Tempat formasi kursi bambu dan meja pinus bulat dulu berkolaborasi, sekarang tak lagi, tapi tetap sama cantik. :D |
Langit sedikit mendung pagi tadi. Saat bersama seorang kawan, saya mengunjungi lagi tempat ini, setelah hampir 5 tahun sudah. Perjalanannyapun asik, persis seperti yang selalu saya ingat. Beberapa kali saya ceritakan kepada kawan yang tadi, tentang beberapa perubahan dari yang saya ingat dulu, dan sedikit berbeda dengan sekarang. Seperti lantai aspalnya yang sekarang sudah jauh lebih nyaman, jadikan perjalanan menuju gerbang itu menyenangkan sekali untuk dinikmati. Tapi tak semua juga, karena banyaknya masih sama. Baris bougenvil warna-warni di kanan-kiri jalan, bunga rumput di lantai pohon dan pagar kayu yang semarak, gerombolan anjing penjaga yang jinak hilir mudik di jalan-jalan, riuh anak kecil berkejaran dengan kawan sebayanya, sebuah gereja besar dengan jemaatnya yang rapi, komplek Taman Junghunn yang selalu sepi, baris mahoni raksasa di kiri-kanan jalan menuju gerbang, ah banyak, semua masih sama.
Masuki gerbangnya adalah saat-saat yang sudah saya hayalkan
beberapa tahun terakhir ini. untuk kemudian melenggang santai menuju sebuah
warung sederhana di pinggiran sebuah tebing. Warung inipun seperti itu,
beberapa tampilannya berbeda, tapi banyaknya sama. Ah, senang sekali. Dalam semangat,
saya mengambil beberapa makanan kampung di meja warung. Menyantapnya dalam
pandangan sekeliling, melihat-lihat, sembari menikmati sarapan mewah ini. Pesankan
juga segelas kopi susu panas yang biasa, dan sedikit berpindah menuju kursi
bambu di bawah pinus tua di depan warung. Biarkan pula Dylan nyanyikan “It Ain’t Me Babe” dan “Mr Tambourine Man” di suasana pagi
Jayagiri yang dingin, di bawah suasana wangi pinus yang sudah saya kenal betul.
Kawan yang ini tiba-tiba berkomentar: “kita duduk di sini seolah orang yang tak punya kesibukan, padahal
aslinya banyak”. Saya tertawa sambil balas menjawab: “kalau saya, inilah salah satu kesibukannya. Sibuk minum kopi sambil mendengarkan
Mr Tambourine bernyanyi di Jayagiri”. Lanjut dia berkomentar lagi: “Ah, bukan itu! Tugas kuliahku banyak, hobiku
yang lain juga sama banyak”. Sambil menyesap pelan saya berkomentar lagi,
seolah menggurui padahal tidak, “bagiku
sama saja. Tugas kuliah, hobi yang lain, bersantai di sini pagi ini. Sama saja.
Selama tetap senang menjalaninya, maka semuanya jadi sama”. Senang sekali
waktu itu, saya lihat dia tertawa.
Berjalanlah sebentar kami menuju punggung bukit di belakang
sana. Sampai, dan sekedar duduk, di bawah pinusnya yang jarang. Melihat beberapa
titik sisa api unggun yang mungkin berumur kurang dari sebulan, angin yang
sepi, pemandangan kota Lembang yang tak terlalu jelas, juga arakan mendung
tebal di timur sana. Ganti saya melihat sesekali ke arah kawan yang tadi. Sepertinya
dia tak terlalu menikmati ini, meski sepertinya dia tengah berusaha. Tapi bukan
masalah saya kira, biar saja. Biar dia menikmati pengalaman pertamanya ke
Jayagiri, biar saya menikmati Jayagiri dengan cara saya sendiri.
***
Dan saya selalu berpikir bahwa sebuah cerita, apapun, selalu
berbicara tentang ide-ide yang semula ada, untuk kemudian dia hilang, tergantikan
dengan yang baru, atau tetap sama seperti semula. Semuanya sama saja saya
pikir. Pun begitu dengan yang ini. Seperti potongan kayu pinus raksasa berdiameter
tak kurang dari 1 meter, yang dulu digunakan sebagai meja pasangan bagi formasi
kursi bambu ini. Yang sekarang saat meja itu sudah tak ada, nyatanya gelas kopi-susu
itu bisa diletakkan di kursinya juga saja, dan tetap bisa. Lalu terpikir,
apakah benar saya tak membutuhkan meja pinus bulat itu lagi sekarang? Ah. Saya pikir
bukan begitu. Ada-tidaknya meja itu bukanlah sebuah pembeda. Karena lanjutan cerita
itu selalu memiliki banyak wajah, dan yang sudah terjadi adalah memang yang
seharusnya. :)
Jayagiri, 8 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar