![]() |
Badai di salah satu sisi Pulau Kotok, sayang suasana gelapnya tak terlalu tertangkap. Ah, biar. |
Kamu tahu badai? Bila mengacu pada Kamus Besar Bahasa
Indonesia, yang dimaksud badai adalah: angin kencang yang menyertai cuaca
buruk berkecepatan 64-72 knot. Seperti itulah kira-kira. Dan saya pernah
beberapa kali mengalaminya. Meski mungkin, badai yang pernah saya alami itu tidak
seekstrim yang digambarkan dalam definisinya, tapi saya akan tetap menyebutnya
badai. Di dalam pemikiran saya, badai adalah saat angin bertiup kencang tanpa
arah yang jelas disertai hujan besar. Pengertian yang seperti itulah yang akan
saya ceritakan sebentar lagi. Tapi mungkin saya akan menceritakannya di bagian
yang mungkin tak umum, tapi tetap tentang badai. Tentang lagu.
Beberapa minggu yang lewat, di sebuah pulau dan laut di Kepulauan
Seribu, utara Jakarta. Kami tengah sibuk bersantai di sebuah pulau cantik-sepi bernama
Kotok. Dan di tengah kesibukan itu, langit mendadak jadi lebih gelap, badai sepertinya akan datang. Hampir semua orang di pinggir pantai itu, tanpa dikomando, bersegera masuk,
berlindung di dalam gubuk-gubuk sederhana tempat para pedagang itu mengadu peruntungan.
Saya ingat. Saya hanya berdiri saja di pelataran gubuk yang kuyup itu, melihat lepas ke arah
laut dan dedaun pepohonan pantai yang ribut gemerisik ditiup angin besar. Seketika saya sadar,
badai segera datang. Saya berucap sendiri selepasnya senyum-senyum: “maka datanglah! Ajak saya senang-senang sekarang”. Dan seketika badai datang,
seketika itu juga saya punya pertanyaan yang sedikit aneh. Pertanyaannya kira-kira begini:
“kiranya lagu apa yang baiknya saya
dengarkan di suasana seperti ini?” Hah, sebuah pertanyaan sederhana yang
entah saya dapatkan dari mana. Maka bergegas mengambil handphone dan earphone
dari dalam tas kecil warna hitam itu, saya menyusun langkah pengujian yang seadanya,
bersila di atas pasir.
Nyatanya badainya tak terlalu lama dalam durasi. Hingga saatnya
seperti mereda, ketua rombongan memutuskan kami harus pulang sekarang, segera
naik menuju kapal motor bertulis KM FAKHRI NURALIM yang bergoyang liar dihajar
ombak sisa badai. Dalam hati, sepenuhnya saya yakin bahwa badai akan datang
lagi, saya tahu, gambaran langit mengisyaratkan seperti itu. Tapi toh saya
tetap ikuti, karena saya tak mungkin juga tinggal
di sini sendiri. Maka lanjutlah perjalanannya. Kami menantang badai. Saya sepenuhnya
tahu!
Perjalanan kami menuju pulau tujuan harusnya tak lebih dari satu jam saja. Tapi di seperempat perjalanannya, badai benar datang, dan kapal kami bergoyanglah lebih hebat. Tak lagi kehabisan waktu berpikir, sesegera itu pula saya menyalakan beberapa lagu yang sudah saya siapkan tadi. Playlist berisi lagu-lagu bernuansa senang, sedih, cinta, sahabat, rumah, atau lagu tentang badai sendiri, dan beberapa yang lainnya, saya biarkan bernyanyi dengan semarak di pasangan earphone itu dalam urutan yang acak. Dalam terpejam dan konsentrasi, saya coba rasakan setiap nadanya. Yang seiring hantaman ombak-ombak besar di muka kapal itu, kami dihajar jutaan galon laut.
Dan tiba-tiba saya tersenyum, seolah menemukan sesuatu. Saya
ulangkan lagu itu beberapa kali. Dan ya, saya temukan! Inilah lagu yang saya
pikir paling cocok didengarkan di tengah badai tengah pertunjukan. Saya baca, di handphone itu tertera tulisan Hippo
Jungle Song. Sebuah lagu yang lumayan dikenal juga, saya pikir. Penggambaran seekor
kuda nil dan kawan-kawannya tengah khusyu
sekali bernyanyi. Ya. Inilah lagunya. Sesuatu yang saya pikir menenangkan sekali.
“Don’t fear my darling, the lion sleeps tonight”, begitu katanya. Ah, asik. :)
***
Happy Hippo – The Lion Sleeps Tonight
In the jungle, the
mighty jungle
The lion sleeps tonight
In the jungle, the
crowded jungle
The lion sleeps
tonight.
Near the village, the
peaceful village
The lion sleeps
tonight
Hush my darling, don’t
fear my darling
The lion sleeps
tonight
Sampai ketemu lagi, Laut Kepulauan Seribu!
Cikarang, 16 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar