Selasa, 21 Januari 2014

Jayagiri: Sebuah Perjalanan

Sesaat kami tiba di Jayagiri. Saripah Sundari, Dian Andriani, Wiwin Natalia, Guntur Berlian
Itu kapan ya? Kalau tak salah ingat itu di akhir 2008, mungkin November, sabtu pagi. Saat bersama tiga orang kawan yang itu, saya bertamasya menuju satu tempat yang cantik luar biasa. Jayagiri.
***

Setelah merencanakan perjalananya dengan singkat di hari Kamis sebelumnya, selepas kami kuliah, begini rencananya. Sabtu pagi itu kami berempat berkumpul di Jalan Setiabudhi, Bandung, untuk selanjutnya berbaris menunggu sebuah angkutan umum warna coklat muda bertuliskan Ciroyom-Lembang di kaca depannya. Kiranya angkutan itulah yang akan berbaik hati antarkan kami menuju Jalan Jayagiri di atas sana. Besar kemungkinan langit akan mendung seharian itu, kami tahu, karena waktu itu adalah musim penghujan. Tapi kami tetap saja.

Kalau tak salah ingat, tak ada satupun dari kawan-kawan ini yang pernah mengunjungi Jayagiri sebelumnya. Dan dengan senang hati pula, saya menemani mereka berkunjung di kunjungan perdananya itu. Rutenya sederhana: menuju gagah Tangkuban di atas sana, lewat jalanan setapak Jayagiri. Itu. Saya ingat, kami antusias sekali. Berbekal beberapa makanan dan botol minum kemasan di dalam ransel kecil yang dibawa-bawa, kami bergerak seperti sekelompok tentara sedang liburan. Dengan langkah yang tegas, kami berjalan satu-satu menuju utara. Jugadalam riuh canda-tawa yang gembira, kami lewati teduhnya barisan pinus meraksasa di kanan kiri dan aromanya yang khas. Sesekali kami berhenti, menghirup beberapa teguk air, menelan potong makanan. Ah, ingat sekali, kami senang sekali, ceria sekali.

Episodenya, suasana menjadi sedikit muram waktu itu. Kami masih berada di tengah kaki Tangkuban. Sepanjang kami berjalan, tak ada bekas jalan setapak yang ditemui. Rimbunan yang kami lalui menegaskan bahwa semak dan pepohonan ini sudah lama tak didatangi. Kami hilang arah. Kami tersasar di atas Jayagiri!!!
Cikarang, 21 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar