itu dulu sekarang. Itu benar-benar masih terlalu jauh. :D
Bandung, 1 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar