Jam kantor sudah lepas 30 menit. Saya berjalan turun dari
ruangan besar di atas sana. Sebuah bangunan tiga lantai dengan kombinasi warna biru
muda dan putih menghias di bagian luarnya. Menuju sebuah undak pembatas trotoar
yang sederhana, tempat biasa saya duduk, lepaskan lelah, habiskan sore dan hari
ini. Duduk bebas, beberapa tegukan kopi, menyesap tembakau yang tak banyak,
diamlah mengamati sekitar. Dan pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi. Memandang gedung
biru muda-putih itu, saya berdialog sendiri.
Adalah sebuah pertanyaan yang selalu saja datang berulang.
Pertanyaan sederhana yang susah-susah-mudah untuk dijawab. Ya, banyak susahnya,
sedikit mudahnya. Meski akhirnya saya akan selalu dibuat gelisah karenanya, tapi entah
kenapa saya tetap selalu senang pada pertanyaannya. Itu adalah saat bagian dari diri
saya bertanya: “sedang apa kamu di sini?”.
Saya tak pernah bisa mudah langsung menjawab. Saya melihat sekeliling, lagi,
membentur bangunan besar itu, juga angin-angin yang membawa banyak kabar dari
mana-mana. Biasa lalu menjawab: “ya, saya
sedang di sini saja”. Dan dialognya tumbuh semakin menarik.
Menghirup sore di lewatan mobil karyawan dan truk-truk besar
yang sesekali adalah sebuah latar. Belum lagi puluhan pekerja wanita muda yang
berhamburan keluar dari pabrik seberang kantor, beserta beberapa penyedia jasa
ojek yang sabar sekali menunggu. Sering kali saya bertanya pada mereka, bahwa
kiranya sedang apa mereka di sana? Tak akan ada yang menjawab. Terang saja
begitu, toh pertanyaan itu hanya saya
ucapkan di dalam hati.
Matahari di belakang sana sudah mulai pulang. Suasananya jadi
lebih sendu sekarang. Melihat garis-garis cahaya merah-kuning-putih dari lampu-lampu
kendaraan yang entah tengah menuju kemana saja. Atau melihat bendera Merah-Putih
yang sedang diturunkan oleh kawan-kawan sekuriti. Saya hampiri, bertanya kenapa
benderanya diturunkan sekarang kalau nyatanya besok pagi akan dinaikkan lagi. Kawan
tersebut tertawa mendengar pertanyaan itu. Saya ikut tertawa. Sudah. Begitu
saja.
Lagu-lagu di headphone
ini terus berputar, nyanyikan apa saja yang ada di dalamnya, kadang saya tak
terlalu mengerti juga kiranya lagu ini ceritakan apa. Atau sesekali melihat tembakan sinar menuju lambang kantor kami ini
di atas sana, saya semakin gelisah. Mengingat semua hal yang sedikit-banyak
sama, memperhatikan beberapa kawan yang asik mengobrol di pojok situ entah
tentang apa, saya menarik nafas panjang. Kiranya cerita hidup adalah
persinggungan banyak kisah sederhana yang kadang bertumpang-tindih di dalam
dimensi waktu dan kejadian. Seperti juga turun naiknya bendera tadi. Melihat sore Cikarang dan renungannya yang panjang,
membentur kilat cahaya redup dan azan magrib yang mulai berkumandang di tengah
perkampungan di barat sana. Ini adalah sore yang panjang.
Cikarang, 18 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar