Rasanya ini bermula dari suatu sore di kebun itu. Saat
seperti biasa, berdua dengan seorang kawan baik tengah berbincang tentang apa
saja. Entah bagaimana alur pastinya, waktu itu kami lantas membahas tentang satu tema spesifik: slow speed shooting. Hingga kawan
tersebut akhirnya berjanji akan memberi pinjaman tripod miliknya yang katanya sekarang sudah jarang terpakai, takut mubadzir, begitu katanya. Selang beberapa lama,
mungkin sebulan berikutnya, dia menepati janjinya. Dengan gayanya yang santai,
dia menunjukkan singkat bagaimana cara menggunakan alat tersebut, juga cerita
pendek mengenai aplikasi penggunaannya. Dalam seksama, saya mendengarkan. Saya benar
baru pertama kali itu mengoperasikan alat tersebut. “Silahkan belajar”, begitu dia berujar waktu itu. Saya iyakan dengan
anggukan.
Tepat malam harinya, tak sengaja saya menjumpai pergelaran
pasar malam yang tengah dipanggungkan di salah satu lapangan di komplek KPAD,
Geger Kalong. Segera terpikir, saya keluarkan tripod dari dalam ransel hijau itu. Selang beberapa waktu, mengambil
gambar dari sisi belakang pagar bagian luar lapangan yang paling memungkinkan, arah
pada sebuah komedi putar yang tengah gembira berputar penuh lampu-lampu, saya
menembak beberapa kali. Tak mudah
ternyata. Tapi saya puas-puas saja. Saya benar tak merasa harus langsung bisa. Saya
menikmati puluhan kegagalan tembakannya.
![]() |
Pasar malam di lapangan KPAD, Geger Kalong, Bandung. |
Lagi. Malam ini. Saat tengah berpikir untuk membeli sajian
bakmi jawa di pinggir jalan raya itu. Dengan menenteng tripod dan kamera putih berlensa standar itu, saya
berjalan pelan. Menentukan titik tembak, memasang peralatan, menyalakan tembakau,
menguji beberapa kali. Hasilnya masih tak terlalu bagus ternyata. Kadang terlalu
gelap, kadang terlalu terang, garis sinar yang terlalu tebal, terhalang gerobak
baso yang melintas melawan arah, macam-macam. Saya pikir itu seru. Hingga 45
menit berlalu, saya putuskan selesai dulu.
![]() |
Jalan Raya Pecenongan, Jababeka 2, Cikarang |
Kamu tahu? Bahwa yang saya kerjakan ini hanyalah rentetan senda-gurau.
Saya benar bersyukur bila hasilnya bagus. Tapi sama sekali tak keberatan bila
ternyata hasilnya tidak. Karena sebenarnya saya hanya tengah bersenang-senang saja di
tengah suasana malam dan garis-garis cahaya. Itu saja.
Cikarang, 26 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar