Selasa, 11 Februari 2014

Berkawan dan Cerita Joseph

Kayu, bambu, tali di Kepulauan Seribu
Memang cara orang-orang dalam berekspresi itu bermacam-macam ya. Kadang bisa membuat orang lain hilang antusias, atau bahkan membuat dirinya nyaman sendiri. Tapi memang seperti itulah. Maka sebagai lawan bicara, maka sebaiknya kita coba saling mengerti saja. Bila tak bisa untuk saling, maka salah satunya saja saya kira juga sudah cukup.

Sepengalaman saya, berdialog adalah awal dari suatu perkawanan. Dan saya sangat menyukai memulai sebuah perkawanan. Maka tak heran bila saya sangat suka berdialog karenanya. Dialognya itu tentang apa saja, apa saja yang salah satu dari kami suka. Seperti memulai cerita mengenai silsilah keluarga dari seorang kawan bernama Joseph di sebuah warung kopi di depan terminal itu. Saya baru pertama kali itu bertemu dengannya. Dan langsung menyukainya karena cerita silsilah itu. Berbatang-batang rokok dan dua gelas kopi saya tandaskan, dan kami mulai saling mengenal. Kami berbicara lebih banyaklah saat itu, layaknya dua orang kawan baik tengah niaga cerita lepas.

Sudah hampir 5 tahun mungkin dari pertemuan kami di depan terminal itu. Saya masih bisa mengingat jelas ceritanya yang berapi-api itu, dan coba terus mengingat bagaimana raut mukanya yang ramah dengan tawa yang khas. Saya selalu coba mengingatnya, agar nanti saat kami bertemu lagi, saya akan mengenalinya lebih dulu. Dan saya juga selalu yakin bahwa nanti kami akan bertemu lagi. Bila nanti benar terjadi, saya akan memintanya untuk bercerita sekali lagi tentang silsilah keluarganya itu. Saya suka mendengarnya. Biar saya tak lupa juga.

Dan malam ini. Ingatan saya tentang Joseph dipacu oleh satu cerita sederhana yang lain. Untuk sekedar membuat saya semakin tersadar, bahwa saya memang sangat menyukai dialog. Meski tak selalu juga saya menemui orang-orang yang bersahabat, tapi saya selalu berusaha untuk begitu. Hah, kamu. Sebenarnya saya hanya ingin berkawan. Saya sama sekali tak berkeberatan bila ternyata kamu tak mau. Meskipun akan jadi sebuah kebohongan bila saya katakan saya tak sedikit berkecil hati saat ini, tapi tenang saja, saya akan menemukan Joseph yang lain besok atau lusa.

Mungkin tulisan ini tak terlalu mudah dipahami, tapi biar aja. :)
Cikarang, 11 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar