![]() |
Kayu, bambu, tali di Kepulauan Seribu |
Memang cara orang-orang dalam berekspresi itu bermacam-macam
ya. Kadang bisa membuat orang lain hilang antusias, atau bahkan membuat dirinya nyaman
sendiri. Tapi memang seperti itulah. Maka sebagai lawan bicara, maka sebaiknya
kita coba saling mengerti saja. Bila tak bisa untuk saling, maka salah satunya
saja saya kira juga sudah cukup.
Sepengalaman saya, berdialog adalah awal dari suatu
perkawanan. Dan saya sangat menyukai memulai sebuah perkawanan. Maka tak heran
bila saya sangat suka berdialog karenanya. Dialognya itu tentang apa saja, apa
saja yang salah satu dari kami suka. Seperti memulai cerita mengenai silsilah
keluarga dari seorang kawan bernama Joseph di sebuah warung kopi di depan
terminal itu. Saya baru pertama kali itu bertemu dengannya. Dan langsung
menyukainya karena cerita silsilah itu. Berbatang-batang rokok dan dua gelas
kopi saya tandaskan, dan kami mulai saling mengenal. Kami berbicara lebih
banyaklah saat itu, layaknya dua orang kawan baik tengah niaga cerita lepas.
Sudah hampir 5 tahun mungkin dari pertemuan kami di depan
terminal itu. Saya masih bisa mengingat jelas ceritanya yang berapi-api itu,
dan coba terus mengingat bagaimana raut mukanya yang ramah dengan tawa yang
khas. Saya selalu coba mengingatnya, agar nanti saat kami bertemu lagi, saya
akan mengenalinya lebih dulu. Dan saya juga selalu yakin bahwa nanti kami akan
bertemu lagi. Bila nanti benar terjadi, saya akan memintanya untuk bercerita
sekali lagi tentang silsilah keluarganya itu. Saya suka mendengarnya. Biar saya
tak lupa juga.
Dan malam ini. Ingatan saya tentang Joseph dipacu oleh satu
cerita sederhana yang lain. Untuk sekedar membuat saya semakin tersadar, bahwa
saya memang sangat menyukai dialog. Meski tak selalu juga saya menemui
orang-orang yang bersahabat, tapi saya selalu berusaha untuk begitu. Hah, kamu.
Sebenarnya saya hanya ingin berkawan. Saya sama sekali tak berkeberatan bila
ternyata kamu tak mau. Meskipun akan jadi sebuah kebohongan bila saya katakan
saya tak sedikit berkecil hati saat ini, tapi tenang saja, saya akan menemukan Joseph yang
lain besok atau lusa.
Mungkin tulisan ini tak terlalu mudah dipahami, tapi biar aja. :)
Cikarang, 11 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar