Selasa, 23 Desember 2014

Menuju Bogor

Foto tidak simetris lorong kereta yang tak ramai
Perjalanannya akhirnya membawa saya ke tempat ini: sebuah kursi penumpang kereta api yang ramah. Melirik sekilas ke arah bawah tempat ransel hijau yang tak bersih itu tergeletak di antara kedua kaki yang tertekuk dan kursi kereta yang nyaman-nyaman, saya diam saja. Untuk kemudian mengeluarkan sebuah telepon genggam yang masih terhitung baru, melihat jam yang tertulis di layarnya, dan saya tahu: saat ini sudah hampir setengah 10 malam. Lanjutnya saya bertanya sendiri tentang ini dan itu, berdialog pribadi pada kereta malam jurusan Jakarta Kota – Bogor. Haa, saya dari mana saja. Tertawa sendiri di dalam hati, saya katakan: “kereta ini nyaman sekali, bersih, tak gaduh. Saya suka sekali”.

Dan ada banyak alasan mengapa saya menyukai kereta ini. Di antara decit rel beradu besi pemutar, dan obrolan samar dari tiga orang penumpang lain duduk di hadapan tengah asik obrolkan hingar bingar Jakarta. Mereka adalah pasangan bapak-ibu paruh baya dan anak gadisnya yang mungkin seumuran saya. Mereka bahagia sekali atas perjalanan mereka hari ini, sekarang menuju pulang. Senyum-senyum, saya sampaikan doa di dalam hati, agar mereka tetap bahagia besok dan lusa. Sedang untuk saya, ah, mereka tak perlu membalas hal yang sama. Saya sudah cukup senang mendengarkan obrolan mereka yang riuh dan teratur.

Kereta berhenti sejenak di stasiun Depok, saya memutuskan untuk berpindah kursi ke lebih belakang. Agar kini berhadapan dengan seorang bapak berpostur tinggi-besar 40 tahunan yang gelisah di antara kakinya yang disilangkan. Kumisnya yang tebal melintang di atas bibir, juga topi merah tua yang berulang kali dilepas-pakaikan. Hentakan kaki kanan-kiri beralas sepatu kets coklat tua itu hasilkan irama yang tak harmonis. Saya perhatikan pelan-pelan, hingga tatapan kami tak sengaja bertemu. Dia merasa tak nyaman. Mungkin saja dia terganggu dengan tatapan saya yang menemui lamunannya di antara tiup angin dingin yang lolos dari balik pintu.

Dari arah depan, seorang wanita berseragam merah maju memegang serokan sampah lipat berwarna mencolok. Membersihkan sini-situ, dengan apik ayunkan sapunya yang terbiasa. Juga dua orang petugas keamanan yang berjalan menyusuri lorong sambil tertawa. Tiupkan nafas panjang-panjang, juga penumpang yang datang dan pergi silih berganti. Untuk lanjutnya teringat dua kakak sepupu yang tengah menunggu kedatangan saya di rumah dalam komplek besar itu. Di awalnya tadi, salah satu dari mereka katakan bahwa Bogor gerimis dan supaya saya berhati-hati di jalan pulang. Ah, saya ingin sekali bertemu mereka lagi, sudah hampir 12 jam kami belum bertemu.

Malam sudah semakin jauh, dan harmoni album "Hardwell Presents Revealed Volume 5" ini tetap saja bermain di penghujung kabel yang mirip sekali dengan tali sepatu. Sedang Bogor sudah semakin dekat dengan gerbong. Berujar sendiri saya beropini: mungkin baiknya kontemplasi ini saya hentikan dulu di detik berikut. Untuk katakan bahwa perjalanan di atas kereta ini adalah sebuah mesin waktu yang tak canggih. Bergerak dia dalam alunan, berjalan saya satu-persatu.

Jakarta-Bogor, 20 Desember 2014.

Senin, 22 Desember 2014

Kartiniwati (4) : Hari Ibu

22 Desember 2014. Hari Ibu. 
Ah, banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Tentu banyaknya itu tentang ibu saya sendiri. Seorang gadis manis bermata teduh yang mudah sekali bergaul. Namanya Kartiniwati Binti Abbas. Perempuan berambut panjang yang suka sekali makan makanan yang tidak berkuah. Hobinya membersihkan rumah, memelihara beragam bunga aneka warna, dan memanjakan putra kesayangan satu-satunya -dan itu adalah saya, heheu. Dulu dia pernah bercita-cita: walaupun nanti saya sudah sukses dan punya banyak uang, dia tetap ingin mengirimkan saya uang bulanan, semampunya dia saja :)))). Dan tentunya, seandainya itu benar terjadi, maka saya akan dengan sangat senang menerima uang kirimannya. Karena saya tahu, satu hal yang paling membahagiakan untuk dia adalah membuat saya bahagia. Ah, dia manis sekali. :)

Salah satu hobinya yang lain adalah menyetrika baju yang akan saya pakai sambil berbicara sendiri, seolah dia tengah mengobrol bersama saya di masa depan. Ini lucu sekali. Keinginannya adalah saya menjadi pegawai kelurahan di dekat rumah kami. Jadi setiap jam makan siang, saya akan pulang ke rumah untuk menemui dan memakan masakannya. Keinginan yang sederhana sekali, tapi saya menyukainya. Saya selalu berpikir bahwa dialog bersama dialah yang membuat saya menyukai hal-hal yang sederhana. Hal yang membuat saya lebih mudah tersentuh pada kisah-kisah sederhana. Seperti saat dia mengajak saya untuk mendengarkan obrolannya bersama seorang nenek renta penjaja opak keliling di kota kami. Saya ingat sekali hari itu, satu sore setelah hujan reda. :)

Tak ada cerita yang lain bersamanya selain bergembira. Saya hampir bisa mengingat semuanya. Meski tak sedikit bumbu-bumbu pembangkangan khas remaja yang pernah saya lakukan dulu. Mungkin saja itu pernah membuat dia marah, tapi yakinlah dia tak pernah benar-benar marah. Dia tak akan sanggup untuk bisa benar-benar marah, sebesar apapun kesalahan yang pernah saya lakukan. Seperti juga panggilannya yang mesra itu: “bujang kesayangan”, bila diterjemahkan, maka artinya adalah: “anak laki-laki kesayangan”. Fasih sekali dia dengan panggilan khasnya itu. Bahkan saya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana cara dia melafalkan kata-kata itu. :D

Haaa, masih terlalu banyak. Tapi mungkin seperti ini: saya selalu berusaha bersikap sebaik mungkin pada perempuan. Meski terkadang saya masih gagal, ah ya, biar saja. Dan saat saya pertama kali mendengarkan lagu “Daughters” milik John Mayer, saya pikir seperti itulah yang paling ingin saya pikirkan. Perempuan adalah mahluk ajaib. ;)

***
Daughters – By John Mayer

I know a girl
She puts the color inside of my world
But she's just like a maze
Where all of the walls all continually change
And I've done all I can
To stand on her steps with my heart in my hands
Now I'm starting to see
Maybe it's got nothing to do with me

Fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too

Oh, you see that skin?
It's the same she's been standing in
Since the day she saw him walking away
Now she's left
Cleaning up the mess he made

So fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too

Boys, you can break
You'll find out how much they can take
Boys will be strong
And boys soldier on
But boys would be gone without the warmth from
A womans good, good heart

On behalf of every man
Looking out for every girl
You are the god and the weight of her world

So fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too

Selamat Hari Ibu. Selamat Hari Ibu. ;)
Cikarang, 22 Desember 2014.

Rabu, 10 Desember 2014

Pagi di Jababeka: Jamuan Ulang Tahun

Pagi lumayan cerah untuk ukuran dua bulan terakhir. Saat ini Jababeka sedang musim penghujan. Biasanya pagi seperti ini suasananya mendung, sedang siang menjelang sorenya hujan akan mulai turun, bisa gerimis saja atau sesekali hujan raya, biasanya begitu. Tapi semoganya hari ini tidak, karena saya berencana untuk minum kopi dan mengobrol bersama kawan-kawan di pagi-siang-malam, sesempatnya saja. Mengobrolnya juga tentang apa saja. Apa saja.

Dimulainya pagi ini dengan obrolan di sebuah warung sederhana di dekat kantor kami, di ujung jalan itu. Bersama beberapa orang kawan, mengobrol tentang apapun. Hingga akhirnya obrolan kami bermuara pada seorang kawan yang bercerita tentang acara ulang tahunnya kemarin-kemarin yang hanya dilangsungkan oleh 3 anggota keluarga kecilnya; dia, istri, dan anak semata wayangnya. “Beli kue sendiri, tiup sendiri, gitu aja”, dia bercerita dengan suara sedikit direndahkan. Saya bertanya: “Kenapa saya tak diundang? Kalau saya tahu, maka saya (inshaAllah) pasti datang”. Dia menjawab sambil tersenyum: “Tak ada makanan, keuangan kami sedang pas-pasan”. Saya sambungkan dengan muka serius sekaligus tertawa sebaik mungkin: “Ah, jangan begitu. Nanti kalau kamu sedang ingin merayakan ulang tahun di tengah kondisi keuanganmu yang sedang pas-pasan, baiknya kamu katakan saja: ‘kawan-kawan, saya mengundang kalian datang ke acara ulang tahun saya sore ini. Tapi saya sedang tak punya uang banyak. Mari datang, tapi bawa makananmu sendiri-sendiri'”. Mendengar perkataan saya itu, seorang kawan yang lain langsung berkomentar sedikit sinis: “ga akan ada yang datang! Itu hanya mudarat! Mengundang orang datang ke acara ulang tahun, tanpa menjamu. Ngapain juga orang mau datang”. Saya terdiam. Bertanya di dalam hati: "Mudarat apa?"

Saya yakinkan, pergolakan pikiran dan ide di dalam kepala adalah sebuah hal yang baik. Sesuatu yang bisa membuat seseorang mengevaluasi ulang tentang pikiran dan idenya. Saya pikir, tak ada yang salah dengan pikiran dan ide apa dan siapapun. Bila seseorang berpikir itu baik untuk dirinya, maka silahkan dilakukan. Tapi bila tidak, maka sebaiknya jangan. :) Seperti saya yang saat ini tenggelam dalam lamunan di secangkir kopi dan beberapa sesap tembakau yang hampir habis, saya menerjemahkan singkat tentang apa yang ada di dalam kepala.

Saya katakan singkat dengan tawa yang sedikit dipaksakan. “Kawan, bagaimana bila suatu saat saya mengundangmu dengan kondisi yang persis seperti tadi? Apakah kamu akan datang?” Dia menjawab tegas: “Tidak! ngapain juga saya datang cuma untuk duduk-duduk sambil saling lihat. Tidak!”. Jujur, sedikit getir saya mendengarnya. Tanpa bermaksud mendebat, saya katakan pada kawan tersebut: “Saya yakin sekali, kawan-kawan saya yang lain akan datang, bahkan mungkin banyak. Kamu tahu kenapa saya bisa yakin seperti itu? Karena bila saya di posisi orang yang diundang, maka saya akan datang dengan antusias. Saya mengenal mereka dengan baik

Saya tak pernah terlalu tertarik memandang sesuatu dengan kacamata kebendaan. Untuk saya pribadi, saya pikir itu baik. Haaa, saya pikir ulang tahun adalah hal yang sederhana. Bila seseorang berpikir dia akan bahagia bila berulang tahun dihadiri oleh kawan-kawannya, maka utarakan saja. Percayalah, kebahagiaan yang kamu rasakan bukan tentang seberapa mewah jamuan yang kamu sajikan. Merasa bahagia adalah sesuatu yang jauh-jauh-jauh lebih sederhana dari itu. ;)

Selamat pagi, Jababeka. :)
Cikarang, 11 Desember 2014

Senin, 01 Desember 2014

Jalan Sempit Lurus Pinggir Lapangan dan Pohon Kelapa

Foto diambil dari akun Path milik Debi Krisna, gatau dia dapat gambar ini dari mana. :D
Melihat gambar buram dan tak fokus ini sore ini. Gambar yang diunggah oleh seorang kawan baik di Warung Kiara, Sukabumi sana. Tersenyum-senyum singkat, untuk kemudian saya tambahkan komentar di bawah fotonya. “Dulu, saat melintas di jalan yang seperti ini, saya biasanya berjalan kaki, bukan naik sepeda. :P”.

Dan saya melangkah pulang dari kantor kami yang mulai sepi. Meski pikiran saya belum bisa lepas dari gambar itu. Gambar yang seperti berubah jadi sebuah panggilan untuk mengingat sesuatu di masa lampau. Kini saya mengira-ngira sendiri.

Di depan sebuah kedai sate pinggir jalan, saya perlihatkan gambarnya ke seorang kawan yang lain. Seorang kawan yang melewati masa kecilnya di Kota Bogor. Saya tanyakan singkat kepadanya: “Kawan, hal apa yang kamu pikirkan setelah melihat gambar seperti ini?”. Dia menjawab: “Ga ada. Tapi kayanya enak”. Saya tertawa mendengarnya. Dia bergumam melanjutkan: “Berarti kamu pernah merasakan berjalan di udara yang bersih, sambil tertawa bersama kawan sebaya?”. Saya iyakan, sambil tersenyum. Lanjut berkomentari: “Jadi begini. Mungkin anak-anak di perkotaan setiap hari disuguhi pemandangan jalan yang seperti ini (sambil menunjuk jalanan besar di depan kami yang padat dengan mobil-motor dan berisik sekali), sedang saya dulu tidak. Jalanan masa kecil kami dulu sepi, enak dihirup. Hmmm, kamu mungkin hanya bisa membayangkannya saja, tapi tenang saja, sebenarnya ini juga sudah bagus”. :D

Di jalanan sepi depan lapangan belakang pesawahan itu, dulu kami biasa dermakan waktu bersama kawan-kawan sekelas. Kadang kami berlarian di tengah jalan sesukanya saja, kadang menangis sepanjang jalan karena habis dipukuli oleh kawan sekelas yang lebih “jago”, kadang duduk saja di pinggir jalannya lalu menyobekkan kertas dari buku di dalam ransel jelek itu lalu melipatnya jadi kapal-kapalan terus dihanyutkan. Kami berlari mengejar kapal-kapal itu, hingga tak terasa jalanan itu sudah habis, dan itu juga berarti kami sudah dekat dengan rumah. Ah, menyenangkan sekali. :D

Dulu saya mengenal semua rumah yang terlewati dari dan menuju sekolah. Rumah Ande, rumah Ita Salon, rumah Om Bengkel, rumah Wak Makum, rumah Datuk Dulia, TK Nuri dan lain-lain. Jika sedang ingin mencuri markisa ranum penawar letih, maka rumah yang selalu tertata rapi di salah satu sudut itu adalah pilihan yang bagus. Jika sedang ingin melempari sarang tawon raksasa, maka pohon besar depan rumah sepi itu selalu siap jadi sasaran. Jika sedang ingin tidur-tiduran di bawah lindungan pohon besar, maka lapangan besar itu selalu ada di situ. Ah, begitu, kegiatan kami banyak sekali waktu itu. Kami tak pernah bosan menjalani hari. Meski kami belum pernah mengenal apa itu pesawat-pesawatan remote control  atau barang-barang mewah-mahal sejenisnya. :D

Mungkin kamu pernah melihat acara Si Bolang di salah satu stasiun televisi. Setau saya, banyak sekali orang yang suka menonton acara itu. Meski kadang saya berpikir sendiri: “Kiranya apa yang mereka pikirkan saat menonton acara itu?” Karena untuk saya, acara itu adalah sebuah ribuan gambar jelas. Sejelas jeweran seorang guru IPA di SD saya dulu karena ketahuan mencoreti meja guru dengan kapur hingga putih semua, lalu beliau marah. Ah, saya jadi tersenyum sendiri sekarang. “Salam hormat dari saya, Bu Watirah”. :)

Curup-Cikarang, 1 Desember 2014

Senin, 17 November 2014

Cik Yan Lis (5) : Catur

Ayah saya yang bertopi baret coklat itu. :D
Dari foto ini keliatan kayanya ayah sedang dalam posisi terdesak. Juga cerita tentang dia yang rela hutang ke warung untuk membelikan lawan mainnya ini sebungkus rokok agar dia mau bermain melawan ayah lagi dan lagi. Kata ayah, lawan mainnya ini selalu ingin dipanggil “Sitompul”, padahal dia orang Jawa. :)))))) 
Belum lama saya duduk di kursi ini menghadap tiupan AC yang menyejukkan, dan telpon genggam saya berdering pelan. Melihat di layar itu, saya langsung tahu bahwa yang menelpon adalah ayah. Segera keluar dari ruangan, menuju salah satu ruangan lab yang kosong di sisi selatan, saya angkat telponnya. Ini sangat perlu, karena saya akan berbicara dengan volume suara yang tinggi. Saya dan ayah biasa bicara seperti itu. :D

Dan tak ada hal yang benar penting yang kami bicarakan. Hanya pertanyaan singkat tentang makanan di kantor siang ini, kemudian dilanjut tentang obrolan bertema catur. Awalnya ayah bertanya bagaimana permainan catur saya saat ini. Saya jawab: “akhir-akhir ini saya tak terlalu sering bermain catur”. Dia menyambung tangkas: “sebaiknya kamu lebih sering bermain catur. Temukan orang-orang yang bisa mengalahkanmu dengan mudah, kamu belajarlah yang banyak. Kamu kalah yang banyak, berusaha menang”. Saya menyimak saja sambil sesekali tertawa, dengan ayah yang semakin bersemangat atas cerita caturnya. Berkisah tentang permainan itu yang dulu sering kali membuatnya gelisah. Tentang dia yang sesekali jadi susah tidur karena selalu kalah menghadapi salah seorang lawan mainnya, sampai bermimpi bermain catur saat tidur. Saya tertawa mendengar dia bercerita seperti itu. Terutama di bagian catur yang membuat kepalanya menjadi panas dan ingin segera mandi untuk mendinginkan kepalanya secara paksa. Ahahaa.

Catur adalah permainan mengatur emosi. Dan kekalahan adalah guru terbaik untuk belajar mengendalikannya. Karena catur adalah tentang belajar dari kekalahan. Kamu ingat itu baik-baik

Saya tahu, ayah tak pernah terlalu menganggap serius permainan ini. Saya juga sama. Kami sama-sama tahu ini hanyalah sebuah permainan, tak pernah lebih dari itu. Saya pikir, kalah dan menang bukanlah sesuatu yang terlalu menarik. Dan saat ayah menelpon siang ini, saya pikir nasihatnya tentang permainan catur ini seolah menemukan momentnya. Meski, ahahahaa, rasanya sedikit berlebihan juga jika dia menelepon hanya untuk menyarankan saya memperbanyak bermain catur, lantas kalah terus-terusan. :)))))

Dan bakal terlalu drama bila saya tuliskan juga kalo tadi ayah bilang: di permainan ini, kamu ga akan pernah menang, kalo kamu ga berani melawan, :p
Curup-Cikarang, 17 November 2014

Selasa, 11 November 2014

Di Pojok Sore (17) : Hujan dan Dinamika Umum Para Pekerja

Musim hujan tiba. Dan kemarin malam, bersama beberapa orang kawan yang baik sekali, kami berteduh dari derasnya serbuan hujan di permulaan musim pada naungan sebuah warung yang cukup luas di pojok jalanan itu. Seperti biasa, kami akan memainkan permainan itu sambil tertawa riang bersama-sama. Di antara hujannya yang semakin deras, saya lihat jalanan di depan sana mulai terendam banjir yang tak seberapa. Melihat air yang menggenang di muka jalan, saya melirik kompleks perkantoran yang besar itu dari jauh. Ah, cantik sekali kantor kami terlihat dari sini. Dengan cahaya kebiruannya bergerak yang lurus, kini berbagai pertanyaan mulai datang kunjungi saya di sebuah kursi papan memanjang menghadap beberapa kawan.

Saat ini, di pertengahan November 2014. Menuju 4 tahun saya bekerja di kantor biru itu. Dan bekerja di lingkungan yang sangat nyaman ini adalah sebuah nikmat yang sepatutnya disyukuri dengan sederhana. Saya suka tempat ini. Saya suka kawan-kawan di sini, saya suka cara atasan-atasan saya bersikap, saya suka cara bekerja kami di kantor ini.

Dan genangan air di muka jalan itu beriak deras saat dilewati sebuah kendaraan yang melaju tak seberapa cepat. Dan di antara rintik hujan yang mulai mereda, juga tawa kawan-kawan di meja panjang ini, saya diam sejenak. Mengingat beberapa cerita yang lewat, saat saya bekerja di satu tempat yang lain. Saya pikir, saya bisa merasa betah dimanapun saya berada, termasuk di sini. Dermakan waktu senin hingga jumat, jam 8 pagi hingga jam 5 sore, pulang dan pergi sehari-hari dari dan menuju ke tempat yang menyenangkan.

Dan bekerja lalu mendapatkan penghasilan yang layak adalah sebuah dimensi yang sedikit rumit sekaligus sederhana, percayalah memang seperti itu. Saya tumbuh, semuanya juga. Saya bisa bertanya tentang pertumbuhan yang dibicarakan para elit, saya bisa bertanya tentang pertumbuhan yang ada di kepala saya sebagai sebuah ide. Sebagai konsekuensinya, sebuah kecocokan mungkin bisa tercapai, tapi bila tidak, maka siapapun tak bisa memaksa. Dan dialog, kabarnya, merupakan salah satu alternatif yang baik sekali. Dan sepertinya saya setuju. Selebihnya dari itu tentu terserah saja, silahkan ditimbang sebaiknya.

Nah, jadi sekarang saya katakan begini. Meski tak semua, sebagian besar dari kita adalah manusia merdeka. Karena bila mau, bahkan membangkang pada Tuhan pun kita bisa. Sedangkan apakah kita mau melakukannya atau tidak? Oh ini jelas pertanyaan yang berbeda. :D

Mungkin kamu berkomentar yang saya tuliskan dari atas sampai bawah ini ga nyambung semua, ahahahaa. Biarin aja, jangan serius-serius, ntar cape. :))))
Cikarang, 11 November 2014

Senin, 03 November 2014

Malam di Jagakarsa

Malam sudah lebih jauh. Tiup angin Jakarta selatanpun sedang sepi. Saya melangkah di antara pejalan kaki yang tinggal satu persatu. Melirik jam tangan yang tak henti berdetak dan waktu yang sudah menunjuk pukul 11 malam. Juga gerobak penjaja nasi goreng yang masih sibuk saja sendiri. Sekali saya hampiri dan bertanya kiranya dia tengah memasak panganan tersebut untuk siapa, si abang hanya tertawa sambil tawarkan dagangannya tersebut kepada saya. Singkat menjawab, saya katakan bahwa saya hanya akan menemani dia sejenak saja sambil merokok bersama-sama. Dia mulai tanyakan banyak hal, mulai tadi tujuan saya hendak kemana, sampai siapa yang lebih baik antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Hingga sebatang rokok itupun akhirnya habis, dan saya pamit untuk melanjutkan perjalanan lagi.

Tujuan saya malam itu tak seberapa jauh lagi dari sini. hanya tinggal menyusuri Jalan Pasir 1, selang belasan rumah maka saya sampailah. Mengetuk pintunya beberapa kali, dan seorang anak muda muncul di balik pintu sambil tersenyum menyapa ramah. Dari dia saya tahu, bahwa ternyata kawan yang akan saya kunjungi malam itu sedang tak ada di rumah kos-kosannya yang penuh dengan tumpukan tas-tas yang banyak dan seolah mau meledak. Meski dengan ramahnya, anak muda tersebut mempersilahkan saya masuk, dan kami mulai bercerita di antara tumpukan tas-tas yang mencapai atap rumah, juga reguk teh yang terlalu panas untuk diminum beberapa teguk sekaligus.

Obrolan tersebut dimulai dengan dia yang bertanya tentang pembagian tipe-tipe wanita. Tentu saja saya terkaget diberi pertanyaan serupa itu di awal-awal seperti ini. Sambil senyum-senyum-bingung, saya katakan padanya bahwa saya tak terlalu paham tentang hal itu. Dia tertawa, lalu diuraikannya pendapat pribadinya dengan tangkas, dan ditutupnya dengan meminta pendapat saya tentang uraiannya tadi. Saya terbahak-bahak, dan katakan bahwa saya setuju-setuju saja dengan apa yang dia ucapkan tadi. Dia mengangguk-angguk, sesekali mengusap dagu, lalu tersenyum lagi. Dan kami mulailah bercerita tentang banyak hal lain.

Seperti biasa, saya akan membiarkan lawan-bicara berkisah dulu sepuas hatinya. Dengan sesekali merespon dengan pertanyaan-pertanyaan yang mudah, dia semakin bersemangat. Dalam hati saya bicara sendiri: “anak ini senang sekali berdialog”, itu kesan yang saya tangkap saat itu, heheu. Hingga akhirnya dia bicara sendiri sedikit lebih jauh, mengalir dan mendalam. Saya dibuatnya tertegun beberapa saat, bingung, sekaligus antusias yang intens. Saat dia mulai bicara tentang perasaan bahagianya saat berdialog dengan siapapun –bahkan pada orang lain yang tak dikenal sekalipun. Atau tentang mimpi-mimpinya yang ajaib, atau dia yang berkisah tentang realita kehidupan yang berjalan di sebuah komplek perumahan kota Bandung sambil bersusah-payah mendorong gerobak jerigen air yang dijualnya. Atau dia yang merasa bahwa dia perlu memahami banyak hal dan tak pernah puas tentang apapun, atau dia yang sering dianggap tak normal oleh kawan-kawannya karena sering bertanya/bercerita tentang hal yang susah dimengerti –bahkan oleh dirinya sendiri. Atau tentang dia yang menurutnya lumayan pandai bermain kartu, atau dia yang senang sekali mengesankan bahwa lawan bicaranya lebih tahu segalanya dibanding dia. Atau bahkan dia yang merasa bahwa dia mampu membaca masa depan! Ya, dia merasa bahwa dia bisa membaca masa depan! Ahahaha.

Banyaknya saya hanya mendengarkan. Sesekali tertawa terbahak, atau diam saja menyimak. Mereguk teh panas itu dari atas sebuah nampan plastik yang penuh dengan tumpahan air, saya tersenyum menatapnya. Namanya Rio. Umurnya mungkin sekitar 6-7 tahunan di bawah saya. Dia berasal dari kota yang sama dengan saya, Curup. Lahir dan besar di lingkungan pesawahan luas yang diselingi pepohonan kelapa julang-menjulang, dan banyak lagi. Saya tatap sekali lagi anak muda yang mudah sekali tertawa itu. Berkata dalam hati, saya ucapkan bahwa saat ini adalah sebuah moment ajaib :). Saya merasa seperti tengah bercermin di hadapannya, seolah melihat diri saya sendiri dari semua cerita yang diceritakannya tanpa batasan. Saya takjub. Dan saya tahu, tak banyak orang yang bisa mengalami pengalaman seperti yang saya alami malam ini. Saya bersyukur sekali. :)

Dan malam di Jagakarsa sudah semakin jauh dari dini hari, kami memutuskan untuk tidur dulu. Saya katakan padanya di penutup dialog itu, bahwa sebaiknya kami berdua tak terlalu sering bertemu. Saat dia bertanya “kenapa?”, saya membalas dengan tawa yang panjang.

Selamat malam, Jalan Pasir!
Jagakarsa, 25 Oktober 2014