Minggu, 26 Januari 2014

Tripod dan Garis Cahaya

Rasanya ini bermula dari suatu sore di kebun itu. Saat seperti biasa, berdua dengan seorang kawan baik tengah berbincang tentang apa saja. Entah bagaimana alur pastinya, waktu itu kami lantas membahas tentang satu tema spesifik: slow speed shooting. Hingga kawan tersebut akhirnya berjanji akan memberi pinjaman tripod miliknya yang katanya sekarang sudah jarang terpakai, takut mubadzir, begitu katanya. Selang beberapa lama, mungkin sebulan berikutnya, dia menepati janjinya. Dengan gayanya yang santai, dia menunjukkan singkat bagaimana cara menggunakan alat tersebut, juga cerita pendek mengenai aplikasi penggunaannya. Dalam seksama, saya mendengarkan. Saya benar baru pertama kali itu mengoperasikan alat tersebut. “Silahkan belajar”, begitu dia berujar waktu itu. Saya iyakan dengan anggukan.

Tepat malam harinya, tak sengaja saya menjumpai pergelaran pasar malam yang tengah dipanggungkan di salah satu lapangan di komplek KPAD, Geger Kalong. Segera terpikir, saya keluarkan tripod dari dalam ransel hijau itu. Selang beberapa waktu, mengambil gambar dari sisi belakang pagar bagian luar lapangan yang paling memungkinkan, arah pada sebuah komedi putar yang tengah gembira berputar penuh lampu-lampu, saya menembak beberapa kali.  Tak mudah ternyata. Tapi saya puas-puas saja. Saya benar tak merasa harus langsung bisa. Saya menikmati puluhan kegagalan tembakannya.
Pasar malam di lapangan KPAD, Geger Kalong, Bandung.
Lagi. Malam ini. Saat tengah berpikir untuk membeli sajian bakmi jawa di pinggir jalan raya itu. Dengan menenteng tripod dan kamera putih berlensa standar itu, saya berjalan pelan. Menentukan titik tembak, memasang peralatan, menyalakan tembakau, menguji beberapa kali. Hasilnya masih tak terlalu bagus ternyata. Kadang terlalu gelap, kadang terlalu terang, garis sinar yang terlalu tebal, terhalang gerobak baso yang melintas melawan arah, macam-macam. Saya pikir itu seru. Hingga 45 menit berlalu, saya putuskan selesai dulu.
Jalan Raya Pecenongan, Jababeka 2, Cikarang
Kamu tahu? Bahwa yang saya kerjakan ini hanyalah rentetan senda-gurau. Saya benar bersyukur bila hasilnya bagus. Tapi sama sekali tak keberatan bila ternyata hasilnya tidak. Karena sebenarnya saya hanya tengah bersenang-senang saja di tengah suasana malam dan garis-garis cahaya. Itu saja.
Cikarang, 26 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar