![]() |
Tepat di depan warung nasi padang ini |
Tiba saatnya malam itu, di beberapa malam yang lewat. Saat tengah
mengunjungi lagi terminal itu di malam yang sedikit larut. Ingatan saya kembali
ke kisaran 10 tahun yang lewat. Itu di suatu malam di pertengahan tahun 2004. Mungkin
Juni.
***
Sore itu saya menerima kabar dari seorang bibi di Palembang.
Singkatnya bicara bahwa sore itu dia dan seorang anak perempuannya yang manis
serta 3 orang anggota keluarga yang lain, akan tiba di kota ini. Kalau tak
salah ingat, mereka naik pesawat dari Kota Pempek sore itu dan akan mendarat di
kisaran pukul 3 sore di Cengkareng. Rencana awalnya, mereka akan menuju Bandung
dengan menggunakan kereta dari Jakarta. Mendengar berita tersebut, saya iyakan,
dan saya berjanji akan menjemput mereka di stasiun kereta Bandung sore itu.
Masih di sore yang sama, sambil menunggu sore di kamar
kos-kosan di daerah Bandung utara itu, seorang kawan baik datang berkunjung. Seperti
biasa, kawan tersebut datang hanya untuk bersilaturahmi saja. Saya katakan
kepadanya tentang berita kedatangan bibi yang tadi, dan kami segera bersepakat
bahwa dia akan menemani saya menjemput kedatangan bibi. Hingga saatnya tiba,
kami berdua berangkat menuju stasiun kereta itu dengan menumpang angkutan kota
berwarna coklat muda bertulis Lembang – St. Hall itu. Jam sudah menunjukkan
kisaran pukul 6 sore waktu kami tiba di stasiun itu. Duduk-duduk mengobrol,
kami menikmati sorenya sambil tertawa yang riang.
Langit mulai lebih gelap, saat saya menerima kabar lanjutan
dari si bibi. Dia mengabarkan bahwa saat itu ternyata mereka masih di Jakarta,
dan rencana berubah, mereka akan menuju Bandung dengan menggunakan bus. Itu berarti
bahwa lokasi penjemputanpun berubah. Kami akan menjemput bibi di terminal bus Leuwi
Panjang. Waktu itu kami berdua masih belum terlalu kenal rute di Bandung. Itu wajar,
kami baru hampir genap setahun tinggal di kota ini. Tahun pertama itupun
terlalu banyak diisi oleh acara kampus yang padat, kami belum sempat
menjelajahi kota ini lebih jauh. Meski akhirnya, kamipun bisa tiba di terminal
itu, di kisaran pukul 8 malam.
Malam sudah larut, itu mungkin kisaran pukul 11 malam. Kabar
dari bibi yang saya terima sekitar sejam yang lewat tadipun tidak terlalu
jelas, dan kami mulai merasa letih. Terminal itupun sudah semakin sepi , hanya
dipenuhi oleh para pedagang, sivitas umum terminalnya serta preman-preman
terminal yang kami pikir sangat ramah. Letih berlanjut, dan kami memutuskan
untuk tidur di terminal saja. Kami terlentang di atas kursi kayu panjang di
depan warung nasi padang yang sudah tutup di awal-awal tadi. Kami terlelap. Hingga
di kisaran jam 1 atau 2 dini harinya, bibi akhirnya tiba dan kami semua menuju
Bandung Utara lagi.
***
Saya jadi tersenyum sekarang. Mengingat kami pernah menghabiskan
malam di terminal itu. Siapapun boleh menyebut bahwa terminal adalah salah satu
tempat terangker di sebuah kota. Tempat para preman-preman jalanan biasa meniagakan
waktu berbuat semaunya. Tapi saya pikir kami tak punya masalah di sini, kami
meniagakan obrolan dengan mereka selayaknya seorang yang tengah berkunjung. Kami
berusaha santun, kami hanya berusaha menjalankan apa yang selalu ayah saya
ingatkan sebelum saya merantau ke tanah ini dulu, “bahwa dimana bumi sedang kau pijak, di situlah langitnyapun harus kau
junjung!”.
M. Haikal Sedayo, semoganya kau masih ingat penggal cerita ini, ;)
Bandung, 31 Januari 2014