Sore ini, lepas terbangun dari tidur siang yang singkat. Untuk
kemudian teringat pada salah satu tujuan saya mendatangi kota ini minggu ini. Ya,
untuk membeli sebuah celana jeans yang lebih “layak
pakai”. Sebenarnya, saat ini, saya sudah memiliki tiga celana jeans, meski 2 di antaranya berada dalam
kondisi yang “tak waras”, heheu. Sedang yang satu ini, jeans coklat pudar yang sedang saya pakai saat ini, adalah salah
satu yang paling "tak waras". Jeans ini
sudah berumur 8 tahunan, :p. Kedua lutut, pantat, dan ujung kakinya sudah robek
dimakan cuaca dan usia. Hingga sekarang saya memutuskan untuk membeli yang
baru. Sudah tiba waktunya, saya pikir begitu.
Lepas berpamit dengan sang pemilik kos-kosan, saya berjalan
perlahan menyusuri jalan Geger Kalong Girang, menuju sebuah gerai Anjungan
Tunai Mandiri di bawah sana. Jaraknya tak jauh, kira-kira 15 menit berjalan
kaki. Langit sedang sejuk sekali, tak cerah, tapi cukup. Hingga terpikir untuk
melanjutkan jalan kaki saja menuju sebuah kawasan pusat perbelanjaan di daerah Sukajadi
di bawah sana. Saya pikir sambil menikmati sore, sepertinya asik sekali untuk bertamasya
melihat Bandung, ditemani beberapa lagu yang bermain pelan di earphone telepon
seluler ini. Macam-macam lagunya, fun., Darso, Dylan, Murdoch, The Script,
Melee, Cake, ah banyak. Dan tak terasa 40 menit berjalan, saya tiba di sebuah
pekarangan luas sebuah mall yang teduh
dan warna-warni, Parijs van Java.
Memperhatikan sekeliling sejenak, saya melangkah masuk. Menemui
beberapa blok jajaran toko yang menawarkan pola hidup konsumtif. Saya tertawa
di dalam hati. Lanjut berjalan lagi, saya menemukan sebuah toko, dengan dua orang
sales promotion girl (SPG) yang
sedang asik sendiri mengobrol di dalamnya, entah tentang apa. Saya memilih beberapa model
jeans yang tersedia di dalamnya. Dan sepertinya saya sudah menemukan jeans yang
ingin saya beli. “Yang ini!” begitu
saya berucap dalam hati. Saya memperhatikan sekeliling, kedua SPG itu ternyata
sudah tak saling mengobrol lagi, mereka tengah sibuk merapikan tumpukan pakaian
yang mulai berantakan oleh calon pembeli yang lalu-lalang sedari tadi. Saya
memanggil salah satunya sesopan mungkin. Dia datang. Kami tukar bicara.
***
Saya: “Teh, kira-kira
jeans mana yang cocok buat ngegantiin jeans saya yang ini?”, (sambil menunjuk
jeans yang sedang saya pakai).
SPG: (memperhatikan saya dari ujung kaki sampai ujung rambut,
dia seperti bingung, sambil beberapa kali bergumam sendiri), “ehmm, ehmm,”.
Mari saya gambarkan dulu. Saat ini saya tengah memakai
sendal jepit Eiger berwarna hitam, celana jeans
rombeng coklat tua yang robek besar di sana-sini, kaos kuning bertekstur
seorang skater cilik bertopi (melihatnya kau pasti tahu, dulunya kaos ini pasti
berwarna kuning terang, tapi berhubung sudah berumur 13 tahunan, warna kaosnya tergradasi
menjadi jauh lebih pucat, :D).
Saya: (tersenyum ramah), “gimana kalo yang ini? bagus ga?” (sambil menunjuk jeans pilihan saya tadi).
SPG: (dia tersenyum). “harganya
ada di situ”. (menunjuk price tag
yang tergantung di jeansnya).
Saya: “Oya? Coba saya
liat. Hmmm. Boleh saya coba dulu?”
SPG: “Ya, boleh, A.
Fitting roomnya di situ”.
Saya: “Oke, Teteh
tunggu di sini ya”
Lima menit, saya keluar dari fitting room dengan menggunakan jeans baru tersebut. Saya ingin meminta pendapatnya.
SPG: “Bagus, A, Cocok sama bajunya” (dia bicara antusias, tersenyum, sambil meminta saya berputar).
Saya: “Emang kalo pake
celana yang tadi, bajunya ga cocok ya?”
SPG: “Cocok! lebih
bagus malah” (dia tertawa sambil membuang pandangan ke arah lain)
Saya: (ikut tertawa). “Oh
kalo gitu, saya ga jadi aja beli jeansnya”
SPG: “Hmmm, bukan gitu, A”
(dia seperti berpikir)
Saya: “Silahkan pikir
dulu, Teh. Saya ganti celananya dulu aja”. ( saya ke fitting room lagi, kemudian kembali ke SPG yang masih berdiam di
situ). “jadi gimana?”
SPG: (tertawa singkat)
Saya: (tersenyum) “saya
beli yang ini” (sambil membawa jeans tersebut)
Saya meninggalkannya sendiri, biarkan dia menikmati bingungnya sedikit lebih lama dulu. Saya membawa celananya menuju kasir dan membayar. Sebelum pergi, saya hampiri dia lagi.
Saya: “Teteh tahu?”
SPG: “Apa?”
Saya: (muka serius) “Saya
suka Bandung karena obrolan-obrolan yang kaya tadi”
SPG: “euh, iya? Gimana
emang? Emang Aa dari mana?”
Saya: “Iya, yang kaya
tadi itu. Saya musafir dari Cikarang”. (tertawa singkat, dan saya pergi)
***
Dan ya! Saya menyukai kota ini karena keterbukaannya yang sederhana, bahkan dari seorang gadis muda cantik di tengah keramaian sebuah mall yang hedon. Mungkin sebagian dari kawan-kawan tak akan mengerti isi cerita ini apa, karena saya tengah bercerita tentang sebuah gabungan rasa, sangat abstrak. Seperti saat bunga-bunga merah berjatuhan di sekitarmu, dan kamu hanya bisa merasa nyaman, tanpa bisa menggambarkannya dalam bentuk cerita agar dimengerti oleh orang lain. Ya, begitulah. :)
Bandung, 16 Desember 2013
Like ur blog it has simple story but sometimes I don't understand hehehe
BalasHapusHi there. Hmm, you speak Bahasa? Or you translate it first using googletranslate or something? Hehee, it's ok, and thanks for ur visit anyway. ;)
Hapus