Sabtu, 09 November 2013

Waria

Saya sedang duduk menunggu pesanan bakmi jawa goreng spesial extra pedas di Warung Bakmi Pak Kempet, ketika datang dua orang waria berdemonstrasi kuda lumping dan musiknya yang keras lewat di hadapan. Saya perhatikan. Dan setelah berdialog singkat, saya berikan selembar uang bergambar Pangeran Antasari kepada salah satunya. Dengan senyum mereka menerima, lalu keduanya pergi lagi ditelan hiruk pikuk jalanan yang mulai ramai diserbu muda-mudi kasmaran menyambut malam minggu di taman seberang itu.

Lamunan saya melayang menuju satu kota kabupaten, tempat dulu saya tumbuh, menemui seorang kawan yang sedikit berbeda dari yang lain. Dia seorang waria. :)

***
Namanya Boyke Indra Bin Samsuri, saya memanggilnya Boy. Ayahnya (alm.) adalah salah seorang pengurus masjid di tempat kami, dan dikenal taat beribadah. Saya lumayan mengenal keluarganya, karena dulu hampir setiap hari saya dan seorang kawan yang lain, Kwang (silahkan baca tentang Kwang di postingan: A. Bareto Simalango), berkunjung ke rumahnya. Kami memang selalu saling mengunjungi, walau hanya sekedar menjemput untuk mengajak main bersama habiskan hari. Bertiga, kami bermain kemana saja, mandi di sungai, bermain tarzan-tarzanan dengan pelepah kelapa kering di atas sebuah dam, mencuri kelapa muda di kompleks TNI, menangis di sebuah komedi putar,  mencuri di warung baso Moro Seneng itu, mengumpulkan plastik bekas, besi dan peluru untuk dijual di tukang loak keliling, mencuri sendal di masjid, berburu belut di pematang sawah saat malam Ramadhan, berjalan belasan kilo hanya untuk dikejar petani yang membawa arit karena kami mencuri rebung (bambu muda) di kebun bambu miliknya, ah banyak sekali, seolah tak terhingga. Ya, dulu, Boy belum jadi waria. Walaupun dari dulu perilakunya memang terlihat lebih lembut, seperti wanita. Sangat berbeda dengan tingkah-pola saya dan Kwang yang cenderung kasar. Tapi kami tetap berkawan, layaknya anak-anak SD dalam berkawan.

Setelah lulus SD, Boy jarang main bersama kami lagi. Saya dan Kwang tak terlalu mengikuti perkembangannya lagi, hanya sesekali saja bertemu saat melintas di depan rumahnya. Begitu waktu berjalan, hingga kami semua sekarang sudah beranjak dewasa. Boy menjelma menjadi seorang waria profesional. Saya mendengar dia memenangkan kontes Ratu Waria se-provinsi Bengkulu. Saat ini, salon kecantikan yang dia milikipun berkembang pesat dan sangat ramai. Nama salonnya Vegi. Vegi itu adalah nama waria dari si Boy, heheu. Dari penghasilannya ini, dia sudah bisa menyulap rumah kayu reot milik keluarganya dulu menjadi sebuah bangunan salon yang sangat apik, penuh dengan kaca dan bunga-bunga wangi sekaligus menjadi tulang punggung keluarganya. Ah memang, hidup memang mencengangkan. :)

Setiap kali pulang, saya pasti selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah sekaligus (sekarang) salonnya itu. Kadang saya datang sendiri, kadang berdua dengan Kwang, ah bebas saja. Di mata kami, dia tetap Boy yang kami kenal dulu. Dia tetap menjadi laki-laki saat berbicara dengan kami. Meski dia akan sedikit canggung bila ada pelanggan atau karyawannya yang sesekali melintas saat kami sedang mengobrol. Apalagi bila yang lewat adalah pacarnya, ahahaa. Ya, Boy memiliki pacar laki-laki, saya lupa namanya, dan mereka tinggal serumah di salon itu. :) Kata tetangga-tetangga, “pacar si Boy itu cuma morotin si Boy doank!”. Saat saya tanya tentang hal itu, Boy menjawab bahwa pacarnya itu baik kok. Saya iyakan saja. :) Dan entah sekarang, kami sudah lama tak saling bertemu, mungkin sudah 4 tahunan.

***
Dan malam ini, saat bertemu dengan dua waria di depan rumah makan yang tadi, saya menyelipkan harap: berharap semoga dia tetap sehat, dilancarkan usahanya, dan dianugrahi rasa senang yang tak kurang-kurang. Begitu saja. :)
Cikarang, 9 November 2013

Jumat, 08 November 2013

Pidi Baiq: Cerita Dilan (2)

Saya menyukai novel ini. Sebuah novel yang sedang ditulis oleh seorang yang saya kagumi. Secara garis besar saya menyukai dari caranya berbahasa. Menurut saya sangat lugas, detail dalam menggambarkan. Ceritanya sangat hidup, karena membacanya membuat saya sedikit banyak mengingatkan saya pada kejadian-kejadian lucu yang saya alami dulu di sekolah. Asik! Novelnya ditulis dalam beberapa babak yang saya pikir seru. Seperti beberapa penggal cerita yang bersambung, dan ditulisnya sedikit-sedikit, tak langsung habis. Membuat saya merasa penasaran dan semakin penasaran. Saya antusias menunggu kelanjutannya.

Tapi entahlah. Lepas dari bagian 30 nya, novel ini saya anggap mengalami penurunan cerita. Saya mengira sepertinya saat mulai menulis bagian 31 itu Kang Pidi Baiq sedang tak dalam mood yang baik. Tapi saya teruskan saja dulu, tetap membaca. Hingga saat ceritanya mulai masuki bagian 47. Hah! Saya pikir penurunan cerita di novel ini mulai memasuki titik terendahnya, dan terus berlangsung. Saat Dilan berkelahi dengan gurunya, Pak Suripto, saat upacara bendera berlangsung. Ah, ini mulai tak masuk akal! :)

Di sekolah dulu, saya juga bukan termasuk siswa yang sangat baik. Saya juga menjalani saat-saat dimana saya sangat menyukai bersikap bandel dan tak mau menurut kepada siapapun, termasuk kepada guru, orang tua, kawan, atau siapapun. Bersama dua kawan yang lain, saya juga pernah dibogem oleh guru BP karena dianggap sudah melewati batas. Tapi kami bertiga diam saja menerima. Kalaupun kami mau menggerutu, paling itu baru bisa kami lakukan nanti sepulang sekolah. Atau beberapa kejadian lain yang sedikit-banyak mirip dengan yang diceritakan di novel ini. :) 

Apalagi saat Dilan di novel itu sampai berucap “aku tidak melawan guru, aku hanya melawan Suripto!”. Ahahaa, saya benar tak percaya ada anak umuran SMA yang bisa berpikir seperti itu. Itu asli tak masuk akal. Saya pikir jadi terlalu melebih-lebihkan. Jadi tak asik. Juga seperti saat sekolah si Dilan diserang oleh segerombolan siswa dari sekolah lain, dan Pak Suripto malah (seolah) memberikan Dilan kepada siswa-siswa sekolah lain itu. Dan beberapa penggal cerita yang lain. Ah! Ceritanya jadi tak hidup, Kang. Ini jadi seperti sinetron!

Saya tak menyebut novel ini menjadi tak bagus. Saya hanya sedang mencoba, dengan kerendahan hati, mengkritik Kang Pidi saja sedikit. Itupun kalo Kang Pidi mau menerimanya, heheu. Dan tetap tak lupa, saya haturkan salam hormat untuk beliau. Wilujeng Enjing, Kang. :)
Cikarang, 9 November 2013

Kamis, 07 November 2013

Cik Yan Lis (1)

Cik Yan Lis, tahun 2008 di rumah kami
Hahaa, saya membuka pagi ini dengan membaca blog dari seorang kawan. Sangat bagus. Sangat menarik. Saat dia menyampaikan 1.001 doa-doa bagi putranya di kemudian hari. Ah, senang sekali saya membacanya. Hingga saya menyadari apa itu doa orang tua. Dan mungkin orang tua saya dulu juga pernah merapalkan doa serupa kepada saya. Ya, saya berpikir seperti itu.

Ayah saya seorang yang sedikit rumit, lebih banyak sederhananya. Dia mungkin tak banyak mengenal  tokoh-tokoh besar dunia. Di eranya, dia mungkin lebih banyak mengenal baik orang-orang di sekitarnya saja. Dia dikenal luwes, sangat humoris, suka berkompromi, meski dibalut dalam bahasanya yang cenderung keras dan kasar, bahkan untuk standar orang Sumatera sekalipun, heheu. Tapi saya yakin, dia tak akan diingat sebagai orang yang berbahasa keras dan kasar. Dia benar tak akan diingat karena bahasanya. Dia akan lebih diingat sebagai orang yang sederhana yang tak pandai hidup sendiri. :)

Saya masih ingat, waktu itu umur saya pasti tak lebih dari 6 tahun. Saat berdua dengannya di suatu pagi berjalan di sebuah taman yang ada monumen Pancasila-nya (saya lupa nama tempatnya apa), di kota Palembang, kota para prajurit Melayu pemberani itu. Di sana, dengan menyewa jasa seorang fotografer jalanan, kami berfoto bersama. Saya kenakan setelan baju-celana Doraemon berwarna kuning, sedang dia dengan jeans coklat muda dan kemeja kotak-kotak warna hijau-hitam yang bagian lengannya digunting habis sampai ke bahu. Sudahnya, kami duduk di sebuah bangku kecil di bawah sebuah pohon dekat seorang bapak penjaja minuman keliling, membeli sekotak kacang hijau kemasan dan kami mengobrol. Ah, ingatan saya masih sejelas seolah itu baru kemarin. :) Dia bercerita tentang sungai Musi yang membelah Sumatera bagian selatan dengan jutaan ikannya yang gemuk-gemuk, dia bercerita tentang kebiasaan orang Palembang yang sangat menyukai pempek, dia bercerita tentang saat saya bayi dan kami mandi di hulu aliran sungai Ogan di suatu perkampungan bernama Negeri Batin itu. Saya tak paham waktu itu, saya masih 6 tahun, tapi saya ingat.
Kami di pelataran monumen Pancasila di Palembang, sepertinya ini di 1991
Namanya Cik Yan Lis. Dengan sedikit kerumitan cerita, namanya kini jadi Fakhrudin. Sewaktu muda, bila berkenalan dengan siapapun, dia akan memperkenalkan dirinya dengan nama Guntur, lengkapnya: Guntur Berlian. Dia pikir nama itu keren sekali. Termasuk saat berkenalan dengan seorang gadis bernama Kartini –gadis yang kelaknya akan menjadi ibu dari seorang anak laki-laki bernama Guntur Berlian. Dia bercerita agar nanti saya menggunakan sedikit tenaga saya untuk sesama. Hahaa, saya tak pernah tahu apakah saya benar bisa melakukannya atau tidak. Tapi saya tak pernah merasa terbebani untuk menjadi “Guntur”, dan dia merasa sangat senang saat saya mengungkapkan itu padanya di suatu sore kisaran dua tahun yang lewat. “yo, mano kendak nyo la itu, hahaha” begitu dia menjawabnya. Itu kalimat dalam bahasa daerah kami yang kira-kira artinya: Ya, bukan masalah, biar saja.

Darinya saya mengetahui bahwa berbuat baik bukanlah dengan mendefinisikan “siapa”. Salah satu nilai hidup terbesar yang pernah saya pelajari langsung darinya. Dan masih sangat banyak sebenarnya, rentetan nilai-nilai yang akan saling beririsan, dan tak akan selesai dengan satu tulisan 15 menit di blog ini saja. Tapi sepertinya cukup dulu untuk sekarang, lain kali saya akan bercerita lagi tentangnya. Seperti yang biasa dia ucapkan bila kami sudah terlalu panjang berbicara: "cukup dulu bicaranya, sekarang kita main catur dulu saja". Ya, kami sangat senang bermain catur memang. Terlebih saat dia berpura-pura tak memperhatikan, dan membiarkan saya memenangkan pertarungannya. Ah, bahagia sekali. :D

Cikarang, 8 November 2013

Hidup Lebih Mudah

Saya takjub membaca status gambar dari seorang kawan di akun social-media miliknya. Saya sepertinya pernah mendengar kalimat ini sebelumnya, tapi dalam konteks percakapan antara dua tokoh sentral kartun terkenal, Spongebob dan Patrick, ini jadi lebih menarik. Bagi yang belum tahu, Spongebob merupakan seorang tokoh ceria dan giat bekerja, sedang Patrick digambarkan sebagai tokoh dengan sifat yang sangat sederhana: bodoh tapi gembira. Keduanya bersahabat baik. Ah, memang benar, kartun ini merupakan salah satu yang paling asik dibanding yang lain. Semua orangpun akan bersepakat sepertinya.

Isi kalimatnya seperti ini:

Spongebob: :”What if I break your trust someday?”.
Patrick: "Trusting you is my decision, proving me wrong is your choice.

Ah, saya pikir memang seperti itulah hidup yang seharusnya. Mencoba menikmati sesuatu yang membuat hidup menjadi lebih mudah dan menenangkan. Ya, lebih mudah dan menenangkan. Juga ternikmati. Itu yang terpenting. Meski mungkin, tak semua orang menginginkan hidupnya menjadi lebih mudah. Alasannya banyak, banyak sekali mungkin. Semua kita mungkin bisa memberi puluhan alasan untuk menganggap hidup itu tak mudah -kadang saya menyimpulkan hal ini sebagai bentuk "tak menginginkan hidupnya jadi lebih mudah". Seperti saat malam kemarin seorang kawan baik berkisah seolah membuat kesalahan dan kekalahan adalah sebuah bencana dan malu besar. Padahal menurut saya tidak. Bagi saya berbuat salah adalah sebuah kewajaran. Saya pikir berbuat salah dan kemudian menyesali adalah kombinasi sebab-akibat yang sangat tidak asik. Saya tak mau seperti itu.

Saya lebih menyukai memandang sebuah kesalahan sebagai suatu proses. Yang bukan berarti pula saya senang berbuat salah. Bukan. Bukan begitu. Saya hanya menyukai menjalani proses. Bagi saya itu asik. Tapi tak jarang pula beberapa kawan menganggap saya menyebalkan karenanya, ahahaa. Karena mereka berpikir kadang saya tak merasa bersalah atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat sebelumnya. Padahal tidak. Kadang saya hanya tak terlalu menyukai drama. Itu saja. Seperti juga halnya beberapa orang menyebut: "Jatuh di satu lubang yang sama adalah lebih bodoh dari keledai". Bagi saya tidak! Kesalahan itu bisa dimana saja dan kapan saja. Itu tak lebih dari kesalahan yang normal saja. Tak beda saat saya mempelajari sesuatu berulang-ulang tapi belum mengerti. Hanya belajar lagi. Tak ada yang berlebihan.

Di konteks kalimat Spongebob dan Patrick ini, saya tak terlalu memfokuskan pada isu kepercayaan (trust) nya. Saya hanya sedang ingin membahas satu nilai lain yang saya pikir tak kalah hebat dalam dialog dua sahabat yang sangat sederhana ini. :)
Cikarang, 7 November 2013

Rabu, 06 November 2013

Baju dan minuman

Rasanya ini setelan teraneh yang pernah saya pakai. Tapi saya tetap senang-senang saja sepertinya. Saat tadi lepas berolah raga dengan keringat bercucuran di sekujur tubuh, dan saya sedang merasa wajib ke warung untuk membeli segelas ale*ale buat teman beristirahat. Semua baju yang setengah kotor sedang direndam-cuci, dan yang tersisa tinggal baju-baju bersih saja di dalam lemari itu. Saya terlalu merasa rugi untuk memakai baju-baju bersih itu, karena pasti saja akan langsung menjadi kotor terkena cucuran keringat yang seolah tak bisa berhenti ini. Lanjut saya turun saja ke bawah, dengan celana kantor yang saya pakai berolah raga tadi.

Sesampai di bawah tangga kosan, saya baru teringat kalau sendal saya masih tersimpan di dalam kamar –saya baru pulang dari bandung, jadi saya belum sempat mengeluarkannya dari dalam tas. Merasa tanggung untuk naik ke atas lagi, saya melirik sepatu kantor yang tergeletak saja di rak sepatu bawah tangga. Saya berpikir “ah udah ini aja”. Membuka pagar, saya pergilah menuju warung di ujung situ berbekal empat uang logam recehan dengan total nilai seribu rupiah pas, yang hanya cukup untuk membeli satu gelas minuman berperisa jeruk itu. Berjalan santai dengan sepatu hitam berkilat dan celana bahan seragam kantor itu sambil bertelanjang dada, saya menuju warung berjarak kisaran 100 meter itu. Orang-orang yang saya lewati memperhatikan dengan tatapan aneh, saya tetap santai, seolah tak ada yang aneh. :D

Sesampai di warung kecil itu, beberapa bapak-bapak yang sedang bermain karambol di seberang warung itupun ikut melirik diam-diam dengan tatapan yang sedikit aneh, tapi tak lama, lantas lanjut bermain lagi, seolah tak mau terganggu. Santai saya mengambil satu gelas minuman kemasan tersebut di box pendingin di luar warung. Sayangnya pegangan terhadap gelas tersebut terlepas saat saya akan mengambil sedotannya, gelasnya terjatuh, dan minuman kemasan itu tentu saja pecah! Sedikit bingung, saya bergumam sendiri dalam hati: “ah gila! Kalau saya mengaku memecahkan minuman ini, berarti perjalanan dengan setelan aneh dengan jarak yang tak dekat ini akan sia-sia. Uang ini tak cukup untuk membayarnya! Hah!”. Setelah memastikan tak ada seorangpun yang yang melihat aksi saya menjatuhkan gelas ini tadi, santai saya ambil satu gelas yang baru lagi dan membayarnya tunai dan segera kabur dari situ. :D

Sesampai di kosan lagi, seorang kawan menertawakan setelan yang saya pakai tadi habis-habisan. Menurutnya itu gila! Sambil menghardik: “you’ve actually lost your mind, man!”. Ahahaa. Saya juga tahu ini setelan yang tak bagus. Tapi saya tertawa saja. “Biar saja. Sekali-kali, Om :)” begitu saya menjawab pertanyaannya. Kami tertawa sama-sama. Tak lupa juga saya catatkan di sini untuk besok-besok, bila ingat, saya berhutang seribu rupiah ke warung itu atas satu gelas minuman kemasan yang pecah tadi. Tapi tenang saja, penjaga warung itu tak akan marah, saya mengenalnya kok. :D

Ah, ternyata. Hidup memang hanya sekedar canda dan tawa ya. :)
Cikarang, 6 November 2013

Senin, 04 November 2013

Cerita dari Geger Kalong

Saya terbangun berulang sedari tengah malam hingga subuh tadi. Melihat seorang kawan tengah terduduk saja menyandarkan lamunannya di ruangan berukuran 3x3 meter ini. Saat terbangun, saya tanyakan padanya: “ada apa, kenapa kamu belum juga tertidur, kawan?”. Sambil tersenyum dia menjawab bahwa dia belum mengantuk. Saya lanjutkan tidur lagi saja. Hingga saat terbangun lagi, jarum jam sudah menunjukkan jam 6 pagi, dan dia masih seperti itu. Saya tersenyum. Di antara lantunan lagu-lagu cinta yang mengalun perlahan di speaker hitam itu, saya mencoba bangun. Meminum air putih dari botol air minum kemasan yang baru habis tiga-perempatnya, saya coba duduk temaninya. Tapi saya masih terlalu mengantuk, dan diapun sepertinya sedang tak ingin diganggu juga. Saya biarkan saja.

Akhirnya saya terbangun di pukul 10 paginya, dan alunan musiknya masih sama. Saya beranjak perlahan. Saya tak ingin kawan ini jadi terbangun. Karena setidaknya dia baru tertidur jam 7 tadi. Berangkatlah saya membeli beberapa makanan sebagai sarapan, dan duduk di sini, coba menuliskan apa yang saya rasakan.

Saya sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Anak baik yang bergerak dengan caranya sendiri. Saya belum mengenalnya terlalu lama, mungkin baru mau masuki 6 tahun belakangan ini saja, tapi sepertinya saya sudah mengenalnya dengan baik. Anak muda yang kadang berbuat salah di beberapa bagian, tapi dia mudah belajar dari kesalahannya. Itu yang sangat saya sukai darinya. Dia juga memiliki kemampuan bercerita dan mendengarkan sama baiknya. Saya pikir hampir semua temannya menyukainya karena kemampuannya ini. Ah, secara garis besar saya menggambarkannya sebagai seorang yang sangat menyenangkan.

Dan pagi ini, saya tahu, bahwa dia sedang memikirkan seorang gadis pujaannya yang, sepertinya, sudah membuatnya jatuh cinta. Kisah yang tak terlalu berjalan mulus, tapi dia tetap ingin mencobanya. Tentu saja saya selalu mendukungnya. Mencoba menghiburnya sesekali, tapi sekuat itu pula saya coba membiarkan saja, biar dia menikmati sendiri prosesnya. :) Saya mengetahui hampir semua cerita cinta yang pernah dia jalani, secara detail. Sehingga saya sepertinya bisa membaca apa yang dia pikirkan sepanjang malam ini. Saya tersenyum di dalam hati. Dan berucap pula diam-diam: “semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, kawan. Dan yang jauh lebih penting dari itu, kamu menikmati semua prosesnya. Terserah nanti hasil akhirnya seperti apa, rasanya nanti kamu akan bisa berbesar hati menerima”.

Angin dari luar meniup masuk hingga ke sini. Tempat saya menuliskan sedikit cerita tentangnya, dan dia yang masih terlelap obati lelah. Saat nanti siang sudah menjemput, bila dia mau, saya akan memintanya bercerita tentang apa yang mengganggunya sepanjang malam hingga pagi tadi. Dan meminta maaf, bila nyatanya subuh tadi dia sedang ingin ditemani, tapi sayangnya saya masih terlalu mengantuk. Dia pasti mengerti. Karena saya pikir dia juga mengenal saya sebaik saya mengenalnya. Ya, kami berkawan dengan sederhana.
Bandung, 5 November 2013

Institut Teknologi Bandung

Sore Mendung di Ganesha
Saya habiskan 1,5 tahun di sini. Bertemu banyak hal dan cerita beraneka-ragam, asik sekali. Hampir setiap harinya saya datang, belajar banyak hal tentang apa saja. Di pagi, siang, sore, malamnya berdialog dengan Ganesha yang masyhur itu. Menikmati setiap cuaca yang ada, saya tak pernah lelah. Tukar-bicara dengan beberapa kawan terbaik dari mana saja, mula mengenal seorang gadis yang sangat menarik yang mungkin akan menjadi satu cerita terpanjang yang akan saya ingat sampai nanti-nanti, mengaji dari beberapa guru dengan metode belajarnya yang sama baik, melihat pemandangan di tatanan aneka tumbuhan yang begitu asri-apik tertata sebegitu rupa, begitu hari-harinya. Ah, sepertinya ini akan jadi banyak sekali kalau harus diceritakan.

Saya mengatakan bahwa di sini adalah salah satu tempat terbaik. Tempat berkumpul orang-orang terbaik. Bermacam budaya campur sempurna dalam toleransi di sini. Tapi sayangnya, di sini, saya tak pernah merasa seperti di rumah. Di dalamnya saya selalu saja merasa seperti seorang sedang bertandang. Sering saya berpikir tentang hal ini, seperti siang yang ini, saat sendiri menikmati es-kopi menunggu kakak dan seorang kawan baik untuk minum kopi bersama habiskan hari. Saya menjawab: mungkin karena waktunya yang sangat singkat mungkin ya? Ah, tapi sepertinya tidak juga, entahlah. Sering kali, dulu, saya berjalan sendiri berkeliling di tengah hujan gerimis yang hangat, menyapa tiap sudutnya. Tempat ini menjawab sama hangat. Kami tertawa bersama, kami berdiam bersama. Tapi entah saja, saya tetap tak merasa seperti tuan rumah.

Saya sama sekali tak berbicara tentang hal buruk dari tempat ini. Karena memang tak ada hal buruk yang bisa saya bicarakan tentangnya. Dan seperti yang berulang saya katakan, ini salah satu tempat terbaik di antara ribuan persinggahan lain yang pernah saya kunjungi. Seperti saya bisa ucapkan: awal pagi di sini adalah yang terbaik, bahkan lebih baik dari di Jayagiri. Ya, saya menilainya begitu. Tapi mungkin, untuk saya, rumah bukanlah melulu berarti sesuatu yang terbaik. Tak harus begitu. Rumah saya bisa saja lebih kecil dan biasa. Saya tak akan mempermasalahkannya. Seperti saya tak akan pernah berkecil hati karenanya, saya tetap bangga atasnya. :)
Bandung, 4 November 2013