![]() |
Sesaat kami tiba di Jayagiri. Saripah Sundari, Dian Andriani, Wiwin Natalia, Guntur Berlian |
Itu kapan ya? Kalau tak salah ingat itu di akhir 2008, mungkin
November, sabtu pagi. Saat bersama tiga orang kawan yang itu, saya bertamasya
menuju satu tempat yang cantik luar biasa. Jayagiri.
***
Setelah merencanakan perjalananya dengan singkat di hari
Kamis sebelumnya, selepas kami kuliah, begini rencananya. Sabtu pagi itu
kami berempat berkumpul di Jalan Setiabudhi, Bandung, untuk selanjutnya berbaris
menunggu sebuah angkutan umum warna coklat muda bertuliskan Ciroyom-Lembang di
kaca depannya. Kiranya angkutan itulah yang akan berbaik hati antarkan kami menuju
Jalan Jayagiri di atas sana. Besar kemungkinan langit akan mendung seharian itu,
kami tahu, karena waktu itu adalah musim penghujan. Tapi kami tetap saja.
Kalau tak salah ingat, tak ada satupun dari kawan-kawan ini
yang pernah mengunjungi Jayagiri sebelumnya. Dan dengan senang hati pula, saya
menemani mereka berkunjung di kunjungan perdananya itu. Rutenya sederhana:
menuju gagah Tangkuban di atas sana, lewat jalanan setapak Jayagiri. Itu. Saya ingat,
kami antusias sekali. Berbekal beberapa makanan dan botol minum kemasan di
dalam ransel kecil yang dibawa-bawa, kami bergerak seperti sekelompok tentara
sedang liburan. Dengan langkah yang tegas, kami berjalan satu-satu menuju utara.
Jugadalam riuh canda-tawa yang gembira, kami lewati teduhnya barisan pinus meraksasa
di kanan kiri dan aromanya yang khas. Sesekali kami berhenti, menghirup beberapa teguk air, menelan
potong makanan. Ah, ingat sekali, kami senang sekali, ceria sekali.
Episodenya, suasana menjadi sedikit muram waktu itu. Kami masih
berada di tengah kaki Tangkuban. Sepanjang kami berjalan, tak ada bekas jalan
setapak yang ditemui. Rimbunan yang kami lalui menegaskan bahwa semak dan
pepohonan ini sudah lama tak didatangi. Kami hilang arah. Kami tersasar di atas
Jayagiri!!!
Cikarang, 21 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar