![]() |
Jalan Industri Selatan 5, Jababeka 2, Cikarang |
18.34. Saya masih di kantor. Kawan-kawan sudah pulang. Dan sendiri
di ruangan besar ini sebenarnya membuat saya sangat nyaman. Sambil mendengarkan
Alexi Murdoch nyanyikan lagu-lagu balada kontemplatifnya yang khas dan detak
jam yang teratur, saya tercenung sendiri. Seolah dipaksa memikirkan sejenak apa
yang sedang saya lakukan sekarang ini, dari mana saja kemarin-kemarin. Ah,
segar sekali. Saat melihat dari balik tirai pelindung menuju langit gelap di
luar sana, saya tahu. Malam segera tiba.
***
Usia saya akan menginjak 28 tahun sebentar lagi. mungkin
hampir selama itu juga saya melihat sore di antara tiup-tiup angin yang
datang silih berganti. Seperti sore yang tadi. Saat bersama dua kawan, kami dermakan
sore bicarakan tentang apa yang kami lakukan, apa yang kami rencanakan, apa
yang membuat kami tertarik. Meski kadang saya berpikir bahwa mungkin kami
berpikir terlalu jauh. Bahwa nyatanya hidup tak pernah sejauh itu. Tapi tetap
saja, saya suka bicarakan itu. Saya tak masalah bila ternyata itu salah. Biarkan
saja.
Atau di beberapa hari yang lewat. Saat di awal suatu sore,
bercengkrama dengan seorang kawan lama di Kota Kembang itu. Sepertinya kami terakhir kali niaga cerita di kisaran sepuluh tahun yang lewat. Saat seperti
biasa dulu kami berdialog tentang apapun di atas sebuah rumah panggung tinggi
di salah satu sudut kota kecil kami. Saya dengarkan kemarin dia bicara singkat di
antara teh tawarnya yang hampir tandas, saya perhatikan tawanya yang tak
berubah sedikitpun dari apa yang saya ingat dulu. Saya tertawa sendiri
sebenarnya, menyadari siapa kami hari ini. Siapa yang tahu, bila setelah waktu
yang begitu lama, kami bicara lagi tepat seperti dulu, meski kini tempatnya
berbeda. Ya, saya pikir begitulah hidup. Kita tak pernah tahu apa itu waktu dan
kejadian, kita hanya berjalan di antaranya.
Dua kawan Office Boy datang menyapa tepat di detik ini.
Saya balas senyuman mereka sebiasa mungkin, dan biarkan mereka melanjutkan
pekerjaan yang ingin mereka lakukan. Saya pikir sebenarnya sayapun tak jauh beda. Seperti saat
mengetik tulisan sederhana ini, saya melakukan apapun yang saya perlukan. Seperti
juga laju sebuah truk yang lewat di depan kantor kami tadi, dia berjalan dalam
sebuah kejadian yang diperlukan. Terserah saya mengerti atau tidak, tapi ya
seperti itulah. Persis juga seperti saat melihat Bandung dari sisi timurnya
yang tinggi, dan celoteh khas seorang kawan baik di sore cerah hari kemarin.
***
19.13. Waktu dalam satuan tahun adalah jeruk yang saya makan
hari jumat kemarin. Bagiannya adalah sari-sari yang saya pikir manis dan senang
sekali. Dan kejadian adalah bulirnya yang sebenarnya sama, meski tak sesama itu
juga, saya pikir begitu, maka jadilah cukup seperti itu.
Cikarang, 24 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar