Kamis, 12 Desember 2013

Hari Masih Pagi

Hari masih pagi. Sarapan mewah ini juga belum habis setengah. Saat telpon genggam saya berdering singkat di atas tumpukan buku-buku biologi molekuler. Ternyata itu sebuah pesan singkat dari seorang kawan di Kota Hujan. Beberapa kali balasan, kami bicara singkat. Tapi sepertinya dia tak terlalu menyadari ada bagian dari kalimatnya yang membuat saya tersenyum, tandanya mesin di kepala saya sedang berada di lajur cepat. Saya sedang berpikir tentang kalimat sederhananya tadi: “lama saya mah!”. Saya tertawa membacanya, untuk kemudian segera membalas: “Ya, gapapa, siapa tau nanti waktunya pas, kalo ga pas, ya jangan dipaksain, kalo terpaksa biasanya suka jadi kurang bahagia, :D”.

Saya ingat, saat masih tinggal di Cilimus dulu, saya sering mendengar kegaduhan yang harmonis di minggu pagi. Itu adalah pagelaran adu domba yang diadakan rutin sebulan sekali di lapangan kosong di belakang sana, berikut musiknya yang khas dan menjerit-jerit ke seantero kampung. Bila sedang ingin, saya akan sengaja bangun lebih pagi untuk bisa menonton pertunjukannya, sambil menikmati jajanan rakyat yang ramai sambil berdiri. Di antara keramaian yang melingkar, saya memperhatikan domba-domba itu berjalan perkasa berkeliling, mengambil aba-aba, dan berlari menyongsong lawannya, bermain di dalam waktu. Atau saat melihat guyuran hujan jatuh dari talang berwarna biru muda di halaman sebuah warung kelontong di dekat lapangan di suatu sore. Mula air menimpa genteng kuning tuanya, lalu mengalir menuju talang panjang, dan dilepaskan lagi ke permukaan tanah. Air mengalir di hitungan yang sempurna di dalam waktu.

Kadang saat tak menemukan momentum yang tepat untuk membuat sebuah awalan seperti domba petarung yang siap kalah, tetap maju, dan yang diterima hanya rasa peningnya saja, dia tak berhasil menghantam lawannya sama sekali waktu itu. Tapi tak masalah, kesempatan berikutnya dia mencoba lagi. Dan ternyata momentumnya masih tak tepat, tapi untungnya lawannya membuat momentum yang jauh lebih tak tepat. Maka jadilah dia berhasil menghantam lawannya saat itu. Asik ya? Tapi nyatanya hidup tak melulu tentang momentum. Seperti air mengalir lewati talang. Tak melulu dia langsung turun ke bawah, kadang menggenang saja beberapa lama di permukaan talang yang tak rata. Di saat yang tepat, tibalah nanti gilirannya turun dari situ, menjumpai tanah di waktu yang tepat, di perhitungan yang sempurna.

Kamu mungkin pusing membaca tulisan ini, bertanya saya sebenarnya bercerita apa? heheu. Tapi bila ingin dipersingkat, maka mungkin jadinya seperti ini: saya berusaha sajalah yang benar dalam doa dan gembira. Lama dan sebentar itu, ah, relatif sekali. Mungkin yang lebih asik adalah terjadi di saat yang tepat, di waktu yang sempurna. Gitu ya? Heheu.
Cikarang, 13 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar