Rabu, 24 Februari 2016

HERBAKOF

Pagi itu sedikit tak biasa. Saat setibanya di halaman perkantoran yang didominasi warna biru langit dan putih bersih, saya menemukan dua balon raksasa berbentuk botol obat setinggi 4 meter berdiri di depan sana. Sepeda warna-warni yang saya kendarai sengaja saya putarkan di sekitarnya kisaran dua keliling, untuk sekedar mengamati lagi balon itu lebih teliti. Saya tahu, itu adalah properti promosi produk terbaru dari kantor kami yang diluncurkan ke publik belum lama ini. Dan obat itu diberi nama Herbakof. Saya pikir-pikir, mungkin nama itu diambil dari kata “herba” dan “cough”, yang bila diartikan secara sederhana maka kira-kira maknanya adalah obat batuk berbahan herbal. Berjalan perlahan untuk sekedar berpikir bahwa saya tak sering menjumpai produk-produk dari kantor kami diiklankan seperti ini. Atau mengingat tentang iklan herbakof yang mulai sering muncul di stasiun televisi swasta nasional, dengan kalimat jual #gausahkhawatir dan #cepatambilherbakof yang terdengar ringkas dan melodis di telinga. Juga tentang khasiat herbakof yang dibahas khusus di situs online Kompas. Ah saya senyum-senyum sendiri, saya suka ini. Semacam strategi pemasaran produk yang sedikit berbeda dari pemasaran produk-produk kami sebelumnya. Kini terasa lebih agresif, dan ya, karena saya selalu lebih menyukai sesuatu yang agresif. Mungkin karena itu saat ini saya merasa senang. Hingga tak berapa lama, akhirnya sepedanya saya parkirkan, berhenti dan berlalu pergi dari tempat botol ajaib itu berdiri.

Dan bila ada yang tertarik untuk tahu lebih jauh, maka bisa saya sebutkan bahwa produk ini berbahan dasar campuran tumbuhan saga, mahkota dewa, legundi dan rimpang jahe, yang bila tak salah ingat, campuran tumbuhan itu kemudian diproses dengan teknologi fraksinasi lanjutan untuk mendapatkan zat aktif reconyl. Yah, begitulah singkatnya. Hingga obat ini secara ilmiah terbukti memiliki khasiat yang kuat untuk digunakan sebagai pelega tenggorokan dan batuk yang umum menyerang kita di musim-musim seperti ini.

Dan mungkin kamu berpikir bahawa tulisan saya kali ini seperti beraroma promosi produk ya? Hahaa. Ya, siapapun boleh berkomentar apa saja, dan kamu tentunya juga. Yang kalaupun saya di sini memang sedang promosi, ya biar saja. Tapi satu yang pasti, saya tak dibayar untuk menuliskan tentang ini. Karena saya sudah banyak duit, dan sama sekali tak butuh bayaran, hahaa. Yang saya ingin saya sampaikan adalah: saya pikir produk ini baik, beberapa kawan dan kenalan yang mencobanya juga memberikan testimoni positif, jadi saya pikir mungkin baiknya saya anjurkan kamu untuk mencobanya saat kamu berada di 3 kondisi ini:

1. Kamu sedang batuk dan atau kurang enak tenggorokan dan sedang pengen sembuh
2. Kamu sedang pengen minum obatnya
3. Kamu sedang punya uang buat belinya

Dan seperti saat saya memberikan obat ini ke seorang tetangga kosan yang kebetulan lagi batuk-batuk berisik sampe tengah malam: “Ini! Minum obatnya, jangan makan botolnya!

***
Siang beranjak di selepas makan siang yang biasa, dan saya memutuskan untuk menjumpai botol itu lagi. Melihat dia tengah terombang-ambing ditiup angin Cikarang yang sedang panas-panasnya, saya pikir mungkin ini adalah waktu yang pas untuk mengabadikan momennya. Dengan bantuan dari seorang kawan anggota sekuriti, dan abracadabra, gambar ini lahirlah. Saya tertawa bahagia melihat hasilnya, dan berpikir mungkin nanti saya akan membuat sedikit tulisan tentangnya.

Si pengendali angin dan herbakof. Belilah Produk Dexa. Hahaa.
Cikarang, 24 Februari 2015

Selasa, 09 Februari 2016

Asep Aripin (1)

Kami berdua, bersama puluhan kawan-kawan yang lain di sebuah villa di kawasan Puncak, Bogor*

Saya yakin kamu akan percaya jika saya katakan begini: 

Perjalanan hidup saya sungguh menarik. Untuk mengenal ratusan kawan terbaik di 1.001 peristiwa dalam dimensi ruang, waktu dan kejadian. Entah bagaimana, dimanapun saya melangkah, maka saya akan menemukan mereka tepat di tempat mereka berdiam saat itu. Lalu menerjemahkan keanehan yang mereka miliki dalam gema senda gurau di penghujung sebuah sore, dan dehem yang satu-satu. Ya, (lagi) entah bagaimana, saya selalu mudah menemukan orang-orang yang tak biasa.

Dan bila saat ini harus mengambil salah satu, maka tentu, saya akan mengangkat cerita dari satu sosok kawan yang ini. Benar-benar salah satu kepribadian yang paling menarik yang pernah saya temui. Namanya Asep Aripin, dan saya biasa memanggilnya dengan sebutan Kang Asep. Dan ah, sepertinya kami memang digariskan untuk bertemu oleh waktu. Saya mengetahui itu, bahkan jauh sebelum kami akhirnya bisa bertemu muka di sebuah mushola berkaca besar dan tirai biru.

Awalnya mungkin begini. Saat di siang menjelang suatu sore, di Labtek Biru kampus Ganesha, saya membaca sebuah lowongan kerja di situs forum alumni ITB. Tertulis di dalamnya: dibutuhkan scientist Bioteknologi di Divisi Molecular Pharmacology, DLBS, Dexa Medica. Di tengah kondisi keuangan yang morat-marit, tentu saja saya sangat mempertimbangkan isi email tersebut dengan serius. Saya baca lagi emailnya berulang-ulang. Informasi di email itu, saya temukan nama Asep Aripin sebagai pengirimnya. Hmmm, saya tahu, saya akan diterima bila mengajukan lamaran di lowongan itu, hahaa. Tapi satu yang mungkin tak kalah menarik adalah tentang nama si pengirim email. Setelah mengirim berkas lamarannya ke satu alamat email yang lain, saya catatkan nama itu di selembar kertas bekas. Saya tuliskan di atasnya: Asep Aripin!

Dan akhirnya hari itu tiba, hari pertama saya kerja di tempat itu (cerita serupa pernah saya tuliskan di tulisan yang lain berjudul: Rabu Pertama). Ah, saya sedang banyak urusan di hari-hari pertama masuk kerja, saya tak sempat mencari orang yang namanya pernah saya tuliskan di kertas bekas itu dulu. Hingga kisaran seminggu kemudian, di sebuah permulaan waktu ashar, saya melihat beberapa orang berkumpul sambil menunggu giliran wudhu. Saya coba dengarkan, ternyata mereka sedang membicarakan rencana acara touring. Mereka semua terdengar santai tapi sopan saat berbicara ke orang itu. Dan kamu tahu? Ternyata sosok itu memiliki nama yang persis sama dengan yang pernah saya tuliskan dulu. Antusias saya dekati, sambil berucap dengan senyuman dan jabat tangan: “nama saya Guntur Berlian.” :)

***
Hari ini, sudah lebih satu minggu Kang Asep tak lagi bekerja di kantor kami. Dan malam ini, saya mengingat lagi bagaimana dulu kami pertama bertemu. Saya kirimkan pesan singkat padanya, bahwa saat ini saya sedang mengingatnya, dan menyampaikan agar dia senantiasa sehat dimanapun dia berada. Atau tak sengaja mengingat lagi sebuah kejadian dimana dia berusaha menjodohkan saya dengan seorang dokter cantik asal Kota Kembang di barat sana, dan berkomentar mesem-mesem: “seandainya nanti lu beneran nikah sama si bu dokter, kita bakal beneran jadi saudara, Bro!” Saya hanya tertawa mendengarnya, meski dalam hati saya menjawab: “semenjak detik di mushola itu, saya pikir kita berdua sudah beneran jadi saudara, heheu”, sebuah kalimat yang belum pernah saya sampaikan langsung kepadanya sebelumnya, hingga akhirnya saya berpikir mungkin detik ini adalah waktu yang tepat.

Stay healthy, Kang. Sampai ketemu lagi.
Cikarang, 9 Februari 2016.
*Foto oleh Andriana Saptakowati

Rabu, 09 Desember 2015

Sepeda, Berkawan dan Silaturahmi

Simprug Garden, Jababeka 2, Cikarang
Terbangun di sebuah sore di hari libur pemilihan kepala daerah yang saya sendiri tak ikut berpartisipasi di dalamnya. Bukan apa-apa, saya cuma sedang malas saja datang ke bilik suara. Dan siapapun yang terpilih nanti, saya percaya dia adalah yang terbaik di antara semua kontestan lainnya. Dan kalaupun ternyata salah, juga tidak masalah. Biar saja. Tentunya para calon kepala daerah itu sudah tahu pasti apa yang menjadi konsekuensi dari pencalonan mereka. Ah, tapi saya tak akan banyak membahas tentang hal itu sekarang. Saya sedang ingin bercerita tentang kegiatan saya sebangun dari tidur siang tadi. Melihat jam di dinding tengah berputar pelan di antara pukul 4 sore, dan sebatang tembakau yang baru habis setengahnya, saya pikir mungkin baiknya sore ini saya mengunjungi rumah dua orang kawan baik di arah barat sana. Mungkin nantinya mereka sedang tak ada di rumah, tapi saya pikir biar saja. Syukur bila bertemu, syukur juga kalo ternyata tidak. :p

Oia mungkin saya belum cerita, sudah seminggu terakhir ini saya pulang-pergi kantor naik sepeda. Sebuah sepeda fixed-gear milik si cantik dari Pasar Minggu itu. Dan dengan beberapa modifikasi dan tambahan aksesoris minor, juga beberapa peralatan bersepeda yang membuat saya terlihat seperti pesepeda profesional, sepeda yang diberi nama Hippy ini terlihat eye-catchy di jalanan. Saya suka sekali sepeda ini, dia terlihat eksentrik di tengah seliweran mobil dan motor yang bergerak seperti robot di jalanan Cikarang. Dan perjalanan saya sore ini pun tentu saja saya lakukan bersama si Hippy yang baru saja mandi dan diberi pelumas tadi pagi. Sepertinya Hippy memang sudah punya firasat bahwa sore ini performanya akan diuji.

Ditemani irama The Black Keys, Hardwell, dan Jamie Cullum dari balik buff bermotif bendera Inggris dan earphone coklat, Hippy meluncur di jalanan besar Niaga raya. Memulai perjalanannya menuju Kawasan Industri Jababeka 1 di barat daya sana, dengan kecepatan yang hanya 20 km/jam saja, saya melihat apapun kegiatan sivitas Kota Buruh ini di hari libur. Ya, saya memang tak akan langsung menuju rumah kawan-kawan tersebut, saya ingin berkeliling-keliling dulu sambil melepaskan pikiran. Atau melewati komplek kantor dan warung di pojokan itu saat tiba putaran roda Hippy sudah kembali ke kawasan Jababeka 2. Tak ada kenalan yang tengah duduk-duduk di tempat itu, mungkin karena ini adalah hari libur, dan mereka mungkin sedang menghabiskan waktu di tempat-tempat yang lain. Dan itu bagus untuk mereka. Sedang untuk saya? Saya selalu merasa bagus dimanapun saya berada. :D

Tak terasa sudah mendekati satu jam saya berkendara di atas sepeda yang bannya berwarna-warni ini. Saya mutuskan mulai menuju komplek perumahan (yang menurut saya) mewah itu, untuk mengunjungi dua kawan baik yang sudah saya rencanakan sedari awal tadi. Setibanya, ternyata mereka berdua sedang ada di rumahnya masing-masing. Saya senang-senang saja. Atau berpura-berpura mengatakan pada mereka bahwa saya kebetulan saja lewat di dekat sini dan akhirnya memutuskan mampir dulu ke rumah mereka untuk sekedar meminta segelas air minum. Tapi rasanya mereka juga sudah tahu bahwa saya memang sengaja datang ke rumah mereka, untuk sekedar bersilaturahmi mengunjungi mereka dan keluarganya di satu tempat yang mereka sebut rumah. :)

***
Di waktu senggang, saya sering bercerita pada semua kawan yang saya jumpai, agar nanti kami bisa selalu saling mengunjungi. Entah itu saat kami masih sering bertemu, entah itu saat kami sudah berpisah jauh. Hanya agar tali silaturahmi itu tetap tersambung. Tapi bukan pula berarti saya mengecilkan arti bersilaturahmi lewat media maya, karena saya pikir, bertemu langsung, terutama di rumah, memiliki aura dan rasa yang berbeda. Meski memang, hal itu membutuhkan lebih banyak usaha dan waktu (konon, alasan waktu ini adalah yang terberat), saya selalu mengatakan: “sesempatnya aja, di saat kamu sedang sempat, ada waktu, dan sedang ingin”. Dan bila ternyata memang tak ada, juga tak masalah. Karena berkawan bukanlah semata tentang pertemuan fisik dan kata-kata, tapi tentang perasaan. :)

Cikarang, 9 Desember 2015
*Foto oleh Frans Kurnia

Senin, 16 November 2015

Hujan, hujan

Musim hujan tiba, dan sore-sore cerah itu baru akan datang untuk waktu yang lebih lama. Dan lewat jendela besar ini lagi, saya berdiri menatap gumpalan awan gelap menggantung di atas lampu-lampu pembatas jalan yang diam. Atau seperti riuhnya jatuhan buah kersen di depan sebuah warung yang biasa kami gunakan untuk berteduh di pojokan situ, atau ikan-ikan Gambusia affinis yang mulai ramai di sela-sela selokan besar dan memakan habis jentik-jentik nyamuk. Angin-angin mulai lebih garang, meniup dahan mahoni hingga melengkung jauh serupa busur panah yang siap ditembakkan. Juga ingatan tentang kawan-kawan masa kecil dulu yang selalu saja identik dengan tarian hujan dan pekiknya yang membahana. 

Saya ingat. Dulu, saat musim hujan datang, dan saya akan lebih banyak duduk di balik jendela merah dengan kacanya yang kusam. Dan dari dalam rumah itu, semua kehangatan berasal. Dari aroma pindang ikan yang hangat dan menyeruak pekat dari dapur dan ibu di dalamnya, atau dari alunan Quran dari kakak perempuan yang tengah diajarkan mengaji oleh ayah, atau dari dengkur kakak sepupu laki-laki yang sedang tak ingin bermain hujan. Di balik kaca itu, di balik gulungan selimut di sekitar kepala dan dada, saya melihat aliran hujan yang mengalir dari lengkungan seng yang berubah coklat oleh karat, dan jatuh di bawah tampungan ember bekas cat yang selalu saja akan dipakai untuk menyirami bunga-bunga milik kami di depan rumah. Dan saat ember itu tak kuat lagi menampungnya, maka mengalirlah airnya menuju selokan kecil di depan sana, selokan dengan airnya yang bahkan lebih jernih dari air minum orang kota.

Sebagai anak kampung, saat itu saya tak terlalu punya banyak hayalan tentang tempat-tempat. Saya tak banyak berpikir tentang salju di Jepang, atau susahnya air di Afrika sana, karena saya tak banyak tahu tentang Jepang dan Afrika. Yang saya tahu, tumpahan hujan sore ini akan mengantarkan airnya ke hamparan sawah-sawah di belakang rumah. Darinya kemudian penduduk di kota kami makan, lalu mengucap syukur bersama-sama saat panen raya tiba. Dan anak-anak yang berlarian di sepanjang pematang, jatuh terjerembab, pulang dan menangis di pelukan ibunya, lalu menyeraplah lagi menuju sumur-sumur rumah. Dan begitulah putaran air di kampung saya dulu. Tak terlalu bingung dengan pemberitaan di tivi-tivi, tentang kota-kota yang banjir sekali-kali.

Kadang saya terbayang, tentang seorang walikota yang baik dan jenaka di Kota Kembang sana. Tentang dia yang bercerita akan kekhawatirannya di setiap kali hujan raya melintasi kota, apakah sistem pengairan milik mereka akan cukup perkasa menahan debit air yang besar di hari itu. Atau tentang hujan yang sore ini gugup basahi sisi luar jendela besar, dan batalkan lewatnya rombongan buruh yang rencananya akan berpawai berkeliling menuntut perbaikan. Dan saya tahu, hujan di sini ternyata jauh lebih rumit dari di kampung kami. Hujan di sini tak melulu berarti waktumu bersama keluarga menjadi lebih lama. Atau malah, herannya, terkadang bisa sebaliknya.

Di balik jendela merah itu dulu saya berpikir, bahwa kota adalah sebuah negri impian, dimana di dalamnya dipenuhi dengan semua kemudahan dan kejayaan yang serba nyaman. Dan di balik jendela besar ini kini saya berpikir,tentang perbedaan hidup di kampung dan di kota ternyata tak benar ada. Pada akhirnya semuanya adalah sama, atau setidaknya, tak se-berbeda itu juga. :)

Cikarang, 16 November 2015

Jumat, 30 Oktober 2015

Menuju Wawancara

Tepat setelah makan siang. Saya berjalan menuju lobi kantor, untuk selanjutnya menunggu kawan-kawan yang lain dan rencana menunaikan ibadah Salat Jumat bersama di masjid pinggir jalan besar di timur sana. Dan selang semenit kemudian, di pojok ruang yang didominasi warna putih-biru dan tak terlalu lebar itu, saya duduk di atas sofa biru, sekedar melihat-lihat. Lobinya sepi, hanya ada seorang resepsionis kantor yang tengah sibuk dengan telponnya, serta sebuah wajah asing yang saat ini sedang duduk dalam gelisah. Diam-diam saya memperhatikan. Percaya saja, entah bagaimana saya bisa merasakan kegelisahannya di udara –atau mungkin sebenarnya lewat ekspresi wajahnya. Duduk barang beberapa menit, ternyata dia sedang menunggu giliran wawancara dengan calon atasannya di ruangan tepat di seberang kami duduk sekarang. Satu kandidat yang lain, yang ternyata juga adalah kenalannya, sedang diwawancara di dalam sana. Saya tanyakan beberapa hal padanya, dijawabnya bahwa dia melamar ke kantor ini untuk posisi X, sebuah posisi yang dulunya diisi oleh kawan yang saat ini sudah berpindah tempat kerja ke Jakarta sana. Tak lupa, saya sampaikan agar dia tenang-tenang saja nanti di dalam sana, dan jangan lupa agar tetap tersenyum. Heheu.

Kandidat yang lain tadi keluar dari ruang wawancara bersama calon atasan sekaligus pewawancaranya. Dan ternyata, mereka berdua diminta untuk nanti datang lagi setelah Salat Jumat. Mereka iyakan. Saya berpura-pura pergi menjauh, tapi sebenarnya tetap mencoba mendengarkan. Saya dengarkan rencana mereka untuk keluar dan mencari tempat salat Jumat dulu. Dan mereka berjalan ke luar ke arah parkiran kantor kami yang agak jauh di belakang sana. Saya ikuti mereka dari belakang, dari jarak yang tak begitu jauh. Bukan apa-apa, saya suka mengamati mereka. Dan memandang mereka yang berjalan beriringan dengan seragam hitam-putih serta ransel besar yang masing-masing mereka kenakan. Saya jadi mengerti mengapa sedari tadi saya tertarik menyimaki apapun yang mereka lakukan. Kamu tahu, dia dan temannya itu, mengingatkan saya pada saat dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini. :)

Tentu saja, di tulisan kali ini saya tak akan bercerita lagi tentang apa yang terjadi di hari pertama saya datang ke sini, karena sudah saya ceritakan sebelumnya di tulisan berjudul: “Dua kilometer”, di Januari yang lalu. Saat ini, saya hanya ingin mengingat ulang hari itu berikut detail yang terjadi. Ah, bukan buat apa-apa, hanya agar saya tak lupa. Suatu hal yang seringkali saya lakukan hanya untuk membuat saya tetap mengenali siapa saya. Hah, mungkin kamu tak mengerti tentang apa yang saya bicarakan, tapi biar saja, kita tak harus melulu saling mengerti. Gitu kan ya? :D

***
13.04. Saya kembali ke lobi ini lagi. Melirik sekilas, dan mereka berdua yang sedang berusaha duduk semanis mungkin di sofa itu. Memang tak berniat untuk menghampiri mereka lagi, saya langsung masuk ke dalam, lalu duduk di sini. Meski mungkin mereka tak akan pernah menyadari, bahwa sampai detik inipun, saya masih berpikir tentang mereka. Dan berharap semoga mereka berdua diberikan rasa bahagia dan keluasan rezeki oleh Tuhan, entah itu di kantor ini, entah itu di jalan yang lain.

Selamat Jumat Siang, Kota Buruh. Salam-salam.
Cikarang, 30 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

ORIKULA BIOLOGINENSIS

Bumi Perkemahan Gambung, 10 Oktober 2011. Camp Biocita dan Alumni HMBF FPMIPA UPI
Selalu menyenangkan bisa berkenalan dengan kawan-kawan baru, melihat wajah-wajah baru. Dan di sinilah kami dua hari terakhir ini: di sebuah acara orientasi mahasiswa baru jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI 2015. Kalau tak salah jumlah pesertanya 200-an orang. Termasuk mahasiswa baru, panitia, senior, alumni dan para dosen. Ah, menyenangkan sekali. Bukan saja untuk melihat dan mengenal para mahasiswa baru, tapi juga adik-adik kelas saya dulu. Terutama mereka yang baru masuk kampus setelah angkatan 2007. Banyak sekali wajah-wajah baru di situ.

Saya ajukan jabat tangan ke sebanyak mungkin orang yang saya temui. Mencoba mengenal mereka satu-per-satu lebih jauh lewat cerita dan interaksi sederhana. Kami bernyanyi bergantian, berkisah tentang apapun lalu tertawa, atau berdiam juga bersama. Beberapa masih terlihat malu-malu, beberapa terlihat sangat lincah, beberapa berusaha se-biasa saja. Saya ikuti saja. Toh, perkawanan umumnya memang memerlukan waktu kan ya, heheu.

Saat sempat, saya mencoba menularkan sebuah konsep kepada para panitia, senior dan alumni yang lain agar mahasiswa baru di acara ini jangan menjadi pihak yang tertekan terus-terusan. Di beberapa kesempatan, saya ceritakan bahwa saat berinteraksi singkat dengan para mahasiswa baru, saya merasa mereka bahkan tak terlalu “berani” melihat saya. Mereka hanya akan menjawab pertanyaan saya seperlunya sambil tersenyum yang agak dipaksakan, lalu berusaha secepat mungkin untuk pergi. Saya rasa, mereka tak merasa nyaman. Dan tentu, saya bisa memaklumi itu. Saya pikir, bila mahasiswa baru ini lebih dibiarkan sedikit menjadi diri mereka sendiri, maka acara ini akan jauh lebih menyenangkan. Akan lebih banyak tawa dan kebahagiaan yang dilahirkan. Saya yakin sekali.

Dan bukan pula berarti saya menginginkan kata “senioritas-junioritas” dihilangkan. Dan bukan pula saya menginginkan agar acara-acara seperti ini bebas dari kata-kata bentakan dari para senior. Rasanya kamu pasti tahu, bahwa saya menyukai ide pembagian senior-junior. Dan bentakan-bentakan senior, saya nilai, adalah sebuah bumbu yang krusial di acara seperti ini. Dan saya setuju itu, saya pikir itu menyenangkan baik dari sisi senior maupun junior. Meski banyak sekali kawan-kawan di luar sana yang tidak menyukai konsep junior-senior dan bentakan di masa orientasi, tapi saya pikir di sini saya sedikit berseberangan dengan mereka, heheu. Sedangkan ide yang saya maksudkan tadi adalah: masalah porsi. Porsi dimana senior tak melulu bertindak seperti bos, dan junior tak melulu merasa tertekan. Itu saja. Dan membentak, saya pikir bukan masalah. Kebanyakan orang terlalu asik melihat “bentakan” dari sisi negatifnya saja, dan saya pikir mereka berpikir terlalu partial. Ah, biar saja, toh berkawan bukan berarti harus melulu saling setuju kan ya? :p

Saya juga pernah menjadi junior seperti para mahasiswa baru yang saya lihat di tempat ini. Dibentak sana-sini oleh senior, disalahkan ini dan itu. Kesalahan saya dicari-cari lalu dieksploitasi, dan lain-lain. Saya masih mengingat hampir semua bagian dari masa-masa itu. Dan saya pikir masa-masa itu adalah salah satu moment terbaik saya berinteraksi dengan para senior. Jujur, bila memungkinkan, saya malah ingin mengulangi lagi moment itu. Heheu.

Dan di bawah bayang api unggun yang menyala perlahan, lamunan ini saya lepaskan. Menatap gelap di perbukitan sekeliling Bumi Perkemahan Gambung dan ribuan bintang yang berkedip-kedip di antara seduhan kopi hangat dalam gelas plastik. Atau mendengar nyanyian riang dari para panitia beserta kawan-kawannya di sebelah sana. Juga gemerincik aliran sungai beradu bebatuan sungai di bawah situ, beserta barisan tenda-tenda kecil yang sudah terlihat gelap, saya layangkan harap. Agar berbahagialah mereka menikmati hari-hari ini. Agar bergembiralah mereka menyambut memori orientasi perkuliahan yang akan segera melekat di ingatan mereka sampai jauh hari nanti.

Gambung, Ciwidey, 9-11 Oktober 2015

Minggu, 20 September 2015

Juju : Warung Peneduh

Warung yang sudah rata. Teh Rini layani pembeli, Mang Ojan memilah kayu.
Saya tidak tahu siapa nama aslinya, tapi saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mang Ojan. Seorang pedagang makanan semacam warteg sederhana di terusan Jalan Industri Selatan 5. Sehari-hari, dia dan istrinya, Teh Rini, berjualan di bangunan warung semi-permanen itu menjajakan makanan-minuman murah terbaik, ditambah guyonan khasnya yang selalu berhasil membuat saya dan pengunjung yang lain tertawa lepas atau termenung di pagi-paginya yang biasa. Dan Mang Ojan sangat menyukai obrolan politik, sedang saya tidak. Jadi kami akan bergantian saja: kadang dia bercerita dan saya mendengarkan, atau sebaliknya. Hingga nantinya matahari akan beranjak lebih tinggi, dan kami berpisah untuk bertemu lagi di keesokan hari.

Pria sederhana ini memiliki dua orang anak: Ayu, putri pertamanya yang saat ini duduk di bangku SMA kelas 2, dan Dimas, putra kebanggaan mereka yang 13 Desember ini akan genap berusia 2 tahun. Saya sangat menyukai si Dimas ini, pria kecil bermuka bulat dan kulit kuning langsat. Hobinya adalah mandi di jam 8 kurang 15 menit di tengah warung dalam bak plastik bayi warna hijau pudar. Selepas mandi, dia akan didandani setampan mungkin oleh ibunya, lalu meminta ayahnya untuk menuntun-temaninya berjalan kaki di aspal depan warung. Gembira sekali mereka di pagi-pagi itu. Dan saya bisa memandangi pemandangan itu hingga waktu yang lama, hanya mencoba merasakan apa yang mereka rasakan.

Dan saya jadi teringat salah satu babak cerita kami di setahun yang lewat. Saat itu Dimas baru berusia 1-2 bulan. Karena keterbatasan yang mereka miliki, Dimas jadi harus selalu dibawa ikut ke warung, karena tak ada yang bisa menjaganya lagi di rumah. Saya protes ke Mang Ojan, karena itu artinya Dimas akan banyak terpapar asap rokok dari para pengunjung warung. Mang Ojan bersama istrinya mencoba menjelaskan singkat, tapi saya tetap tak bisa terima. Saya kesal sekali. Saya sempat berhenti ke warung Mang Ojang selama beberapa bulan sebagai bentuk protes. Hingga akhirnya saya datang kembali dengan pikiran yang sedikit lebih terbuka, dan keadaan menjadi biasa, kami tertawa lagi. :)

Saya mengenal warung berikut para penggiatnya ini semenjak 2011, saat saya pertama tiba bekerja di kantor biru di persimpangan itu. Dulu saya mengenal warung ini dengan sebutan Warung Juju. Meskipun ternyata sang pemilik warung sendiri tidak tahu mengapa mereka disebut Warung Juju. Saya cuma tertawa saja mendengar Mang Ojan mengisahkan kebingungannya. Sebuah cerita yang menghangatkan pagi kami kala itu. Hingga selang beberapa menit kemudian, kami sudah beralih ke topik pembicaraan yang lain. Seperti itu saja kami di hampir setiap pagi yang ada dan datang silih berganti.

***
21 September 2015. Hari sudah menuju musim hujan yang sepertinya tak akan lama lagi. Dan berita yang kurang menggembirakan ini datang menghampiri. Warung berukuran 3x6 meter ini kini sudah rata dengan tanah. Sedari awal Mang Ojan dan keluarga memang sepenuhnya sadar, bahwa warung ini adalah sebuah bangunan liar. Akan tiba waktunya, warung peneduh ini akan dibongkar oleh pengelola Jababeka. Tapi saya sendiri tak menyangka akan secepat ini. Saya terkaget karena kenyataannya, terhitung mulai pagi ini, saya tak akan pernah melihat warung itu lagi. Dan saat ini, melihat Teh Rini tengah melayani pelanggannya di atas sebuah meja panjang bobrok yang diletakkan di atas pembatas jalan, dan Mang Ojan yang tengah merapi-rapikan reruntuhan warung, mengumpulkan apa saja yang kira-kira masih bisa terpakai, saya merasa sepi.

Saya pesankan segelas kopi panas, duduk di atas papan panjang yang melintang bawah mahoni dan terik mentari pagi. Tak langsung bertanya pada mereka, saya diam saja dulu melihat sekitar. Hingga setengah jam berselang, saya bertanya singkat satu-satu tentang penertiban kawasan ini. Saya mendengarkan. Tentang bangunan yang dibongkar hari Sabtu kemarin, tentang kayu bekas berjumlah satu truk lebih, tentang Dimas yang menghabiskan susu satu kaleng dalam 4 hari, tentang Ayu yang dua tahun lagi akan kuliah, tentang tim security kawasan yang gemar mengancam dan sesekali memeras, tentang masakan yang tak habis, tentang rencana berjualan di gerobak dan tenda sederhana yang sedang dibuat oleh Mang Ojan di rumahnya di Poncol sana, atau yang lain. Saya tak berani berkomentar banyak, saya hanya sesekali iyakan pelan. Meski satu hal yang membuat saya merasa sedikit lega: Mang Ojan tetap penuh guyonan, Teh Rini tetap senang bercerita dan berharap, Ayu tetap akan masuk sekolah jam 9 ini, Dimas tengah santai-santai di rumah bersama neneknya. Saya pikir mereka akan bertahan di tengah situasi yang akan sedikit lebih berat dari sebelumnya. :)

Cikarang, 21 September 2015