Senin, 16 Desember 2013

SPG, Jeans, Parijs van Java


Sore ini, lepas terbangun dari tidur siang yang singkat. Untuk kemudian teringat pada salah satu tujuan saya mendatangi kota ini minggu ini. Ya, untuk membeli sebuah celana jeans yang lebih “layak pakai”. Sebenarnya, saat ini, saya sudah memiliki tiga celana jeans, meski 2 di antaranya berada dalam kondisi yang “tak waras”, heheu. Sedang yang satu ini, jeans coklat pudar yang sedang saya pakai saat ini, adalah salah satu yang paling "tak waras". Jeans ini sudah berumur 8 tahunan, :p. Kedua lutut, pantat, dan ujung kakinya sudah robek dimakan cuaca dan usia. Hingga sekarang saya memutuskan untuk membeli yang baru. Sudah tiba waktunya, saya pikir begitu.

Lepas berpamit dengan sang pemilik kos-kosan, saya berjalan perlahan menyusuri jalan Geger Kalong Girang, menuju sebuah gerai Anjungan Tunai Mandiri di bawah sana. Jaraknya tak jauh, kira-kira 15 menit berjalan kaki. Langit sedang sejuk sekali, tak cerah, tapi cukup. Hingga terpikir untuk melanjutkan jalan kaki saja menuju sebuah kawasan pusat perbelanjaan di daerah Sukajadi di bawah sana. Saya pikir sambil menikmati sore, sepertinya asik sekali untuk bertamasya melihat Bandung, ditemani beberapa lagu yang bermain pelan di earphone telepon seluler ini. Macam-macam lagunya, fun., Darso, Dylan, Murdoch, The Script, Melee, Cake, ah banyak. Dan tak terasa 40 menit berjalan, saya tiba di sebuah pekarangan luas sebuah mall yang teduh dan warna-warni, Parijs van Java.

Memperhatikan sekeliling sejenak, saya melangkah masuk. Menemui beberapa blok jajaran toko yang menawarkan pola hidup konsumtif. Saya tertawa di dalam hati. Lanjut berjalan lagi, saya menemukan sebuah toko, dengan dua orang sales promotion girl (SPG) yang sedang asik sendiri mengobrol di dalamnya, entah tentang apa. Saya memilih beberapa model jeans yang tersedia di dalamnya. Dan sepertinya saya sudah menemukan jeans yang ingin saya beli. “Yang ini!” begitu saya berucap dalam hati. Saya memperhatikan sekeliling, kedua SPG itu ternyata sudah tak saling mengobrol lagi, mereka tengah sibuk merapikan tumpukan pakaian yang mulai berantakan oleh calon pembeli yang lalu-lalang sedari tadi. Saya memanggil salah satunya sesopan mungkin. Dia datang. Kami tukar bicara.

***
Saya: “Teh, kira-kira jeans mana yang cocok buat ngegantiin jeans saya yang ini?”, (sambil menunjuk jeans yang sedang saya pakai).
SPG: (memperhatikan saya dari ujung kaki sampai ujung rambut, dia seperti bingung, sambil beberapa kali bergumam sendiri), “ehmm, ehmm,”.

Mari saya gambarkan dulu. Saat ini saya tengah memakai sendal jepit Eiger berwarna hitam, celana jeans rombeng coklat tua yang robek besar di sana-sini, kaos kuning bertekstur seorang skater cilik bertopi (melihatnya kau pasti tahu, dulunya kaos ini pasti berwarna kuning terang, tapi berhubung sudah berumur 13 tahunan, warna kaosnya tergradasi menjadi jauh lebih pucat, :D).

Saya: (tersenyum ramah), “gimana kalo yang ini? bagus ga?” (sambil menunjuk jeans pilihan saya tadi).
SPG: (dia tersenyum). “harganya ada di situ”. (menunjuk price tag yang tergantung di jeansnya).
Saya: “Oya? Coba saya liat. Hmmm. Boleh saya coba dulu?
SPG: “Ya, boleh, A. Fitting roomnya di situ”.
Saya: “Oke, Teteh tunggu di sini ya

Lima menit, saya keluar dari fitting room dengan menggunakan jeans baru tersebut. Saya ingin meminta pendapatnya.

SPG: “Bagus, A, Cocok sama bajunya” (dia bicara antusias, tersenyum, sambil meminta saya berputar).
Saya: “Emang kalo pake celana yang tadi, bajunya ga cocok ya?
SPG: “Cocok! lebih bagus malah” (dia tertawa sambil membuang pandangan ke arah lain)
Saya: (ikut tertawa). “Oh kalo gitu, saya ga jadi aja beli jeansnya
SPG: “Hmmm, bukan gitu, A” (dia seperti berpikir)
Saya: “Silahkan pikir dulu, Teh. Saya ganti celananya dulu aja”. ( saya ke fitting room lagi, kemudian kembali ke SPG yang masih berdiam di situ). “jadi gimana?
SPG: (tertawa singkat)
Saya: (tersenyum) “saya beli yang ini” (sambil membawa jeans tersebut)

Saya meninggalkannya sendiri, biarkan dia menikmati bingungnya sedikit lebih lama dulu. Saya membawa celananya menuju kasir dan membayar. Sebelum pergi, saya hampiri dia lagi.

Saya: “Teteh tahu?
SPG: “Apa?
Saya: (muka serius) “Saya suka Bandung karena obrolan-obrolan yang kaya tadi
SPG: “euh, iya? Gimana emang? Emang Aa dari mana?
Saya: “Iya, yang kaya tadi itu. Saya musafir dari Cikarang”. (tertawa singkat, dan saya pergi)

***
Dan ya! Saya menyukai kota ini karena keterbukaannya yang sederhana, bahkan dari seorang gadis muda cantik di tengah keramaian sebuah mall yang hedon. Mungkin sebagian dari kawan-kawan tak akan mengerti isi cerita ini apa, karena saya tengah bercerita tentang sebuah gabungan rasa, sangat abstrak. Seperti saat bunga-bunga merah berjatuhan di sekitarmu, dan kamu hanya bisa merasa nyaman, tanpa bisa menggambarkannya dalam bentuk cerita agar dimengerti oleh orang lain. Ya, begitulah. :)
Bandung, 16 Desember 2013

2 komentar:

  1. Like ur blog it has simple story but sometimes I don't understand hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi there. Hmm, you speak Bahasa? Or you translate it first using googletranslate or something? Hehee, it's ok, and thanks for ur visit anyway. ;)

      Hapus