Rabu, 11 Desember 2013

Utara Senja & Bumi Kelana

Saya ambil lirik lengkapnya dari blog ini, semoga yang empunya tak mempermasalahkan, :p

Meski suka, saya benarnya tak terlalu paham tentang kisah-kisah pewayangan. Sedang lagu yang ingin sekali saya terjemahkan ini bertulis sarat dengan tokoh dunia pewayangan. Mungkin yang lain akan bertanya, lalu bagaimana bisa saya mengartikannya kalau begitu? Ah, saya tak terikat oleh apapun. Hingga saatnya kini saya mau mencoba, maka saya hanya akan merasakannya saja, lalu ditulis. Saya lebih suka begitu, jadi begitu saja. Semoga Om Tardjo, si pembuat lagu, berikut semua tokoh yang ada di dalamnya tak keberatan bila saya menerjemahkan lagunya sedikit sembarangan.

***
Saat mendengar lagunya dibuka dengan gambaran seorang tua yang terlambat datang, adalah sesuatu yang temaram di mata seorang yang bijak dan berperawakan tenang. Saya pikir ini adalah di awal hari, atau mungkin di penghujung suatu sore. Saya tak terlalu pasti saat itu hujan baru selesai pertunjukan, atau saat cerah sekali. Tapi saya lebih senang membayangkannya dalam suasana yang masih sedikit basah. Maka itu adalah hujan yang sudah reda di awal suatu pagi yang basah. Dan lentera ajaib yang dibawanya itu apa? Saya pikir Pak Tua ini tengah menikmati sesuatu saat itu, tapi kini dia sedang bergegas menemui beberapa kenalannya di sebuah desa yang hangat. Wajahnya pasti tengah tak tenang kala itu, dia tengah sumringah jelas-jelas, dalam engah yang asik. Dia tak sabar. Pasti tengah tak sabar.

Nyatanya dia datang membawa sebuah kabar dari semburat cahaya yang dilihatnya tadi. Dilihat dari ekspresi, maka itu mestilah sebuah berita yang senang. Apa gerangan? Katanya akan ada tamu, 2 orang tamu! Yang mendengar jadi bertanya, siapa? Hahaa. Dan tamu, sebenarnya saya sedikit bingung, kenapa Om Tardjo menyebut mereka sebagai tamu. Mungkin Om Tardjo lebih ingin menggambarkan mereka sebagai seorang yang diagungkan mungkin ya? Sepertinya iya. Tapi saya lebih senang saat Om Tardjo menyebut mereka sebagai anggota semesta yang baru, itu lebih terbuka menurut saya. Tapi ya, biarkan saja, bila Om Tardjo mau menyebutnya tamu, maka jadilah mereka tamu. Heheu.

Saya terlebih senang saat lagu ini menyebutkan bahwa mereka bukanlah Pandawa, juga bukan Kurawa. Benarnya mereka bukanlah bagian dari sebuah kotak-kotak ciptaan siapapun. Bahwa benarnya mereka adalah seorang biasa, seperti yang lain, seperti dirinya juga. Yang saat akhirnya mereka tiba, maka segenap doa dikirimkan oleh segenap warga kampung menuju Sang Khalik, semoganya nanti benar jadi begitu. Yang kemudian ditutup dengan ungkapan syukur yang sederhana dan cantik sekali saya pikir: “karena telah kami titipkan Tuhan di senyum kalian”. Asik ya? ;)

Didedikasikan untuk dua kawan yang sepertinya tengah tertidur. Semoga semakin pulas tidurmu, asik-asiklah dulu bermimpi. :)
Cikarang, 11 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar