Selasa, 10 Desember 2013

Gita Berita

Tiba-tiba saja sekitar sebulan terakhir ini banyak bermunculan berita tentang orang ini. Di media sosial apa lagi, banyak sekali. Sebelumnya saya tak pernah mendengar namanya. Dengar-dengar, katanya dia menteri. Menteri apa juga saya tidak tahu. Kalau tak salah namanya Gita Irawan Wirjawan. Namanya gencar sekali dipromosikan di berbagai media sosial, berita online, dan yang lain, bahkan sangat berlebihan saya pikir. Disebutkan di situ, bahwa dia adalah seseorang yang sangat luar biasa. Tapi terus terang saja, saya pikir cara promosinya sedikit standar dan banyaknya norak, hahaa. Dan kesan keseluruhan yang saya dapat adalah: “ini adalah contoh gamblang orang tak tenar, yang dipaksakan tenar”. :p

Saya tak berkomentar sebagai seorang yang punya kepentingan politik. Saya bahkan tak terlalu mengerti politik sebenarnya, hahaa. Dan untungnya saya tak terlalu tertarik juga membahas apakah orang ini oke untuk menjadi kandidat pejabat di negeri ini atau tidak. Tapi saya pikir, orang ini terlihat sangat konyol dengan propaganda-propagandanya yang sangat tak menarik. Membaca judul-judul beritanya saja sudah berhasil membuat saya eneg duluan, boro-boro jadi pengen baca isinya, beneran. Cape deh! Saya tak terlalu tahu apakah aslinya orang ini benar hebat seperti yang digembar-gemborkan media atau tidak. Tapi satu yang saya tahu pasti, bahwa saya sepertinya sudah positif tak akan memilihnya jadi pejabat, bahkan sebagai ketua RT di pedalaman Bengkulu sekalipun. Karena saya pikir, tingkat ke-norak-an orang ini sudah jauh melewati tingkat batas normal. Keterlaluan! :D

Mungkin sebenarnya saya adalah salah satu korban propaganda dari tim-tim yang mempromosikan Gita Wirjawan. Karena mengaku atau tidak, saya jadi ikut memasarkan namanya lewat tulisan di blog ini juga kan ya, ahahaa. Tapi biarin aja. Saya tak tertarik membahas apa saya di sini jadi menghambat atau malah jadi membantu perjuangan Gita. Kalau nyatanya saya menghambat, ya saya minta maaf. Kalau nyatanya saya membantu, saya ucapkan selamat. :D *highfive, lol, :p
Cikarang, 10 Desember 2013

Senin, 09 Desember 2013

Jayagiri: Sebuah Kunjungan

Tempat formasi kursi bambu dan meja pinus bulat dulu berkolaborasi, sekarang tak lagi, tapi tetap sama cantik. :D

Langit sedikit mendung pagi tadi. Saat bersama seorang kawan, saya mengunjungi lagi tempat ini, setelah hampir 5 tahun sudah. Perjalanannyapun asik, persis seperti yang selalu saya ingat. Beberapa kali saya ceritakan kepada kawan yang tadi, tentang beberapa perubahan dari yang saya ingat dulu, dan sedikit berbeda dengan sekarang. Seperti lantai aspalnya yang sekarang sudah jauh lebih nyaman, jadikan perjalanan menuju gerbang itu menyenangkan sekali untuk dinikmati. Tapi tak semua juga, karena banyaknya masih sama. Baris bougenvil warna-warni di kanan-kiri jalan, bunga rumput  di lantai pohon dan pagar kayu yang semarak, gerombolan anjing penjaga yang jinak hilir mudik di jalan-jalan, riuh anak kecil berkejaran dengan kawan sebayanya, sebuah gereja besar dengan jemaatnya yang rapi, komplek Taman Junghunn yang selalu sepi, baris mahoni raksasa di kiri-kanan jalan menuju gerbang, ah banyak, semua masih sama.

Masuki gerbangnya adalah saat-saat yang sudah saya hayalkan beberapa tahun terakhir ini. untuk kemudian melenggang santai menuju sebuah warung sederhana di pinggiran sebuah tebing. Warung inipun seperti itu, beberapa tampilannya berbeda, tapi banyaknya sama. Ah, senang sekali. Dalam semangat, saya mengambil beberapa makanan kampung di meja warung. Menyantapnya dalam pandangan sekeliling, melihat-lihat, sembari menikmati sarapan mewah ini. Pesankan juga segelas kopi susu panas yang biasa, dan sedikit berpindah menuju kursi bambu di bawah pinus tua di depan warung. Biarkan pula Dylan nyanyikan “It Ain’t Me Babe” dan “Mr Tambourine Man” di suasana pagi Jayagiri yang dingin, di bawah suasana wangi pinus yang sudah saya kenal betul. 

Kawan yang ini tiba-tiba berkomentar: “kita duduk di sini seolah orang yang tak punya kesibukan, padahal aslinya banyak”. Saya tertawa sambil balas menjawab: “kalau saya, inilah salah satu kesibukannya. Sibuk minum kopi sambil mendengarkan Mr Tambourine bernyanyi di Jayagiri”. Lanjut dia berkomentar lagi: “Ah, bukan itu! Tugas kuliahku banyak, hobiku yang lain juga sama banyak”. Sambil menyesap pelan saya berkomentar lagi, seolah menggurui padahal tidak, “bagiku sama saja. Tugas kuliah, hobi yang lain, bersantai di sini pagi ini. Sama saja. Selama tetap senang menjalaninya, maka semuanya jadi sama”. Senang sekali waktu itu, saya lihat dia tertawa.

Berjalanlah sebentar kami menuju punggung bukit di belakang sana. Sampai, dan sekedar duduk, di bawah pinusnya yang jarang. Melihat beberapa titik sisa api unggun yang mungkin berumur kurang dari sebulan, angin yang sepi, pemandangan kota Lembang yang tak terlalu jelas, juga arakan mendung tebal di timur sana. Ganti saya melihat sesekali ke arah kawan yang tadi. Sepertinya dia tak terlalu menikmati ini, meski sepertinya dia tengah berusaha. Tapi bukan masalah saya kira, biar saja. Biar dia menikmati pengalaman pertamanya ke Jayagiri, biar saya menikmati Jayagiri dengan cara saya sendiri.

***
Dan saya selalu berpikir bahwa sebuah cerita, apapun, selalu berbicara tentang ide-ide yang semula ada, untuk kemudian dia hilang, tergantikan dengan yang baru, atau tetap sama seperti semula. Semuanya sama saja saya pikir. Pun begitu dengan yang ini. Seperti potongan kayu pinus raksasa berdiameter tak kurang dari 1 meter, yang dulu digunakan sebagai meja pasangan bagi formasi kursi bambu ini. Yang sekarang saat meja itu sudah tak ada, nyatanya gelas kopi-susu itu bisa diletakkan di kursinya juga saja, dan tetap bisa. Lalu terpikir, apakah benar saya tak membutuhkan meja pinus bulat itu lagi sekarang? Ah. Saya pikir bukan begitu. Ada-tidaknya meja itu bukanlah sebuah pembeda. Karena lanjutan cerita itu selalu memiliki banyak wajah, dan yang sudah terjadi adalah memang yang seharusnya. :)
Jayagiri, 8 Desember 2013

Rabu, 04 Desember 2013

Malam Di Penggalan Cerita

Mengapa kau bersedih, Kawan?” Aku bertanya padamu dengan sederhana. Dan saat kau bercerita sedikit, aku tahu kau sedang sedikit emosional. Aku merasakannya juga dari sini. Kau juga tahu, aku akan berusaha menenangkanmu. Sebisa yang aku bisa, cukuplah bagiku.

Dan kuceritakan pula pandanganku, sedikit panjang, menurutku begini-begitu. Kau sepertinya menyimak. Pun saat aku berkata “ah, jangan bersedih, Kawan”, semoga kau tak salah mengerti bahwa aku seolah terlalu menyederhanakan masalahmu. Tidak. Aku tidak akan pernah menyederhanakan masalahmu. Bila benar aku begitu, maka tak akan mungkin semua ceritamu tadi membuatku melamun panjang saat ini. Tapi sejauh ini memang hanya inilah yang aku bisa, sekedar katakan agar kau jangan bersedih. Semoganya kamu mengerti.

Bila sekarang kau sedang ingin bersedih, maka aku tak akan memaksa. Kau nikmati dululah rasa sedihmu. Karena merasa sedihpun tak selalu berarti buruk. Malahan kupikir rasa sedih itu juga anugrah. Kau melengkapi kodratmu sebagai manusia biasa, sebagai mahluk yang merasa. Dan bila nanti kau sudah ceria kembali, aku akan sangat senang untuk mendengar bahwa kau sudah tak sedih lagi, sudah memilih senang lagi. Dan mari kita rayakan saat-saat itu dengan senyum terkembang dan tawa yang riang.

Sepenuh yakin, kau juga tahu, aku sangat ingin mendengar ceritamu. Tapi sepertinya saat ini akan lebih baik bila kau istirahat saja dulu. Silahkan kau tenangkan dulu pikiranmu, silahkan kau nikmati dulu waktu sendirimu.
Didedikasikan untuk beberapa kawan dari dulu-dulu hingga sekarang.
Cikarang, 4 Desember 2013.

Selasa, 03 Desember 2013

Jayagiri: Edisi Berikut

Foto buram di 2007 dulu. Saya tak punya foto yang lebih baru. Tapi bukan masalah lah, tenang saja. :D
Sekarang mari kita berjalan menyusuri sisi timur menuju utaranya yang jauh. Melewati barisan pinus yang bergoyang pelan hingga runcingan di pepucuknya itu. Berjalannya perlahan saja, satu-satu. Dan bila merasa letih, maka sebaiknya kita berhenti dulu, tak perlu diburu-buru. Toh kita tak dikejar waktu. Sedang tujuannya sudah tentu, pasti, untuk menikmati hari. Lalu minumlah barang seteguk dari botol minuman kemasan yang kita bawa tadi. Teguk yang perlahan, supaya nanti segar kembali, ceria lagi. Hmm, kita duduk lagi di lantai hutan, cerita apapun yang kita mau, sambil menikmati gilir angin yang dengan ramahnya datang meniup pelan-pelan kemana saja. Kita bermanja dengan suasananya. Dan saatnya kini kita merasa siap, maka jadilah. Kita susuri lagi tiap langkahnya.

Hutan rawatan ini bukanlah sebuah drama. Maka sebaiknya kita tak perlu membuat drama. Cukup nikmati saja apa yang kita mau, maka cukuplah. Dan bila sempat, ajaklah orang terkasih. Ucapkan kecupmu dalam bahasa yang lembut. Biarkan Jayagiri memperhatikan. Lalu kita dibuat ingat karenanya. Seperti riak sungai kecil yang kita lewati tadi di belakang sana. Mengalirlah dia sepasti-pasti, hantarkan cerita-cerita dari hulunya, hingga nanti bermuara entah kemana saja. Kini biarkan saja semua menanggap sekenanya. Tapi satu yang sepertinya bijaksana: janganlah kau merasa sedih. Karena Jayagiri terlalu megah untuk dijadikan arena sesenggukan sesali semua kejadian di luar rencana.

Lepas berjalan belasan menit, lewati rimbun hutan heterogennya yang semarak oleh rasamala, puspa, kayu putih, herba lain yang teduh, dan akhirnya kita tiba juga di sini. Di sebuah lantai dansa yang luar biasa. Sebuah permadani coklat tua yang terhampar sampai ke kaki langit di arah utara. “Ini apa?”, salah satu dari kita bertanya. Ternyata adalah tumpukan serasah dedaun pinus yang berguguran entah sudah berapa lama. “Ah, masa? Bisa sampai setebal ini?”, begitu pertanyaan lanjutannya bercampur takjub. Ternyata, ya! Tumpukan serasah pinus yang menebal hingga dua puluhanan senti! "Ah, sudahlah", kita menenangkan diri. Dan duduk-terlentang di atasnya adalah seolah lepaskan letih di atas sebuah kasur kamar idaman, empuk! Ah, jadi betah sekali. Maka kita putuskan untuk membuka perbekalan dari ransel kecil yang kita bawa. Di bawah teduh yang ini, kita susun sejenak sebuah kompor parafin sederhana, merebus air. “Kita ngopi dulu!”, kita berucap dalam antusias. Sambil menunggu, kita rebahkan tubuh. Lepaskan mata menuju pepucuk pinus yang membentuk puluhan garis serupa tongkat sihir, gemerlap di ujungnya. Atau terpejam. Mendadak kita merasa seperti diberkati. Tuhan tengah hampiri kita. Di sini!

Jayagiri. Adalah sebuah fenomena alam pikir yang memabukkan, kita pikir. Seperti juta kisah kasmaran yang gemerlapan, tapi tak akan berlebihan. Maka sebaiknya bersenanglah hati, saat mengunjunginya di awal sebuah pagi yang akan selalu kita ingat hingga nanti-nanti. Teringat kelak saat kita jauh, dialah yang memegahkan cerita. Mengajarkan bahwa bahagia itu tak pernah jauh dari arti kata bersyukur. Tak pernah jauh. :)
Cikarang, 3 Desember 2013

Minggu, 01 Desember 2013

Weird Man with Weird Feeling

Saya tertawa sore-sore. Mendengar salah seorang kawan baik mengirimkan pesan singkat berisi kalimat di atas. Sekitar lima menitan tadi, saya coba mengajaknya bercerita tentang apa yang sedang saya pikirkan, tentang seorang wanita. Ya, obrolan kami tadi sedikit berbau percintaan memang. Seperti saat tadi saya berucap “ah, lu kayanya ga akan ngerti sama apa yang gw bilang, Pret. It’s a weird feeling. That’s it. Ahaha.”. Lanjut dia menjawab: “weird man with weird feeling, that’s you!”.

Sebenarnya saya sudah berjanji sebelumnya, bahwa saya tak akan pernah menulis tentang hal-hal berbau percintaan di dalam blog ini, karena saya pikir itu masalah yang terlalu pribadi. Tapi saya pikir juga, yang seperti ini bukan murni tentang itu. Ini hanya tentang jalan berpikir. Seperti yang kita tahu, bahwa cara berpikir orang-orang itu banyak. Beberapa malah sangat khas. Seperti kawan dekat saya yang satu ini. Sepertinya, setiap orang yang mengenalnya akan bersepakat dengan saya. Bahwa jalan berpikir orang ini sedikit susah dipahami, bahkan oleh orang yang sedikit intuitive seperti saya, heheu. Dia antik. Tapi memang, seperti yang sudah saya utarakan berulang-ulang, saya senang berkawan dan berkumpul dengan orang-orang yang saya pikir antik. Menurut saya: ini barang langka!! :))

Ah, kamu mungkin (atau pasti) jadi bertanya, kenapa saya jadi membahas Si Kampret ini? Hahahaa. Ya, sebenarnya dia hanya pengalih isu dari tema percintaan yang sedang ingin saya angkat di tulisan ini saja. Biar tema aslinya jadi sedikit samar, saru, hahaa. Ya, menjelang sore yang seperti ini adalah waktu yang sempurna, untuk berpikir sedikit serius, sambil menghitung hutang, dan Bob Dylan yang bernyanyi pelan di antara reguk teh hangat yang memang sengaja dibuat tak terlalu manis. 

Selamat Sore, Desember. :)
Cikarang, 1 Desember 2013