Jumat, 28 Agustus 2015

Kontemplasi

Sore yang menyenangkan. Saat diskusi soft skills yang kami lakukan bersama-sama kawan-kawan kantor tadi sempat singgah sebentar di satu bagian yang tak terencanakan, yaitu saat si presenter bertanya tentang satu kata yang saya tuliskan di lembar isian yang dia sediakan: kontemplasi. Sepertinya hampir semua peserta diskusi yang terdiri dari 20 peserta itu tak ada yang tahu arti dari kata kontemplasi. Saya jawab singkat: “semacam merenung”. Dan beberapa jam kemudian, tiba-tiba saya terpikir untuk menuliskan sedikit penjabarannya di blog yang sudah hampir satu bulan terakhir ini tak pernah saya perbarui. :)

***
Oxford Dictionary menuliskan contemplation sebagai: religius meditation, a form in which a person seeks a direct experience of the divine. Asal katanya adalah contemplate, yang bermakna: look at thoughtfully. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kontemplasi sebagai: renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh.

Hmm, sepertinya saya belum bisa menjelaskannya dengan gamblang. Tapi mungkin beberapa contoh berikut bisa membantu:

Apa yang kamu pikirkan saat duduk seorang diri di tepi sebuah pantai menghadap lautan lepas? Duduklah kamu lebih lama, kemudian rentetan pertanyaan akan muncul di benakmu sendiri, semisal: “mengapa laut sebegitu diam dari kejauhan?”, “Siapakah orang bodoh yang mulai mempertanyakan laut sebegitu diam pada dirinya sendiri?”, “Mengapa si bodoh itu mulai menghubungkan laut dan perasaannya yang kini tengah campur-aduk?”, “Mengapa si bodoh itu mulai melihat dirinya sendiri di kejauhan?”. Atau sebuah jawaban untuk seseorang yang bertanya “mengapa kamu suka naik gunung?”, lalu dijawabnya: “mungkin agar bisa melihat sesuatu dengan lebih luas”.

Dan mungkin aplikasi termudah dari kata ini adalah saat orang menunjuk karya-karya Bob Dylan dan Alexi Murdoch sebagai contoh terbaik untuk disebut sebagai lagu-lagu kontemplatif (contemplative songs). Atau saat Ebiet G. Ade menulis:

Aku menunggu hujan turunlah, aku mengharap badai datanglah, gemuruhnya akan melumatkan semua, kupu-kupu kertas!” – Kupu-kupu Kertas, Ebiet G Ade (1995).

Cikarang, 28 Agustus 2015

Selasa, 04 Agustus 2015

Malam di Jababeka (3) : Cukur Rambut

Perjalanan pulang di atas motor matic biru bersama seorang kawan sepermainan ini adalah sebuah cerita yang lain. Sedari pagi, saya sudah berniat untuk mencukur rambut sebelum nantinya pulang lagi menuju kos-kosan putih di dekat sungai besar yang kini tak pernah lagi meluap ke jalan kampung di ujung situ. Dan saya selalu menyukai kegiatan ini: mencukur rambut. Saya menyukai dialog pendek-pendek yang selalu saja terjadi di antara kegiatannya itu. Sedangkan lokasi cukur rambutnya bisa dimana saja, selama harganya murah. Sekedar informasi tak penting, seumur hidup saya belum pernah mau membayar biaya lebih dari 20 ribu untuk bercukur, hahaa. Dan bila memungkinkan, saya lebih memilih untuk mengunjungi tempat  bercukur yang  belum pernah saya datangi sebelumnya. :p

Dan tibalah saya di tempat ini. Sebuah ruko kecil di depan komplek bangunan pasar tradisional yang tergusur. Di sana, satu orang pengantri lain yang tersisa sudah cukup untuk saya agar rela menunggu. Di saat-saat seperti ini, mungkin kebanyakan orang akan lebih banyak berpikir tentang bagaimana model rambut yang ingin mereka sampaikan ke tukang cukurnya nanti. Sedang saya sepertinya jarang seperti itu. Saya lebih suka duduk-duduk saja mengingat lagi semua hal yang saya kerjakan hari itu. Entah bagaimana, saya pikir melepaskan lamunan di tempat cukur rambut memiliki sensasi sendiri: mendengar desing gunting beradu rambut yang gemerincing. Haa, saya suka suara itu. Menenangkan.

Kini si pencukur rambut sudah mempersilahkan saya naik ke kursi yang menjadi lahannya mencari nafkah itu. Sigap, saya naik pelan-pelan. Dikalungkannya selembar kain berwarna merah muda melingkari sekeliling bahu, tentunya agar baju yang saya kenakan saat ini terlindung dari potongan-potongan rambut. Dan bagian berikutnya adalah dimana dialog kami ini akan dimulai dengan pertanyaan yang selalu saja sama: “mau digimanain rambutnya?”. Saya akan selalu tersenyum mesem-mesem mendengar pertanyaan itu, karena saya jarang sekali meminta model rambut tertentu. Saya lebih suka agar si pencukur rambut berekspresi saja sesukanya. Karena saya tak pernah terlalu ambil pusing tentang gaya rambut. Bagi saya sama saja, saya tak akan berubah. :D Meski seringnya, pernyataan-pernyataan saya itu malah membuat si pencukur rambut menjadi bingung sendiri. Dan ini adalah bagian yang paling saya sukai.

Dia: “Mau dibuat model apa rambutnya mas?
Saya: “Terserah Mas aja. Yang penting menurut si Mas nya bagus dan cocok, cukup.
Dia: “Loh, terus gimana?
Saya: “Tinggal dipotong aja. Pokoknya saya bisa jadi lebih ganteng dari sekarang.
Dia: “Hmmm.." (sambil melihat-lihat ke arah rambut saya dengan lebih teliti)
Saya: “Oke, tolong bikin rambut saya jadi lebih pendek, tapi jangan terlalu pendek, dan bos saya di kantor ga akan berpikir model rambut saya terlihat ga pantas banget untuk pekerja kantoran. Itu aja.
Dia: “Siap!

Bagian yang lebih asik adalah bila saya bertemu dengan pencukur yang lebih serius. Yaitu saat dia mulai bertanya apakah atasan saya laki-laki atau perempuan, apakah atasan saya seorang yang kaku atau tidak, dan berbagai pertanyaan membayangkan yang lain. Saya senang mendengar seseorang menganalisa sesuatu, dan saya akan mengenalnya lebih baik. Hmm, saya tidak memiliki tujuan tertentu untuk mengenal orang-orang tertentu. Karena saat ini saya bertemu dengannya, maka saya ingin mulai mengenalnya. Begitu saja.

Dan jadilah sekarang model rambut yang saya miliki seperti ini: mohawk pendek dengan sedikit ekor kuda di belakangnya. Dan saat dia bertanya apakah saya menyukai model rambutnya, tentu saja saya akan menjawab: saya suka. Dan saat dia tersenyum girang mendengar jawaban tersebut, saya akan tertawa.

***
Kadang saya berpikir bahwa sesekali menyerahkan beberapa penggal cerita hidup yang saya jalani kepada orang lain atau sekedar mengalirkannya begitu saja adalah selingan yang bermakna fundamental. Terkadang saya setuju oleh alirannya, terkadang juga tidak. Tapi sepertinya itu bukanlah sebuah masalah. Saya tak ingin mengatur semua hal untuk jadi sempurna. ;)

Cikarang, 4 Agustus 2015

Minggu, 28 Juni 2015

Malam di Jababeka (2)

Laju bus Agra Mas jurusan Tangerang-Cikarang ini akhirnya berhenti di sebuah pelataran terminal yang sudah tak lagi ramai. Melirik sebentar, ah, pantas saja, ternyata sekarang sudah jam 11 malam. Turun perlahan meniti tangga bisnya satu-persatu, untuk kemudian teringat untuk mengabari dulu perempuan cantik yang saya kunjungi seharian ini bahwa saya sudah sampai di Cikarang, meskipun saya yakin sekali bahwa saat ini dia sudah jatuh tertidur, :). Mengetik pesannya pelan-pelan di telepon genggam, sambil menyalakan sebatang rokok yang tinggal satu-satunya, tiba-tiba seorang tukang ojeg datang menghampiri menawarkan jasa untuk antarkan kemanapun saya pulang malam ini. Tersenyum sebentar, saya katakan agar dia antarkan saya ke Jalan Kedasih di Pecenongan dengan selembar uang 20 ribu rupiah ini sebagai imbalannya. Dijawabnya singkat tanda setuju.

Saya baru saja duduk, kami masih di pelataran terminal, dan tukang ojeg ini berteriak penuh suka-cita pada kawan-kawannya bahwa akhirnya dia mendapatkan seorang pelanggan. Disambutlah teriakan itu dengan tepuk tangan meriah dan ucapan selamat dari kawan-kawannya di pangkalan ojeg itu. Saya tertawa melihatnya. Hingga tak lama berselang, tukang ojek ini bercerita singkat tentang dia yang belum mendapatkan pelanggan lagi sedari lepas isya tadi. Saya ucapkan selamat padanya sebaik mungkin. Saya bisa rasakan bahwa dia senang atas ucapan selamat itu, heheu. Dan sepertinya saya juga ikut gembira melihatnya.

Ternyata cerita kami berlanjut. Saya tak terlalu tahu ada angin apa kiranya hingga tiba-tiba dia berkata: “zaman semakin canggih, selingkuh juga semakin canggih!”. Bingung harus berkomentar apa, saya sambungkan sedikit: “kenapa bisa kaya gitu, Mang?”. Dan mulailah dia bercerita panjang lebar di atas motor bebek yang dipacu dengan kecepatan sedang. Dia lanjut berkisah bahwa tadi siang dia mengantarkan seorang wanita 40 tahunan yang baru tiba di Cikarang dari Cicalengka Bandung. Dia katakan bahwa wanita tersebut akan mengunjungi seorang kenalannya di daerah Cikarang, kenalan yang baru dikenalnya dari jejaring Facebook. Entah bagaimana si tukang ojek ini merasa yakin sekali bahwa si perempuan tersebut datang untuk mengunjungi selingkuhan barunya. “Sebenarnya gampang A, orang yang terlalu berlebihan ngejaga handphone-nya bahkan dari keluarga terdekatnya tuh patut dicurigai. Apalagi kalau dia punya banyak banget nomer hp. Dia ngebela-belain pulang menempuh waktu 1 jam perjalanan cuma buat ngambil hp-nya yang ketinggalan di rumah. Ah, patut dicurigai”. Saya jadi tertawa panjang gembira di atas motor, sambil katakan: “coba sekarang cari warung kopi yang buka, Mang. Kita ngopi dulu, ngobrol-ngobrol. Bayaran ojeg ini juga ntar saya lebihin”. Dia sepakat.

Dan tibalah kami di sebuah penjaja kopi pinggir jalan di dekat kos-kosan saya. Pesankan 2 gelas kopi hitam, kami lanjutkan pembicaraan tadi. Sembari merekam wajah dan ekspresinya sebisa mungkin, saya mulai bertanya banyak hal. Tentang kampung belakang terminal bernama Kali Jeruk tempat dia lahir, tumbuh, dan beranak pinak hingga hari ini, tentang kisah 22 tahun pengalaman mengojeknya selama ini, tentang Cikarang dan Jababeka dalam kesannya yang pribadi. Saya senang sekali saat dia berkisah tentang dia yang dulu sering mencari kayu tiong –kayu kecil dengan daun berbentuk hati, untuk digunakan sebagai kayu bakar hingga ke daerah Jababeka (lebih tepatnya dia menunjuk daerah depan hotel mewah Grand Zuri Jababeka). Dia sebutkan dulu kayu itu banyak sekali dan tumbuh liar di daerah Jababeka. Hmmm, saya mengira-mengira mungkin yang dimaksudnya itu adalah tumbuhan Bauhinia purpurea. Atau cerita yang lain bahwa sebelum tahun 1992, di Jababeka belum banyak berdiri pabrik-pabrik, dan orang-orang masih buang hajat di empang-empang yang tak mengalir. Atau tentang perumahan Kedasih yang merupakan perumahan pertama yang ada di daerah sini. Dan melihat saya yang menyimak-nyimak saja, di satu titik cerita, dia katakan bahwa dia sedikit ragu tentang apa yang dia katakan sedari tadi, dan dia hanya menyampaikan sebatas pengetahuannya saja. Mendengar pernyataan tersebut, tentu saja saya jadi tertawa. Saya katakan sebaik mungkin padanya: “ah terserah aja mau bener atau ngga, Mang. Walaupun salah juga, ga akan saya laporin ke polisi”. Kami tertawa bersama.

Dan 20 menit adalah waktu yang kami habiskan untuk segelas kopinya. Hingga merasa cukup, saya katakan bahwa sekarang saya harus pulang dulu. Dia sepakat. Menyerahkan beberapa lembar uang sebagai ongkos perjalanan tadi, saya ucapkan semoga rejekinya semakin dimudahkan oleh Tuhan. Dengan senyum lebar mengembang jelas dibawah kumis kasarnya yang pendek dan tubuh gempalnya yang lincah, ditempelkannya uang tadi di keningnya sambil berucap: “Hatur nuhun A”. Kami berpisah.

***
Adalah beberapa sisi yang tak asing dan menyenangkan di balik semua obrolan-obrolan yang mungkin tak bertujuan. Mungkin saja itu mengajakmu untuk lebih tuluslah dalam berlaku, atau mungkin saja itu hanya untuk mengurangi waktu istirahatmu di malam-malam seperti ini, heheu. Ah kawan, mungkin ada baiknya bila kamu tak melulu berhitung tentang laba dan rugi, manfaat dan mudharat, baik dan buruk, di setiap hal yang kau lakukan dalam hidupmu yang singkat ini. :)

Cikarang, dini hari, 29 Juni 2015.

Rabu, 24 Juni 2015

Malam di Jababeka (1)

Beberapa kenalan sekaligus kawan sehari-hari. Mereka bergembira. Saya juga. :D
Sebenarnya malam masih di awal-awal. Rembulan hampir setengah itu juga baru seperempat saja dari kepala. Dan kami berempat memutuskan untuk menyudahi dulu permainan yang kami mainkan sedari lepas magrib tadi. Saat ini kawan-kawan tersebut sudah lanjut memutuskan pulang ke rumahnya masing-masing untuk menemui keluarga dan kerabat lainnya, setelah lelah seharian bekerja di dalam komplek kantor kami yang biasa. Sedang saya tidak. Saya lebih memilih untuk berdiam dulu sedikit lebih lama di tempat ini. Untuk duduk di atas bangku kayu reot yang sudah tak layak lagi untuk diduduki. Dan di sinilah saya saat ini. Menghirup nafas malam yang panjang, sendokan es kelapa muda yang terkemas rapi di dalam gelas plastik yang besar, di antara derai tawa beberapa kenalan lain yang melanjutkan lagi permainan kami tadi. Kamu tahu, ini adalah beberapa alasan sederhana mengapa saya memutuskan untuk tak pulang dulu: untuk menyaksikan mereka yang bermain dalam tawa selepas lelah bekerja seharian di jalanan.

Hampir setiap sore saya bertemu dengan keempat kenalan ini: seorang pedagang siomay keliling, seorang pedagang minuman dengan gerobak teh botol dan payung besar yang sepertinya tahan segala bentuk cuaca, juga dua orang tukang ojeg yang senang tapi tak sering merokok. Lama saya perhatikan mereka dalam derai tawanya yang riang. Dan saya senang sekali untuk bisa tenggelam di suasana ini. Saya pikir suasana ini menenangkan. Untuk meresapi mereka yang tengah jatuh tenggelam dalam gelak tawa kawan-kawan sepermainannya yang menyatu dengan sinar bulan. Serta diiring lantunan lagu Wayang Sunda yang terlantun sember dari sebuah telpon genggam milik si pedagang minuman, berlombalah dengan degup drum yang dipukul riuh-rendah dalam irama dari dalam komplek kantor kami di dalam sana.

Sesekali saya mencoba ikut dalam obrolannya. Menanyakan sekali-kali bagaimana kabar keluarga mereka di rumah, dan sedang apa kiranya mereka di jam-jam ini. Saya katakan bahwa mereka beruntung untuk memiliki apa yang mereka miliki saat ini. Salah satu dari mereka menjawab sambil tertawa: “hidup orang kecil memang kaya gini, Mas Guntur. Hiburan kami juga sederhana”.  Saya tertawa panjang mendengar jawaban itu, lalu katakan: “sebenarnya sama saja, Mang. Kita semua punya pekerjaan yang kita jalani, malam ini kita berjalan di bawah bulan yang sama, selepas ini kita berjalan pulang menuju keluarga yang menunggu. Gitu kan ya?”. Kami hanya tertawa saja setelahnya, tanpa isyarat setuju, tanpa isyarat apapun, beberapa lagi diam. Begitu saja.

***
Kamu tahu, dialog multi dimensi seperti ini adalah sebuah miniatur kehidupan. Di dalamnya terdapat sebuah singgungan garis-garis melengkung yang menciptakan kehidupan itu sendiri dari awalnya. Bukan hanya dari penjelasan para filsuf terkenal dari zaman Adam hingga sekarang. Dan terang bulan hampir separuh dalam sudut itu, lantun lagu-laguan yang tak jernih dan terdengar jauh, serta hempasan kartu domino yang menghantam lipatan kardus air mineral di bawah bayang lindung mahoni adalah sebuah penjelmaan nyata dari gesekan hukum fisik dan mitologi. Jangan mencari terlalu jauh. :)

Cikarang, awal Ramadhan, 24 Juni 2015

Kamis, 04 Juni 2015

Mr. Tambourine Man

Sebenarnya saya sedang tak terlalu enak badan. Kepala saya sedang sedikit berat semenjak pulang selepas magrib tadi. Bersiap tidur selepas mandi malam yang singkat, saya tak kunjung bisa tertidur. Dan entah dari mana, alunan lagu Bob Dylan “Mr Tambourine Man” berputar-putar di dalam kepala yang terasa berat. Ah, saya jadi ingin bernyanyi dulu. Merekam beberapa baitnya singkat di telpon genggam yang entah untuk apa. Mungkin memang bukan untuk apa-apa, heheu. Sebenarnya saya hanya menyukai lagu ini. Saya pikir lagunya bagus. Tentang sebuah renungan panjang di satu malam yang tak gembira. Bagus sekali, Dylan. Jernih. :)

***
Mr Tambourine Man – Bob Dylan

Hey, Mr. Tambourine Man, play a song for me
I’m not sleepy and there is no place I’m going to
Hey, Mr. Tambourine Man, play a song for me
In the jingle jangle morning I’ll come following you

Though I know that evening’s empire has returned into sand
Vanished from my hand
Left me blindly stand here to stand but still not sleeping
My weariness amazes me; I’m branded on my feet
And I have no one to meet
And the ancient empty street’s too dead for dreaming

Take me on a trip upon your magic swirling ship
My senses have been stripped; my hands can’t feel to grip
My toes too numb to step, wait only for my boots heels to be wandering
I’m ready to go anywhere, I’m ready to fade
Into my own parade, cast your dancing spell my way I promise to go under it

Though you might hear laughing, spinning, swinging, madly across the sun
It’s not aimed to anyone; it’s just escaping on the run
And but for the sky there are no fences facing
And if you hear vague traces of skipping reels of rhyme
To your tambourine in time, it’s just ragged clown behind
I wouldn’t pay it any mind, it’s just a shadow you’re seeing that he’s chasing

Then take me disappearing to the smoke rings of my mind
Down the foggy ruins of time, far past the frozen leaves
The haunted, frightened trees, out to the windy beach
Far from the twisted reach of crazy sorrow
Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free
Silhouetted by the sea, circled by the circus sands
With all memory and fate, driven deep beneath the waves
Let me forget about today until tomorrow

Cikarang, 4 Juni 2015

Selasa, 26 Mei 2015

Pedang, Keris, Gada

Saya pikir semua orang memiliki beberapa sosok yang paling mempengaruhi pola pikirnya saat ini. Orang-orang tersebut dapat menginspirasi lewat tindakan, bicara, atau apapun. Mereka bisa mempengaruhi semuanya, sebut saja: sudut pandang, lama berpikir, bahkan cara bicara. Dan sosok tersebut bisa siapa saja: kawan sepermainan, kekasih, kolega, musuh masa kecil, orang tua, saudara sedarah, ah siapa saja. Mereka tak melulu berkonotasi positif. Bisa saja orang tersebut adalah sosok yang tak kita sukai. Sadar ataupun tidak, sebegitu kuat mereka mengakar, hingga akhirnya mempengaruhilah sampai lebih jauh.

Saya juga sama. Saya mengenal beberapa sosok yang sangat mempengaruhi. Di luar anggota keluarga, rasanya saya bisa menyebutkan dua nama. Dan untungnya, mereka berdua adalah dua kawan terdekat yang saya kenal dengan baik juga.

***
Namanya adalah Haikal. Saya mengenalnya di belasan tahun silam. Lebih tepatnya di tahun 1998. Seorang kawan sekelas yang ternyata sangat menyenangkan. Saya melihat dia berkembang dari seorang remaja tanggung penuh ide-ide ekstrim dan rasa humor yang natural, saya melihat dia berkembang dari seorang mahasiswa dengan idealisme tinggi dan kadang menyebalkan, saya melihat dia berkembang menjadi seorang suami dan bapak yang asik bagi istri dan anaknya, saya melihat dia terhanyut dalam diskusi malamnya yang panjang dan sepi.

Gelar Taufiq. 2005 itu saya mengenalnya di sebuah desa kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Seorang pemuda berkulit kuning-terang berambut gondrong-lurus dan kacamata hitam bulat khas rock n roll di atas sebuah motor pinjaman yang menggerung. Gayanya nyentrik, tingkah lakunya kadang menyebalkan, tapi dia adalah kawan yang baik. Kecenderungan hidupnya adalah menolong, dan dia tidak terlalu menyukai uang. Dan saat ini dia banyak terlibat di kegiatan-kegiatan alam dan karya sastra. Sesuatu yang selalu berhasil membuatnya merasa tenang sekaligus gelisah di dalamnya.

Saya pikir, mereka berdua memiliki banyak kemiripan –tentunya itu hanyalah kemiripan pola. Saya nilai, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi laten dalam pemikirannya. Interaksi mereka pada sekitar juga bersifat laten. Bila berbicara pada orang lain, maka orang lain tersebut bisa saja menjadi sangat positif, atau malah menjadi sangat negatif, atau tak berefek sama-sekali. Hmm, saya pikir mereka berdua adalah tipe kepribadian ekstrimis. Dan mungkin mereka akan menyangkal pernyataan saya ini, hahaa, tapi saya pikir memang seperti itulah mereka.

Dan mengenal mereka adalah beberapa dari banyak hal yang paling saya syukuri. Awalnya saya mencoba mencontoh mereka. Hingga akhirnya tak lama kemudian, saya temukan bahwa saya berbeda dari mereka. Seiring waktu, saya bisa membedakan kepribadian mereka berdua. Saya suka menganalogikan kepribadian mereka serupa sebuah senjata yang sama-sama memiliki dua sisi tajam. Haikal itu serupa pedang, dia membelah pemikiran lawan bicaranya dan mengakibatkan hal yang bersifat fatal dan luas. Sedang Gelar serupa keris, dia menghujam di satu titik dan mengakibat hal yang bersifat fatal dan mendalam.

Saya lebih banyak berbeda dari mereka berdua. Saya pikir saya tak memiliki kemampuan untuk melukai seperti yang bisa mereka timbulkan. Sepertinya pemikiran saya lebih bersahabat. Walaupun, kami bertiga tentu saja sama-sama bisa disebut seperti senjata, saya tahu itu. Dan mungkin saya akan lebih mirip seperti sebuah gada. Saya pikir saya seringnya tak berbahaya, bahkan saat diletakkan di tengah kerumunan anak SD sekalipun. :)

Karena berkaca adalah bagaimana cara mata dan otak menerjemahkan gambaran pantul cahaya, dimana akhirnya kamu melihat raut wajah sendiri. :)
Cikarang, 25 Mei 2015

Rabu, 20 Mei 2015

Takut

Potongan gambar Cambuk Zikir yang saya beli di Jogjakarta di 2007 silam. Saat melihatnya di toko pengrajin kayu itu, saya terpikir tentang keberanian yang tak melulu berarti keras. Lantas saya beli, 35 ribu rupiah. :)
Seorang kawan tiba-tiba saja menunjukkan kesan yang membuat saya mengernyitkan dahi dalam-dalam. Di antara obrolan kami yang pendek-pendek, saya menangkap bahwa dia merasa takut pada seseorang yang posisinya lebih tinggi dibandingkan dirinya. Selain saat itu, kawan tersebut memang pernah beberapa kali bercerita bahwa atasannya sedikit mudah marah. Kabarnya marahnya tersebut adalah yang meledak-ledak. Sejauh itu, biasanya saya hanya akan mengangguk-angguk saja mendengarkan, atau sesekali tertawa pendek. Tapi untuk yang ini, saya pikir kawan tersebut sudah melewati batas. Saya coba katakan padanya: “Jangan takut, Kawan! Bahkan pada matahari dan malam hari pun tak perlu kamu takuti. Apalagi pada orang yang (cuma) merasa memiliki kuasa atas dirimu. Sebenarnya dia tak lebih hanya sekedar penjahat Power Ranger!”. Saya katakan itu tentu di antara tawa yang panjang. Tapi sepenuhnya yakin, kawan tersebut pasti tahu, bahwa saya sedang serius.

***
Rasanya semua orang, termasuk saya, sepakat bahwa rasa takut adalah sebuah anugrah. Karena hanya di saat itulah insting terbaikmu akan keluar secara natural. Ajaib memang. Tapi sepertinya semua orangpun akan sepakat, bahwa di saat yang sama, insting terburuk pun dapat terekspresi menjadi sebuah tembakan meleset dari para penembak pemula. Dan untuk itu, saya pikir menjadi takut adalah sebuah kesempatan yang kurang menarik untuk dipakai di hal-hal yang tak genting. Sedang untuk hal yang di luar itu, saya pikir saya lebih memilih untuk tidak merasa takut. Karena saya sama-sekali tak memerlukan insting terbaik di setiap saat. Saya hanya perlu mengasahnya sedikit-demi-sedikit lewat dimensi kejadian sehari-hari.

Atau mungkin saya jadi teringat saat Iwan Fals nyanyikan lagu “Serenada”-nya yang terkenal itu: “kenapa harus takut pada matahari/ kepalkan tangan dan halau setiap panasnya/ kenapa harus takut pada malam hari/ nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya”. Ungkapan yang bagus sekali kan ya? Hahaa. Saya pikir memang begitu. Rasanya saya tak bisa lebih sepakat lagi dari ini.

Atau mungkin saya jadi teringat saat lelaki paruh baya dari rumah merah jambu itu berkata di satu hari kami yang biasa. “Jangan merasa takut pada seseorang tanpa didasari rasa segan dan hormat, karena bila tidak, maka itu adalah sebuah penyakit. Sembuhkan!”. Tentunya saat itu dia berbicara dalam bahasa daerah kami. Tapi begitulah kira-kira bila terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

***
Dan saya merasa beruntung, untuk bisa berusaha tidak merasa takut. Dan saya merasa beruntung, untuk banyak mengenal beberapa sosok yang saya segani dan saya hormati di sepanjang perjalanan saya hingga detik ini. Dan saya pikir, kami berinteraksi dengan sangat sehat. Kami tahu bahwa kami tak saling tunduk, juga tahu bahwa kami tak saling berkuasa satu sama lain. Dan saat ini saya tidak sedang ber-teori. Saya mencoba memraktekkannya di kehidupan sehari-hari, dan saya pikir ini asik sekali. Rasanya hubungan kami sehat sekali, saat kami tak merasakan tekanan untuk saling mengingatkan saat salah satu dari kami melakukan kesalahan. Ini menyenangkan.

Hmmm, dan saya pikir ada satu lagi: Saat kamu merasa takut pada seseorang, maka seseorang tersebut (entah bagaimana) akan dapat merasakan rasa takutmu itu. Dan percayalah, seseorang tersebut akan lepas kendali semakin pongah, dengan rasa kuasa-takut yang kalian ciptakan bersama-sama. Yakinlah hal tersebut tak baik untuk siapapun, terlebih untukmu sendiri. Lantas kini, berhentilah bertingkah seperti itu!!!

Untuk seorang kawan yang identitasnya tak mungkin saya sebutkan. Salam Bang Napi!
Cikarang, 20 Mei 2015
*Foto oleh Haikal Sedayo