Jumat, 20 Desember 2013

Ngacapruk (2)

20 Desember 2013, pagi-pagi nungguin mood mandi buat ke Bandung entar sore, :p

06.18
Bangun pagi, minum kopi sisa kemaren sambil baca diskusi politik beberapa calon legislatif (caleg) di sosial-media. Jadi sakit perut, ga tau karena minum kopi basi, ga tau karena baca politik, ga tau karena dengar tetangga kosan nyanyi.

06.21
Liat salah satu tetangga kosan semangat banget berangkat kerja pagi-pagi. Hah, saya mah mau santai aja, minum kopi basi jauh kebih penting.

06.23
Bibi yang suka bersih-bersih kosan udah beroperasi aja pagi gini. Saya tawarin minum kopi basi sama-sama, tapi dia ga mau. Katanya dia mau kerja aja. Saya bilang: “Oh, mangga atuh”, dia mesem-mesem.

06.28
Saya disebut apatis sama tetangga kosan, dia semangat sekali. Saya jawab: “biar aja. Kamu suka politik, saya ngga. Bagi saya malah kamu yang apatis. Sama aja

06.33
Tentang seleksi caleg, saya tak terlalu paham, apapun partainya. Ah, biar aja. Saya tak terlalu berminat menyimak, lebih senang melihat lambang-lambangnya sambil ketawa, sedang kopi saya mendadak pahit.

06.37
Kamu bernyanyi sumbang, saya dengarkan. Kamu bernyanyi merdu, saya dengarkan. Kamu malas bernyanyi, ya terserah. Gimana kalo sekarang gantian saya yang nyanyi. Kamu mau dengar?

06.40
Air keran yang ngisiin air di kamar mandi udah penuh. Bagusnya sih dimatiin dulu, biar ga kebuang, jadi mubadzir. Pake dulu airnya, baru nanti diisi lagi. Toh embernya juga baru ada satu ini.

06.42
Ah, cape. Siap-siap mandi dulu aja sekarang. Sambil berhayal sarapan enak entar jam 8.

06.47
Jangan terlalu serius, nanti kening jadi kelamaan berkerut. Kalo saya sih, mau lanjut tidur-tiduran lagi dulu aja sebentar, sambil berhayal mandi di atas kasur. Bakal enak sih kayanya, tapi nanti kasurnya jadi basah, malah repot. Jadi gimana? Ya udah, mandi di tempat yang wajar aja, di kamar mandi. Jangan lupa entar mandinya sambil nyanyi lagu cinta. :D
Cikarang, 20 Desember 2013

Lagu-lagu Renungan: Alexi Murdoch

Saya mulai ini dengan sesederhana mungkin. Latar belakangnya begini: saya sangat menyukai kegiatan berpikir. Berpikir tentang apa saja. Walau memang ada beberapa tema besar yang lebih saya sukai untuk dipikirkan saat saya sedang ingin berpikir. Itu adalah tema keseharian. Untuk memperhatikan semua hal yang terjadi di sekitar, lalu bertanya mengenai hal itu pada diri saya sendiri. Dan biasanya hal tersebut menggiring pada beberarapa pertanyaan sederhana seperti: siapa saya? Apa saya? Mengapa saya? Kemana saya? Bagaimana saya? Kapan saya? Lanjutnya saya akan tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan itu di antara keriuhan sekitar. Walau memang seringnya saya jarang menemukan jawabannya, tapi saya tak menganggapnya masalah. Biar saja. Toh tujuan saya bukan untuk mencari jawaban apapun. Karena akhirnya saya hanya akan mencoba bersikap yang layak saja. Tak selalu bersikap baik, tak juga harus bersikap buruk. Sejauh ini pemahaman saya begitu.

Dan mendengar-rasakan sebuah lagu adalah sebuah media berpikir. Dalam proses mendengar-rasakan tersebut, saya sepertinya lebih tertarik untuk menikmati liriknya terlebih dahulu, sedang musiknya akan segera menyusul secepatnya. Saya sangat menyukai Bob Dylan. Saya pikir lagu-lagunya memiliki lirik yang sangat kuat, dan kadang memaksa saya untuk berpikir lebih keras tentang semua kejadian keseharian yang pernah dan sedang saya alami. Hingga tak aneh rasanya bila akhirnya lagu-lagu Dylan akrab sekali menemani saya menjalani hari-hari.

Beberapa waktu belakangan ini, secara tak sengaja, saya mulai mengenal lagu dari seorang penyanyi  lain. Namanya Alexi Murdoch. Seorang penyanyi dan penulis lagu asal Scotland. Saya dengarkan satu-dua lagu miliknya, hingga akhirnya saya coba mencari semua lagu yang pernah dibuatnya. Saya pikir saya menyukai lagu-lagunya, sangat suka malah. Mendengarnya, saya pikir, memiliki sensasi yang sedikit mirip dengan milik Dylan. Kumpulan lagu-lagu renungan yang sangat asik dan mendalam yang dibahasakan dengan sederhana, saya pikir begitu. Meski perbedaan antara karya dari keduanya pasti tetap kental terasa.

Saya sebenarnya tak terlalu suka membanding-bandingkan. Tapi sepertinya bila ditanya mana yang lebih saya sukai, maka, dengan segenap rasa hormat pada karya-karya Dylan, saya akan memilih Murdoch. Saya pikir lagu-lagu Murdoch lebih misterius. Lirik yang lembut, dengan denting musik yang menghanyutkan. Seperti mengajak memasang indra lebih tajam untuk mencerna sebuah rentet kejadian berikut suasana-suasana yang terbentuk. Ah, terdengar terlalu abstrak ya? Saya terdengar seperti meracau? Heheu. Entahlah. Karena sebenarnya saya sendiri sedikit bingung untuk menyederhanakan tentang apa yang saya rasakan dari lagu-lagu tersebut. Tapi mungkin seperti itulah kira-kira. Bila ingin mencoba, mungkin kamu bisa memulainya dengan mendengarkan lagu “All My Days” atau “Orange Sky”-nya, dan coba rasakan. Mungkin nanti kamu bisa mengerti tentang apa yang saya ungkapkan tadi-tadi.

Ya, sebenarnya ini hanyalah masalah selera. Saya tak pernah bermaksud menyerang Dylan atau para penggemarnya. Jujur saja, saya sepenuhnya takjub mendengar lagu “Blowin’ in The Wind”, “The Times They are A-Changin’”, atau karya-karya Dylan yang lain. Di sini, saya hanya ingin menyampaikan, dengan latar belakang yang sudah saya sebutkan tadi, bahwa ada penyanyi lain yang saya pikir sedikit lebih hebat dari Dylan. Dan itu hanya pendapat saya sendiri saja. :)
Cikarang, 18 Desember 2013

Kawan-kawan Kecil

Beberapa kenalan kecil di siang Balubur
Kapan ya? Mungkin sekitar 2 bulan yang lewat. Siang itu, hari minggu. Seperti biasa, saya berusaha menyempatkan sebisanya mengunjungi kakak di kos-kosannya di daerah Kebon Bibit Bandung, untuk menyelesaikan agenda kami yang tak pasti. Tapi tak akan jauh dari sekedar duduk di suatu cafe di sekitar Dago sambil bicara apa saja hingga berjam-jam, selayaknya kakak-adik bertemu.

Janji bertemu di halaman belakang mall ini adalah hal yang biasa. Karena saya terlalu malas untuk berjalan kaki hampiri kos-kosannya yang jauh masuk ke Jalan Kebon Bibit itu, sedang setelah itu, kami akan kembali melewati mall ini lagi. Maka itu, kami sepakat, mall ini jadi tempat yang paling efektif dan efisien sebagai titik kami bertemu. Dan duduklah saya menunggu di tangga belakang mall itu. Saya selalu tahu, si kakak akan selalu telat bila janji bertemu seperti ini, setidaknya setengah jam. Dia selalu menghabiskan waktu yang sangat panjang bila bersiap pergi (terus terang kadang saya sedikit kesal bila sudah begini, hahaa). Maka saat itu, saya putuskan untuk membeli sebotol teh kemasan dingin dari sebuah toko kelontong tak jauh dari situ, untuk temani saya menunggu hingga akhirnya nanti dia datang dengan payungnya yang selalu dia bawa kemana-mana.

Menyesap tembakau, meminum teh dingin, mendengarkan lagu di earphone, juga memperhatikan siapapun yang hilir mudik di hadapan, itulah yang saya lakukan saat itu. Sambil sesekali mencoba mengotak-atik kamera baru yang akan saya perlihatkan nanti ke si kakak, ah, asik sekali. Hingga tak lama berselang, beberapa anak, tepatnya 4 anak laki-laki dan seorang anak perempuan, bermain senang tak jauh dari tempat saya berdiam saat itu. Beberapa saatnya, saya hanya memperhatikan. Hingga akhirnya saya coba menyapa mereka dengan layak. Mereka senang, saya tahu. Karena bila tidak, mereka tak akan mau mengerubungi saya sambil sibuk bertanya ini-itu seolah tak putus-putus. Saat itu, saya sengaja tak menanyakan siapa nama mereka, saya hanya ingin mereka jadi sebuah tokoh-tokoh tak dikenal di dalam cerita-cerita saya. Yang saya tahu, mereka anak-anak daerah sini, anak-anak Balubur. Saat itu mereka sedang bermain-main saja di sini, habiskan hari libur yang sekali-kali ini. Ah, gembira sekali.

Yang saya ingat, waktu itu saya bicara pada mereka yang tengah berjajar rapi duduk bersila di hadapan saya: ”kita sama! Kita sedang menghabiskan hari libur dengan kegiatan yang kita sukai. Kalian bermain dengan kawan-kawan, saya menunggu kakak di tempat ini”. Mereka mengangguk-angguk saja waktu itu sambil tersenyum atau tertawa. Entah mereka mengerti atau tidak, tapi sepertinya mereka tak terlalu peduli, hehee. Yang kemudian, sambil berteriak lepas, mereka mengajak saya pergi ikuti mereka: “hayu A, hayu A!”.
Cikarang, 18 Desember 2013

Selasa, 17 Desember 2013

Mimpi di Citra Indah (2)


Akhirnya terjadi juga, membubuhkan beberapa tanda tangan di lembaran kertas-kertas ajaib itu. Saya tertawa-tawa sendiri di dalam hati, tanda saya sedang merasa sangat senang tadi. Bahagia. Mungkin itu kata yang lebih tepatnya. Kalau tak salah, yang tadi itu namanya akad kredit. Seperti sebuah lafal yang meyakinkan bahwa saya siap berhutang, heheu. Ya, artinya saya akan memiliki sebuah bangunan rumah, dengan berhutang. Yang meski bangunannya kecil, tapi saya pikir bukan itu intinya. Karena kisaran 3 tahun yang lewat, saya masih berpikir hal serupa ini adalah sebuah yang mustahil, melamunkannya saja rasanya sudah terlalu mewah. Tapi ternyata saya salah. Sekarang, itu benar sudah terjadi. Lalu apalagi? Saya pikir jawabannya sangatlah sederhana: merasa bahagia.

Lepasnya, saya berjalan keluar dari bangunan kantor pemasaran yang terlihat seperti bangunan kuno dalam versi modern itu. Ringan sekali melangkah keluarnya. Wajah sumringah, saya menyusuri kompleks perumahan ini dalam perlahan, melihat sekitar. Saya suka tempat ini. Terutama pada sebuah jalanan besar yang sangat rindang, penuh dengan pepohonan menjulang teduh di sisi-sisinya, juga panorama Gunung Salak yang membiru di jauh sana. Wah. Saya kontan berpikir: kiranya tempat inilah yang akan banyak saya gunakan untuk mendermakan lamunan di hari-hari ke depan. Saya berpikir, dengan bekal sebotol kopi kemasan dan lagu-lagu renungan Alexi Murdoch, rindang pepohon ini sepertinya akan jadi tempat meditasi yang asik. Sebuah tempat yang tak sepi, tapi sangat jauh dari kata ramai. Saya suka.

Ya! Ternyata begitulah kehidupan berjalan ya. Tak pernah mudah ditebak. Kontan teringat tentang semua cerita dan hayal yang dulu-dulu pernah datang seringan terbangan serbuk sari menuju putik bunga pasangan, dan angin-angin yang lanjutnya membawa ceritanya menuju kemana. Dan untuk saya, ternyata angin dari Bandung dulu singgah sejanak di bawah sini, meski entah untuk berapa lama. Ah, saya tak terlalu berminat untuk langsung bertanya lagi sekarang: kapan saya pulang? Saya sedang tak ingin ditanya-tanya dulu. :p
Bogor, 17 Desember 2013.

Senin, 16 Desember 2013

SPG, Jeans, Parijs van Java


Sore ini, lepas terbangun dari tidur siang yang singkat. Untuk kemudian teringat pada salah satu tujuan saya mendatangi kota ini minggu ini. Ya, untuk membeli sebuah celana jeans yang lebih “layak pakai”. Sebenarnya, saat ini, saya sudah memiliki tiga celana jeans, meski 2 di antaranya berada dalam kondisi yang “tak waras”, heheu. Sedang yang satu ini, jeans coklat pudar yang sedang saya pakai saat ini, adalah salah satu yang paling "tak waras". Jeans ini sudah berumur 8 tahunan, :p. Kedua lutut, pantat, dan ujung kakinya sudah robek dimakan cuaca dan usia. Hingga sekarang saya memutuskan untuk membeli yang baru. Sudah tiba waktunya, saya pikir begitu.

Lepas berpamit dengan sang pemilik kos-kosan, saya berjalan perlahan menyusuri jalan Geger Kalong Girang, menuju sebuah gerai Anjungan Tunai Mandiri di bawah sana. Jaraknya tak jauh, kira-kira 15 menit berjalan kaki. Langit sedang sejuk sekali, tak cerah, tapi cukup. Hingga terpikir untuk melanjutkan jalan kaki saja menuju sebuah kawasan pusat perbelanjaan di daerah Sukajadi di bawah sana. Saya pikir sambil menikmati sore, sepertinya asik sekali untuk bertamasya melihat Bandung, ditemani beberapa lagu yang bermain pelan di earphone telepon seluler ini. Macam-macam lagunya, fun., Darso, Dylan, Murdoch, The Script, Melee, Cake, ah banyak. Dan tak terasa 40 menit berjalan, saya tiba di sebuah pekarangan luas sebuah mall yang teduh dan warna-warni, Parijs van Java.

Memperhatikan sekeliling sejenak, saya melangkah masuk. Menemui beberapa blok jajaran toko yang menawarkan pola hidup konsumtif. Saya tertawa di dalam hati. Lanjut berjalan lagi, saya menemukan sebuah toko, dengan dua orang sales promotion girl (SPG) yang sedang asik sendiri mengobrol di dalamnya, entah tentang apa. Saya memilih beberapa model jeans yang tersedia di dalamnya. Dan sepertinya saya sudah menemukan jeans yang ingin saya beli. “Yang ini!” begitu saya berucap dalam hati. Saya memperhatikan sekeliling, kedua SPG itu ternyata sudah tak saling mengobrol lagi, mereka tengah sibuk merapikan tumpukan pakaian yang mulai berantakan oleh calon pembeli yang lalu-lalang sedari tadi. Saya memanggil salah satunya sesopan mungkin. Dia datang. Kami tukar bicara.

***
Saya: “Teh, kira-kira jeans mana yang cocok buat ngegantiin jeans saya yang ini?”, (sambil menunjuk jeans yang sedang saya pakai).
SPG: (memperhatikan saya dari ujung kaki sampai ujung rambut, dia seperti bingung, sambil beberapa kali bergumam sendiri), “ehmm, ehmm,”.

Mari saya gambarkan dulu. Saat ini saya tengah memakai sendal jepit Eiger berwarna hitam, celana jeans rombeng coklat tua yang robek besar di sana-sini, kaos kuning bertekstur seorang skater cilik bertopi (melihatnya kau pasti tahu, dulunya kaos ini pasti berwarna kuning terang, tapi berhubung sudah berumur 13 tahunan, warna kaosnya tergradasi menjadi jauh lebih pucat, :D).

Saya: (tersenyum ramah), “gimana kalo yang ini? bagus ga?” (sambil menunjuk jeans pilihan saya tadi).
SPG: (dia tersenyum). “harganya ada di situ”. (menunjuk price tag yang tergantung di jeansnya).
Saya: “Oya? Coba saya liat. Hmmm. Boleh saya coba dulu?
SPG: “Ya, boleh, A. Fitting roomnya di situ”.
Saya: “Oke, Teteh tunggu di sini ya

Lima menit, saya keluar dari fitting room dengan menggunakan jeans baru tersebut. Saya ingin meminta pendapatnya.

SPG: “Bagus, A, Cocok sama bajunya” (dia bicara antusias, tersenyum, sambil meminta saya berputar).
Saya: “Emang kalo pake celana yang tadi, bajunya ga cocok ya?
SPG: “Cocok! lebih bagus malah” (dia tertawa sambil membuang pandangan ke arah lain)
Saya: (ikut tertawa). “Oh kalo gitu, saya ga jadi aja beli jeansnya
SPG: “Hmmm, bukan gitu, A” (dia seperti berpikir)
Saya: “Silahkan pikir dulu, Teh. Saya ganti celananya dulu aja”. ( saya ke fitting room lagi, kemudian kembali ke SPG yang masih berdiam di situ). “jadi gimana?
SPG: (tertawa singkat)
Saya: (tersenyum) “saya beli yang ini” (sambil membawa jeans tersebut)

Saya meninggalkannya sendiri, biarkan dia menikmati bingungnya sedikit lebih lama dulu. Saya membawa celananya menuju kasir dan membayar. Sebelum pergi, saya hampiri dia lagi.

Saya: “Teteh tahu?
SPG: “Apa?
Saya: (muka serius) “Saya suka Bandung karena obrolan-obrolan yang kaya tadi
SPG: “euh, iya? Gimana emang? Emang Aa dari mana?
Saya: “Iya, yang kaya tadi itu. Saya musafir dari Cikarang”. (tertawa singkat, dan saya pergi)

***
Dan ya! Saya menyukai kota ini karena keterbukaannya yang sederhana, bahkan dari seorang gadis muda cantik di tengah keramaian sebuah mall yang hedon. Mungkin sebagian dari kawan-kawan tak akan mengerti isi cerita ini apa, karena saya tengah bercerita tentang sebuah gabungan rasa, sangat abstrak. Seperti saat bunga-bunga merah berjatuhan di sekitarmu, dan kamu hanya bisa merasa nyaman, tanpa bisa menggambarkannya dalam bentuk cerita agar dimengerti oleh orang lain. Ya, begitulah. :)
Bandung, 16 Desember 2013

Kamis, 12 Desember 2013

Hari Masih Pagi

Hari masih pagi. Sarapan mewah ini juga belum habis setengah. Saat telpon genggam saya berdering singkat di atas tumpukan buku-buku biologi molekuler. Ternyata itu sebuah pesan singkat dari seorang kawan di Kota Hujan. Beberapa kali balasan, kami bicara singkat. Tapi sepertinya dia tak terlalu menyadari ada bagian dari kalimatnya yang membuat saya tersenyum, tandanya mesin di kepala saya sedang berada di lajur cepat. Saya sedang berpikir tentang kalimat sederhananya tadi: “lama saya mah!”. Saya tertawa membacanya, untuk kemudian segera membalas: “Ya, gapapa, siapa tau nanti waktunya pas, kalo ga pas, ya jangan dipaksain, kalo terpaksa biasanya suka jadi kurang bahagia, :D”.

Saya ingat, saat masih tinggal di Cilimus dulu, saya sering mendengar kegaduhan yang harmonis di minggu pagi. Itu adalah pagelaran adu domba yang diadakan rutin sebulan sekali di lapangan kosong di belakang sana, berikut musiknya yang khas dan menjerit-jerit ke seantero kampung. Bila sedang ingin, saya akan sengaja bangun lebih pagi untuk bisa menonton pertunjukannya, sambil menikmati jajanan rakyat yang ramai sambil berdiri. Di antara keramaian yang melingkar, saya memperhatikan domba-domba itu berjalan perkasa berkeliling, mengambil aba-aba, dan berlari menyongsong lawannya, bermain di dalam waktu. Atau saat melihat guyuran hujan jatuh dari talang berwarna biru muda di halaman sebuah warung kelontong di dekat lapangan di suatu sore. Mula air menimpa genteng kuning tuanya, lalu mengalir menuju talang panjang, dan dilepaskan lagi ke permukaan tanah. Air mengalir di hitungan yang sempurna di dalam waktu.

Kadang saat tak menemukan momentum yang tepat untuk membuat sebuah awalan seperti domba petarung yang siap kalah, tetap maju, dan yang diterima hanya rasa peningnya saja, dia tak berhasil menghantam lawannya sama sekali waktu itu. Tapi tak masalah, kesempatan berikutnya dia mencoba lagi. Dan ternyata momentumnya masih tak tepat, tapi untungnya lawannya membuat momentum yang jauh lebih tak tepat. Maka jadilah dia berhasil menghantam lawannya saat itu. Asik ya? Tapi nyatanya hidup tak melulu tentang momentum. Seperti air mengalir lewati talang. Tak melulu dia langsung turun ke bawah, kadang menggenang saja beberapa lama di permukaan talang yang tak rata. Di saat yang tepat, tibalah nanti gilirannya turun dari situ, menjumpai tanah di waktu yang tepat, di perhitungan yang sempurna.

Kamu mungkin pusing membaca tulisan ini, bertanya saya sebenarnya bercerita apa? heheu. Tapi bila ingin dipersingkat, maka mungkin jadinya seperti ini: saya berusaha sajalah yang benar dalam doa dan gembira. Lama dan sebentar itu, ah, relatif sekali. Mungkin yang lebih asik adalah terjadi di saat yang tepat, di waktu yang sempurna. Gitu ya? Heheu.
Cikarang, 13 Desember 2013

Rabu, 11 Desember 2013

Utara Senja & Bumi Kelana

Saya ambil lirik lengkapnya dari blog ini, semoga yang empunya tak mempermasalahkan, :p

Meski suka, saya benarnya tak terlalu paham tentang kisah-kisah pewayangan. Sedang lagu yang ingin sekali saya terjemahkan ini bertulis sarat dengan tokoh dunia pewayangan. Mungkin yang lain akan bertanya, lalu bagaimana bisa saya mengartikannya kalau begitu? Ah, saya tak terikat oleh apapun. Hingga saatnya kini saya mau mencoba, maka saya hanya akan merasakannya saja, lalu ditulis. Saya lebih suka begitu, jadi begitu saja. Semoga Om Tardjo, si pembuat lagu, berikut semua tokoh yang ada di dalamnya tak keberatan bila saya menerjemahkan lagunya sedikit sembarangan.

***
Saat mendengar lagunya dibuka dengan gambaran seorang tua yang terlambat datang, adalah sesuatu yang temaram di mata seorang yang bijak dan berperawakan tenang. Saya pikir ini adalah di awal hari, atau mungkin di penghujung suatu sore. Saya tak terlalu pasti saat itu hujan baru selesai pertunjukan, atau saat cerah sekali. Tapi saya lebih senang membayangkannya dalam suasana yang masih sedikit basah. Maka itu adalah hujan yang sudah reda di awal suatu pagi yang basah. Dan lentera ajaib yang dibawanya itu apa? Saya pikir Pak Tua ini tengah menikmati sesuatu saat itu, tapi kini dia sedang bergegas menemui beberapa kenalannya di sebuah desa yang hangat. Wajahnya pasti tengah tak tenang kala itu, dia tengah sumringah jelas-jelas, dalam engah yang asik. Dia tak sabar. Pasti tengah tak sabar.

Nyatanya dia datang membawa sebuah kabar dari semburat cahaya yang dilihatnya tadi. Dilihat dari ekspresi, maka itu mestilah sebuah berita yang senang. Apa gerangan? Katanya akan ada tamu, 2 orang tamu! Yang mendengar jadi bertanya, siapa? Hahaa. Dan tamu, sebenarnya saya sedikit bingung, kenapa Om Tardjo menyebut mereka sebagai tamu. Mungkin Om Tardjo lebih ingin menggambarkan mereka sebagai seorang yang diagungkan mungkin ya? Sepertinya iya. Tapi saya lebih senang saat Om Tardjo menyebut mereka sebagai anggota semesta yang baru, itu lebih terbuka menurut saya. Tapi ya, biarkan saja, bila Om Tardjo mau menyebutnya tamu, maka jadilah mereka tamu. Heheu.

Saya terlebih senang saat lagu ini menyebutkan bahwa mereka bukanlah Pandawa, juga bukan Kurawa. Benarnya mereka bukanlah bagian dari sebuah kotak-kotak ciptaan siapapun. Bahwa benarnya mereka adalah seorang biasa, seperti yang lain, seperti dirinya juga. Yang saat akhirnya mereka tiba, maka segenap doa dikirimkan oleh segenap warga kampung menuju Sang Khalik, semoganya nanti benar jadi begitu. Yang kemudian ditutup dengan ungkapan syukur yang sederhana dan cantik sekali saya pikir: “karena telah kami titipkan Tuhan di senyum kalian”. Asik ya? ;)

Didedikasikan untuk dua kawan yang sepertinya tengah tertidur. Semoga semakin pulas tidurmu, asik-asiklah dulu bermimpi. :)
Cikarang, 11 Desember 2013