Senin, 24 Februari 2014

Di Pojok Sore (7)

Jalan Industri Selatan 5, Jababeka 2, Cikarang
18.34. Saya masih di kantor. Kawan-kawan sudah pulang. Dan sendiri di ruangan besar ini sebenarnya membuat saya sangat nyaman. Sambil mendengarkan Alexi Murdoch nyanyikan lagu-lagu balada kontemplatifnya yang khas dan detak jam yang teratur, saya tercenung sendiri. Seolah dipaksa memikirkan sejenak apa yang sedang saya lakukan sekarang ini, dari mana saja kemarin-kemarin. Ah, segar sekali. Saat melihat dari balik tirai pelindung menuju langit gelap di luar sana, saya tahu. Malam segera tiba.

***
Usia saya akan menginjak 28 tahun sebentar lagi. mungkin hampir selama itu juga saya melihat sore di antara tiup-tiup angin yang datang silih berganti. Seperti sore yang tadi. Saat bersama dua kawan, kami dermakan sore bicarakan tentang apa yang kami lakukan, apa yang kami rencanakan, apa yang membuat kami tertarik. Meski kadang saya berpikir bahwa mungkin kami berpikir terlalu jauh. Bahwa nyatanya hidup tak pernah sejauh itu. Tapi tetap saja, saya suka bicarakan itu. Saya tak masalah bila ternyata itu salah. Biarkan saja.

Atau di beberapa hari yang lewat. Saat di awal suatu sore, bercengkrama dengan seorang kawan lama di Kota Kembang itu. Sepertinya kami terakhir kali niaga cerita di kisaran sepuluh tahun yang lewat. Saat seperti biasa dulu kami berdialog tentang apapun di atas sebuah rumah panggung tinggi di salah satu sudut kota kecil kami. Saya dengarkan kemarin dia bicara singkat di antara teh tawarnya yang hampir tandas, saya perhatikan tawanya yang tak berubah sedikitpun dari apa yang saya ingat dulu. Saya tertawa sendiri sebenarnya, menyadari siapa kami hari ini. Siapa yang tahu, bila setelah waktu yang begitu lama, kami bicara lagi tepat seperti dulu, meski kini tempatnya berbeda. Ya, saya pikir begitulah hidup. Kita tak pernah tahu apa itu waktu dan kejadian, kita hanya berjalan di antaranya.

Dua kawan Office Boy datang menyapa tepat di detik ini. Saya balas senyuman mereka sebiasa mungkin, dan biarkan mereka melanjutkan pekerjaan yang ingin mereka lakukan. Saya pikir sebenarnya sayapun tak jauh beda. Seperti saat mengetik tulisan sederhana ini, saya melakukan apapun yang saya perlukan. Seperti juga laju sebuah truk yang lewat di depan kantor kami tadi, dia berjalan dalam sebuah kejadian yang diperlukan. Terserah saya mengerti atau tidak, tapi ya seperti itulah. Persis juga seperti saat melihat Bandung dari sisi timurnya yang tinggi, dan celoteh khas seorang kawan baik di sore cerah hari kemarin.

***
19.13. Waktu dalam satuan tahun adalah jeruk yang saya makan hari jumat kemarin. Bagiannya adalah sari-sari yang saya pikir manis dan senang sekali. Dan kejadian adalah bulirnya yang sebenarnya sama, meski tak sesama itu juga, saya pikir begitu, maka jadilah cukup seperti itu.
Cikarang, 24 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar