Selasa, 18 Februari 2014

Di Pojok Sore (6)

 

Jam kantor sudah lepas 30 menit. Saya berjalan turun dari ruangan besar di atas sana. Sebuah bangunan tiga lantai dengan kombinasi warna biru muda dan putih menghias di bagian luarnya. Menuju sebuah undak pembatas trotoar yang sederhana, tempat biasa saya duduk, lepaskan lelah, habiskan sore dan hari ini. Duduk bebas, beberapa tegukan kopi, menyesap tembakau yang tak banyak, diamlah mengamati sekitar. Dan pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi. Memandang gedung biru muda-putih itu, saya berdialog sendiri.

Adalah sebuah pertanyaan yang selalu saja datang berulang. Pertanyaan sederhana yang susah-susah-mudah untuk dijawab. Ya, banyak susahnya, sedikit mudahnya. Meski akhirnya saya akan selalu dibuat gelisah karenanya, tapi entah kenapa saya tetap selalu senang pada pertanyaannya. Itu adalah saat bagian dari diri saya bertanya: “sedang apa kamu di sini?”. Saya tak pernah bisa mudah langsung menjawab. Saya melihat sekeliling, lagi, membentur bangunan besar itu, juga angin-angin yang membawa banyak kabar dari mana-mana. Biasa lalu menjawab: “ya, saya sedang di sini saja”. Dan dialognya tumbuh semakin menarik.

Menghirup sore di lewatan mobil karyawan dan truk-truk besar yang sesekali adalah sebuah latar. Belum lagi puluhan pekerja wanita muda yang berhamburan keluar dari pabrik seberang kantor, beserta beberapa penyedia jasa ojek yang sabar sekali menunggu. Sering kali saya bertanya pada mereka, bahwa kiranya sedang apa mereka di sana? Tak akan ada yang menjawab. Terang saja begitu, toh pertanyaan itu hanya saya ucapkan di dalam hati.

Matahari di belakang sana sudah mulai pulang. Suasananya jadi lebih sendu sekarang. Melihat garis-garis cahaya merah-kuning-putih dari lampu-lampu kendaraan yang entah tengah menuju kemana saja. Atau melihat bendera Merah-Putih yang sedang diturunkan oleh kawan-kawan sekuriti. Saya hampiri, bertanya kenapa benderanya diturunkan sekarang kalau nyatanya besok pagi akan dinaikkan lagi. Kawan tersebut tertawa mendengar pertanyaan itu. Saya ikut tertawa. Sudah. Begitu saja.

Lagu-lagu di headphone ini terus berputar, nyanyikan apa saja yang ada di dalamnya, kadang saya tak terlalu mengerti juga kiranya lagu ini ceritakan apa. Atau sesekali melihat tembakan sinar menuju lambang kantor kami ini di atas sana, saya semakin gelisah. Mengingat semua hal yang sedikit-banyak sama, memperhatikan beberapa kawan yang asik mengobrol di pojok situ entah tentang apa, saya menarik nafas panjang. Kiranya cerita hidup adalah persinggungan banyak kisah sederhana yang kadang bertumpang-tindih di dalam dimensi waktu dan kejadian. Seperti juga turun naiknya bendera tadi. Melihat sore Cikarang dan renungannya yang panjang, membentur kilat cahaya redup dan azan magrib yang mulai berkumandang di tengah perkampungan di barat sana. Ini adalah sore yang panjang.
Cikarang, 18 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar