“Mengapa kau bersedih,
Kawan?” Aku bertanya padamu dengan sederhana. Dan saat kau bercerita
sedikit, aku tahu kau sedang sedikit emosional. Aku merasakannya juga dari
sini. Kau juga tahu, aku akan berusaha menenangkanmu. Sebisa yang aku bisa,
cukuplah bagiku.
Dan kuceritakan pula pandanganku, sedikit panjang, menurutku
begini-begitu. Kau sepertinya menyimak. Pun saat aku berkata “ah, jangan bersedih, Kawan”, semoga kau
tak salah mengerti bahwa aku seolah terlalu menyederhanakan masalahmu. Tidak. Aku
tidak akan pernah menyederhanakan masalahmu. Bila benar aku begitu, maka tak akan
mungkin semua ceritamu tadi membuatku melamun panjang saat ini. Tapi sejauh ini memang
hanya inilah yang aku bisa, sekedar katakan agar kau jangan bersedih. Semoganya kamu mengerti.
Bila sekarang kau sedang ingin bersedih, maka aku tak akan
memaksa. Kau nikmati dululah rasa sedihmu. Karena merasa sedihpun tak selalu berarti
buruk. Malahan kupikir rasa sedih itu juga anugrah. Kau melengkapi kodratmu sebagai
manusia biasa, sebagai mahluk yang merasa. Dan bila nanti kau sudah ceria
kembali, aku akan sangat senang untuk mendengar bahwa kau sudah tak sedih lagi,
sudah memilih senang lagi. Dan mari kita rayakan saat-saat itu dengan senyum
terkembang dan tawa yang riang.
Sepenuh yakin, kau juga tahu, aku sangat ingin mendengar ceritamu. Tapi sepertinya
saat ini akan lebih baik bila kau istirahat saja dulu. Silahkan kau tenangkan
dulu pikiranmu, silahkan kau nikmati dulu waktu sendirimu.
Didedikasikan untuk beberapa kawan dari dulu-dulu hingga sekarang.
Cikarang, 4 Desember 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar